Share

Bab 6

Author: Capucinno
last update Last Updated: 2025-10-27 09:05:43

“Ngomong-ngomong, tumben Sisi mau kamu tinggal?”

Ella tertawa. “Aku bilang mau ketemu kamu. Dia kalau sama kamu gak takut, makanya tadi malah mau ikut. Coba kalau kubilang mau ketemu dokter lain, pasti nggak boleh.”

Ardi jadi tertawa. Diam-diam senang mendengar kenyataan ini.

“Apa dia masih suka menanyaimu sudah menemukan obat ajaib apa belum?”

“Ya. Dan itu yang membuatku sebagai Ibu merasa gimana gitu.”

Obat ajaib yang Sisi maksud adalah darah tali pusat.

Itulah kenapa Ella masih aktif cari donor darah tali pusat sampai akhirnya minta Mario menghamilinya. Bahkan kepikiran untuk haploidentik.

Karena tidak mau menghancurkan harapan hidup Sisi dan harapannya sendiri yang tidak mau kehilangan anak.

“Andai Sisi tahu harapan hidupnya,” celetuk Ardi, terlalu jujur.

“Itulah tujuanku kesini Ar, aku sudah mengambil keputusan, akan membawa Sisi pulang ke negaraku agar bisa melakukan transplantasi haploidentik.”

Ardi terkejut.

“Ella … kondisi Sisi saat ini masih tidak memungkinkan untuk melakukan transplantasi.”

“Aku tahu. Tapi itu bukan satu-satunya keputusanku.”

Ella mengambil makanan yang tadi dia bawa.  Lalu mengulurkan satu untuk Ardi.

“Apa itu?” Ardi menerima makanan dari Ella.

“Aku akan cerai.”

Ella tertawa tapi tidak dengan Ardi.

Waktu seolah berhenti bagi Ardi. Selama ini dia gagal move on dari Ella. Sekarang, tiba-tiba Ella bilang akan cerai. Apa ini kesempatan kedua baginya?

Tapi, apa Ella masih mau dengannya yang miskin ini setelah punya suami sekaya Mario?

“Aku tadi beli 4. Kata penjualnya sih tahan sampai malam. Mudah-mudahan benar supaya ibumu dan Poppy bisa mencobanya. Tapi saranku masukin ke kulkas, biar aman,” kata Ella.

Ardi tak menjawab. Hanya memperhatikan Ella yang mengeluarkan makanan itu satu persatu dari paper bag.

Pikiran Aldi berkelana ke masa lalu.

Dulu, Ardi serasa mimpi mempunyai kekasih secantik dan sekaya Ella. Dia sangat menyayangi Ella bahkan sampai di level tergila-gila.

Tapi mimpi itu hanya sekejab. Karena baru 6 bulan pacaran, Ella diperkosa Mario saat pria itu mabuk dan terkena obat perangsang kuat.

“Ardi, kenapa kamu lihatin aku seperti itu?” Ella membuyarkan lamunan Ardi.

Ardi menarik nafas dalam dan kembali ke kenyataan. “Ada masalah apa sampai mau cerai?”

“Malas aku cerita. Makan yuk, laper banget aku.”

Ardi mencoba tersenyum lalu membuka makanannya.

Ella juga membuka bungkus makanannya. Lalu menyuap makanan ke dalam mulut dan menikmatinya.

Dulu dia sedih setiap mau cerai dengan Mario, karena tidak mau Sisi jadi korban perceraian, seperti dirinya.

Tapi, setelah Mario mengatakan tidak peduli dengan Sisi, ditambah dengan kasus sopir hari ini, rasanya Ella ingin cepat-cepat angkat kaki dari rumah pria itu, cerai, dan pergi jauh dari sini.

“Kamu membuatku seperti tersambar petir. Kupikir rumah tanggamu baik-baik saja,” ujar Ardi.

Ella tertawa.

“Ardi, sambil kita makan, bisakah kamu jelaskan padaku tentang transplantasi haploidentik ini?” pinta Ella.

