Share

Bab 2

Penulis: Onion
Sudut pandang Ivana:

Di ujung telepon, terdengar jeda napas yang cukup lama. Kemudian, suara rendah Alvin Martino akhirnya terdengar. "Dalam dua minggu, semuanya akan siap."

Aku terdiam. Aku bahkan belum menjelaskan alasannya, tetapi sepertinya Alvin sudah tahu bahwa hari seperti ini akan datang.

"Oke," jawabku. Aku berusaha menahan perasaan kuat yang ada di dalam hatiku agar tidak terdengar.

Dengan kemampuan Alvin dan kekuatan keluarganya, aku tahu bahwa Vito tidak akan pernah bisa menemukan jejakku lagi. Bahkan jika dia mencari ke seluruh dunia, selama Alvin memang tidak ingin dia menemukanku, pria itu tidak akan pernah berhasil.

Pada hari itu, ponselku terus bergetar karena pesan-pesan dari Vito, tetapi aku sengaja tidak membalas satu pun.

Larut malam, aku mendengar suara langkah kaki Vito yang tergesa-gesa saat dia pulang ke rumah. Dia langsung masuk ke ruang tamu dan melihatku duduk di sofa sambil membaca jurnal medis. Seketika, dia menghela napas lega.

Vito bertanya, "Ivana? Kenapa kamu pulang lebih cepat dari yang direncanakan? Aku sempat kirim banyak pesan ke kamu juga lho!"

Vito menarikku ke dalam pelukannya dan memelukku dengan erat. Dagunya bergesekan dengan bagian atas kepalaku. Pria itu melanjutkan, "Aku sangat bersyukur kamu baik-baik saja. Aku sangat takut. Ivana, aku nggak akan bisa hidup tanpamu."

Tatapan penuh kasih di mata Vito tidak terlihat palsu. Aku tahu bahwa dia benar-benar mencintaiku. Namun, aku juga tahu dengan pasti bahwa aku bukan satu-satunya orang yang menerima cintanya.

Aku pun melepaskan diri dari pelukan Vito sambil berkata dengan suara tenang, "Lokakaryanya selesai lebih cepat dan aku mematikan ponselku tadi. Maaf, aku nggak lihat pesan-pesanmu."

Vito tersenyum dan menyentuh ujung hidungku dengan lembut. Dia menimpali, "Nggak apa-apa kalau kamu nggak lihat pesanku. Aku nggak akan mungkin menyalahkanmu."

Kemudian, Vito menggoyangkan kunci mobil di tangannya sambil bertanya, "Kamu lapar nggak? Aku sudah pesan tempat di restoran yang sudah lama sekali ingin kamu datangi. Ayo, Tuan Putri. Malam ini, kamu bisa pesan apa pun yang kamu mau."

Kemudian, Vito mengulurkan tangannya ke arahku dengan telapak tangan menghadap ke atas. Aku menatap tangannya yang terulur dan tiba-tiba pikiranku melayang. Waktu itu, aku berusia 18 tahun. Vito juga pernah mengulurkan tangannya kepadaku seperti ini dengan senyum yang bahkan lebih lebar dari senyum yang dia tunjukkan sekarang.

"Ayo, Tuan Putri. Kamu bisa pesan apa pun yang kamu mau malam ini. Aku yang traktir!" ulang Vito. Pada saat itu, dia hanya mencintaiku dan hanya aku seorang

Tentu saja aku juga tidak ingin kelaparan. Jadi, aku pun pergi bersama Vito ke restoran. Dia tetap berperilaku seperti biasanya.

Vito adalah seorang bos mafia yang tidak pernah perlu melayani siapa pun. Namun di hadapanku, dia akan menggulung lengan bajunya seolah itu hal yang paling wajar di dunia, lalu melayaniku. Dia memotongkan steik untukku, menuangkan anggur untukku, bahkan selalu membiarkanku mencicipi makanan dari piringnya lebih dulu.

Kini, piringku sudah hampir penuh dengan makanan. Tiba-tiba, ponsel Vito berdering dan aku tersadar kembali dari lamunan.

