Home / Fantasi / Abysswalker: Darah Membara / Bab 27. Hutan Velmara

Share

Bab 27. Hutan Velmara

Author: The Red Lotus
last update publish date: 2026-04-27 19:31:54

Jalur pegunungan tengah Midreach tidak punya banyak tempat untuk bersembunyi, dan itulah mengapa pria itu menyukainya.

Tanahnya terbuka, berbatu, dengan jarak pandang yang cukup jauh ke segala arah. Bagi pasukan yang sedang dikejar, ini adalah kelebihan. Bagi seseorang yang mengejar sendirian, ini juga kelebihan, asalkan tahu cara membaca bekas-bekas yang ditinggalkan orang lain.

Pria itu berdiri di tengah dataran berbatu yang cukup luas, matanya menyapu area di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 34. Berburu Banshee

    Cakar itu sudah setengah jalan ke arahnya saat tali di tubuh Shiva terputus.Bukan terlepas, bukan terbuka simpulnya, tapi benar-benar terpotong oleh sesuatu yang bergerak cepat dari samping. Tubuh Shiva jatuh ke depan dari batang pohon dan ia menangkap dahan di bawahnya dengan kedua tangan. Ayunan tubuhnya itu membawa kakinya melewati ruang kosong tepat saat cakar itu menyambar tempat ia berdiri tadi dan hanya mendapatkan serpihan kulit kayu.Rynn ada di cabang sebelahnya, pisau pendek di tangannya masih mengarah ke bawah dari gerakan memotong tadi. "Kau berada di waktu dan tempat yang tidak tepat, elf.""Aku tahu itu." Shiva menarik dirinya ke atas dahan dan langsung berdiri. "Sekarang beri aku sesuatu untuk melawan."Rynn menatapnya satu detik, lalu melempar pisau cadangan dari ikat pinggangnya. Shiva menangkapnya tanpa melihat, matanya sudah kembali ke makhluk yang tadi menukik ke arahnya. Banshee itu membalikkan tubuhnya d

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 33. Penculik Malam

    Pakaiannya adalah campuran warna tanah dan hijau tua, potongannya tidak beraturan dengan anyaman rumput dan daun kering yang dijahit di permukaannya sehingga mudah tersamarkan di dalam hutan. Di wajahnya ada goresan-goresan hitam tebal, bukan luka, melainkan coretan yang disengaja, membentuk pola yang memecah bentuk wajah sehingga sulit dibaca dari jarak jauh. Matanya cokelat gelap dan tidak berkedip.Shiva melihat ke kanan dan kiri. Di cabang-cabang pohon sekitar mereka, minimal empat sosok lain berdiri dengan postur yang sama, masing-masing dengan busur terangkat."Apa yang dilakukan seorang elf di hutanku." Wanita itu bukan bertanya dengan nada ingin tahu, lebih seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya dan ingin memastikannya sendiri. "Tidakkah kau terlalu jauh bermain?""Bukan urusanmu." Shiva tidak menggerakkan kepalanya, hanya matanya yang bergerak ke arah area terbuka di bawah. "Lepaskan temanku."Perempuan itu menoleh ke bawa

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 32. Ada Apa di Hutan Ini?

    Shiva berdiri di jendela selama dua detik penuh. Orang yang sedang berjalan dalam tidur tidak mendarat seperti itu. Mereka terhuyung, mereka tidak mengkalkulasi ketinggian dan sudut jatuh dengan cara yang benar. Sesuatu yang lain sedang mengendalikan tubuh itu, dan Shiva tidak bisa lagi merasa semuanya normal.Ia berlari ke kamar Maren.Pintunya ia ketuk dua kali, keras. "Maren. Maren, bangun, ada sesuatu yang terjadi pada Ash."Tidak ada jawaban.Shiva mengetuk lagi, lebih keras, tiga kali. "Maren."Keheningan dari balik pintu itu berbeda dari keheningan tidur. Tidak ada suara napas yang terganggu, tidak ada suara orang yang bergerak kaget, tidak ada suara kaki yang turun dari ranjang. Shiva meletakkan telinganya ke pintu dan mendengar sesuatu yang sangat pelan, napas yang terlalu terkendali untuk seseorang yang sedang tidur, dan di bawahnya, suara yang lebih rendah lagi, seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.Di balik pintu itu, Maren sedang terjaga. Ia tahu itu.Shiva ber

