Share

Bab 4

Penulis: Onion
Sudut pandang Ivana:

Mobil itu tiba-tiba melaju ke depan dengan gerakan berkelok. Ia berbelok ke kiri dan ke kanan secara tidak terkendali. Jantungku seketika berdebar kencang. Aku mengulurkan tangan untuk coba mengendalikan setir, tetapi Chika langsung mendorongku ke samping.

"Lepaskan setirnya kalau kamu nggak mau kita semua mati!" seruku kepadanya.

Namun, Chika tidak melepaskannya. Sebaliknya, dia justru menginjak pedal gas makin dalam sampai menyentuh lantai. Suara benturan keras yang sangat besar terdengar tepat pada saat yang sama ketika aku mendengar Vito berseru, "Ivana!"

Aku mencoba membuka pintu mobil, tetapi rasa sakit yang sangat tajam menjalar di tanganku. Aku tidak bisa bergerak. Yang bisa kulakukan hanyalah memanggil suamiku dengan seluruh tenagaku, "Vito, a ... aku di sini ...."

Terdengar suara gaduh dan langkah-langkah berlarian. Semuanya bercampur menjadi kebisingan. Akan tetapi, setelah waktu yang terasa sangat lama, tidak ada seorang pun yang datang untuk menolongku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk membuka mataku.

Pandanganku kabur karena darah yang menutupi mataku, tetapi aku masih bisa melihat bahwa mobilku kosong. Hanya ada diriku sendiri di dalamnya. Orang yang tadi berteriak memanggil namaku tidak datang untuk menyelamatkanku.

Saat kesadaranku perlahan mulai memudar, aku merasa seperti jatuh ke dalam sebuah mimpi. Aku bermimpi tentang masa ketika Vito terbang jauh-jauh ke Condase saat dia masih mengejarku.

Kala itu, aku adalah tawanan dari pria paling berkuasa di dunia bawah tanah dan aku menghilang tanpa jejak. Vito yang melacak keberadaanku dengan menyelidiki ke sana kemari tanpa henti, lalu dia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku, padahal peluru jelas beterbangan di mana-mana.

Kami melarikan diri dengan mobil pada malam itu juga. Di sebuah tikungan tajam, untuk menghindari sebuah truk yang melaju tak terkendali dari arah berlawanan, dia memutar setir dengan cepat dan kuat. Mobil kami menabrak pagar pembatas dan meluncur turun dari lereng bukit.

Dalam bencana itu, Vito memelukku erat di dalam pelukannya. Tubuh kami terombang-ambing di dalam mobil. Dia tidak peduli bahwa tubuhnya penuh dengan luka gores dan sayatan berdarah. Mobil itu akhirnya berhenti tepat di tepi jurang dan hampir saja jatuh ke bawah.

Kemudian dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Vito melemparkan tubuhku keluar dari mobil. Dia sendiri tergelincir setengah keluar dari mobil yang sudah hancur itu, sementara setengah tubuhnya menggantung di tepi jurang. Dia hampir saja jatuh dan kehilangan nyawa.

Ketika tim penyelamat akhirnya berhasil menarik Vito kembali ke atas, dia terbaring lemah di pelukanku. Dalam keadaan setengah sadar, dia terus bergumam bahwa dia akan membawaku pulang tanpa memedulikan apa pun yang terjadi.

Vito berujar, "Ivana, mereka cuma mau memanfaatkanmu .... Aku cuma mau kamu selamat .... Aku akan selalu ... melindungimu. Tolong ... tetaplah bersamaku selamanya ...."

Aku hampir saja mengangguk dan menyetujui permintaan Vito. Hanya saja, tiba-tiba pemandangan dalam mimpiku mulai berubah dan menjadi kabur. Aku tersentak bangun dan membuka mata, lalu menyadari bahwa aku sekarang berada di rumah sakit.

Vito yang mendengar keributan itu segera berlari mendekat dengan penuh kegembiraan. Dia berseru, "Ivana, kamu sudah bangun!"

