Home / Romansa / Adik Angkatku, Kekasih Gelapku / 7. Malunya Sampai ke Ubun-Ubun

Share

7. Malunya Sampai ke Ubun-Ubun

Author: Indy Shinta
last update Last Updated: 2025-11-27 16:51:10

Chandra yang tadi sempat terpaku akhirnya tersadar dan buru-buru memalingkan wajahnya. Namun telinganya jelas memerah. Lelaki itu tampak kikuk, sangat kikuk, belum pernah sekikuk itu sepanjang sejarah hidupnya.  

Ia menoleh sedikit, seperti sekadar memastikan Amara sudah selesai membereskan kekacauannya.

Tatapan lelaki itu sempat jatuh pada betis Amara… naik ke paha… dan begitu mendekati puncak larangan, Chandra buru-buru membuang pandangan lagi. Rahangnya mengeras seperti hendak pecah.

Sementara itu, Amara dengan gerakan secepat kilat menarik celana dalamnya naik sambil mengerang malu setengah mati.

“Astaga… RIP harga diriku.” Amara membatin sambil meringis, rasa malunya menusuk sampai tembus ubun-ubun. 

Ia menyumpah serapah dalam hati, ingin kabur ke dimensi lain. Tapi, gimana caranya? Anybody help?

“Ck. Kamar mandi sultan kok ada kecoa sih? Ini namanya menistakan kemewahan!” gerutunya, berusaha menutupi rasa malunya dengan marah-marah.

Amara yang sudah selesai, melirik pada Chandra. Dan barulah Amara menyadari penampilan lelaki itu.

Chandra jelas baru akan melepas pakaian saat mendengar teriakannya tadi. Semua kancing kemeja putihnya terbuka. Otot dadanya mengembang mengikuti irama napas yang masih belum stabil. 

Ada tetesan air di kulitnya, keringat yang meluncur pelan menuruni garis dadanya yang bidang… lalu ke perutnya yang sixpack, dan menghilang di balik celana panjang yang masih terpakai setengah rapi.

Oh, indahnya… Eh— 

Oh, astaga!

Amara bisa merasakan panas menyerbu pipinya. Otaknya langsung menayangkan kembali film terlarang itu:

Kulit menempel kulit. Napas saling memburu. Jemari saling meremas satu sama lain.

Ia cepat-cepat menelan ludah, seolah bisa menelan semua kenangan itu masuk dari otak ke perutnya.

Chandra juga terlihat sama tidak beresnya. Tangannya mengusap tengkuk, dan sorot di matanya menegang jelas. Ketika ia bicara, nadanya terdengar lebih marah dari yang diperlukan, mungkin sama seperti Amara, marah menjadi satu-satunya cara baginya untuk tidak terlihat goyah.

“Ngapain pakai kamar mandi ini?” desis Chandra tanpa menoleh. “Ini kan… biasanya dipakai sama pembantu. Gimana kalau tadi mereka yang masuk, bukannya aku? Terus melihatmu seperti tadi?” 

Amara mendengus, mencoba terlihat santai padahal lututnya masih gemetar.

“Kamar mandiku lagi bermasalah. Aliran airnya kecil banget, kadang malah nggak ngalir sama sekali."

Chandra terdiam.

Dan untuk pertama kalinya… tatapannya melunak. Ia akhirnya menoleh sepenuhnya. Mata gelap itu bertaut dengan milik Amara. Lama.

Terlalu lama untuk kategori kakak-adik yang harus berpura-pura tidak punya sejarah bercinta.

Ada sesuatu yang berdenyut. Bukan di kepala. Bukan di hati. Lebih… ke bawah perut. 

Ah, sial.

“Oke.” Suara Chandra turun satu oktaf, sedikit parau. “Untuk sementara kamu bisa pakai kamar mandiku.”

Ia menahan jeda. Tatapannya menahan napas.

“Jangan pakai kamar mandi ini lagi.”

Amara tertegun.

Kalimat sederhana itu terdengar… terlalu melindungi. Tapi, kenapa rasanya… berbahaya?

Chandra mundur selangkah, pelan. Memberi ruang untuk Amara keluar lebih dulu. Tetapi sebelum ia benar-benar lewat, seekor kecoa kembali berlari menyeberang di lantai.

“Aa—!” Amara melompat spontan, memeluk lengan Chandra sambil berjinjit ketakutan.

Chandra sontak kaku. Otot lengannya menegas sempurna di genggaman Amara.

“Ini cuma kecoa,” bisiknya pelan. Suaranya terdengar seperti seseorang yang mencoba keras untuk tidak kehilangan kendali.

