Share

Bab 3

Penulis: Onion
Sudut pandang Ivana:

Rumah masih kosong ketika aku bangun. Akan tetapi, ada sebuah pesan dari Vito.

[ Sayang, maaf aku terlalu sibuk hari ini dan nggak bisa ambil cuti. Tapi, jangan marah ya. Besok aku pasti pulang dan menemuimu, nggak peduli sesibuk apa pun. Aku juga sudah menyiapkan hadiah untukmu. Tunggu saja sampai aku pulang ya? ]

Tepat di bawah notifikasi pesan dari Vito, ada pesan lain dari Chika. Satu jam yang lalu, dia mengirim sebuah foto. Itu adalah foto selfie mereka berdua di pemandian air panas. Mereka terlihat sangat menikmati waktu bersama. Senyum di wajah mereka terasa sangat menusuk.

Aku menggenggam ponselku makin erat. Hampir saja aku tidak bisa menahan diri untuk langsung menelepon Vito saat itu juga dan menanyakan apakah dia benar-benar sibuk menyelesaikan urusan bisnis atau sebenarnya sedang bersenang-senang dengan "adik angkatnya".

Namun ketika mengingat kembali rencanaku, aku menahan amarahku dan hanya membalas dengan satu kata.

[ Oke. ]

Tidak apa-apa jika Vito tidak pulang hari ini. Aku justru bisa mulai membereskan barang-barang tanpa perlu khawatir dia akan melihatnya. Aku mengemas semua pakaian yang pernah diberikan Vito kepadaku dan memasukkannya ke dalam sebuah kardus untuk kemudian disumbangkan ke tempat penampungan.

Aku menurunkan semua foto potret kami dari dinding dan memasukkannya ke mesin penghancur kertas. Aku juga pernah menulis 100 pesan harapan untuknya. Semua kertas itu aku keluarkan dan kubakar di balkon.

Keesokan harinya, Vito akhirnya pulang. Begitu melihatku, dia langsung meletakkan kue yang dibawanya dan membuka kedua tangannya lebar-lebar sambil berjalan cepat ke arahku. Pria itu berujar, "Aku lelah banget, Ivana! Boleh nggak aku mengisi tenaga dengan memelukmu?"

Aku mundur selangkah dan dengan terampil menghindari pelukannya. Melihat reaksiku, Vito mengangkat alisnya. Dia bertanya, "Kamu masih marah padaku ya? Jangan marah dong. Ayo, aku sudah menyiapkan kejutan untukmu."

Vito tidak menjelaskan apa pun lagi. Dia hanya menarikku masuk ke mobil dan langsung mengemudi dengan sangat cepat. Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan baru yang terlihat sangat modern.

"Suka nggak?" tanya Vito sambil menunjuk bangunan itu. Dia menjelaskan, "Ini hadiah untukmu, Pusat Penelitian Bedah Mikro Ivana Winata. Di dalamnya, ada peralatan dan laboratorium paling canggih di dunia. Aku tahu kamu selalu ingin punya tempat untuk fokus melakukan penelitian bedah."

Vito mengangkat kain sutra yang menutupi papan nama. Sebuah plakat perunggu dengan namaku terukir di atasnya langsung terlihat. Orang-orang di sekitar kami langsung berseru kagum.

"Wah, Pak Vito benar-benar baik banget! Katanya, biaya pembangunan pusat ini sangat mahal!"

"Bukan cuma soal uang! Banyak peralatan presisi di sini yang cuma tersedia di beberapa tempat di dunia. Pak Vito bahkan menggunakan seluruh jaringan relasinya untuk mendapatkannya!"

"Dokter Ivana, kamu benar-benar beruntung! Bos Vito sangat memanjakanmu!"

Sudut bibirku sedikit terangkat. Aku mentertawakan diri sendiri dalam hati. Semua orang mengenal Vito sebagai seseorang yang sangat memanjakan istrinya. Namun, tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang dia perlakukan sebagai "istrinya". Memang benar pria itu menunjukkan cintanya secara terbuka, tetapi cinta itu tidak pernah hanya ditujukan kepadaku saja.

Dalam acara pembukaan itu, ada demonstrasi operasi penyambungan berkas saraf. Itu adalah sesuatu yang sebenarnya cukup mudah bagiku. Aku menatap mikroskop dengan saksama sambil memikirkan rasa sakit dan kesedihan dari masa lalu. Semua perasaan itu kugunakan untuk menjaga fokusku saat membuat jahitan operasi yang sangat halus, bahkan setipis sehelai rambut.

