Mag-log inPLAK!
“Awww—!” Chandra kaget bukan main, lelaki itu meringis sambil memegang kepalanya yang baru saja kena gaplok Amara.
“Kurang ajar! Jangan panggil-panggil namaku sembarangan, ya!” omel Amara, matanya melotot kesal.
“Panggil aku: ‘Kak’. Ngerti?!”
Chandra mengerjap, menatap Amara dengan ekspresi “apaan sih?”
“Apa liat-liat?” tantang Amara sengit, membalas tatapan Chandra yang memandangnya seperti sedang melihat alien yang baru turun ke bumi.
“Masih kurang keras ya jitakanku di kepalamu itu, heh?” Amara mendorong dada Chandra menjauh, masih dengan emosi, seperti orang yang sengaja ngajak gelut.
“Denger ya, ‘anak Mama’... Kamu boleh lebih tinggi dan lebih besar dari aku sekarang, tapi tetap aja… aku yang duluan jadi penduduk bumi ketimbang kamu. Jadi… hormati aku. Oke?”
"Astaga." Chandra memutar bola matanya dengan dramatis. “Kamu tuh—”
Plak!
Satu gaplokan Amara lagi di kepala Chandra, tidak sekeras yang tadi tapi cukup menyadarkan Chandra, bahwa sepertinya… hari-harinya yang tenang mulai hari ini tinggallah kenangan.
Lelaki itu meringis sambil memandang Amara lagi, dengan sorot yang lebih sadar ancaman.
“KAK,” Amara menegaskan, menekankan setiap huruf seraya melotot tajam pada sang adik.
Chandra menurunkan tangannya dari kepala, ekspresinya kembali datar, seolah tidak pernah terjadi gaplokan barusan.
Tatapannya yang semula datar kini merayap dari wajah Amara sampai ke ujung dagunya, pelan, tenang… tapi tajam seperti pisau yang baru diasah.
“Sudah selesai dramanya?” ucap Chandra dingin, suaranya rendah tapi menggigit.
Amara mendengus. “Heh. Dengar ya—”
“KAK,” Chandra memotong cepat, nadanya dingin tapi tajam. “Kalau itu yang kamu mau dengar, aku sudah bilang barusan. Puas?”
Amara membuka mulut hendak membalas, tapi Chandra sudah lebih dulu mencondongkan tubuh mendekatinya. Hanya sedikit saja, cukup membuat Amara terdiam tanpa sadar.
“Padahal aku cuma panggil nama kamu ‘Amara’, bukan maki-maki,” Chandra melanjutkan, tatapannya mengunci mata Amara tanpa berkedip. “Kalau itu cukup untuk membuatmu histeris seperti barusan… mungkin kamu perlu bikin jadwal dengan psikiater.”
Napas Amara tercekat.
Kurang ajar!
Kalimat itu rasanya seperti hantaman keras tepat di ulu hati.
“Wah… wah… apa ini?” Amara mendengus. “Lihat… kamu memang ‘anak Mama’ ya? Gaya bicara kalian aja mirip banget. Pelan, tapi nyubit!”
Chandra tidak tersenyum. Juga tidak berkedip.
“Kamu merasa tercubit?” Chandra balas mendengus. “Padahal aku cuma bicara apa adanya,” katanya datar. “Konon katanya… orang hanya akan bereaksi berdasarkan tabungan emosi yang ia punya, suka marah-marah… berarti—”
“Berarti APA?” sambar Amara tambah emosi, untuk sejenak kandung kemihnya seakan takut mengingatkannya untuk segera pipis.
Chandra terdiam, namun sorot matanya tampak berbicara banyak.
“Apa?!” bentak Amara yang tak suka dengan tatapan yang terlalu meneliti si adik lelakinya itu.
“Kak,” Chandra menghela napas sebentar, “...kalau kamu ingin dihormati, belajarlah dulu agar terlihat pantas dihormati.”
Seketika Amara merasakan darahnya mendidih, tapi bibirnya gemetar tak bisa mengeluarkan balasan yang tajam.
Sementara itu, Chandra malah tersenyum miring.
Sialan. Apa arti senyumnya itu?
“Jangan kurang ajar. Aku ini kakakmu, ya!”
“Dan itu tidak mengubah apa pun,” sahut Chandra pelan namun menghantam. “Usia tidak otomatis memberimu martabat, Kak.”