Suster yang sedang mengganti perbanku juga berkata sambil tersenyum, "Akhirnya kamu bangun juga. Pak Vito sudah menemanimu siang dan malam, bahkan hampir menangis karena khawatir. Kami semua berpikir kamu sangat beruntung karena bisa menjadi adiknya."

Aku merasa bingung sehingga bertanya, "Adik?"

"Ya. Bukannya kamu adik Pak Vito?" tanya suster itu sambil menyingkirkan perban lama. Dia melanjutkan, "Istri Pak Vito bahkan datang menjengukmu siang tadi. Dia menangis sangat keras sepanjang waktu. Dia juga meminta kami untuk segera memberitahunya begitu kamu sadar."

Gelas di tangan Vito tiba-tiba pecah dengan suara keras. Dia langsung menatap suster itu dengan tajam. Suster itu luar biasa terkejut dan langsung terdiam. Kemudian, dia segera pergi dari ruangan. Aku juga terkejut mendengar suara pecahan itu. Kenangan yang terputus-putus sebelum aku pingsan tadi mulai kembali tersusun dalam pikiranku.

Vito telah menggendong Chika keluar dari mobil dan pergi begitu saja. Pria itu meninggalkanku di belakang ketika aku memanggilnya untuk meminta pertolongan. Dia benar-benar meninggalkanku seperti itu.

Aku menatap ke arah Vito. Dia tidak bisa menyembunyikan kepanikan di matanya. Sudut bibirku sedikit terangkat. Segera setelah itu, aku bertanya dengan suara serak, "Mau menjelaskan?"

Vito langsung panik. Dia ingin memegang tanganku tetapi takut menyakitiku, jadi dia hanya meletakkan tangannya dengan canggung di lenganku. Dia coba menjelaskan, "Bukan seperti itu, Ivana. Ini cuma kesalahpahaman. Kondisi Chika saat itu sangat buruk. Itulah sebabnya, aku ...."

"Oke. Aku percaya," ucapku yang memotong penjelasannya. Namun, suaraku sama sekali tidak menunjukkan emosi apa pun. Sisa perkataan Vito gagal keluar dari mulutnya.

Vito mungkin mengira aku akan menangis, berteriak, atau membuat keributan besar. Mungkin juga dia mengira aku akan menuntut penjelasan kenapa dia memilih menyelamatkan Chika lebih dulu dan membiarkan orang lain mengira bahwa aku adalah adiknya, sementara Chika adalah istrinya. Hanya saja, aku tidak melakukan semua itu. Aku benar-benar sangat tenang.

Vito membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu. Aku bisa melihat rasa bersalah yang sangat jelas di matanya. Akan tetapi, aku hanya menutup mata sebelum berucap, "Aku lelah."

Vito terdiam cukup lama. Pada akhirnya dia berkata, "Ivana, semua ini salahku. Seharusnya aku nggak biarkan dia menyetir. Aku sudah memarahinya karena itu. Kalau kamu masih marah, kamu boleh memarahiku atau memukulku sesuka hatimu. Jangan menyimpan semuanya di dalam hati."

Aku berbalik dan berkata dengan tenang, "Aku benar-benar lelah."

Vito pun makin panik. Namun, sebelum dia sempat meminta maaf lagi, dokter yang bertanggung jawab datang dan memintanya keluar dari ruangan dengan sopan. Dia akhirnya pergi, meskipun terlihat sangat enggan.

Setelah Vito benar-benar pergi, mataku memerah. Namun kali ini, aku sudah tidak memiliki air mata lagi untuk menangis. Mungkin perasaanku terhadapnya sudah mati sejak saat aku menyadari bahwa dia selama ini membohongiku.

Aku mengusap sudut mataku dan memutuskan untuk tidur kembali. Setelah bangun nanti, aku akan meninggalkannya. Sayangnya baru saja aku menutup mata, tiba-tiba terdengar keributan dari ruang rawat di sebelah.