Vito berdiri di luar ruangan, tepatnya di balik kaca. Pria itu tersenyum saat melihatku. Dia tidak pernah mengalihkan pandangannya dariku. Ketika operasi mencapai tahap paling kritis, aku melihatnya membuat gerakan hati besar dengan kedua tangannya melalui kaca. Jantungku tiba-tiba berdebar. Tanganku sedikit gemetar dan pisau bedah yang tajam itu melukai tanganku.

Namun, bahkan sebelum rasa sakit itu datang, aku sudah merasa mual. Aku menarik napas dengan tenang, kembali berkonsentrasi, dan menyelesaikan langkah terakhir operasi itu dengan baik.

Begitu aku meletakkan peralatan operasi, Vito langsung masuk, meraih lenganku, dan membawaku ke ruang pemulihan tanpa mengatakan apa-apa. Dia membersihkan lukaku dengan yodium. Dia bertanya, "Kamu lelah ya? Seharusnya aku nggak memintamu melakukan operasi yang begitu sulit segera setelah kamu tiba."

Vito memegang tanganku dengan sangat hati-hati, seolah-olah tanganku terbuat dari kaca. Tatapan khawatir di matanya juga terlihat sangat tulus. Namun, yang kurasakan hanyalah rasa dingin menjalar di seluruh tubuhku, bahkan muncul keinginan untuk muntah. Aku tidak pernah menyangka bahwa Vito bisa membuat semuanya terlihat seolah-olah dia benar-benar mencintaiku.

Melihat aku sedikit melamun, Vito memegang tanganku dan menunduk untuk menciumku. Pada saat itu, pintu tiba-tiba terbuka lebar. Vito bahkan tidak menoleh. Dia langsung mengambil sebuah botol dari meja dan melemparkannya ke arah pintu. Pria itu berseru, "Keluar!"

Aku menoleh dan melihat Chika berdiri di ambang pintu. Baru saat itu Vito menyadari bahwa orang itu adalah dia. Ekspresinya langsung berubah. Dia bertanya, "Chika? Apa yang kamu lakukan di sini?"

Chika menutupi tanda merah di dahinya dengan tangan sambil menggigit bibirnya. Wanita itu terlihat sangat menyedihkan. Pakaiannya juga sedikit kotor oleh lumpur. Seluruh penampilannya terlihat berantakan.

Chika menjawab, "Aku datang ke sekitar sini buat beli perlengkapan bayi untuk anakku. Aku dengar kamu ada di sini, jadi tadi rencananya mau mampir. Maaf, aku nggak bermaksud mengganggu kalian!" Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan berlari pergi sambil terisak.

Vito terdiam sejenak, lalu dia cepat-cepat mencium pipiku dan berkata, "Aku akan melihat luka di kepalanya dulu dan kembali sebentar lagi. Kami cuma akan berada di depan pintu. Hubungi aku kalau kamu membutuhkan sesuatu." Dia langsung mengambil kotak P3K dan berlari keluar, bahkan tidak sempat memberiku plester.

Beberapa menit kemudian, aku perlahan membuka pintu. Lorong itu kosong. Mereka jelas tidak berada "di depan pintu" seperti yang dia katakan. Untuk sesaat aku merasakan kekecewaan, tetapi segera kutekan perasaan itu. Aku seharusnya sudah menduganya.

Aku berjalan sendirian menuju garasi pusat penelitian dan berniat pulang lebih dulu. Hanya saja ketika aku sampai di dekat mobil, langkahku tiba-tiba berhenti. Aku mendengar suara samar-samar dari sebuah mobil yang jendelanya tidak tertutup rapat.

Melalui jendela mobil itu, aku melihat dua sosok yang saling menempel. Vito sedang mengerutkan kening sambil dengan hati-hati membersihkan luka Chika. Mobil itu kemudian sedikit berguncang dan aku melihat Chika naik ke pangkuannya.

Vito menahan tangan Chika yang mulai bergerak nakal dan berkata dengan sabar, "Jangan cari masalah, Chika. Kamu baru saja melahirkan belum lama ini. Lagian, mobil ini punya Ivana ...."

"Nggak apa-apa. Aku sudah benar-benar pulih. Sudah dua bulan sejak itu. Apa kamu nggak penasaran gimana rasanya di bawah sekarang?" balas Chika.

Tidak lama kemudian, napas Vito menjadi pendek dan tidak teratur. Suara rintihan mereka terus terdengar dari dalam mobil. Aku membeku di tempat. Seluruh darahku seolah berhenti mengalir. Kunci mobil di tanganku jatuh ke lantai dengan suara keras.