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 31. Kabut Velmara

    Ranjang di tengah kamar itu bukan dari kayu, bukan dari besi, bukan dari apapun yang biasanya digunakan untuk membuat ranjang. Rangkanya dari dahan-dahan yang sudah mengering, melengkung dan terhubung satu sama lain dengan cara yang terlihat seperti tumbuh alami bukan dibentuk. Kedua mata Ash dan Shiva terkunci pada bagian di atasnya, dimana terbentang jaring laba-laba yang dipadatkan berlapis-lapis sampai terlihat seperti kain, putih keabu-abuan dan sedikit berkilau di bawah cahaya lentera.Shiva menatapnya cukup lama. "Itu terbuat dari apa?""Jaring Arakvein," kata Maren, nada suaranya seperti menyebut sesuatu yang sudah semua orang tahu. "Lebih hangat dari wol dan lebih kuat dari kulit. Kalian bisa beristirahat dengan nyaman."Shiva menoleh ke Ash. Ash sudah melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang itu, tangannya menekan permukaannya dua kali, lalu berbaring dengan satu lengan di belakang kepala."Empuk," katanya.

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 30. Apa Kau Yakin?

    Malam turun lebih cepat di dalam Hutan Velmara.Shiva menyadarinya dari jendela kayu di sisi kanannya, cahaya yang tadi masih tersisa di celah-celah kanopi sudah benar-benar hilang, digantikan oleh gelap yang terasa lebih padat dari gelap biasa. Tapi yang membuat matanya tidak berpindah dari jendela itu bukan gelapnya, melainkan cahaya yang perlahan muncul menggantikannya.Rumah-rumah di Velkarr mulai bersinar.Bukan dari api, bukan dari lampu listrik yang Shiva kenal dari kota-kota di timur. Cahaya kuning kemerahan itu berasal dari makhluk kecil yang ditempatkan warga dalam wadah jaring transparan, digantung di depan pintu, di sudut jendela, di tiang-tiang kayu di antara rumah. Makhluk itu tidak bergerak banyak, hanya berdiam di dalam jaringnya dan memancarkan cahaya yang cukup terang untuk menerangi satu ruangan, seperti mereka tahu bahwa itulah tugasnya dan mereka sudah menjalankannya selama bertahun-tahun tanpa perlu diperintah.Shiva pernah melihat yang seperti itu sebelumnya n

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 29. Semuanya Wanita?

    Rakaw berjalan di depan dengan langkah yang lebih cepat dari yang terlihat wajar untuk anak seusianya di medan seperti ini. Kakinya menghindari akar-akar yang menyembul tanpa perlu melihat ke bawah, tangannya sesekali menyentuh batang pohon tertentu saat melewatinya, bukan untuk menopang diri tapi lebih seperti gestur yang sudah menjadi kebiasaan, tanda bahwa dia hafal setiap pohon di jalur ini.Semakin dalam mereka berjalan, sesuatu di udara mulai berbeda. Bukan lebih dingin dan bukan lebih hangat, tapi lebih padat, seperti udara yang sudah lama tidak bercampur dengan angin dari luar. Suara-suara hutan yang biasanya datang dari segala arah mulai terasa lebih terarah, lebih terpusat ke satu titik di depan mereka.Lalu pohon-pohon itu terbuka.Pohon-pohon di depan mereka tumbuh dalam formasi yang memberi ruang di antara batang-batangnya, dan di ruang itulah kampung itu berdiri.Bukan di tanah.Ash mendongak dan matanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status