LOGIN“Haploidentik?” Zega tidak paham, apalagi ini.
Haploidentik?
Ella sontak menutup mulut, lalu menatap mata kelabu dan wajah tampan Zega. Kenapa dia bisa keceplosan lagi ke adik iparnya ini?!
Tidak, ini tidak baik!
Waktu itu keceplosan masalah kondisi Sisi yang resistance terhadap kemo. Sekarang keceplosan lagi masalah haploidentik.
“Lupakan, jalan lainnya adalah menunggu keajaiban, bukan tranplantasi haploidentik.”
Ella mengurung niatnya untuk balas budi kepada Zega, lalu buru-buru pergi. Ella Heran, kenapa kontrol dirinya sering kali mati saat dekat dengan Zega. Padahal, ke orang lain apalagi lawan jenis kontrol dirinya berfungsi dengan baik. Dia tidak bisa cerita selancar dan seterbuka ini.
Zega ingin menahan Ella tapi Ito menuju arahnya.
“Nyonya kenapa, Tuan?” tanya Ito, setelah dekat dengan Zega.
Zega mengedikkan bahu. Dia tidak benar-benar tahu tentang wanita. Kadang suka bicara setengah-setengah.
“Ya sudah, tak usah dipikir, Tuan. Ini kopinya.”
“Makasih, Ito.”
***’
Pukul 8 pagi Ella melihat Mario pulang. Biasanya dia akan menyapa suaminya, namun tidak pagi ini.
Ella terus melanjutkan sarapan sembari chattingan dengan Ardi.
Ardi adalah mantan pacar Ella sekaligus tim dokter onkologi Sisi.
Ponsel Ella berdering. Nama Ardi muncul di layar. Ella segera mengangkatnya.
“Hai,” sapa Ella.
“Hai, Sorry semalam aku udah tidur. Tidak tahu kalau kamu mengirim pesan,” jawab Ardi.
“Nggak apa.”
2 bulan lalu saat Sisi menjalani fase konsolidasi, Ardi mengatakan kepada Ella sepertinya Sisi resistance terhadap kemoterapi. Tapi dokter onkologi lain mengatakan hal itu tidak benar.
Ella awalnya juga tidak percaya Ardi, karena kondisi Sisi masih baik-baik saat itu. Tapi semakin hari Ella semakin menyadari kalau kondisi Sisi semakin parah. Akhirnya Ella mulai menjalin komunikasi lagi dengan Ardi.
Dari Ardi lah Ella tahu kalau Sisi harus mendapatkan perawatan suportif intensif. Tanpa itu, harapan hidupnya hanya hitungan minggu atau bulan. Tak sampai tahun, seperti yang dikatakan dokter hematologi onkologi lain, terutama Dokter Beji, yang terus mengatakan prognosis Sisi bagus harapan hidupnya 5 tahun.
Dari Ardi pula Ella tahu apa yang harus dia lakukan yaitu mencari donor sumsum tulang atau darah tali pusat. Jika tidak ada pendonor yang cocok, bisa melakukan tranplanstasi haploidentik.
Tapi Ardi tak bisa berbuat apa-apa sebab dia dokter muda dan masih baru di Traya Hospital. Sedangkan Dokter Beji dokter senior sekaligus teman baik Mario. Akhirnya Ella melarang Ardi ngotot, demi kebaikan pria itu.
Di belakang Ardi, Ella sering menangis, sampai akhirnya keceplosan ke Zega. Berkat Zega lah akhirnya Sisi mendapat perawatan suportif intensif.
Sebagai ucapan terima kasihnya, Ella memberi Zega cidera mata, jam tangan yang harganya puluhan milyar. Kepada Ardi, Ella membelikan pria itu mobil dan biaya renovasi rumah. Karena Ardi bukan dari keluarga kaya. Dia bisa kuliah kedokteran karena beasiswa dari Grup MD, yang saat ini dipimpin Mario.
Hanya dengan cara begini, Ella merasa tidak terlalu hutang budi lagi kepada mereka.
“Mau ketemu?” tawar Ardi.
“Emang kamu nggak kerja?”
“Nggak.”
Akhirnya Ella setuju ketemuan dengan Ardi. Ella menyudahi sarapannya dan segera bersiap.
2 jam kemudian Ella keluar kamar dan menuju kamar Sisi untuk pamitan. Ella berpapasan dengan Mario, tapi tetap tidak menyapa suaminya itu.
Mario tahu Ella kalau sudah berdandan, cantik, glamor, anggun, elegan, seperti artis. Karena itu dia tidak kaget. Hanya penasaran, tumben berdandan.
Ella tiba di kamar Sisi. Sisi sedang bermain bersama suster-susternya.