Aku langsung tersadar dan ingin pergi dari sana. Sayangnya, aku segera menyadari bahwa orang-orang di dalam mobil bahkan tidak mendengar apa pun. Aku tertawa. Aku tertawa begitu keras sampai air mata mulai mengalir. Mobil itu terus berguncang. Aku membungkuk untuk mengambil kunci yang jatuh, lalu kembali ke ruangan tadi.

Ketika Vito akhirnya membuka pintu ruang observasi lagi, aku masih duduk di tempat yang sama dalam posisi yang sama seperti saat dia meninggalkanku. Dia menghela napas lega dan merapikan kerah bajunya sebelum berjalan mendekat. Pria itu mengajak, "Ivana, ayo kita pulang."

Aku melihat bekas gigitan baru di sisi leher Vito. Anehnya, kali ini aku tidak merasakan apa pun di dadaku. Aku menolak tangan yang dia ulurkan untuk membantuku dan berjalan sendiri menuju mobil. Namun, ketika aku membuka pintu kursi penumpang depan, aku melihat Chika duduk di kursi pengemudi.

Vito buru-buru menjelaskan, "Chika mau pulang bareng kita. Dia baru saja mendapatkan SIM, jadinya mau berlatih menyetir. Kamu jauh lebih jago menyetir daripada dia, jadi tolong bantu kasih arahan di jalan ya?"

Sebelum aku sempat menolak, Vito sudah mendorongku masuk ke kursi penumpang depan. Seandainya saat itu aku tahu bahwa SIM Chika ternyata palsu, aku tidak akan pernah naik ke mobil itu sejak awal.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 19

    Sudut pandang Ivana:Setelah tengah malam, Linsor menyambut hujan salju paling lebat sepanjang musim dingin itu."Ivana, dia bakal mati nggak karena ini?" tanya Siska.Aku menarik selimut menutupi tubuhku, menutup mata, dan tetap sama sekali tidak terpengaruh. Aku membalas, "Dia orang dewasa yang bisa mengambil keputusan sendiri. Bahkan kalau itu benar-benar terjadi, itu bukan urusan kita. Ayo tidur."Siska mengagumi keteguhanku. Mengingat semua penderitaan yang pernah kualami, dia langsung menarik tirai jendela hingga tertutup rapat. Vito menghabiskan malam itu berdiri di tengah salju.Vito terus-menerus mengingat masa lalu kami. Dulu kami pernah memiliki banyak momen bahagia. Kami merenovasi rumah bersama dan membayangkan masa depan kami. Namun, semua itu hancur karena Chika.Memikirkan Chika membuat amarah Vito makin berkobar. Menjelang akhir malam, tubuhnya terasa seperti terbakar, seolah-olah dia sedang berdiri di bawah terik matahari. Dia tahu dirinya mulai berhalusinasi karena k

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 18

    Sudut pandang Ivana:Tiba-tiba, suara rendah dan dalam seseorang terdengar dari samping. Vito menoleh ke arah suara itu, lalu rahangnya langsung terjatuh karena terkejut. Dia bertanya, "Alvin? Apa yang kamu lakukan di sini?"Alvin merangkul bahuku dengan satu tangan. Ketika dia tidak merasakan perlawanan dariku, genggamannya sedikit mengencang. Dia membalas, "Aku tunangannya. Kenapa aku nggak boleh berada di sini?"Vito terlihat seperti baru saja disambar petir ketika mendengar itu. Kepalanya terasa berdengung. Untuk sesaat, dia bahkan tidak bisa mendengar apa pun. Dia segera bertanya, "Tunangan? Mana mungkin? Ivana, kenapa dia bisa menjadi tunanganmu?"Mata Vito memerah, sementara bibirnya bergetar. Aku menarik tangan Alvin dari bahuku, lalu menggenggam tangannya dan menyelipkan jari-jariku di antara jari-jarinya. Kemudian, aku mengangkat tangan kami agar Vito bisa melihatnya. Aku menimpali, "Kenapa nggak mungkin? Aku masih lajang dan nggak punya anak. Apa begitu sulit dipercaya kalau

