LOGINAsh melompat ke kiri, Shiva ke kanan, keduanya menghindari jaring-jaring itu yang menghantam tanah dan langsung menempel kuat di permukaan batu dan akar-akar pohon di sekitarnya.
"Kau serius berkelana hanya dengan kapak kecil itu?" Shiva mendarat di akar pohon besar, matanya menatap Ash."Aku akan beli senjata yang lebih besar setelah punya uang." Ash sudah bergerak lagi, kepalanya mendongak ke laba-laba yang sedang mempersiapkan lompatan berikutnya.Salah satunya mRakaw berjalan di depan dengan langkah yang lebih cepat dari yang terlihat wajar untuk anak seusianya di medan seperti ini. Kakinya menghindari akar-akar yang menyembul tanpa perlu melihat ke bawah, tangannya sesekali menyentuh batang pohon tertentu saat melewatinya, bukan untuk menopang diri tapi lebih seperti gestur yang sudah menjadi kebiasaan, tanda bahwa dia hafal setiap pohon di jalur ini.Semakin dalam mereka berjalan, sesuatu di udara mulai berbeda. Bukan lebih dingin dan bukan lebih hangat, tapi lebih padat, seperti udara yang sudah lama tidak bercampur dengan angin dari luar. Suara-suara hutan yang biasanya datang dari segala arah mulai terasa lebih terarah, lebih terpusat ke satu titik di depan mereka.Lalu pohon-pohon itu terbuka.Pohon-pohon di depan mereka tumbuh dalam formasi yang memberi ruang di antara batang-batangnya, dan di ruang itulah kampung itu berdiri.Bukan di tanah.Ash mendongak dan matanya
Ash melompat ke kiri, Shiva ke kanan, keduanya menghindari jaring-jaring itu yang menghantam tanah dan langsung menempel kuat di permukaan batu dan akar-akar pohon di sekitarnya."Kau serius berkelana hanya dengan kapak kecil itu?" Shiva mendarat di akar pohon besar, matanya menatap Ash."Aku akan beli senjata yang lebih besar setelah punya uang." Ash sudah bergerak lagi, kepalanya mendongak ke laba-laba yang sedang mempersiapkan lompatan berikutnya.Salah satunya melompat, tubuh besar itu turun dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan ukurannya, delapan kaki terarah ke bawah seperti tombak-tombak yang siap menancap.Ash melangkah ke samping, kaki-kaki laba-laba itu menghantam tanah tepat di tempat dia berdiri setengah detik sebelumnya, meninggalkan delapan lubang kecil di tanah keras. Sebelum laba-laba itu sempat menarik kakinya kembali, kapak Ash bergerak satu kali dalam ayunan yang cepat, memotong keempat kaki di satu sisinya dari
Jalur pegunungan tengah Midreach tidak punya banyak tempat untuk bersembunyi, dan itulah mengapa pria itu menyukainya. Tanahnya terbuka, berbatu, dengan jarak pandang yang cukup jauh ke segala arah. Bagi pasukan yang sedang dikejar, ini adalah kelebihan. Bagi seseorang yang mengejar sendirian, ini juga kelebihan, asalkan tahu cara membaca bekas-bekas yang ditinggalkan orang lain. Pria itu berdiri di tengah dataran berbatu yang cukup luas, matanya menyapu area di depannya dengan sistematis, dari kiri ke kanan, dari dekat ke jauh. Sisa-sisa kayu bakar tersebar di beberapa titik, beberapa masih berwarna lebih gelap di bagian tengahnya, belum sepenuhnya menyatu dengan warna tanah di sekitarnya. Jejak-jejak kuda terlihat di tanah yang lebih lunak di sisi timur dataran, dalam dan jelas, menuju ke arah Timur. Dia membungkuk, satu lutut ke tanah, dua jari menyentuh tepi salah satu bekas tapak kuda. Tanahnya masih s
Dia berbalik dan mulai berjalan.Shiva menatap punggungnya, lalu menatap ikan bakar yang masih mengepul asap tipis di tepi batu itu. Pikirannya bergerak cepat, menimbang beberapa hal sekaligus, dan dalam waktu kurang dari lima detik dia sudah mengambil keputusan. Kakinya melompat dari akar pohon dan berlari mengitari Ash, berhenti tepat di depannya dengan kedua tangan sedikit terentang ke samping."Ya, ini memang karena ulahmu." Suaranya keluar dengan nada yang lebih tegas dari yang dia rencanakan. "Kau memaksaku semalam dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu menurutmu apakah wajar begitu saja meninggalkanku setelah semua itu?"Ash berhenti, ekspresinya tidak berubah, tapi matanya menatap Shiva dengan sesuatu di baliknya yang sulit dibaca.Shiva mempertahankan wajahnya pada ekspresi yang paling menyedihkan dan paling marah yang bisa dia buat dalam waktu singkat itu. Di dalam kepalanya, Shiva bersorak merasa memiliki alasan u
Dia membuka tutup liontin itu dengan ibu jarinya, menengadahkan kepalanya, dan meneteskan tepat dua tetes ke lidahnya. Rasanya tidak seperti apapun yang pernah dia minum. Dingin saat menyentuh lidah tapi hangat saat masuk ke tenggorokan, dan dalam tiga detik dia merasakan sesuatu di dadanya seperti udara yang ditiupkan ke bara yang hampir mati.Shiva menutup liontin itu dan mengembalikannya ke tempatnya. "Hanya tersisa 50 mililiter. Jangan habiskan untuk hal bodoh, Shiva."Ash muncul dari kegelapan di atas, melompat turun langsung ke arahnya.Shiva bergerak melompat lebih cepat dan langsung menendang wajah Ash. Tubuh besar yang masih membara itu seketika terhempas jauh, membentur batang pohon besar dua kali sebelum Ash menancapkan cakarnya di sebuah batang pohon untuk berhenti. Api biru tipis terlihat menyelimuti seluruh Shiva, matanya bercahaya biru terang, kontras dengan warna hijau rambutnya yang terangkat sedikit seperti tertiup ang
Ash melesat duluan. Tubuhnya menghantam udara seperti batu yang dilempar, kukunya terarah ke dada Balton, tapi pria besar itu memiringkan tubuhnya setengah langkah dan pemukul besinya berayun menyambut dari bawah. Ash menangkap batang pemukul itu dengan satu tangan, momentumnya terhenti, dan keduanya saling mendorong selama dua detik sebelum Ash melompat mundur ke bebatuan. "Bagus." Balton meluruskan posturnya, bahu kanannya berputar sekali. "Kau tidak menyerang dua kali dari arah yang sama." Ash tidak mendengarkan, matanya sudah mengunci posisi berikutnya. Balton merogoh sisi sabuknya dengan tangan kiri, tiga benda kecil sebesar kepalan tangan muncul di antara jari-jarinya, lalu dilempar ke tiga arah berbeda sekaligus. Benda-benda itu menghantam tanah di sekitar Ash dan meledak bukan dengan api, tapi dengan cahaya putih yang sangat terang dan bunyi yang memekakkan telinga. Ash tersentak, kepalanya berpaling