Amara ingin melepaskan diri. Ia tahu harus melakukannya. Tapi tubuhnya tidak mendengar. Dia benar-benar jijik melihat kecoa, dan jelas saja Chandra adalah tempat teramannya saat ini untuk berlindung dari makhluk itu.

“Hiii…” 

Amara memekik ketika si kecoa nyaris menyerempet kakinya saat tiba-tiba berbalik ngepot untuk sembunyi ke dalam kamar mandi.

Chandra segera menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.

Keduanya saling memandang, diam, lalu sama-sama membuang muka. 

“Fix! Aku nggak mau pakai kamar mandi ini lagi.” Amara menggeleng dengan dramatis sambil melepaskan tangannya dari lengan Chandra.

Chandra mendengus kecil. “Kubilang tadi juga apa?”

“Kalau tiba-tiba aku kebelet pipis nanti malam—”

“Masuk saja, aku nggak akan kunci pintu kamarku. Tapi jangan berisik,” potong Chandra cepat, sebelum melangkah lebih dulu meninggalkan Amara yang mematung di depan pintu kamar mandi.

Amara ngacir mengikuti Chandra di belakang, takut kecoa tadi nongol lagi.

Chandra tiba-tiba berhenti dan menoleh. Amara langsung mengerem langkahnya.

“Memangnya rumah Bik Harni steril dari kecoa?” 

Entah itu pertanyaan yang cuma ingin tahu, atau sindiran.

“Ya banyak, sih.” Amara cemberut.  “Makanya… aku betah lama-lama di tempat spa, di sana bersih dan nyaris nggak ada kecoa.”

Mendengarnya, tangan Chandra terlihat mengepal. Lelaki itu kini sepenuhnya berbalik menghadapnya. Gerakannya terlihat biasa saja, datar seperti biasanya. Tapi tatapan itu… tidak biasa. 

Ada sesuatu yang berpendar di matanya.

“Aku akan menegur kepala pelayan soal kecoa tadi. Selama di sini, akan kupastikan kamu nggak akan melihatnya lagi.”

Kemudian Chandra melangkah pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Namun langkahnya sempat terhenti saat hendak membuka pintu kamarnya. 

Lelaki itu menoleh sebentar pada Amara yang masih mematung di tempatnya. Ia membuat gerakan isyarat yang artinya Amara boleh memakai kamar mandi miliknya. 

***

Sementara itu, di dalam sebuah kamar utama di kediaman keluarga Sanjaya, Tuan Arman menegur sang istri.

“Jangan terlalu keras padanya, Lydia.”

“Mas, anak itu masih saja keras kepala. Kupikir setelah hidup sengsara bertahun-tahun, dia bakal nurut. Ternyata masih sama aja.”

Nyonya Lydia mengoles krim malam ke wajahnya, gerakannya cepat dan kesal.

“Sabarlah. Dia memang begitu dari kecil, kita tahu itu,” jawab Tuan Arman sambil mengancingkan baju piyamanya. “Jangan bikin dia nggak betah lalu kabur, Lydia.”

“Tenang, Mas. Selama Bik Harni masih hidup, kita bisa gunakan dia buat menekan Amara agar patuh.” Nyonya Lydia tersenyum licik. “Amara tidak akan membiarkan pahlawan penyelamat nyawanya itu membusuk di penjara, kan?”

“Sudah kau pastikan Amara betul-betul menandatangani surat perjanjian itu?”

Nyonya Lydia mengangguk mantap. “Anak itu bahkan menandatanganinya tanpa berpikir panjang. Dia bersedia kembali ke rumah kita asal Bik Harni dibebaskan dari segala tuntutan.”

Tuan Arman terlihat puas karena titik lemah Amara sudah berada dalam genggaman mereka.  

“Kalau saja ibumu yang cerewet itu tak terus-terusan mendesak kita punya momongan… kita tak perlu repot-repot memungut anak, Mas.” Nyonya Lydia menggerutu sambil menyusul suaminya ke atas ranjang. “Untung saja sekarang anak itu ada gunanya juga,” lanjutnya sembari menarik selimut. 

“Tapi Lydia, kudengar… dia pernah bekerja sebagai terapis spa khusus pria. Benarkah?” 

Ada sorot cemas di mata Tuan Arman, bukan cemas soal Amara.

“Ck. Dengan otaknya yang cuma segitu, apa lagi coba kemampuannya?” Nyonya Lydia mendengus ringan. “Sudah bagus dia tidak jadi LC, Mas.”

“Jangan sampai keluarga Hamzah mengetahuinya, Lydia. Dari semua koleganya… dia memilih kita sebagai besan. Hanya karena satu keberuntungan kecil saja: mereka terpukau saat menonton pertunjukan balet Amara semasa TK.”