“Tentu.”

Ardi menuang air minum ke gelas Ella sebelum cerita.

“Terima kasih, Ar.”

“Ya. Tranplanstasi haploidentik, selain resikonya tinggi, prosesnya juga panjang. Paling tidak, memakan waktu sekitar 1 tahun. Karena setelah transplantasi Sisi masih harus dicek secara rutin.”

Ella mengangguk-angguk.

“Aku sebagai pendonor, apa ada resiko?” lanjut Ella sebelum menyuap makanan.

“Ada, tapi jarang terjadi. Seperti mual atau nyeri selama beberapa hari.”

Ella jadi berpikir. Siapa yang akan dia jadikan teman untuk menjaga Sisi bila dia mengalami efek samping itu.

Meski disana ada Ayah dan Ibu kandungnya, tapi sudah seperti orang asing. Karena mereka sudah punya keluarga baru. Karena itu Ella benci perceraian. Punya orang tua serasa tidak punya.

Seperti Mario tidak pernah menyentuh Sisi, seperti itulah Ella tidak pernah disentuh orang tuanya sejak mereka bercerai. Padahal, saat itu usianya masih 10 tahun. Dia sangat butuh kehadiran dan pelukan orang tuanya.

“Ok,” kata Ella.

“Tapi pengobatan kanker di negaramu lebih maju dari pada di sini,” imbuh Ardi. “Siapa tahu di sana Sisi mendapat donor darah tali pusat.”

“Aku harap juga begitu.”

Ardi dan Ella melanjutkan makan sembari terus membahas Sisi. Tanpa tahu jika Zega sekarang menunggu mereka di luar rumah.

Zega bersandar di pohon. Merokok sembari membaca plat mobil yang lewat, seperti kurang kerjaan.

Zega tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Sejak kemarin tak sengaja mendengar Mario menyuruh Ella mencari pria lain untuk menghamilinya, dia tak bisa berhenti berpikir kotor.

Akhirnya, setelah Ella pergi, dia mencari tahu alamat Dokter Ardi dari susternya Sisi.

Di sinilah dia sekarang. Menyusul Ella karena takut wanita itu bermain gila dengan Dokter Ardi!

Sekarang, perasaannya tidak jelas. Antara masuk ke rumah Dokter Ardi atau pulang. Kalau dipikir-pikir, untuk apa dia melarang Ella main gila dengan dokter onkologi itu?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 75

    "Sudah meniduriku, melarangku pulang pula. Apa dia lupa aku punya pekerjaan? punya Sisi?" Ella geleng-geleng kepala merasakan Zega. Meski begitu dia patuh. Setelah itu Ella melihat tasnya yang masih ada di atas meja. Dia penasaran, bagaimana Zega mendapatkannya. Ella membuka tas itu, tercenggang melihat isi tasnya masih lengkap. Hanya surat cerainya yang hilang. "Aneh. Kalau niatnya merampok kenapa tidak mengambil ponsel dan ATMku? malah surat cerai," nalar Ella. Sulit bagi Ella untuk tidak berpikir ini perbuatan Mario sebab yang hilang hanya surat cerainya. Ella pergi membersihkan diri. Setelah itu keluar kamar. Dia menuju dapur untuk mengambil minum. Namun langkahnya terhenti. "Dimana Ella?" tanya Mario, kepada Mark, penjaga vila. "Nyonya Ella tidak ada di sini, Tuan." Mario terkekeh. Lalu memberi kode ke anak buahnya untuk menggeledah vila Zega. "Beginikah caramu bertamu?" tanya Ella. Mario menatap Ella lalu tersenyum lebar. "Zega yang mengajariku." Ella menatap

