LOGINElla mengepalkan tinju, Mario benar-benar penjajah.
Karena masalah sopir ini ranah pribadinya. Mario tidak punya hak untuk menentukan sopir baginya. Apalagi tanpa memberitahu atau membicarakan terlebih dulu dengannya seperti ini.
“Zega, maaf sebelumnya. Aku baru mendengar hal ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu sampai Mario menyuruhmu menjadi sopirku,” ucap Ella, gugup.
“Aku diusir dan dipecat Ayah,” jawab Zega, lirih, dalam, dan tenang. Sudah menerima kenyataan.
“Oh no. Aku turut sedih mendengarnya,” Ella menunjukkan simpati.
Zega menganguk, lalu berjalan beriringan dengan Ella menuju garasi.
Jantung Ella deg-degan seperti mau diterkam macan. Gugup dan bingung. Dia sungkan setengah mati dengan adik iparnya ini. Dan takut keceplosan lagi seperti sebelumnya.
Tapi dia tahu, yang harus dia labrak Mario, bukan Zega.
Diam-diam Ella melirik Zega sekilas. Wibawa dan karismanya benar-benar mengintimasi Ella. Ella sadar dia sedang berjalan di samping manusia. Tapi entah kenapa rasanya seperti berjalan di samping binatang buas pemakan manusia.
Ada rasa waspada yang harus Ella jaga, dan kekaguman luar biasa secara bersamaan yang harus dia sembunyikan.
Ketampanan Zega karya seni terindah dari seniman agung. Dan design tubuhnya yang tinggi, kokoh, kekar sempurna seperti tempat perlindungan yang aman, nyaman, dan kuat bagi hati yang terluka dan jiwa yang goyah seperti dirinya.
Tapi Ella tahu, dibalik semua rasa waspada dan decak kagum ini, dia harus segera menjauh dari Zega.
“Zega … sebenarnya bukannya aku tidak mau kamu jadi sopirku,” dusta Ella. “Tapi aku bisa memberimu pekerjaan yang lebih baik dari ini.”
Zega menatap Ella sekilas, tapi tidak komentar karena tahu Ella belum selesai bicara.
“Kamu bisa bekerja di kantorku. Kebetulan aku butuh manager. Kamu mau mencobanya?” imbuh Ella, hati-hati.
“Sebenarnya, aku tidak mencari pekerjaan yang lebih baik tapi gaji yang lebih baik,” jawaban Zega. “Maaf.”
Ella melongo.
Baru sadar kalau ucapannya salah. Jelas saja, orang seperti Zega akan mencari gaji yang lebih baik bukan pekerjaan yang lebih baik. Karena motto hidupnya bukan kerja apa saja yang penting halal, tapi kerja sedikit banyak uang.
Ella tersenyum sebelum bertanya. “Aku tidak paham maksudmu. Kenapa kamu menolak mencoba. Padahal, secara gaji jelas, manager lebih tinggi dari sopir. Bahkan, aku berniat memberimu gaji 2x lipat dari yang seharusnya. Nominalnya 80 juta perbulan.”
Zega tertawa. Dari nadanya jelas terdengar menghina angka 80 juta.
Tapi Ella tak mau kalah. Targetnya adalah bagaimana supaya Zega tak jadi sopirnya.
Ella menaikkan tawaran. “100 juta?”
“Kakak memberiku 3,5 milyar perbulan.”
3,5 milyar perbulan?
Ella melongo.
“Zega, apa kamu bercanda? mana mungkin Mario menggajimu sebanyak itu?”
“Karena aku bukan sopir biasa,” balas Zega sembari lalu.
Bu—bukan sopir biasa?
Terus, sopir seperti apa?
Ella gemetar. Ada sesuatu yang merayap dipikirannya namun dia takut membayangkannya. Ella menatap punggung Zega. Lalu mengejar Zega.
“Apa Mario menyuruhmu untuk menghamiliku?”
Dahi Zega mengernyit, jauh sekali tebakan Ella.
Tapi Zega tak berniat meluruskannya. Dia akan membiarkan anak kecil ini sibuk dengan pikiran sendiri.
Salah sendiri, kemarin cerita setengah-setengah kepadanya, yang masalah haploidentik itu.
Jadi, meskipun tadinya tak ada niatan untuk balas dendam, sekarang dia akan balas dendam kepada Ella dengan cerita setengah-setengah.
“Aku tunggu kamu di bawah.”
Ella gemetar, pucat, keringat dingin. Tidak menyangka tebakannya benar.
Keinginan Ella untuk keluar negeri semakin kuat.
15 menit kemudian….
Zega melirik jam tangannya.
“Lama amat Ella,” gumamnya. Lalu membuka kaca mobil. “Ito! tolong panggilin Nyonyamu.”