“Ibu cantik. Mau kemana?” tanya Sisi.
Ella tersenyum, melangkah mendekati Sisi. Memeluk dan menciumnya sampai puas.
“Ibu mau ketemu Dokter Ardi, Sayang.”
Sisi menatap Ella. “Sisi boleh ikut?”
“Ehm … sebenarnya sih boleh, tapi lebih baik lain kali. Karena Sisi sebentar lagi harus istirahat.”
“Ok,”
Ella tersenyum sembari mengusap kepala Sisi yang rambutnya sudah gundul.
“Anak Ibu memang pintar dan baik. Ibu bangga jadi ibunya Sisi. Ya sudah, Ibu pergi dulu ya. Sisi di rumah sama cus Ami, cus Cici, Cus Imel.”
“Mau di rumah sama Om Zega nggak?”
Ella terkejut tiba-tiba mendengar suara familier itu. Dia sontak membalik badan dan melihat Zega bersandar di ambang pintu.
“Nggak mau,” jawab Sisi.
“Ya sudah, kalau gitu Om Zega temani Ibu Sisi aja.”
Ella tercengang.
“Yuk!" ajak Zega lalu berjalan duluan.
Ella pamitan ke suster-suster Sisi, lalu mengejar Zega.
“Apa maksudmu mau mengantarku?”
“Aku sopirmu mulai sekarang,” jawab Zega, tanpa menoleh ke Ella.
Sopir?
Ella memindai adik iparnya yang siang ini memakai pakaian casual. Celana chinos pendek warna krem serta kemeja putih lengan panjang yang bagian sikunya digulung sampai lengan.
“Kenapa kamu jadi sopirku?” Ella bingung.
“Kakak yang menyuruhku.”
Mario?
Kediaman Alexander. Pukul 21.00 Zega belum makan malam karena ketiduran di kamar Sisi. Sekarang dia pergi ke dapur dan melihat Ibunya sedang menghangatkan lauk. Zega mengejutkan ibunya dengan memeluknya dari belakang. "Zega! kamu mengageti Ibu. Apa kamu ingin Ibu mati?!" omel Margaret. Zega tertawa. "Tentu saja Zega tidak ingin Ibu mati. Zega berdoa agar Ibu diberi jantung yang baru dan umur panjang. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana Ibu tahu Zega yang memeluk Ibu?" "Karena cuma kamu yang suka peluk Ibu dari belakang," kata Margaret. Zega tersenyum. "I love you, Bu." Margaret menarik nafas. "I love you, Too." "Kurasa Ibu nggak mencintaiku," tukas Zega. Margaret menoleh ke samping, menatap Zega. "Kalau Ibu tidak cinta, bagaimana kamu bisa sebesar ini?!" "Bukan itu yang Zega maksud," Zega menatap ibunya. Margaret terdiam, tahu maksud Zega. Kalau cinta harusnya merestui hubungan Zega dengan Ella. Margaret melepaskan diri dari pelukan Zega, mematikan kompor lalu meni
5 bulan kemudian. Waktu berlalu dengan cepat. Margaret sudah melakukan operasi pemasangan ring. Ray sudah mengundurkan diri secara resmi dari perusahaan dan menemani Margaret melakukan pemulihan. Mario sudah kembali menjadi CEO grup MD. Margaret sudah membeli tanah milik keluarga Ella dengan harga 300 milyar. Harga itu jauh diatas pasar karena paman dan bibi Ella sengaja menaikkan harga. Padahal, harusnya hanya 200 milyar. Sekarang, tanah itu atas nama Sisi dan tidak seorangpun tahu Margaret yang mengeluarkan uang, kecuali Ella. Tanah itu sekarang sedang dibangun. Tapi Ray dan Erick mengalami kebuntuan ketika menyelidiki kasus korupsi Mario dan Zega. Akhirnya mereka berhenti. Namun bukan berarti menyerah. Sekarang mereka meletakkan orang kepercayaan mereka di perusahaan, untuk memata-matai Mario dan Zega. Siang ini langit cerah. Secerah wajah Ella dan Poppy yang sedang melakukan aktifitas diluar rumah. Karena hari ini weekend. 5 bulan ini, setiap weekend Ella dan Poppy
Beberapa hari setelah itu Margaret masuk rumah sakit. Karena stress memperburuk kondisi jantungnya. Saat ini Ray duduk di ruang dokter yang menangani Margaret. Wajah Ray tidak setenang biasanya. Meski mulutnya tidak mengatakan sepatah katapun, tapi matanya menyiratkan kekuatiran. Dia mendengarkan penjelasan Dokter yang menangani Margaret sejak divonis jantung 15 tahun lalu. "Saya sarankan, Nyonya melakukan pemasangan ring ke empat, Tuan," kata Dokter Meilin. "Apa setelah pasang ring ke 4, istri saya masih bisa hidup normal, Dok?" tanya Ray. "Masih, Tuan Ray. Selama Nyonya tetap menjaga pola hidup sehat seperti yang selama ini kami sarankan," jawab Dokter usia 48 tahun itu. Ray menganguk-angguk. "Ya sudah, silahkan dijadwalkan. Lakukan yang terbaik untuk Istri saya." "Baik, Tuan." Usai menemui Dokter Meilin, Ray kembali ke kamar Margaret. Dia tersenyum tipis, lalu duduk di kursi di sampingnya. Tapi sebelum bicara, dia menyuruh asisten pribadinya menunggu di luar kamar.
