แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Onion
Sudut pandang Ivana:

Dokter wanita ... kecelakaan mobil .... Sesuatu seperti meledak di dalam kepalaku. Rasanya seolah-olah otakku baru saja hancur berkeping-keping.

Aku berusaha duduk, tetapi rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar di kedua lenganku. Hal itu membuatku terjatuh kembali ke ranjang rumah sakit. Aku menatap telapak tanganku yang terbungkus tebal dengan kain kasa. Keputusasaan yang sangat besar langsung menyelimuti diriku. Tidak, itu tidak mungkin. Ini pasti tidak mungkin ....

Suara Vito yang panik terdengar dari ambang pintu. "Dokter Anton, apa benar nggak ada lagi yang bisa dilakukan? Dia itu seorang dokter bedah! Tangannya adalah segalanya bagi pekerjaannya! Kalau dia nggak bisa melakukan operasi lagi, gimana dia bisa .... Aku bahkan nggak tahu gimana harus menyampaikan kabar buruk ini kepadanya!"

"Pak Vito, kami sudah melakukan segala yang kami bisa. Tapi, kerusakan saraf di tangannya sangat parah, terutama di bagian yang mengendalikan gerakan kecil yang presisi. Bahkan dengan perawatan medis terbaik sekalipun, kemungkinan dia bisa kembali melakukan pekerjaannya ... sangat kecil," jelas Anton.

Beberapa saat hening berlalu. Akhirnya Vito berkata, "Aku mengerti. Makasih."

Setiap kata terasa bagaikan palu besar yang menghantam dadaku dan menghancurkan semua harapan terakhir yang kumiliki.

Aku mewarisi bakat orang tuaku. Mereka berdua adalah dokter bedah yang sangat dihormati dan sepenuhnya mendedikasikan hidup mereka untuk profesi itu. Yang mereka tinggalkan kepadaku bukan hanya rumah sakit kecil di komunitas kami, tetapi juga kecintaan terhadap dunia medis serta keyakinan untuk menyelamatkan nyawa dan menyembuhkan orang yang terluka.

Saat pertama kali memegang pisau bedah, aku tahu bahwa inilah yang ingin kulakukan sepanjang hidupku. Tanganku telah dilatih untuk menjahit pembuluh darah, memperbaiki saraf, dan menyelamatkan nyawa. Namun sekarang, seseorang mengatakan bahwa aku tidak akan pernah bisa menggunakan pisau bedah lagi. Ini lebih kejam daripada hukuman mati.

Ketika Vito kembali masuk ke ruang rawat, dia melihatku terbaring di ranjang. Dia segera bergegas mendekat untuk membantuku duduk. Hanya saja saat melihat air mata di wajahku, dia langsung berhenti. Vito bertanya, "Kamu dengar semuanya, 'kan?"

Aku tidak menoleh ke arah Vito dan menepis tangannya ketika dia mencoba menyentuhku. Dengan suara gemetar, aku bertanya, "Di mana Chika?"

Ekspresi Vito langsung berubah. Dia terlihat khawatir, seolah takut aku akan melakukan sesuatu yang gila. Dia segera membelanya, "Dia masih muda dan belum mengerti benar atau salah. Aku sudah memarahinya karena coba menyetir tanpa SIM yang sah. Dia juga mengalami trauma setelah kecelakaan itu. Ivana, karena dia juga terluka, tolong jangan memperpanjang masalah ini lagi ya?"

Aku langsung menatap Vito dengan mata merah. Jadi, dia sebenarnya sudah tahu sejak awal bahwa Chika tidak memiliki SIM yang sah, tetapi dia tetap membiarkan wanita itu menyetir, bahkan menyuruhku duduk di sampingnya.

Tiba-tiba, aku merasa ingin tertawa. Akan tetapi, sudut bibirku terasa perih karena air mata yang terus mengalir di pipiku. Air mataku tidak berhenti jatuh. Bahkan setelah semuanya berakhir seperti ini, Vito masih tetap saja membelanya.

"Lalu, gimana denganku?" tanyaku dengan suara sangat pelan. "Kalau aku nggak boleh menyalahkannya, lalu siapa yang harus kusalahkan? Diriku sendiri? Aku mungkin nggak akan pernah bisa memegang pisau bedah lagi, tapi kamu masih saja berusaha membelanya!"

Vito mengerutkan kening. Suaranya terdengar tidak sabar ketika membalas, "Ivana, aku sudah bilang bahwa dia nggak melakukannya dengan sengaja. Kenapa kamu terus bersikeras menyalahkannya?"

Vito berhenti sejenak, lalu menegurku lagi dengan nada menyalahkan, "Lagian, kamu juga nggak seharusnya coba merebut setir darinya. Kalau kamu nggak melakukan itu, semua ini nggak akan terjadi. Pernahkah kamu berpikir bahwa ini mungkin juga kesalahanmu?"

