แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Onion
Sudut pandang Ivana:

Aku merasa seluruh tubuhku membeku. Telingaku terus berdengung. "A ... apa yang baru saja kamu katakan?"

"Memang itu kenyataannya," kata Susan dengan suara terdengar hati-hati dan penuh rasa tidak enak. "Aku sudah menyuruh seseorang untuk memeriksanya. Secara hukum, kamu masih lajang dan Vito berstatus duda."

"Mantan istrinya adalah Chika. Perceraian mereka baru resmi selesai dua bulan yang lalu. Cap pada surat nikahmu itu palsu. Untuk dokumen-dokumen lainnya, semuanya juga palsu, seperti barang murahan dari toko sembarangan. Intinya, kalian berdua sama sekali bukan suami istri secara sah." Suara Susan tercekat oleh emosinya saat mengatakan itu.

Jadi, pernikahanku yang megah itu, pernikahan yang membuat semua tamu undangan menghela napas kagum dan iri, ternyata selama ini palsu. Tidak ada yang mungkin tahu bahwa semuanya tidak pernah benar-benar sah.

Tanganku gemetar ketika aku menekan tangkapan layar yang Susan kirimkan kepadaku. Cahaya pucat dari layar ponsel memantul ke wajahku yang juga pucat. Itu membuat wajahku terlihat makin suram.

Baris-baris tulisan di layar itu seperti jarum beracun yang menusuk langsung ke mataku. Itu membuat mataku terasa sakit. Ternyata selama ini, akulah orang yang merusak rumah tangga orang lain, juga menghancurkan hubungan orang lain selama 10 tahun penuh.

Selama 10 tahun terbaik dalam hidupku, sejak aku berusia 17 sampai 27 tahun, semuanya kuhabiskan untuk Vito. Pada akhirnya, aku bahkan tidak pernah mendapatkan status yang sah darinya. Betapa menyedihkannya hal ini. Rasa sakit di tanganku dan sesak di dadaku tiba-tiba meningkat berkali-kali lipat. Aku tidak bisa lagi tetap tenang.

Tiba-tiba ruang rawat itu dipenuhi jeritanku yang keras dan penuh penderitaan. Aku menangis dan berteriak sekuat tenaga, bahkan sampai pasien di kamar sebelah pun ikut merasa iba kepadaku.

Pada akhirnya, aku memaksa diri turun dari ranjang. Dengan amarah yang mendidih, aku meraih tongkat penyangga di sampingku dan berjalan terpincang-pincang keluar dari ruang rawat. Aku langsung menuju kantor Vito secepat yang kubisa.

Ketika Vito melihatku di depan pintu, awalnya dia terlihat senang melihatku. Namun begitu dia melihat kakiku yang gemetar dan wajahku yang pucat pasi, dia langsung mendekat sambil mengerutkan kening. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah. Dia bertanya, "Ivana, kenapa kamu ada di sini? Lukamu belum sembuh."

Vito mencoba mengulurkan tangan untuk menopang tubuhku, tetapi aku langsung menepisnya. Aku menyodorkan ponselku kepadanya. Tatapan mataku penuh keputusasaan ketika berucap, "Vito, kalau ada satu hal yang paling kusesali dalam hidupku, itu adalah pernah bertemu denganmu!"

Vito terkejut mendengar ucapanku. Hanya saja ketika dia melihat isi layar ponselku, rona di wajahnya langsung menghilang. Dia buru-buru mengambil ponsel itu dariku dan menekan foto yang ada di sana.

Vito terus menggulir layar itu. Raut wajahnya menjadi makin muram dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, pandangannya berhenti pada bagian saat aku mengatakan pada Susan bahwa aku ingin bercerai darinya.

Vito langsung menatapku. Tatapan matanya penuh kepanikan ketika bertanya, "Kamu mau menceraikanku? Kamu mau meninggalkanku?"

Aku menghirup napas dengan tersendat sambil menatapnya penuh kebencian. Aku membalas, "Benar! Karena sejak awal kita memang nggak pernah menikah secara sah, berarti aku bisa pergi sekarang juga!"

Setelah itu, aku merebut kembali ponselku darinya. Jari-jariku gemetar saat menekan nomor telepon Alvin. Namun sebelum panggilan itu sempat tersambung, Vito langsung merampas ponsel itu dari tanganku dan membantingnya ke lantai sekuat tenaga. Layar ponsel itu seketika pecah berkeping-keping saat menghantam lantai.