Mulut Amara ternganga.
Nah, benar kan… Chandra yang sekarang, bukan lagi Chandra yang dulu.
Adiknya itu benar-benar sudah berubah total.
“Lain kali kalau mau jitak orang,” tambahnya, suaranya menurun menjadi sangat tenang, terdengar berbahaya, “pastikan kamu sudah siap menerima balasannya, Kak.”
Amara spontan mundur selangkah tanpa sadar, degup jantungnya menggila.
Chandra mengalihkan pandangannya perlahan, seolah membiarkan tatapan itu pergi, tapi meninggalkan bekas yang tidak akan hilang dalam satu napas.
Ia melangkah santai melewati Amara, lengannya yang keras hampir bersenggolan dengan bahu Amara.
“Dan satu hal lagi.”
Suara Chandra terdengar rendah tepat di telinga Amara saat ia berhenti sesaat di sisi kakaknya itu.
“Aku tidak pernah, sekalipun, menganggap kamu tidak layak dipanggil kakak.” Ia menoleh sedikit, sorot matanya dingin namun menyimpan sesuatu yang tak terucap.
“Yang membuatnya sulit adalah… cara kamu melihat dirimu sendiri.”
Lalu ia melangkah pergi begitu saja.
Tenang. Tegas.
Meninggalkan Amara dengan tangan yang terkepal marah di sisi tubuh.
Amara mematung di tempat, dadanya naik-turun cepat, seperti baru saja selesai berlari dari marathon yang tidak pernah ia persiapkan.
“Astaga, panasnya hatiku ini ya, Lord…” Ia bergumam lirih seraya mengipasi dadanya dengan tangannya sendiri, dengan gerakan yang dramatis.
Ia ingin marah, ingin membalas, ingin meledak. Tapi kata-kata Chandra membuat lidahnya kelu.
Oh. Sial. Sial.Sial.
Adik lelakinya yang sekarang sudah bisa membalas omelannya dengan sama tajamnya.
Amara melirik sewot pada sosok Chandra yang melangkah ringan dan stabil, kontras dengan gemuruh di dalam dadanya saat ini.
Adik lelakinya itu berjalan tanpa menoleh lagi, sikapnya terlalu tenang, seperti tak ada apa-apa barusan. Seolah keributan tadi cuma kerikil kecil yang cukup ia singkirkan dengan satu tendangan kaki.
Namun, yang membuat Amara semakin keki adalah… saat melihat Chandra memasuki sebuah kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya.
“What the hell…” desahnya betul-betul frustrasi.
Kamar mereka bahkan bersebelahan?
Amara berkedip, napasnya terhenti sesaat.
Sementara di balik pintu itu, ada senyum tipis yang terbit di sudut bibir Chandra, sesaat setelah ia memasuki kamarnya.
“Good night, Kak.”
Lalu, pintu itu tertutup rapat.
Amara membeku di koridor, menatap kosong ke pintu itu, seakan pintu tersebut baru saja menelan semua oksigen dari paru-parunya.
Mereka tinggal satu lantai dan satu atap sekarang? Bagus banget!
Di tengah rasa frustrasi, kandung kemihnya tiba-tiba kembali mengirim sinyal yang tak bisa diabaikan lagi.
Amara ngacir ke kamar mandi, melupakan sejenak segala masalah hidupnya.
“Oh… nikmatnya,” desah Amara saat air pipisnya mengalir dan menimbulkan bunyi gemericik ramai di kloset yang ia duduki.
“Andaikan saja… semua beban hidupku bisa kuubah menjadi pipis, aku rela beser tiap hari ya, Lord,” gerutunya sambil menekan tombol flush.
Dan pada saat itulah akhirnya Amara menyadari ada sesuatu yang sedang merambati kakinya.
"Haa...?"
Amara memucat. Dia benci kecoa. Geli, takut.
"Toloong!"
Dia langsung histeris. Berjingkat-jingkat geli karena kecoa itu justru terbang ke sana kemari seolah menikmati ketakutannya.
BRAK!
Pintu kamar mandi terbuka lebar.
“Kak! Kenapa?”
Chandra berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit terengah karena ia berlari. Tatapannya waspada, siap menghadapi ancaman besar… sampai ia melihat sumber kekacauan itu.