Aku merasa seolah-olah Vito baru saja menyiram wajahku dengan seember air es. Seluruh tubuhku langsung membeku. Sesaat kemudian aku tertawa. Aku tertawa begitu keras sampai-sampai orang lain mungkin akan mengira aku sedang menangis. Wajar saja, selama Chika terlibat, akulah yang selalu salah.

Hatiku sebenarnya sudah lama terasa kosong. Akan tetapi, kali ini rasanya seperti Vito baru saja membuka tulang rusukku dan menghancurkan sisa hatiku menjadi debu.

Aku menutup mata sambil berkata dengan lemah, "Aku lelah. Kamu sudah boleh pergi sekarang."

Vito gemetar ketika melihat keputusasaan di wajahku. Baru saat itu dia menyadari betapa menyakitkan kata-katanya tadi. Dia membuka mulut dan ingin meminta maaf, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Selama tiga hari berikutnya, Vito tidak pernah meninggalkan ruang rawatku. Dia memberiku setiap obat tepat waktu dan memasakkan semua makanan yang dulu kusukai. Dia bahkan memasang ranjang lipat di samping ranjangku dan selalu terbangun setiap kali aku bergerak sedikit di malam hari.

Sebaliknya, aku bertingkah seperti boneka yang telah kehilangan keinginan untuk hidup. Aku membuka mulut ketika dia memberiku obat dan bangun ketika dia membantuku berdiri, tetapi aku tidak pernah melontarkan sepatah kata pun kepadanya dan juga menolak menatapnya sepanjang waktu.

Pada akhirnya, Vito tidak bisa menahan diri lagi dan berkata kepadaku, "Aku akan menikahi Chika dalam pernikahan palsu."

Itu adalah pertama kalinya aku meresponsnya sejak percakapan terakhir kami. "Oke, aku akan datang," kataku dengan suara yang tetap tenang.

Hati Vito langsung tercekat. Dia mengira aku akan menangis, berteriak, memarahinya, atau menuntut penjelasan darinya. Dia tidak pernah menyangka aku akan setenang ini. Dia buru-buru mulai menjelaskan dirinya kepadaku. Kepanikan terdengar jelas dalam suaranya.

Vito berujar, "Ivana, ini cuma karena Keluarga Martino tampaknya mengincar Chika dan coba memaksanya jadi menantu mereka. Aku ini kakaknya. Aku nggak tega melihatnya menikah dengan keluarga itu dan hidupnya hancur."

"Jadi, aku berpikir untuk mengumumkan pada publik bahwa kita berdua telah bercerai. Setelah itu, aku akan mengadakan pernikahan dengan Chika. Tapi percayalah padaku, pernikahan itu palsu dan perceraian kita juga palsu. Setelah aku menyelesaikan masalah dengan Keluarga Martino, semuanya akan kembali seperti semula," jelas Vito.

Aku tertawa ketika mendengar rencana Vito. Namun, itu bukan tawa mengejek diri sendiri. Itu juga bukan tawa penuh ejekan. Sebaliknya, aku justru menghela napas lega.

Aku tahu bahwa Alvin akhirnya sudah mulai menjalankan rencananya. Vito selalu mengatakan bahwa Keluarga Martino adalah monster yang tidak berperasaan. Namun bagiku, Keluarga Martino justru satu-satunya jalan untuk melarikan diri dari kehidupanku yang menyesakkan. Mereka adalah harapan terakhirku.

Ketika Vito melihat senyum di wajahku, kekhawatiran di wajahnya langsung menghilang. Dia menambahkan, "Jangan khawatir, Ivana. Kamu adalah satu-satunya orang di hatiku. Aku memang berlebihan waktu itu. Katakan saja apa yang kamu inginkan. Aku akan melakukannya selama kamu nggak marah lagi kepadaku."

Vito mencondongkan tubuh ke depan dan menatapku seolah-olah hampir menangis. Bahkan, suaranya terdengar sedikit sengau ketika berkata demikian. Dia tahu bahwa ini adalah kelemahanku. Di masa lalu, aku selalu luluh setiap kali dia bersikap seperti itu. Namun sekarang, Vito terasa seperti orang asing bagiku. Hatiku terasa begitu tenang, seolah-olah sudah membeku.

Aku menatap mata Vito yang penuh permohonan dan tiba-tiba merasa ingin tertawa keras. Kemudian, aku merespons, "Oke. Kalau begitu, suruh saja Chika menikah dengan orang lain. Dengan begitu dia tetap aman, 'kan?"

Ekspresi wajah Vito langsung membeku. Bibirnya bergerak beberapa saat sebelum akhirnya memaksakan sebuah senyum. Dia menimpali, "Jangan bikin keributan, Ivana."