Dan balet saat itu dinilai sebagai seni yang prestisius, keterampilan yang identik dengan anak-anak keluarga kaya, sehingga mungkin di mata Tuan Hamzah saat itu, Amara tampak setara dengan putranya.

“Iya, aku ingat itu, Mas. Hamzah langsung ingin menjodohkan Amara dengan David.”

Dan hampir saja mereka melupakan permintaan Hamzah kala itu. Sampai pada acara gala dinner yang diadakan oleh Nusantara Prima Group —perusahaan konglomerasi milik keluarga Hamzah— janji masa lalu itu kembali menyapa mereka.

“David sudah kupanggil pulang ke Indonesia. Aku mau kenalin dia ke putri kalian.” 

Tuan Arman dan Nyonya Lydia saling lirik, menyembunyikan ekspresi tegang mereka. Tapi Tuan Arman segera menguasai keadaan.

“Bagus, Hamz. Mari kita atur waktunya.”

Sepulangnya dari acara itu, Tuan Arman langsung menitahkan orang-orangnya untuk mencari dan membawa kembali Amara yang hilang sejak 18 tahun silam.

“Lydia, perjodohan ini harus berhasil,” Tuan Arman berkata pelan namun penuh ambisi. “Ini peluang emas bagi perusahaan kita untuk naik kelas. Proyek-proyek strategis dari Nusantara Prima Group bisa jatuh ke tangan kita.”

Nyonya Lydia tersenyum tipis. Di matanya berkilat ambisi yang sama besarnya dengan sang suami.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   59. Masa Lalu Tetap Membayang

    Lift mall itu turun mulus. Mungkin karena lift ini sudah biasa mengangkut orang-orang yang hidupnya juga mulus—atau setidaknya kelihatan mulus dari luar. Soalnya di dunia orang kaya, perasaan itu seperti noda minyak: kalau ada, harus disembunyikan. Kalau tumpah, harus segera dilap.Amara berdiri di sisi kanan Nyonya Lydia. Posisi aman. Tak terlalu dekat sampai terlihat nempel kayak perangko, tapi juga tak jauh sampai terlihat seperti staf yang kebetulan ikutan.Di tangannya ada dua paper bag kecil. Imut. Mengkilap. Beratnya bukan karena barangnya berat—tapi karena simbolnya.Di dunia ini, bawa paper bag dari butik mewah itu bukan soal belanja. Itu soal pamer.Amara menghela napas. Ia menyadari statusnya sebagai Nona Sanjaya lama-lama bikin ketagihan, karena ternyata jadi orang kaya itu… ya memang enak.Beberapa hari terakhir, Amara mulai terbiasa dengan hal-hal yang dulu mustahil: staf yang langsung menyingkir memberi jalan, pramuniaga yang menunduk sambil bilang, “Selamat datang, Non

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   58. Kehadiran yang Mulai Diterima

    Mall mewah itu tetap sama: lantainya mengilap seperti cermin kejujuran yang terlalu mahal untuk diinjak sembarangan, lampu-lampunya berkilau seperti sedang pamer berapa banyak orang kaya yang sudah mereka saksi bisukan hari ini.Amara berjalan setengah langkah di belakang Nyonya Lydia.Langkahnya pendek, terukur. Bahu lurus. Dagunya sedikit terangkat. Wajahnya tenang—versi dirinya yang baru, versi yang tidak mengedip berlebihan, tidak memandang sekitar dengan rasa tidak pantas, dan tidak tampak seperti perempuan yang dulu lebih sering berdiri di balik tirai spa daripada etalase butik.Amara hafal betul ritmenya sekarang.Di luar: anggun.Di dalam: waspada seperti kucing yang dilempar ke akuarium ikan mahal.“Setelah ini kita ke butik di lantai satu,” kata Nyonya Lydia sambil berjalan, suaranya datar, fokus pada rencana belanja seperti sedang menyusun strategi perang. “Mama mau lihat koleksi terbaru mereka. David akan suka.”Amara nyaris memutar bola mata. Tentu saja. Semua selalu be