Seekor kecoa kecil, mengibaskan sayapnya dengan angkuh di lantai.
Amara bersembunyi di bawah wastafel, berjinjit seperti kucing yang ketakutan, wajahnya pucat pasi.
“I-itu...!" serunya panik.
Chandra mendesah sambil mengusap wajahnya yang sempat tegang dengan ekspresi 'astaga, kukira apa'.
Adiknya itu melangkah santai menangkap kecoa, seolah ia berhadapan dengan hal paling sepele di seantero bumi, tapi kerap bikin heboh para perempuan. Ia melemparnya ke kloset dan segera menekan tombol flush.
Amara melongo melihat betapa santainya Chandra menangkap makhluk menjijikkan itu.
“Sudah,” ujar Chandra ringan. “Ancaman berakhir.”
Amara menghela napas lega sambil bangkit berdiri. Tapi, tiba-tiba saja ia sadar dan menoleh ke bawah...
Oh, Shit!
Celana dalam yang belum sempat ia pakai kembali dengan sempurna —gara-gara kaget melihat kecoa sialan itu— kini tampak menggantung pasrah di pergelangan kakinya.
Amara membeku.
Chandra terpaku.
Amara diam seribu bahasa sepanjang sisa perjalanan. Bukan diam yang pasrah, tapi diam yang menahan diri agar tidak runtuh di tempat yang salah.Chandra beberapa kali mengajaknya bicara—pertanyaan kecil, komentar sepele tentang jalanan, tentang besok—namun Amara hanya menjawab seperlunya. Senyumnya ada, tapi terlalu rapi. Terlalu dikendalikan. Seolah senyum itu bukan reaksi, melainkan tameng.Selebihnya, ia menutup mata. Pura-pura tidur. Bukan karena lelah, melainkan karena ia tidak ingin ditanya lagi bagaimana keadaannya. Tidak ingin menjelaskan perasaan yang bahkan ia sendiri belum bisa merangkainya dengan kata-kata.Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah.Amara langsung turun tanpa menunggu, membawa tas-tas belanjaannya. Gerakannya cekatan, seolah tubuhnya sudah hafal apa yang harus dilakukan ketika ia memutuskan untuk tidak bergantung pada siapa pun.Dua pelayan yang sudah menunggu di pintu rumah terlihat terdiam sejenak. Tatapan mereka memindai Amara dari ujung rambut hingga uju
Begitu pintu mobil tertutup, suara klik sabuk pengaman bahkan belum selesai berbunyi—“Sial. Sial. Sial,” Amara langsung menyambar.Chandra baru sempat memutar kunci, mesin belum benar-benar hidup.“Asli, sumpah! Kamu keterlaluan, Ndra!” Amara menoleh tajam. “Apaan sih?” Chandra melirik sekilas, santai. “David?”“Siapa lagi?!” Amara hampir menepuk dashboard. Hampir. Ia menahan diri di detik terakhir. “Kenapa kamu nggak cepat-cepat kasih kode ke aku, apa kek gitu… kalau itu tadi David!”Ia mengusap wajahnya cepat, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Tarikan napasnya pendek, frustrasi.“Padahal kan dia targetku,” lanjutnya, kali ini lebih rendah tapi penuh tekanan. “Alasan kenapa aku mau glow up. Kenapa aku mau nurut sama semua aturan kamu. Duduk tegak. Tatap mata. Jangan gelisah. Jangan kelihatan butuh.”Amara menoleh lagi ke Chandra. “Semua itu karena dia!”Chandra tidak langsung menjawab. Mobil mulai melaju pelan meninggalkan parkiran.“Aku pantang ngeluh,” kata Amara cepat,
Chandra baru menyadarinya setelah kafe kembali ke ritme normalnya.Tidak ada lagi pria itu. Tidak ada lagi interupsi. Tinggal mereka berdua, meja kayu gelap, dua cangkir kopi, dan jarak yang seharusnya terasa biasa.Tapi tidak.Amara duduk tegak di seberangnya. Punggung lurus. Bahu sejajar. Tidak gelisah. Tidak menunduk. Tatapannya menetap padanya setiap kali ia bicara—bukan tatapan menantang, bukan pula tatapan mencari validasi. Tatapan yang tenang. Mantap. Seolah wanita itu tahu persis posisinya di ruangan itu.Chandra mengamati tanpa disadari.Dulu, Amara selalu memalingkan mata lebih dulu. Mengisi jeda dengan gerakan kecil yang tidak perlu, bahkan menggigit kuku. Sekarang, ia tidak melakukan apa-apa selain ada dan melakukan setiap hal dengan pantas. Caranya menyesap kopi, caranya memejam sesaat sambil berkata, “Hmm ini baru kopi.” Berkelas.Dan itu perubahan besar.Chandra menyesap kopinya. Rasanya pahit, seperti biasa. Ia sudah sering duduk di kafe semacam ini, berbicara denga