Vito mengulurkan tangan dan ingin membelai pipiku, tetapi aku menunduk dan menghindarinya. Tangannya berhenti canggung di udara. Raut wajahnya terlihat muram, seolah-olah dia hampir kehilangan kesabaran.

Vito memberitahuku, "Dia juga bisa dianggap sebagai adikmu. Kenapa kamu malah cemburu padanya sih? Apa kamu nggak bisa memikirkan hal lain yang kamu inginkan? Katakan saja, aku akan melakukannya."

Aku tetap tersenyum pada Vito meskipun rasa pahit memenuhi dadaku. Sudah kuduga, selama Chika terlibat, semua janji dan sumpahnya tidak berarti apa-apa.

"Aku cuma bercanda kok," kataku sambil tetap tersenyum. Suaraku menjadi serius ketika menambahkan, "Lakukan saja apa yang kalian inginkan. Nggak perlu memberitahuku."

Vito akhirnya menghela napas lega ketika melihat aku tidak lagi mempermasalahkannya. Dia tersenyum lagi dan mengulurkan tangan untuk mengusap kepalaku. Dia menimpali, "Aku tahu kamu akan mengerti, Ivana. Aku pergi dulu sekarang. Istirahatlah yang baik."

Kemudian, Vito berbalik dan berjalan pergi menyusuri lorong. Begitu dia menghilang dari pandangan, senyum terakhir di wajahku juga menghilang. Jadi, inilah alasan dia selama ini tinggal bersamaku dan merawatku dengan begitu telaten. Bukan karena rasa bersalah atau ingin meminta maaf. Vito hanya khawatir aku akan membuat keributan dan merusak rencananya bersama Chika.

Aku tersenyum pahit pada diriku sendiri. Kemudian sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, aku berusaha mengeluarkan ponselku dan menelepon Susan. Aku bertanya, "Susan, perjanjian perceraianku sudah siap belum?"

Di ujung telepon, suasana hening sejenak. Bahkan, begitu lama sampai aku mengira panggilan itu terputus. Akhirnya Susan berbicara. Suaranya terdengar sedikit ragu. "Ivana, kamu dan Vito sebenarnya nggak pernah nikah. Surat nikah yang kamu tunjukkan padaku kemarin palsu."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 19

    Sudut pandang Ivana:Setelah tengah malam, Linsor menyambut hujan salju paling lebat sepanjang musim dingin itu."Ivana, dia bakal mati nggak karena ini?" tanya Siska.Aku menarik selimut menutupi tubuhku, menutup mata, dan tetap sama sekali tidak terpengaruh. Aku membalas, "Dia orang dewasa yang bisa mengambil keputusan sendiri. Bahkan kalau itu benar-benar terjadi, itu bukan urusan kita. Ayo tidur."Siska mengagumi keteguhanku. Mengingat semua penderitaan yang pernah kualami, dia langsung menarik tirai jendela hingga tertutup rapat. Vito menghabiskan malam itu berdiri di tengah salju.Vito terus-menerus mengingat masa lalu kami. Dulu kami pernah memiliki banyak momen bahagia. Kami merenovasi rumah bersama dan membayangkan masa depan kami. Namun, semua itu hancur karena Chika.Memikirkan Chika membuat amarah Vito makin berkobar. Menjelang akhir malam, tubuhnya terasa seperti terbakar, seolah-olah dia sedang berdiri di bawah terik matahari. Dia tahu dirinya mulai berhalusinasi karena k

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 18

    Sudut pandang Ivana:Tiba-tiba, suara rendah dan dalam seseorang terdengar dari samping. Vito menoleh ke arah suara itu, lalu rahangnya langsung terjatuh karena terkejut. Dia bertanya, "Alvin? Apa yang kamu lakukan di sini?"Alvin merangkul bahuku dengan satu tangan. Ketika dia tidak merasakan perlawanan dariku, genggamannya sedikit mengencang. Dia membalas, "Aku tunangannya. Kenapa aku nggak boleh berada di sini?"Vito terlihat seperti baru saja disambar petir ketika mendengar itu. Kepalanya terasa berdengung. Untuk sesaat, dia bahkan tidak bisa mendengar apa pun. Dia segera bertanya, "Tunangan? Mana mungkin? Ivana, kenapa dia bisa menjadi tunanganmu?"Mata Vito memerah, sementara bibirnya bergetar. Aku menarik tangan Alvin dari bahuku, lalu menggenggam tangannya dan menyelipkan jari-jariku di antara jari-jarinya. Kemudian, aku mengangkat tangan kami agar Vito bisa melihatnya. Aku menimpali, "Kenapa nggak mungkin? Aku masih lajang dan nggak punya anak. Apa begitu sulit dipercaya kalau