Aku mendongak dan menatapnya dengan kaget. Tatapanku langsung bertemu dengan matanya yang memerah. Tidak ada lagi sedikit pun kehangatan atau kelembutan di matanya. Yang ada hanya amarah yang liar dan tidak terkendali. Dia terlihat sangat menakutkan.

"Aku nggak akan pernah membiarkanmu meninggalkanku!" tegas Vito.

Tubuhku bergetar hebat. Hanya saja, aku tetap menggertakkan gigi dan berbalik untuk pergi. Saat baru berjalan dua langkah, tiba-tiba ada rasa sakit yang tajam di sisi leherku. Setelah itu, dunia di sekitarku langsung menjadi gelap dan aku benar-benar kehilangan kesadaran.

....

Ketika membuka mata lagi, aku menyadari bahwa Vito telah membawaku pulang. Namun, pintu dan jendelanya sudah dimodifikasi menjadi lebih kuat. Semuanya hanya bisa dibuka dengan kunci khusus.

Aku tidak punya pilihan lain selain kembali ke ruang tamu dan menatap kotak kue cantik yang masih tertutup di atas meja. Seketika itu juga, rasa mual naik ke tenggorokanku.

Aku berbalik ingin kembali ke kamarku dan berniat mengunci pintunya dari dalam. Namun, Vito tiba-tiba muncul dan menghalangi jalanku. Dia mengira aku sedang berusaha kabur. Sesaat kemudian, dia mengeluarkan sepasang borgol dan memborgolku ke kepala ranjang.

"Dengarkan aku, Ivana. Setelah semuanya selesai, aku janji akan menebus semuanya. Untuk saat ini, kamu cuma perlu bersabar," ucap Vito. Di sisi lain, aku menatapnya dengan penuh kebencian.

Tepat pada saat itu, pintu terbuka dari luar. Yang masuk adalah Chika. Dia melambaikan sesuatu di tangannya sambil berkata, "Vito, menurutmu yang mana yang lebih cocok untukku?"

Pupil mataku langsung mengecil. Di tangannya, Chika memegang kalung berlian dan sepasang anting yang ditinggalkan Ibu untukku. Suaraku berat dan serak seperti lonceng tembaga yang berkarat ketika berseru, "Vito, itu milik ibuku!"

Vito menatapku dengan ekspresi rumit. Namun tetap saja, dia membela Chika, "Aku tahu. Aku juga tahu bahwa aku sudah melakukan segala cara untuk menemukan barang-barang itu dan membawanya kembali untukmu."

Setelah itu, Vito dengan enggan memasangkan kalung itu ke leher Chika, lalu mengancamku, "Kalau kamu masih berpikir untuk kabur, dua barang ini akan menjadi milik Chika selamanya. Bersikap baiklah dan tunggu sampai pernikahan kami selesai."

"Setelah semuanya beres, aku janji semuanya akan kembali seperti semula. Aku akan mendaftarkan pernikahan kita dan memberimu pernikahan yang lebih besar dan lebih mewah daripada sebelumnya. Kamu tetap satu-satunya orang yang kuakui sebagai istriku," tambah Vito.

Aku menatapnya dengan kebencian yang sangat dalam. Jika dia benar-benar akan memaksaku menikah dengannya lagi, aku lebih baik mati sekarang juga.

Vito sepertinya bisa membaca pikiranku. Dia mengambil semua benda yang bisa kugunakan untuk melukai diri sendiri. Apa pun yang bisa kusentuh di sekitarku diganti dengan benda-benda yang lembut dan empuk. Bahkan, borgol yang digunakannya untuk mengikatku diganti menjadi tali sutra.

....

Sehari sebelum pernikahan mereka, aku masih tetap terbaring di ranjang. Aku menolak makan dan minum. Vito memelukku dari belakang dengan perasaan bersalah. Dia menyandarkan dagunya di bahuku dan berbicara kepadaku dengan suara lembut, "Ivana, jangan salahkan aku ya? Aku benar-benar mencintaimu."

"Setelah pernikahanku dengan Chika selesai, juga setelah Keluarga Martino menyerah mengejarnya, aku akan langsung membawamu ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita. Kali ini, aku pastikan surat nikahnya benar-benar asli. Oke?" tanya Vito. Namun, aku menutup mata dan menolak menjawabnya.

....

Keesokan paginya, Chika masuk ke dalam kamar dengan gaun pengantin putihnya dan sengaja memamerkan kalung berlian milik Ibu yang melingkar di lehernya. Matanya berbinar terang ketika dia berbisik di telingaku, "Ivana, kamu kelihatan sangat menyedihkan. Aku sudah pernah memperingatkanmu bahwa sejak awal kamu seharusnya menyingkir dari hubungan ini."