“Siap, Tuan.”
Ito segera meninggalkan rumah kecilnya dan berlari menuju rumah megah dua lantai di depannya.
Zega menutup kaca mobil. Kembali menyandarkan kepalanya pada headrest dan memejamkan mata. Dia ngantuk, habis searching haploidentik sampai pagi. Dan semua itu gara-gara Ella yang cerita setengah-setengah.
Tok! Tok!
Zega membuka mata. Dia pikir Ella, ternyata Ito. Zega membuka kaca mobilnya.
“Tuan, kata Nyonya batal pergi.”
“Ok. Makasih, Ito.”
Zega menutup kaca mobil lalu menelpon Ella.
Zega hampir saja mendatangi Ella kalau sampai tiga kali panggilannya tidak dijawab. Ternyata, yang ketiga dijawab.
“Kenapa gak jadi pergi?” tanya Zega.
“Gak apa.”
“Apa gara-gara tadi?” Zega menebak.
“Enggak.”
Zega menahan tawa, dia tahu Ella berbohong karena suaranya gemetar. Tapi Zega masih enggan meluruskan. Dia masih ingin menikmati balas dendamnya ke Ella, supaya anak kecil itu tahu rasanya diceritai setengah-setengah.
“Kalau begitu turunlah. Kita ke hotel sekarang,” goda Zega.
“Zega! Jangan turuti ucapan Mario!”
Tawa Zega hampir meledak. Suara ketus Ella sungguh sebuah validasi bahwa anak kecil itu memang kepikiran ucapannya.
“Aku sudah terlanjur sepakat. Sekarang tinggal melakukan tugas. Lagihan, ini untuk Sisi. Yuk!”
Sayu-sayu Zega mendengar Ella menangis. “Apa dia bilang kepadamu seperti itu?”
Zega terdiam. Baru sadar kalau dirinya sudah keterlaluan.
“Aku tunggu kamu di bawah,” hanya itu yang bisa Zega katakan, lalu menutup ponselnya.
Zega mencuci tangan dan mulutnya di toilet pengunjung dekat lobby. Setelah itu menuju mobilnya. Pukul 12 malam dia baru sampai rumah orang tuanya. Zega papasan dengan Mario sebelum masuk kamar. "Oh, tidur di sini?" "Iya, Ayah menyuruhku tinggal di sini." Zega menganguk-angguk. Ada enaknya kalau Ella tinggal di rumah ini. Bisa bertemu tiap hari. "Dari mana kamu?" tanya Mario. "Club malam," sahut Zega, asal. Mario tidak bertanya lagi lalu masuk ke dalam kamar. Zega menyusul dan sukses membuat Mario kaget. Zega duduk di sofa depan ranjang. Dia melihat ada beberapa alkohol di atas meja. Mario menyusul Zega duduk. Membuka botol alkoholnya, menuang ke gelas lalu memberikan ke Zega. "Aku sudah minum tadi," tolak Zega, takut mabuk. Karena tidak lucu jika dia mabuk lalu cerita habis membuat Ella orgasme. Mario akhirnya minum sendiri. "Aku tidak tahu kenapa Ayah menyuruhku kembali sama Ella." "Bilang aja kalau tidak cinta," saran Zega. "Sudah. Tapi kamu tahu, Ayah bila
Ella tahu ada yang salah dengan dirinya. Harusnya dia takut dan menyuruh Zega pulang, setelah malam ini Zega melebihi batas. Tapi entah kenapa malah ingin Zega menginap di sini. Apa karena uang? Setelah Ella pikir-pikir, sepertinya memang iya. Dia suka uang, apalagi sejak punya anak. Tapi, sepertinya bahaya menerima uang dari Zega. Sebab Zega terlalu tampan dan gagah untuk dia hadapi.Mungkin beda cerita jika dia seorang Istri yang bahagia, tercukupi lahir dan batin. Masalahnya, dia bukan istri yang bahagia. Ella menatap Zega. "Zega ... aku mau mengembalikan uangmu." "Kenapa?" "Hanya ingin mengembalikan," dusta Ella. "Jangan bicara setengah-setengah, aku tidak paham." Zega mengambil jam tangannya di atas meja lalu memakainya di pergelangan tangan kiri."Ya aku cuma ingin mengembalikan," ulang Ella. "Apa karena malam ini?" Ella terkesiap. Bagaimana Zega bisa menebak setepat itu? Usai memakai jam tangan, Zega meraih ponselnya di atas meja, memasukkan ke dalam saku ce