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 17

    Sudut pandang Ivana:Tidak peduli sekeras apa pun Vito berteriak di belakang mobil, mobil itu tidak melambat. Justru makin melaju kencang hingga akhirnya hanya terlihat seperti titik hitam di kejauhan. Setelah sosok di kaca spion benar-benar menghilang, Alvin akhirnya mengurangi tekanan pada pedal gas.Aku menatapnya dengan curiga dan bertanya, "Ada apa denganmu hari ini? Kenapa terburu-buru banget? Apa kamu sedang mencoba membuat kita mati dalam kecelakaan?"Alvin mengabaikan sindiranku dan tiba-tiba bertanya, "Kalau suatu hari Vito datang kepadamu sambil menangis, menyesali semua perbuatannya, dan memohon agar kamu mau menerimanya kembali, apakah kamu akan menerimanya?"Aku mengerutkan kening, seolah baru saja mendengar sesuatu yang menjijikkan. Namun, aku tetap menjawab dengan serius, "Nggak. Itu nggak akan pernah terjadi selamanya."Setiap kali aku memikirkan apa yang pernah dilakukan Vito padaku, tubuhku selalu merinding. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering terbangun di tenga

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 16

    Sudut pandang Ivana:Malam itu, Alvin menghabiskan seluruh malamnya untuk menyelidiki semua hal tentang Vito dan Chika. Saat fajar tiba, dia sudah menyusun sebuah rencana yang sangat rinci. Sebenarnya, dia bisa saja langsung membawaku pergi dengan paksa. Namun, aku berkata kepadanya, "Kalau kamu melakukan itu, dia akan menghantuiku seumur hidup."Itu sebabnya, Alvin menahan ketidaksabarannya dan mulai menyusun rencananya sedikit demi sedikit. Saat itulah, dia menyadari bahwa kekuatan Keluarga Kastoyo jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan.Alvin berpura-pura ingin menikahi Chika untuk mengalihkan perhatian Keluarga Kastoyo. Namun diam-diam, dia menempatkan orang-orangnya di berbagai tempat agar bisa membawaku pergi dan menghilang tanpa jejak.Sayangnya, Alvin datang terlambat. Ketika Alvin akhirnya menemukanku, aku sudah kehilangan kemampuan untuk memegang pisau bedah yang sangat kucintai akibat kecelakaan mobil itu. Saat itu, aku seakan kehilangan diriku sendiri. Hanya tinggal k

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 15

    Sudut pandang Ivana:Tiga tahun berlalu begitu cepat.Sebuah konferensi medis internasional yang sangat dinantikan diadakan di Linsor mempertemukan para ahli dan peneliti terkemuka dari seluruh dunia. Di area ruang istirahat pusat konferensi, beberapa dokter sedang berbincang."Apakah kalian sudah dengar? Dokter Vinson dari Klinik Mayso akan memberikan presentasi kali ini. Metode operasi baru yang pertama kali digunakan oleh tim medisnya dua tahun lalu sangat populer. Banyak orang berpikir dia bisa menjadi pemenang Nofel berikutnya.""Dokter Vinson? Memang dia luar biasa, tapi menurutku pendekatan barunya masih belum terlalu praktis."Seorang dokter yang lebih tua menyesap kopinya, lalu berkata, "Jangan lupakan juga Dokter Ivon. Katanya dalam tiga tahun terakhir, timnya membuat kemajuan besar dalam operasi cedera dan pemulihan pasien setelah operasi. Mereka sudah menyelamatkan ribuan nyawa. Itu cukup membuat kita, para dokter tua, merasa malu."Liana yang membantu penelitian dan sempat

  • Adik Angkat Suamiku, Benalu Pernikahanku   Bab 14

    Sudut pandang Vito:"Fernando, ini balasan untukmu!" Chika duduk di ambang jendela sambil tertawa melengking ketika melihat Fernando terjepit di bawah tiang yang runtuh. Kemudian, dia menjatuhkan dirinya ke belakang dan mendarat di atas rumput dengan lembut. Dia berbaring di sana sambil tertawa sampai air mata keluar dari matanya. Dia merasa sangat senang karena berhasil selamat.Sementara itu, bersama Fernando yang berada di dalamnya, ruangan itu dengan cepat ditelan oleh kobaran api yang menjulang tinggi. Akan tetapi, kegembiraan Chika tidak berlangsung lama. Pil yang diberikan kepadanya mulai bereaksi dan akhirnya dia jatuh pingsan.Ketika Chika membuka mata lagi, dia sudah berada di rumah sakit. Dia langsung menghela napas lega ketika menyadari bahwa dirinya masih hidup. Namun beberapa saat kemudian, rasa sakit yang luar biasa muncul dari dalam tubuhnya.Itu adalah rasa sakit tumpul yang berdenyut-denyut, seolah mengalir di dalam tulangnya. Bahkan, sedikit gerakan saja menimbulkan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status