"Kalung ini jelek, tapi Vito bersikeras memberikannya kepadaku sebagai hadiah pernikahan. Oh ya, satu hal lagi, Vito sudah memindahkan rumah sakit milik orang tuamu di Dermaga Barat ke atas namaku. Katanya, itu sebagai jaminan keselamatan untukku dan anakku," lanjut Chika.

Aku tidak mengatakan sepatah kata pun. Bulu mataku bergetar pelan ketika air mata jatuh dari sudut mataku.

Saat Vito melihat aku menangis, dia dengan lembut menghapus air mataku dan mencium keningku. Kemudian, dia menenangkanku dengan berkata, "Bersikap baiklah. Aku akan kembali kepadamu setelah pernikahan ini selesai. Nggak akan lama kok. Setelah itu, semuanya akan kembali seperti semula."

Mereka tidak tahu bahwa aku sudah kehilangan keinginan untuk hidup. Jadi, sejak saat Vito dan Chika pergi meninggalkan ruangan itu sambil bergandengan tangan, aku pun memiringkan tubuhku dan meletakkan pergelangan tanganku tepat di depan mulutku.

Aku tidak merasakan sakit apa pun ketika gigitanku menancap ke pergelangan tanganku. Yang kurasakan hanya darah hangat dan lengket yang menetes dari luka itu.

Aku baru saja berhasil membuat luka kecil, tetapi tiba-tiba jendela kamar tidur dipecahkan dari luar. Sesudah itu, sebuah tubuh boneka dilempar masuk. Kemudian, aku melihat wajah tampan muncul di jendela.

Cahaya matahari pagi bersinar terang di belakang sosok Alvin. Itu menyoroti wajahnya dan memberinya kesan hangat seperti seorang penyelamat. Dia mengulurkan tangannya kepadaku sambil berujar, "Aku datang menjemputmu, Ivana."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 19

    Sudut pandang Ivana:Setelah tengah malam, Linsor menyambut hujan salju paling lebat sepanjang musim dingin itu."Ivana, dia bakal mati nggak karena ini?" tanya Siska.Aku menarik selimut menutupi tubuhku, menutup mata, dan tetap sama sekali tidak terpengaruh. Aku membalas, "Dia orang dewasa yang bisa mengambil keputusan sendiri. Bahkan kalau itu benar-benar terjadi, itu bukan urusan kita. Ayo tidur."Siska mengagumi keteguhanku. Mengingat semua penderitaan yang pernah kualami, dia langsung menarik tirai jendela hingga tertutup rapat. Vito menghabiskan malam itu berdiri di tengah salju.Vito terus-menerus mengingat masa lalu kami. Dulu kami pernah memiliki banyak momen bahagia. Kami merenovasi rumah bersama dan membayangkan masa depan kami. Namun, semua itu hancur karena Chika.Memikirkan Chika membuat amarah Vito makin berkobar. Menjelang akhir malam, tubuhnya terasa seperti terbakar, seolah-olah dia sedang berdiri di bawah terik matahari. Dia tahu dirinya mulai berhalusinasi karena k

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 18

    Sudut pandang Ivana:Tiba-tiba, suara rendah dan dalam seseorang terdengar dari samping. Vito menoleh ke arah suara itu, lalu rahangnya langsung terjatuh karena terkejut. Dia bertanya, "Alvin? Apa yang kamu lakukan di sini?"Alvin merangkul bahuku dengan satu tangan. Ketika dia tidak merasakan perlawanan dariku, genggamannya sedikit mengencang. Dia membalas, "Aku tunangannya. Kenapa aku nggak boleh berada di sini?"Vito terlihat seperti baru saja disambar petir ketika mendengar itu. Kepalanya terasa berdengung. Untuk sesaat, dia bahkan tidak bisa mendengar apa pun. Dia segera bertanya, "Tunangan? Mana mungkin? Ivana, kenapa dia bisa menjadi tunanganmu?"Mata Vito memerah, sementara bibirnya bergetar. Aku menarik tangan Alvin dari bahuku, lalu menggenggam tangannya dan menyelipkan jari-jariku di antara jari-jarinya. Kemudian, aku mengangkat tangan kami agar Vito bisa melihatnya. Aku menimpali, "Kenapa nggak mungkin? Aku masih lajang dan nggak punya anak. Apa begitu sulit dipercaya kalau