Usai membagi makanan ke tim produksi, Ella menuju kantor Poppy. "Bestiieeee," Poppy langsung menyambut, memeluk, dan mencium Ella. "Aku sibuk banget hari ini. Sampai belum makan. Kejar target supaya bonus keluar." Ella tertawa. "Ini, makan dulu. Nanti bilang terima kasihnya sama dia. Dia yang beliin." Ella menunjuk Zega yang masih melihat display. "Oh ya? doy yang beliin?" tanya Poppy, antusias sekaligus malu. "Ya." Ella tidak heran Poppy memanggil Zega doy. Memang begitulah sahabatnya ini, semua yang ganteng dipanggil doy. "Jadi ingin kuabadikan ramennya. Btw kok kamu gak bilang kalau datang sama si ganteng? tahu gitu make up ku gak kehapus." Ella terkekeh melihat sikap Poppy setiap melihat Zega. "Tobat, Pop. Kasihan pacarmu." "Mumpung si ganteng lagi ke sini. Kan dia gak pernah datang." Poppy meraih kaca di meja kerjanya. Mengurai rambut panjangnya, mengoles lipstik dan memakai soflennya lagi. Dia juga mengganti sandal flatnya dengan high heels. Ella hanya tertawa me
Ella memang sangat menghormati ayah mertuanya. Karena orang terkaya di negeri Roshell ini baik kepadanya. Bahkan, dulu ayah mertuanya sering menyuruhnya lapor jika Mario macam-macam sama dia. Tapi Ella tidak pernah lapor, justru menutupi semua kesalahan Mario. Salah satunya soal kandungan. Ayah dan Ibu mertuanya sudah bilang sejak awal kalau ingin punya banyak cucu, terutama laki. Karena Zega tidak mau menikah, beban bikin cucu ada di pundaknya. Sementara Mario tidak mau menyentuhnya. Ella tidak punya pilihan lain selain berbohong bahwa dia sudah steril. Meskipun dia tahu, jika tidak ada cucu laki, grup MD akan jatuh ke tangan orang lain. Yaitu paman Mario yang saat ini dipenjarakan oleh Zega karena korupsi. "Kalau kamu tidak mau lapor ke Ayah dan Ibu, bisa tinggal di rumah," ujar Ray. Ella menatap ayah mertuanya. Meski ayah mertuanya tidak mengatakan secara gamblang, dia paham. Kalau dia dan Mario tinggal bersama mereka, Mario tidak akan berani memperlakukan dia semena-mena.
Beberapa jam sebelumnya. Meski baru tidur jam 4 pagi, jam 5 pagi Ella sudah bangun. Karena jam 5-7 adalah jadwal suster melakukan pengecekan berkala kepada Sisi. Seperti nadi, suhu, dan lain sebagainya. Di jam itu juga jadwalnya Sisi minum obat antibiotik, anti nyeri, dan lain-lain. Usai memberi Sisi sarapan, Ella mengunci pintu dan kembali tidur karena matanya masih mengantuk. Ella tidur di ranjang. Tapi baru saja memejamkan mata, Zega sudah menyusulnya, memeluknya seperti guling sembari menciumi pipinya. "Zega, aku bukan Istrimu," keluh Ella. "Karena itu ayo menikah." "Kita tidak akan menikah," Ella menegaskan. "Kenapa tidak mau? apa 1 triliun kurang?" Apa 1 triliun kurang? "Meski kamu beri 2 triliun, aku tetap tidak mau nikah denganmu." Zega menatap Ella. Ella membuang wajah, menghindari tatapan Zega karena takut ketahuan bohong. Tentu saja kalau Zega memberinya 2 triliun, dia akan semakin dilema. Karena total kekayaannya hanya 2 triliun. Tapi Ella tahu, tida
"Aku nggak mikirin Emma. Cuma mikirin kamu." Mario kembali memeluk Ella sembari mencium lehernya. Namun Ella menolak. Dia berusaha melepaskan diri dari Mario lalu melarikan diri. Bruk! "Aw!" Ella terbangun begitu dahinya membentur lantai. Mata Ella mengerjap beberapa kali melihat dirinya jatuh di dekat ranjang dan tergulung selimut. Ella bingung. Apa dia hanya mimpi? Apa Mario tidak benar-benar datang kesini? tapi kenapa suaranya, pelukannya, dan aroma alkoholnya begitu nyata? Ella perlahan bangun dan mengintip ke atas ranjang. Mata Ella membelalak, ternyata Zega! "Zega! kurang ajar sekali kamu mabuk dan menyusup ke dalam selimutku!" maki Ella, lirih, takut membangunkan Sisi. Zega tersenyum. "Kurang ajar gimana? kamu Istriku." Istri? "Aku bukan Istrimu!" "Kamu Istriku." Ella menarik nafas dalam. Bicara dengan orang mabuk memang percuma. Ella melihat jam masih menunjukkan pukul 4 pagi. Dia juga masih mengantuk. Ella menarik selimut dan bantalnya lalu membawany







