MasukPagi itu, langit di atas gang sempit pemukiman padat tertutup awan mendung yang kusam. Di dalam rumah kontrakan berukuran empat kali enam meter milik orang tua Indri, aroma kemenyan dan bunga melati murah menyeruak tipis di udara. Andra duduk bersila di atas karpet plastik yang tipis, membetulkan letak peci hitamnya yang sedikit longgar. Kemeja putih yang ia kenakan hari ini adalah kemeja lama yang sedikit menguning di bagian kerah, bukan baju baru buatan penjahit langganan. Di hadapannya, seorang penghulu berwajah tenang duduk berhadapan dengan ayah Indri yang memasang raut wajah tegang dan keras. Indri duduk bersimpuh di sudut ruangan, terbalut kebaya putih sederhana dengan riasan tipis yang ia poles sendiri di depan cermin retak kamar mandi. Tak ada dekorasi bunga segar, tak ada musik pengiring, dan tak ada tamu undangan yang memadati ruangan. Hanya ada dua orang saksi dari tetangga sebelah rumah yang duduk tenang memperhatikan dengan raut wajah polos. "Pak Andra, sudah sia
Dua minggu berlalu bagaikan mimpi buruk bagi Andra. Langkah kakinya terasa berat saat menyusuri lorong Pengadilan Agama dengan setelan kemeja batik yang kusam. Di depan pintu ruang sidang, Irma sudah berdiri tegap didampingi pengacaranya dan Rico yang tak pernah lepas mengawal di sampingnya. Mata Irma begitu dingin, tanpa sedikit pun sisa kasih sayang yang pernah mengisi pernikahan mereka selama bertahun-tahun. "Mas Andra, silakan masuk. Persidangan ikrar talak dan ketetapan perceraian akan segera dimulai," ujar pengacara Irma dengan nada formal. Andra menatap Irma dengan pandangan memelas, mencoba mencari celah untuk mengetuk hati istrinya satu kali lagi. "Irma... beneran kita harus berakhir kayak gini?" bisik Andra parau di depan pintu sidang. Irma tak sudi menatap mata Andra, ia hanya mengalihkan pandangannya ke arah Rico yang memberikan senyum menguatkan. "Hakim sudah ketok palu, Mas," sahut Irma datar tanpa penyesalan. "Segera selesaikan, saya gak mau ada hubungan apa-apa
Ayah Indri berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan dada naik-turun menahan emosi. Matanya menyapu seluruh ruangan—menatap pakaian yang berserakan, kemeja Andra yang belum terkancing, hingga Indri yang terduduk di karpet berbalut selimut. "Indri... Pak Andra..." suara pria paruh baya itu bergetar hebat, sarat akan rasa syok dan kekecewaan yang sangat dalam. "Bapakk..." jerit Indri histeris, langsung menutup wajahnya rapat-rapat sambil menangis sesenggukan. Ayah Indri melangkah masuk dengan cepat, mengabaikan Andra sejenak, lalu menarik lengan Indri kasar agar anaknya berdiri. "Bapak percaya sama kamu! Bapak percaya sama atasan kamu ini! Ini yang kamu bilang dinas luar?!" bentak sang ayah dengan suara serak menahan malu. Andra menelan ludah yang terasa sekeras batu, melangkah mundur satu pijakan dengan wajah pucat pasi. "Pak... tolong tenang dulu, Pak... Saya bisa jelaskan—" gagap Andra memohon. Plak! Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Andra, membuat kepal
Ruangan tengah villa yang tadinya hangat mendadak membeku, menyisakan hawa dingin pegunungan yang menerobos masuk lewat pintu yang terbuka lebar.Andra mematung di atas sofa, tangan kanan masih menggenggam erat selimut, sementara matanya menatap Irma dengan sorot panik yang tak bisa disembunyikan."Ir... Irma? Kamu... kamu kok bisa ada di sini?!" suara Andra bergetar hebat, mencoba bangkit namun tertahan oleh kain yang membungkus tubuhnya.Irma tak menjawab sepatah kata pun. Matanya melirik dingin ke arah Indri yang merapat ketakutan di sudut sofa, menyembunyikan wajahnya yang pucat di balik selimut."Mas... siapa dia, Mas?" bisik Indri gemetar, suaranya nyaris tenggelam oleh ketakutan yang mencekam.Satu sudut bibir Irma terangkat melukiskan senyum sinis yang sarat akan kepedihan.Irma melangkah satu pendaratan maju ke dalam ruangan, matanya menyapu sekeliling—baju-baju yang berserakan di atas karpet, cangkir teh yang masih berasap, dan suaminya yang telanjang dada di depan staf send
Andra merebahkan kepala di sandaran sofa, membiarkan jemari Indri bermain pelan di atas dadanya. Napas mereka berdua masih menyisa gelombang lelah yang nikmat, dilingkupi aroma parfum Indri yang menyengat di ruangan yang sejuk itu. "Mas... kalau sampai bapakku tahu gimana?" bisik Indri pelan, menyandarkan dagu di dada bidang Andra seraya mendongak. Andra tertawa kecil, mengacak rambut Indri yang sedikit berantakan dengan raut percaya diri yang melimpah. "Kan saya sendiri yang izin langsung," sahut Andra mantap, mengecup dahi Indri seraya merapikan selimut yang menutupi separuh tubuh mereka. "Bapak kamu itu percaya seratus persen sama saya, Dri." Indri mengulas senyum manja, menenggelamkan wajahnya kembali ke pelukan Andra, merasa sepenuhnya aman di bawah perlindungan sang bos. Andra meraih cangkir teh hangat di meja, menyesapnya perlahan seraya melirik suasana luar jendela yang dilingkupi kabut tebal. Tak ada yang bisa menyentuhnya di sini; tempat ini tersembunyi, jauh dari bis
Pagi hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba dengan langit mendung yang mengatapi kota. Andra menatap pantulan dirinya di cermin, merapikan kerah kaus berkerah warna gelap yang kasual namun tetap elegan. Ia mengambil tas jalan ukuran sedang, memastikannya berisi pakaian ganti untuk dua hari ke depan. Sesuai rencana matangnya, Andra meninggalkan mobil pribadinya di pelataran gudang sejak subuh tadi, lalu berganti menggunakan mobil sewaan yang sudah ia pesan secara rapi atas nama orang lain. Ia menggeser layar ponsel utamanya, memastikan aplikasi fake GPS masih berjalan sempurna menampilkan posisi dirinya seolah-olah sedang melaju di jalan tol menuju Surabaya. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat merasakan betapa sempurnanya skenario yang ia ciptakan. Andra menginjak gas, membelah jalanan pagi yang masih lengang menuju ke arah gang rumah Indri. Dari kejauhan, sosok Indri sudah berdiri anggun di tepi jalan dengan gaun terusan santai berwarna krem yang membingkai lekuk tubuhnya