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 17

    Sudut pandang Ivana:Tidak peduli sekeras apa pun Vito berteriak di belakang mobil, mobil itu tidak melambat. Justru makin melaju kencang hingga akhirnya hanya terlihat seperti titik hitam di kejauhan. Setelah sosok di kaca spion benar-benar menghilang, Alvin akhirnya mengurangi tekanan pada pedal gas.Aku menatapnya dengan curiga dan bertanya, "Ada apa denganmu hari ini? Kenapa terburu-buru banget? Apa kamu sedang mencoba membuat kita mati dalam kecelakaan?"Alvin mengabaikan sindiranku dan tiba-tiba bertanya, "Kalau suatu hari Vito datang kepadamu sambil menangis, menyesali semua perbuatannya, dan memohon agar kamu mau menerimanya kembali, apakah kamu akan menerimanya?"Aku mengerutkan kening, seolah baru saja mendengar sesuatu yang menjijikkan. Namun, aku tetap menjawab dengan serius, "Nggak. Itu nggak akan pernah terjadi selamanya."Setiap kali aku memikirkan apa yang pernah dilakukan Vito padaku, tubuhku selalu merinding. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering terbangun di tenga

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 16

    Sudut pandang Ivana:Malam itu, Alvin menghabiskan seluruh malamnya untuk menyelidiki semua hal tentang Vito dan Chika. Saat fajar tiba, dia sudah menyusun sebuah rencana yang sangat rinci. Sebenarnya, dia bisa saja langsung membawaku pergi dengan paksa. Namun, aku berkata kepadanya, "Kalau kamu melakukan itu, dia akan menghantuiku seumur hidup."Itu sebabnya, Alvin menahan ketidaksabarannya dan mulai menyusun rencananya sedikit demi sedikit. Saat itulah, dia menyadari bahwa kekuatan Keluarga Kastoyo jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan.Alvin berpura-pura ingin menikahi Chika untuk mengalihkan perhatian Keluarga Kastoyo. Namun diam-diam, dia menempatkan orang-orangnya di berbagai tempat agar bisa membawaku pergi dan menghilang tanpa jejak.Sayangnya, Alvin datang terlambat. Ketika Alvin akhirnya menemukanku, aku sudah kehilangan kemampuan untuk memegang pisau bedah yang sangat kucintai akibat kecelakaan mobil itu. Saat itu, aku seakan kehilangan diriku sendiri. Hanya tinggal k

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 15

    Sudut pandang Ivana:Tiga tahun berlalu begitu cepat.Sebuah konferensi medis internasional yang sangat dinantikan diadakan di Linsor mempertemukan para ahli dan peneliti terkemuka dari seluruh dunia. Di area ruang istirahat pusat konferensi, beberapa dokter sedang berbincang."Apakah kalian sudah dengar? Dokter Vinson dari Klinik Mayso akan memberikan presentasi kali ini. Metode operasi baru yang pertama kali digunakan oleh tim medisnya dua tahun lalu sangat populer. Banyak orang berpikir dia bisa menjadi pemenang Nofel berikutnya.""Dokter Vinson? Memang dia luar biasa, tapi menurutku pendekatan barunya masih belum terlalu praktis."Seorang dokter yang lebih tua menyesap kopinya, lalu berkata, "Jangan lupakan juga Dokter Ivon. Katanya dalam tiga tahun terakhir, timnya membuat kemajuan besar dalam operasi cedera dan pemulihan pasien setelah operasi. Mereka sudah menyelamatkan ribuan nyawa. Itu cukup membuat kita, para dokter tua, merasa malu."Liana yang membantu penelitian dan sempat

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 14

    Sudut pandang Vito:"Fernando, ini balasan untukmu!" Chika duduk di ambang jendela sambil tertawa melengking ketika melihat Fernando terjepit di bawah tiang yang runtuh. Kemudian, dia menjatuhkan dirinya ke belakang dan mendarat di atas rumput dengan lembut. Dia berbaring di sana sambil tertawa sampai air mata keluar dari matanya. Dia merasa sangat senang karena berhasil selamat.Sementara itu, bersama Fernando yang berada di dalamnya, ruangan itu dengan cepat ditelan oleh kobaran api yang menjulang tinggi. Akan tetapi, kegembiraan Chika tidak berlangsung lama. Pil yang diberikan kepadanya mulai bereaksi dan akhirnya dia jatuh pingsan.Ketika Chika membuka mata lagi, dia sudah berada di rumah sakit. Dia langsung menghela napas lega ketika menyadari bahwa dirinya masih hidup. Namun beberapa saat kemudian, rasa sakit yang luar biasa muncul dari dalam tubuhnya.Itu adalah rasa sakit tumpul yang berdenyut-denyut, seolah mengalir di dalam tulangnya. Bahkan, sedikit gerakan saja menimbulkan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status