Seorang wanita berseru, "Kenapa kamu nangis? Dokter wanita di sebelah itu mengalami kecelakaan mobil. Tangannya terluka oleh pecahan kaca dan dia mungkin nggak akan bisa menggunakan pisau bedah lagi. Dia saja nggak nangis sama sekali! Kamu cuma mengalami keseleo ringan di pergelangan tangan! Apa yang perlu ditangisi?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 19

    Sudut pandang Ivana:Setelah tengah malam, Linsor menyambut hujan salju paling lebat sepanjang musim dingin itu."Ivana, dia bakal mati nggak karena ini?" tanya Siska.Aku menarik selimut menutupi tubuhku, menutup mata, dan tetap sama sekali tidak terpengaruh. Aku membalas, "Dia orang dewasa yang bisa mengambil keputusan sendiri. Bahkan kalau itu benar-benar terjadi, itu bukan urusan kita. Ayo tidur."Siska mengagumi keteguhanku. Mengingat semua penderitaan yang pernah kualami, dia langsung menarik tirai jendela hingga tertutup rapat. Vito menghabiskan malam itu berdiri di tengah salju.Vito terus-menerus mengingat masa lalu kami. Dulu kami pernah memiliki banyak momen bahagia. Kami merenovasi rumah bersama dan membayangkan masa depan kami. Namun, semua itu hancur karena Chika.Memikirkan Chika membuat amarah Vito makin berkobar. Menjelang akhir malam, tubuhnya terasa seperti terbakar, seolah-olah dia sedang berdiri di bawah terik matahari. Dia tahu dirinya mulai berhalusinasi karena k

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 18

    Sudut pandang Ivana:Tiba-tiba, suara rendah dan dalam seseorang terdengar dari samping. Vito menoleh ke arah suara itu, lalu rahangnya langsung terjatuh karena terkejut. Dia bertanya, "Alvin? Apa yang kamu lakukan di sini?"Alvin merangkul bahuku dengan satu tangan. Ketika dia tidak merasakan perlawanan dariku, genggamannya sedikit mengencang. Dia membalas, "Aku tunangannya. Kenapa aku nggak boleh berada di sini?"Vito terlihat seperti baru saja disambar petir ketika mendengar itu. Kepalanya terasa berdengung. Untuk sesaat, dia bahkan tidak bisa mendengar apa pun. Dia segera bertanya, "Tunangan? Mana mungkin? Ivana, kenapa dia bisa menjadi tunanganmu?"Mata Vito memerah, sementara bibirnya bergetar. Aku menarik tangan Alvin dari bahuku, lalu menggenggam tangannya dan menyelipkan jari-jariku di antara jari-jarinya. Kemudian, aku mengangkat tangan kami agar Vito bisa melihatnya. Aku menimpali, "Kenapa nggak mungkin? Aku masih lajang dan nggak punya anak. Apa begitu sulit dipercaya kalau

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 17

    Sudut pandang Ivana:Tidak peduli sekeras apa pun Vito berteriak di belakang mobil, mobil itu tidak melambat. Justru makin melaju kencang hingga akhirnya hanya terlihat seperti titik hitam di kejauhan. Setelah sosok di kaca spion benar-benar menghilang, Alvin akhirnya mengurangi tekanan pada pedal gas.Aku menatapnya dengan curiga dan bertanya, "Ada apa denganmu hari ini? Kenapa terburu-buru banget? Apa kamu sedang mencoba membuat kita mati dalam kecelakaan?"Alvin mengabaikan sindiranku dan tiba-tiba bertanya, "Kalau suatu hari Vito datang kepadamu sambil menangis, menyesali semua perbuatannya, dan memohon agar kamu mau menerimanya kembali, apakah kamu akan menerimanya?"Aku mengerutkan kening, seolah baru saja mendengar sesuatu yang menjijikkan. Namun, aku tetap menjawab dengan serius, "Nggak. Itu nggak akan pernah terjadi selamanya."Setiap kali aku memikirkan apa yang pernah dilakukan Vito padaku, tubuhku selalu merinding. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering terbangun di tenga