"Angkat saja," ucapku sambil menunduk dan melihat makanan di piringku.

Vito melirik cepat ke ponselnya, meminta maaf, lalu berdiri dan keluar dari restoran untuk menerima telepon itu. Ketika dia kembali, raut wajahnya terlihat cemas dan penuh rasa bersalah.

Vito memberi tahu, "Ivana, tiba-tiba ada pertemuan penting yang harus kuhadiri. Aku harus segera pergi. Maaf, aku nggak bisa menyelesaikan makan malam ini bersamamu. Besok, aku akan ambil cuti dan menemanimu seharian."

Aku sudah sempat melihat nama penelepon di layar ponselnya tadi. Itu adalah panggilan dari Chika. Aku membalas sambil mengangguk, "Oke, pergilah."

Setelah mendapatkan izinku, Vito tidak menyia-nyiakan waktu satu detik pun. Dia langsung berbalik dan meninggalkan restoran. Aku menatap kursi kosong di depanku dan merasa seolah-olah ada jarum yang menusuk dadaku. Rasa sakitnya membuat dadaku terasa mati rasa.

Setelah menyelesaikan makan malamku sendirian, aku pulang ke rumah. Namun tak lama kemudian, aku menerima panggilan video dari Chika. Dia tersenyum polos ke arah kamera sembari bertanya, "Ivana, apa kamu menikmati makan malammu sendirian? Vito lagi ada di tempatku sekarang. Mau tahu nggak apa yang akan kami lakukan selanjutnya?"

Ekspresi wajahku langsung menjadi datar. Chika cepat-cepat berkata, "Jangan tutup teleponnya, Ivana. Kamu mau tahu nggak siapa yang lebih dicintai Vito? Aku atau kamu?"

Mataku berkedip cepat. Chika tersenyum dengan ekspresi main-main. Tiba-tiba latar video berubah dan Vito muncul di layar.

Chika meletakkan ponselnya di belakang punggungnya dan berbicara dengan suara yang menggoda, "Vito, apa kamu masih marah padaku karena dulu aku kabur dengan orang lain? Kalau waktu itu aku nggak meninggalkanmu, kamu nggak akan bertemu dengan Ivana, 'kan? Kamu pasti akan menikah denganku, 'kan?"

Vito menimpali sambil mengerutkan kening, "Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan semua kemungkinan seperti itu?"

"Aku cuma iseng kok," kata Chika yang matanya mulai memerah. Kemudian, dia berucap dengan suara lebih lembut, "Aku nggak bermaksud buruk ...."

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Segera setelah itu, aku melihat Vito membuka mulutnya. Suaranya terdengar kering dan serak ketika berujar, "Ya."

Satu kata "ya" dari Vito sudah lebih dari cukup untuk membuat dadaku terasa kosong. Jadi sejak awal, aku memang bukan satu-satunya orang di hati pria itu.

Tiba-tiba aku teringat hari pernikahan kami. Vito menggenggam tanganku di depan semua tamu undangan. Kemudian, dia bersumpah atas gelarnya sebagai bos mafia bahwa dia hanya akan mencintaiku sepanjang hidupnya.

Waktu itu, aku menangis begitu keras karena aku merasa akhirnya menemukan cinta sejati. Namun ternyata, sumpah yang Vito ucapkan pada hari pernikahan kami juga merupakan kebohongan. Aku tidak pernah menjadi satu-satunya cinta dalam hidupnya.

Aku hanyalah pengalihan yang nyaman ketika Vito dan Chika sedang berselisih. Mungkin pria itu hanya enggan melepaskanku karena kami sudah bersama cukup lama dan dia akhirnya mulai memiliki sedikit perasaan untukku. Hanya itu saja.

Memikirkan hal itu membuat senyum pahit muncul di bibirku. Aku mulai tertawa, tetapi air mata juga terus mengalir di wajahku tanpa bisa kutahan.

