INICIAR SESIÓNRanjang di tengah kamar itu bukan dari kayu, bukan dari besi, bukan dari apapun yang biasanya digunakan untuk membuat ranjang. Rangkanya dari dahan-dahan yang sudah mengering, melengkung dan terhubung satu sama lain dengan cara yang terlihat seperti tumbuh alami bukan dibentuk.
Kedua mata Ash dan Shiva terkunci pada bagian di atasnya, dimana terbentang jaring laba-laba yang dipadatkan berlapis-lapis sampai terlihat seperti kain, putih keabu-abuan dan sedikit berkilau di bawah cahayaRanjang di tengah kamar itu bukan dari kayu, bukan dari besi, bukan dari apapun yang biasanya digunakan untuk membuat ranjang. Rangkanya dari dahan-dahan yang sudah mengering, melengkung dan terhubung satu sama lain dengan cara yang terlihat seperti tumbuh alami bukan dibentuk. Kedua mata Ash dan Shiva terkunci pada bagian di atasnya, dimana terbentang jaring laba-laba yang dipadatkan berlapis-lapis sampai terlihat seperti kain, putih keabu-abuan dan sedikit berkilau di bawah cahaya lentera.Shiva menatapnya cukup lama. "Itu terbuat dari apa?""Jaring Arakvein," kata Maren, nada suaranya seperti menyebut sesuatu yang sudah semua orang tahu. "Lebih hangat dari wol dan lebih kuat dari kulit. Kalian bisa beristirahat dengan nyaman."Shiva menoleh ke Ash. Ash sudah melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang itu, tangannya menekan permukaannya dua kali, lalu berbaring dengan satu lengan di belakang kepala."Empuk," katanya.
Malam turun lebih cepat di dalam Hutan Velmara.Shiva menyadarinya dari jendela kayu di sisi kanannya, cahaya yang tadi masih tersisa di celah-celah kanopi sudah benar-benar hilang, digantikan oleh gelap yang terasa lebih padat dari gelap biasa. Tapi yang membuat matanya tidak berpindah dari jendela itu bukan gelapnya, melainkan cahaya yang perlahan muncul menggantikannya.Rumah-rumah di Velkarr mulai bersinar.Bukan dari api, bukan dari lampu listrik yang Shiva kenal dari kota-kota di timur. Cahaya kuning kemerahan itu berasal dari makhluk kecil yang ditempatkan warga dalam wadah jaring transparan, digantung di depan pintu, di sudut jendela, di tiang-tiang kayu di antara rumah. Makhluk itu tidak bergerak banyak, hanya berdiam di dalam jaringnya dan memancarkan cahaya yang cukup terang untuk menerangi satu ruangan, seperti mereka tahu bahwa itulah tugasnya dan mereka sudah menjalankannya selama bertahun-tahun tanpa perlu diperintah.Shiva pernah melihat yang seperti itu sebelumnya n
Rakaw berjalan di depan dengan langkah yang lebih cepat dari yang terlihat wajar untuk anak seusianya di medan seperti ini. Kakinya menghindari akar-akar yang menyembul tanpa perlu melihat ke bawah, tangannya sesekali menyentuh batang pohon tertentu saat melewatinya, bukan untuk menopang diri tapi lebih seperti gestur yang sudah menjadi kebiasaan, tanda bahwa dia hafal setiap pohon di jalur ini.Semakin dalam mereka berjalan, sesuatu di udara mulai berbeda. Bukan lebih dingin dan bukan lebih hangat, tapi lebih padat, seperti udara yang sudah lama tidak bercampur dengan angin dari luar. Suara-suara hutan yang biasanya datang dari segala arah mulai terasa lebih terarah, lebih terpusat ke satu titik di depan mereka.Lalu pohon-pohon itu terbuka.Pohon-pohon di depan mereka tumbuh dalam formasi yang memberi ruang di antara batang-batangnya, dan di ruang itulah kampung itu berdiri.Bukan di tanah.Ash mendongak dan matanya
Ash melompat ke kiri, Shiva ke kanan, keduanya menghindari jaring-jaring itu yang menghantam tanah dan langsung menempel kuat di permukaan batu dan akar-akar pohon di sekitarnya."Kau serius berkelana hanya dengan kapak kecil itu?" Shiva mendarat di akar pohon besar, matanya menatap Ash."Aku akan beli senjata yang lebih besar setelah punya uang." Ash sudah bergerak lagi, kepalanya mendongak ke laba-laba yang sedang mempersiapkan lompatan berikutnya.Salah satunya melompat, tubuh besar itu turun dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan ukurannya, delapan kaki terarah ke bawah seperti tombak-tombak yang siap menancap.Ash melangkah ke samping, kaki-kaki laba-laba itu menghantam tanah tepat di tempat dia berdiri setengah detik sebelumnya, meninggalkan delapan lubang kecil di tanah keras. Sebelum laba-laba itu sempat menarik kakinya kembali, kapak Ash bergerak satu kali dalam ayunan yang cepat, memotong keempat kaki di satu sisinya dari
Jalur pegunungan tengah Midreach tidak punya banyak tempat untuk bersembunyi, dan itulah mengapa pria itu menyukainya. Tanahnya terbuka, berbatu, dengan jarak pandang yang cukup jauh ke segala arah. Bagi pasukan yang sedang dikejar, ini adalah kelebihan. Bagi seseorang yang mengejar sendirian, ini juga kelebihan, asalkan tahu cara membaca bekas-bekas yang ditinggalkan orang lain. Pria itu berdiri di tengah dataran berbatu yang cukup luas, matanya menyapu area di depannya dengan sistematis, dari kiri ke kanan, dari dekat ke jauh. Sisa-sisa kayu bakar tersebar di beberapa titik, beberapa masih berwarna lebih gelap di bagian tengahnya, belum sepenuhnya menyatu dengan warna tanah di sekitarnya. Jejak-jejak kuda terlihat di tanah yang lebih lunak di sisi timur dataran, dalam dan jelas, menuju ke arah Timur. Dia membungkuk, satu lutut ke tanah, dua jari menyentuh tepi salah satu bekas tapak kuda. Tanahnya masih s
Dia berbalik dan mulai berjalan.Shiva menatap punggungnya, lalu menatap ikan bakar yang masih mengepul asap tipis di tepi batu itu. Pikirannya bergerak cepat, menimbang beberapa hal sekaligus, dan dalam waktu kurang dari lima detik dia sudah mengambil keputusan. Kakinya melompat dari akar pohon dan berlari mengitari Ash, berhenti tepat di depannya dengan kedua tangan sedikit terentang ke samping."Ya, ini memang karena ulahmu." Suaranya keluar dengan nada yang lebih tegas dari yang dia rencanakan. "Kau memaksaku semalam dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu menurutmu apakah wajar begitu saja meninggalkanku setelah semua itu?"Ash berhenti, ekspresinya tidak berubah, tapi matanya menatap Shiva dengan sesuatu di baliknya yang sulit dibaca.Shiva mempertahankan wajahnya pada ekspresi yang paling menyedihkan dan paling marah yang bisa dia buat dalam waktu singkat itu. Di dalam kepalanya, Shiva bersorak merasa memiliki alasan u