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 16

    Sudut pandang Ivana:Malam itu, Alvin menghabiskan seluruh malamnya untuk menyelidiki semua hal tentang Vito dan Chika. Saat fajar tiba, dia sudah menyusun sebuah rencana yang sangat rinci. Sebenarnya, dia bisa saja langsung membawaku pergi dengan paksa. Namun, aku berkata kepadanya, "Kalau kamu melakukan itu, dia akan menghantuiku seumur hidup."Itu sebabnya, Alvin menahan ketidaksabarannya dan mulai menyusun rencananya sedikit demi sedikit. Saat itulah, dia menyadari bahwa kekuatan Keluarga Kastoyo jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan.Alvin berpura-pura ingin menikahi Chika untuk mengalihkan perhatian Keluarga Kastoyo. Namun diam-diam, dia menempatkan orang-orangnya di berbagai tempat agar bisa membawaku pergi dan menghilang tanpa jejak.Sayangnya, Alvin datang terlambat. Ketika Alvin akhirnya menemukanku, aku sudah kehilangan kemampuan untuk memegang pisau bedah yang sangat kucintai akibat kecelakaan mobil itu. Saat itu, aku seakan kehilangan diriku sendiri. Hanya tinggal k

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 15

    Sudut pandang Ivana:Tiga tahun berlalu begitu cepat.Sebuah konferensi medis internasional yang sangat dinantikan diadakan di Linsor mempertemukan para ahli dan peneliti terkemuka dari seluruh dunia. Di area ruang istirahat pusat konferensi, beberapa dokter sedang berbincang."Apakah kalian sudah dengar? Dokter Vinson dari Klinik Mayso akan memberikan presentasi kali ini. Metode operasi baru yang pertama kali digunakan oleh tim medisnya dua tahun lalu sangat populer. Banyak orang berpikir dia bisa menjadi pemenang Nofel berikutnya.""Dokter Vinson? Memang dia luar biasa, tapi menurutku pendekatan barunya masih belum terlalu praktis."Seorang dokter yang lebih tua menyesap kopinya, lalu berkata, "Jangan lupakan juga Dokter Ivon. Katanya dalam tiga tahun terakhir, timnya membuat kemajuan besar dalam operasi cedera dan pemulihan pasien setelah operasi. Mereka sudah menyelamatkan ribuan nyawa. Itu cukup membuat kita, para dokter tua, merasa malu."Liana yang membantu penelitian dan sempat

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 14

    Sudut pandang Vito:"Fernando, ini balasan untukmu!" Chika duduk di ambang jendela sambil tertawa melengking ketika melihat Fernando terjepit di bawah tiang yang runtuh. Kemudian, dia menjatuhkan dirinya ke belakang dan mendarat di atas rumput dengan lembut. Dia berbaring di sana sambil tertawa sampai air mata keluar dari matanya. Dia merasa sangat senang karena berhasil selamat.Sementara itu, bersama Fernando yang berada di dalamnya, ruangan itu dengan cepat ditelan oleh kobaran api yang menjulang tinggi. Akan tetapi, kegembiraan Chika tidak berlangsung lama. Pil yang diberikan kepadanya mulai bereaksi dan akhirnya dia jatuh pingsan.Ketika Chika membuka mata lagi, dia sudah berada di rumah sakit. Dia langsung menghela napas lega ketika menyadari bahwa dirinya masih hidup. Namun beberapa saat kemudian, rasa sakit yang luar biasa muncul dari dalam tubuhnya.Itu adalah rasa sakit tumpul yang berdenyut-denyut, seolah mengalir di dalam tulangnya. Bahkan, sedikit gerakan saja menimbulkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status