Aku sempat berpikir bahwa setidaknya aku pernah memiliki sebagian kecil dari cinta dan kasih sayang Vito, meskipun hanya sebentar. Akan tetapi, ternyata aku tidak pernah memilikinya. Sebaliknya, aku hanyalah seorang pencuri yang mengambil sesuatu yang sejak awal tidak pernah menjadi milikku.

Malam itu, Vito tidak pulang ke rumah. Akan tetapi, aku menerima sebuah foto dirinya yang sedang tidur dengan nyenyak di tempat tidur. Chika yang mengirimkannya kepadaku. Aku menatap wajahnya di layar ponsel untuk waktu yang sangat lama. Akhirnya menjelang fajar, hatiku terasa mati rasa dan aku pun berhasil menenangkan diri.

Aku menelepon temanku, Susan Tanjaya, yang merupakan seorang pengacara perceraian. Aku memberi tahu, "Susan, aku butuh bantuanmu untuk menyusun perjanjian perceraian."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 19

    Sudut pandang Ivana:Setelah tengah malam, Linsor menyambut hujan salju paling lebat sepanjang musim dingin itu."Ivana, dia bakal mati nggak karena ini?" tanya Siska.Aku menarik selimut menutupi tubuhku, menutup mata, dan tetap sama sekali tidak terpengaruh. Aku membalas, "Dia orang dewasa yang bisa mengambil keputusan sendiri. Bahkan kalau itu benar-benar terjadi, itu bukan urusan kita. Ayo tidur."Siska mengagumi keteguhanku. Mengingat semua penderitaan yang pernah kualami, dia langsung menarik tirai jendela hingga tertutup rapat. Vito menghabiskan malam itu berdiri di tengah salju.Vito terus-menerus mengingat masa lalu kami. Dulu kami pernah memiliki banyak momen bahagia. Kami merenovasi rumah bersama dan membayangkan masa depan kami. Namun, semua itu hancur karena Chika.Memikirkan Chika membuat amarah Vito makin berkobar. Menjelang akhir malam, tubuhnya terasa seperti terbakar, seolah-olah dia sedang berdiri di bawah terik matahari. Dia tahu dirinya mulai berhalusinasi karena k

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 18

    Sudut pandang Ivana:Tiba-tiba, suara rendah dan dalam seseorang terdengar dari samping. Vito menoleh ke arah suara itu, lalu rahangnya langsung terjatuh karena terkejut. Dia bertanya, "Alvin? Apa yang kamu lakukan di sini?"Alvin merangkul bahuku dengan satu tangan. Ketika dia tidak merasakan perlawanan dariku, genggamannya sedikit mengencang. Dia membalas, "Aku tunangannya. Kenapa aku nggak boleh berada di sini?"Vito terlihat seperti baru saja disambar petir ketika mendengar itu. Kepalanya terasa berdengung. Untuk sesaat, dia bahkan tidak bisa mendengar apa pun. Dia segera bertanya, "Tunangan? Mana mungkin? Ivana, kenapa dia bisa menjadi tunanganmu?"Mata Vito memerah, sementara bibirnya bergetar. Aku menarik tangan Alvin dari bahuku, lalu menggenggam tangannya dan menyelipkan jari-jariku di antara jari-jarinya. Kemudian, aku mengangkat tangan kami agar Vito bisa melihatnya. Aku menimpali, "Kenapa nggak mungkin? Aku masih lajang dan nggak punya anak. Apa begitu sulit dipercaya kalau

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 17

    Sudut pandang Ivana:Tidak peduli sekeras apa pun Vito berteriak di belakang mobil, mobil itu tidak melambat. Justru makin melaju kencang hingga akhirnya hanya terlihat seperti titik hitam di kejauhan. Setelah sosok di kaca spion benar-benar menghilang, Alvin akhirnya mengurangi tekanan pada pedal gas.Aku menatapnya dengan curiga dan bertanya, "Ada apa denganmu hari ini? Kenapa terburu-buru banget? Apa kamu sedang mencoba membuat kita mati dalam kecelakaan?"Alvin mengabaikan sindiranku dan tiba-tiba bertanya, "Kalau suatu hari Vito datang kepadamu sambil menangis, menyesali semua perbuatannya, dan memohon agar kamu mau menerimanya kembali, apakah kamu akan menerimanya?"Aku mengerutkan kening, seolah baru saja mendengar sesuatu yang menjijikkan. Namun, aku tetap menjawab dengan serius, "Nggak. Itu nggak akan pernah terjadi selamanya."Setiap kali aku memikirkan apa yang pernah dilakukan Vito padaku, tubuhku selalu merinding. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering terbangun di tenga