Setelah Ella keluar, Margaret merenung. Dari obrolan tadi Margaret mengetahui satu hal. Bahasa cinta Ella ternyata waktu berkualitas, bukan pelayanan seperti yang waktu itu dia duga. Karena Ella mengatakan Zega enak diajak bicara dan momong Sisi. Itu adalah bentuk menghabiskan waktu bersama. Usai mendudukkan Zega dan Ella, Margaret menyuruh pegawainya memanggil Mario. Tak lama, putra sulungnya itu datang. Margaret tersenyum. "Ibu ingin ngobrol denganmu sebentar." "Ibu mau ngobrolin apa?" jawab Mario sembari duduk setengah meter di depan Margaret. "Tentang Ella," jawab Ella. "Ella?" Mario tampak malas mendengar nama itu. Tapi bibirnya tidak berani jujur. "Ella kenapa?" "Bagaimana perkembangan dia, setelah kamu lakukan saran Ibu?" tanya Margaret. "Biasa saja." "Sekarang coba cara lain," kata Margaret. "Ajak dia quality time. Merawat Sisi bersama, ngobrol bersama, mengerjakan hal bersama, bahkan kalau perlu kamu antar kemanapun dia pergi. Hangat, dan tidak memaksa." M
Margaret menatap Ella yang duduk setengah meter di depannya dengan kepala menunduk dan bahu turun. Margaret tahu, bicara dengan Ella tidak perlu banyak-banyak, karena menantunya ini orang yang logis dan tahu etika. Kalau sampai jatuh cinta dengan Zega, pasti Zega yang menggodanya. Karena itu dia juga tidak akan memarahi Ella. "Kamu pasti tahu kenapa Ibu panggil kesini," Margaret membuka pembicaraan. "Iya, Bu. Ella janji tidak akan mengulangi," jawab Ella, dengan kepala tetap menunduk. Margaret menarik nafas. Lega dan sudah dia duga jawaban Ella akan seperti ini. "Tapi Ibu ingin tahu. Apa kamu mencintai Zega?" Margaret menggali informasi. Ella mendongak, menatap Margaret. Lalu kembali menunduk. "Ibu tidak akan marah kalaupun iya," imbuh Margaret. Ella masih tidak mau bicara. Sementara Margaret menunggu Ella jujur. Hening. Satu menit, dua menit, 5 menit berlalu. Dan Margaret tahu jawabannya meski Ella tidak mengatakan sepatah katapun. Jawabannya adalah ya. Tapi Ell
Ella merasa ada yang menggoyang-goyang bahunya. Dia membuka mata dan melihat Sisi sedang membangunkannya. "Kenapa, Sayang?" tanya Ella. "Nenek mencari Ibu." Nenek? Ella sontak bangun. "Dimana nenek?" Sisi menunjuk pintu. Tepat saat suara Margaret kembali terdengar. "Ella, kamu di dalam?" tanya Margaret. Ella menatap pintu dengan horor. Dia segera membangunkan Zega. "Zega, ada Ibu, cepat sembunyi!" Ella panik. Zega tampak malas bangun. Dia memejam mata kembali. Tapi begitu sadar hari sudah siang, dia sontak bangun. "Sudah jam 8?" gumam Zega, tidak percaya. "Iya, aku tidak tega membangunkanmu," jawab Ella, jujur. "Sekarang ada Ibu di luar, cepat sembunyi." "Kenapa sembunyi?" tanya Zega. "Aku belum siap kena masalah." Ella menarik Zega ke kamar mandi. "Awas kalau kamu keluar," ancam Ella lalu menutup pintu kamar mandi. Setelah itu Ella mendekati Sisi. "Sisi, bisakah kita bekerja sama?" tanya Ella. "Apa itu?" "Tidak boleh ada yang tahu Om Zega ada di sini,"