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   57. Sejauh Apa

    Ruang pelatihan etiket itu wangi. Seolah bunga-bunga diperas jadi parfum lalu disemprotkan ke udara sampai orang yang masuk ikut berubah jadi “berkelas” tanpa diminta pendapatnya.Amara duduk di kursi berlapis kain krem, punggung tegak, dagu sedikit terangkat, kedua tangan bertumpu ringan di atas paha. Posisi itu ia hafal. Bukan karena ia suka. Tapi karena setiap kali ia lupa, instruktur di depannya akan mengoreksi dengan suara yang sama rapi seperti garis-garis pada buku panduan.“Postur,” kata instruktur itu lagi. Perempuan berusia lima puluhan dengan rambut disanggul, lipstik nude, dan senyum yang selalu terlihat seperti hasil latihan. “Bayangkan ada tali yang menarik kepala Anda ke atas.”Amara membayangkan. Yang ia bayangkan bukan tali, melainkan tangan Nyonya Lydia yang mengangkat dagunya seperti memeriksa barang.Amara menghela napas, menegakkan punggung sedikit lagi.“Bagus, Nona Amara.” Instruktur mengangguk. “Sekarang, kita latihan cara menolak makanan tanpa terlihat menolak

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   56. Teman Tapi Menikung

    Chandra kembali masuk ke kantor seperti seseorang yang berusaha membuktikan pada dunia—dan pada dirinya sendiri—bahwa ia masih orang yang sama.Lift berhenti di lantai eksekutif. Pintu terbuka. Udara dingin dan wangi kayu mahal menyambutnya. Ia berjalan lurus, langkahnya stabil, jasnya rapi, ekspresinya terkunci di mode yang selalu berhasil: tenang, fokus, tak tersentuh.Di meja, Raka sudah menunggu dengan map tebal dan satu tablet yang menampilkan jadwal rapat hari itu.“Selamat pagi, Pak. Untuk proyek properti—tim planning sudah siap presentasi. Direksi minta Anda pimpin langsung.”Chandra mengangguk. Ia mengambil map itu tanpa melihat isinya dulu, seperti seseorang yang sudah tahu tiap halaman akan berbicara dengan bahasa yang ia kuasai.“Nama proyeknya?” tanyanya sambil berjalan.“Project Meridian,” jawab Raka. “Mixed-use. Premium. Strategis.”Meridian.Nama yang terdengar seperti sesuatu yang besar, sesuatu yang harus ditangani oleh pewaris yang tepat. Sesuatu yang harusnya membu

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   55. Sebuah Alasan

    Pagi di rumah keluarga Sanjaya selalu datang dengan dua hal: cahaya yang terlalu rapi, dan aura “silakan salah sedikit supaya bisa diadili.”Amara berdiri di depan lemari, menatap dirinya sendiri seperti sedang mengecek apakah ia sudah layak naik pangkat dari “makanan sisa” jadi “menu utama” di meja makan nanti.Pixie cut-nya masih sama—tegas, ringan, sedikit menyebalkan karena bikin wajahnya terlihat “siap debat” bahkan saat ia cuma mau sarapan. Hari ini ia pakai setelan rumah yang terlalu mahal untuk ukuran orang yang sebenarnya cuma mau makan telur.Fakta bahwa hari ini ia akan sarapan bersama anggota lengkap keluarga Sanjaya, cukup membuatnya gugup.Amara menghembuskan napas panjang.“Oke, Mara,” gumamnya pada cermin. “Kamu sekarang keluarga ningrat. No minder-minder club.”Ia turun ke ruang makan dengan langkah yang ia latih sendiri: tidak terburu-buru, tidak menunduk, tidak kelihatan seperti “maaf numpang hidup.”Di ruang makan, meja panjang sudah tersaji seperti sesi pemotreta

  • Adik Angkatku, Kekasih Gelapku   54. Janji yang Manis

    Mata Amara perlahan naik ke wajah Chandra.Dan untuk pertama kalinya malam itu, Amara tidak punya kata balasan.Chandra juga seperti baru tersadar ia barusan menjatuhkan dirinya sendiri. Bibirnya membuka, menutup. Sekali. Dua kali.“Aku—” suaranya serak. “Bukan maksud—”Ia mengusap wajahnya lagi, kasar, lalu tertawa sekali—tawa yang benar-benar kalah.“Sial,” katanya lirih, bukan umpatan untuk Amara. Untuk dirinya sendiri.Amara menelan ludah. Ia membuang tatapannya agar Chandra tak melihat bagaimana wajahnya saat ini sedang merona merah. ‘Kenapa dia harus ungkit-ungkit masalah tidur lagi, sih!’Chandra mengusap wajahnya sekali lagi. “Lupakan yang kukatakan tadi,” katanya cepat, seperti orang yang buru-buru menutup pintu sebelum ada yang masuk. “Aku sudah lupa,” Amara membalas, nada suaranya lebih dingin dari yang ia rasakan, “tapi kamu sendiri yang mengungkitnya. Aku sudah selesai dengan itu, tapi sepertinya kamu yang belum.”Kalimat itu jatuh tajam, tapi bukan karena Amara ingin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status