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 17

    Sudut pandang Ivana:Tidak peduli sekeras apa pun Vito berteriak di belakang mobil, mobil itu tidak melambat. Justru makin melaju kencang hingga akhirnya hanya terlihat seperti titik hitam di kejauhan. Setelah sosok di kaca spion benar-benar menghilang, Alvin akhirnya mengurangi tekanan pada pedal gas.Aku menatapnya dengan curiga dan bertanya, "Ada apa denganmu hari ini? Kenapa terburu-buru banget? Apa kamu sedang mencoba membuat kita mati dalam kecelakaan?"Alvin mengabaikan sindiranku dan tiba-tiba bertanya, "Kalau suatu hari Vito datang kepadamu sambil menangis, menyesali semua perbuatannya, dan memohon agar kamu mau menerimanya kembali, apakah kamu akan menerimanya?"Aku mengerutkan kening, seolah baru saja mendengar sesuatu yang menjijikkan. Namun, aku tetap menjawab dengan serius, "Nggak. Itu nggak akan pernah terjadi selamanya."Setiap kali aku memikirkan apa yang pernah dilakukan Vito padaku, tubuhku selalu merinding. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering terbangun di tenga

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 16

    Sudut pandang Ivana:Malam itu, Alvin menghabiskan seluruh malamnya untuk menyelidiki semua hal tentang Vito dan Chika. Saat fajar tiba, dia sudah menyusun sebuah rencana yang sangat rinci. Sebenarnya, dia bisa saja langsung membawaku pergi dengan paksa. Namun, aku berkata kepadanya, "Kalau kamu melakukan itu, dia akan menghantuiku seumur hidup."Itu sebabnya, Alvin menahan ketidaksabarannya dan mulai menyusun rencananya sedikit demi sedikit. Saat itulah, dia menyadari bahwa kekuatan Keluarga Kastoyo jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan.Alvin berpura-pura ingin menikahi Chika untuk mengalihkan perhatian Keluarga Kastoyo. Namun diam-diam, dia menempatkan orang-orangnya di berbagai tempat agar bisa membawaku pergi dan menghilang tanpa jejak.Sayangnya, Alvin datang terlambat. Ketika Alvin akhirnya menemukanku, aku sudah kehilangan kemampuan untuk memegang pisau bedah yang sangat kucintai akibat kecelakaan mobil itu. Saat itu, aku seakan kehilangan diriku sendiri. Hanya tinggal k

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 15

    Sudut pandang Ivana:Tiga tahun berlalu begitu cepat.Sebuah konferensi medis internasional yang sangat dinantikan diadakan di Linsor mempertemukan para ahli dan peneliti terkemuka dari seluruh dunia. Di area ruang istirahat pusat konferensi, beberapa dokter sedang berbincang."Apakah kalian sudah dengar? Dokter Vinson dari Klinik Mayso akan memberikan presentasi kali ini. Metode operasi baru yang pertama kali digunakan oleh tim medisnya dua tahun lalu sangat populer. Banyak orang berpikir dia bisa menjadi pemenang Nofel berikutnya.""Dokter Vinson? Memang dia luar biasa, tapi menurutku pendekatan barunya masih belum terlalu praktis."Seorang dokter yang lebih tua menyesap kopinya, lalu berkata, "Jangan lupakan juga Dokter Ivon. Katanya dalam tiga tahun terakhir, timnya membuat kemajuan besar dalam operasi cedera dan pemulihan pasien setelah operasi. Mereka sudah menyelamatkan ribuan nyawa. Itu cukup membuat kita, para dokter tua, merasa malu."Liana yang membantu penelitian dan sempat

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 14

    Sudut pandang Vito:"Fernando, ini balasan untukmu!" Chika duduk di ambang jendela sambil tertawa melengking ketika melihat Fernando terjepit di bawah tiang yang runtuh. Kemudian, dia menjatuhkan dirinya ke belakang dan mendarat di atas rumput dengan lembut. Dia berbaring di sana sambil tertawa sampai air mata keluar dari matanya. Dia merasa sangat senang karena berhasil selamat.Sementara itu, bersama Fernando yang berada di dalamnya, ruangan itu dengan cepat ditelan oleh kobaran api yang menjulang tinggi. Akan tetapi, kegembiraan Chika tidak berlangsung lama. Pil yang diberikan kepadanya mulai bereaksi dan akhirnya dia jatuh pingsan.Ketika Chika membuka mata lagi, dia sudah berada di rumah sakit. Dia langsung menghela napas lega ketika menyadari bahwa dirinya masih hidup. Namun beberapa saat kemudian, rasa sakit yang luar biasa muncul dari dalam tubuhnya.Itu adalah rasa sakit tumpul yang berdenyut-denyut, seolah mengalir di dalam tulangnya. Bahkan, sedikit gerakan saja menimbulkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status