Ingatan yang langsung menghinggapi kepala Amara adalah bagaimana pria itu pernah mencium pacarnya. Ciuman yang membuatnya keki, patah hati, sekaligus sadar di detik yang sama bahwa ia tak boleh kepincut lagi padanya.‘Ganteng sih, tapi sayangnya udah sold out. Cuma bisa dikagumi, nggak boleh diingini.’ Amara hanya diam sepanjang lelaki itu mengobrol ringan dengan Chandra, tapi ia sadar lelaki itu sedang mencuri-curi pandang ke arahnya. Entahlah, apa dia ingat pernah bertemu dengan Amara, atau cuma sekedar tatapan kepo ia pacarnya Chandra atau bukan.Sampai akhirnya. “Pacarmu? Nggak mau kenalin ke aku?” bisiknya, pelan tapi Amara masih bisa mendengarnya.Chandra hanya terkekeh pelan. Amara melirik adik lelakinya itu, agak jengkel karena Chandra sepertinya enggan memperkenalkan dirinya sebagai kakak pada orang lain.Kenapa? Apa penampilanku masih kurang terlihat meyakinkan sebagai Nona Sanjaya?Amara menyesap kopinya perlahan dengan gerakan elegan, tapi suhu kopi yang masih panas langs
Chandra menyetir dengan tenang, satu tangan bertumpu ringan di setir, tangan satunya bertengger santai di dekat tuas persneling. Mobil sedan mewah itu melaju stabil, seperti pemiliknya tahu persis ke mana arah hidup dan jalan yang sedang ia ambil.Di dalam kabin, lagu Perfect milik Ed Sheeran mengalir dari speaker mobil. Volumenya cukup jelas untuk didengar, cukup tenang untuk tidak menguasai percakapan. Nada-nadanya mengisi ruang sempit di antara mereka, menyatu dengan dengung mesin dan ritme jalanan sore.“I found a love… for me…”Suara Chandra terdengar lirih dan merdu, enak di telinga dengan cara yang bikin orang lupa sedang di mobil. Ia menyanyi sambil menyetir dengan satu tangan, santai, seperti ini hal paling normal di dunia.Amara melirik ke arahnya, pura-pura tidak terlalu memperhatikan. Padahal ia mendengarkan. Setiap baitnya. Cara Chandra menyanyikannya ringan, hampir malas-malasan, tapi justru itu yang membuatnya terasa… keren. Seperti suaranya itu tidak sedang dipamerkan
Begitu kaki Amara menginjak lantai butik itu, insting hidupnya langsung bereaksi. Bukan reaksi kagum, tapi reaksi waspada—jenis rasa yang biasanya muncul saat seseorang sadar dirinya sedang berada di tempat yang terlalu berbahaya.Ini tempat mahal.Benar-benar mahal yang membuat orang refleks melangkah lebih pelan, takut-takut kalau sampai menyenggol sesuatu lalu harus menjual ginjal demi ganti rugi. Salah gerak sedikit saja, dompet bisa trauma seumur hidup.Amara mengedarkan pandangan. Lantainya mengilap, rak-raknya rapi berlebihan, jarak antar pakaian seperti sengaja dibuat agar tidak ada yang sembarangan menyentuh.Lampunya terang, putih, dan jujur. Terlalu jujur. Jenis cahaya yang tidak peduli apakah seseorang siap atau tidak untuk dilihat apa adanya: orang kaya silakan masuk, yang miskin tolong menyingkir. Tanpa basa-basi.Aroma yang tercium di udara pun bukan aroma mall biasa. Bukan wangi popcorn, bukan juga kopi yang mengundang orang untuk duduk santai. Udara di sini dipenuhi