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 16

    Sudut pandang Ivana:Malam itu, Alvin menghabiskan seluruh malamnya untuk menyelidiki semua hal tentang Vito dan Chika. Saat fajar tiba, dia sudah menyusun sebuah rencana yang sangat rinci. Sebenarnya, dia bisa saja langsung membawaku pergi dengan paksa. Namun, aku berkata kepadanya, "Kalau kamu melakukan itu, dia akan menghantuiku seumur hidup."Itu sebabnya, Alvin menahan ketidaksabarannya dan mulai menyusun rencananya sedikit demi sedikit. Saat itulah, dia menyadari bahwa kekuatan Keluarga Kastoyo jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan.Alvin berpura-pura ingin menikahi Chika untuk mengalihkan perhatian Keluarga Kastoyo. Namun diam-diam, dia menempatkan orang-orangnya di berbagai tempat agar bisa membawaku pergi dan menghilang tanpa jejak.Sayangnya, Alvin datang terlambat. Ketika Alvin akhirnya menemukanku, aku sudah kehilangan kemampuan untuk memegang pisau bedah yang sangat kucintai akibat kecelakaan mobil itu. Saat itu, aku seakan kehilangan diriku sendiri. Hanya tinggal k

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 15

    Sudut pandang Ivana:Tiga tahun berlalu begitu cepat.Sebuah konferensi medis internasional yang sangat dinantikan diadakan di Linsor mempertemukan para ahli dan peneliti terkemuka dari seluruh dunia. Di area ruang istirahat pusat konferensi, beberapa dokter sedang berbincang."Apakah kalian sudah dengar? Dokter Vinson dari Klinik Mayso akan memberikan presentasi kali ini. Metode operasi baru yang pertama kali digunakan oleh tim medisnya dua tahun lalu sangat populer. Banyak orang berpikir dia bisa menjadi pemenang Nofel berikutnya.""Dokter Vinson? Memang dia luar biasa, tapi menurutku pendekatan barunya masih belum terlalu praktis."Seorang dokter yang lebih tua menyesap kopinya, lalu berkata, "Jangan lupakan juga Dokter Ivon. Katanya dalam tiga tahun terakhir, timnya membuat kemajuan besar dalam operasi cedera dan pemulihan pasien setelah operasi. Mereka sudah menyelamatkan ribuan nyawa. Itu cukup membuat kita, para dokter tua, merasa malu."Liana yang membantu penelitian dan sempat

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 14

    Sudut pandang Vito:"Fernando, ini balasan untukmu!" Chika duduk di ambang jendela sambil tertawa melengking ketika melihat Fernando terjepit di bawah tiang yang runtuh. Kemudian, dia menjatuhkan dirinya ke belakang dan mendarat di atas rumput dengan lembut. Dia berbaring di sana sambil tertawa sampai air mata keluar dari matanya. Dia merasa sangat senang karena berhasil selamat.Sementara itu, bersama Fernando yang berada di dalamnya, ruangan itu dengan cepat ditelan oleh kobaran api yang menjulang tinggi. Akan tetapi, kegembiraan Chika tidak berlangsung lama. Pil yang diberikan kepadanya mulai bereaksi dan akhirnya dia jatuh pingsan.Ketika Chika membuka mata lagi, dia sudah berada di rumah sakit. Dia langsung menghela napas lega ketika menyadari bahwa dirinya masih hidup. Namun beberapa saat kemudian, rasa sakit yang luar biasa muncul dari dalam tubuhnya.Itu adalah rasa sakit tumpul yang berdenyut-denyut, seolah mengalir di dalam tulangnya. Bahkan, sedikit gerakan saja menimbulkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status