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 74

    Ini pengalaman pertama Ella naik motor. Naik saja sudah membuatnya takut apalagi sekencang ini. Tapi dia mencoba percaya pada Zega. "Zega." "Ya," sahut Zega. "Semalam kamu kemana?" Zega tidak menjawab. "Kenapa kamu ingin tahu?" Ella diam sejenak, tahu Zega masih marah padanya. "Apa kamu menemui Mario?" Zega tidak menjawab dan Ella tidak bertanya lagi. Terkadang inilah yang membuat Ella malas menikah lagi. Rasanya tidak punya energi untuk menghadapi pertengkaran yang tidak perlu seperti ini. Sesampainya vila, Ella pikir Zega akan menghabiskan waktu dengannya, ternyata tidak. Zega pergi entah kemana. Ella semakin kesal sekaligus menyesal kenapa datang ke sini. Akhirnya Ella pergi ke mall terdekat, untuk melihat gerai HVAnya. Ella melamun dan tidak memperhatikan jalannya. Dugh! Ella terkejut menabrak seseorang. "Maaf," kata Ella, spontan. "Tidak apa." Ella terkejut, pria yang dia tabrak ternyata Arka. "Hai," Arka melempar senyum ke Ella. Ella tidak bisa meno

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 73

    Ella tidak pulang ke rumah keluarga Alexander sejak perselingkuhannya dengan Zega terbongkar. Dia hanya bolak balik kantor - rumah sakit. Ella juga belum menelpon ayah dan ibu mertuanya meski sudah 1 minggu. Ella menandatangani kontrak kerjasama dengan salah satu pengusaha yang akan mengekspor produk HVA keluar negeri. "Senang kerjasama ini berhasil," kata pria bernama Arka, sembari menjabat tangan Ella. "Ya," jawab Ella sembari tersenyum, lalu mengantar Arka keluar dari kantornya. Setelah Arka pergi Ella kembali ke tempat duduknya. Dia menelpon Mario menggunakan telpon kantor. Setelah diangkat sekretaris Mario, barulah dia mendengar suara pria itu. "Maaf aku sibuk banget, tidak sempat membalas pesanmu," kata Mario. "Aku tahu. Aku cuma ingin nanya, apa kamu sudah tanda tangani surat cerai kita?" tanya Ella. "Belum. Aku lupa terus." "Tolong tangani sekarang," pinta Ella. "Ok. Sebentar aku cari." 5 menit kemudian. "Sepertinya ketinggalan di rumah," kata Mario. Ella menarik n

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 72

    Ella memakai bajunya kembali lalu tidur di ranjang untuk penunggu pasien. Dia terkejut Zega menyusulnya dan memeluknya dari belakang. "Kamu marah?" tanya Zega. Ella tidak menjawab. Dia memang ingin marah tapi tidak bisa. "Aku minta maaf. Aku sengaja menggodamu karena—" Ella sontak menoleh, semakin kesal mendengar pengakuan Zega. "Berapa kali harus kukatakan aku tidak mau melakukan itu sebelum menikah?!" Zega tidak bisa menjawab Ella. Akhirnya Ella menarik nafas, lalu memeluk dan mencium Zega. "Aku tidak ingin bertengkar denganmu. Karena aku sangat menyayangimu." "Itu cukup bagiku." Ella kembali menarik nafas. Dia jadi tidak enak kalau begini. Akhirnya Ella menciumi Zega, mulai dari keningnya, bibirnya, leher, dada, hingga perut six pack pria itu. Jantung Ella berdetak tidak karuan melihat batang Zega yang menggembung di balik boxer. Ella menatap Zega. "Kamu tidak perlu melakukan ini karena ingin menyenangkan aku. Aku menghormati prinsip yang kamu pegang dan aku tidak akan

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 71

    "Meski aku tidak mencintainya, aku tidak akan memberikan Ella padamu!" Mario merasa sangat dihianati oleh adiknya ini. Mario kembali melayangkan tinju, namun kali ini gagal karena ditangkis Zega. "Pikirkan kembali," kata Zega. "Aku tidak perlu berpikir dua kali untuk mengambil keputusan semudah ini!" Mario kembali melayangkan tinju, namun lagi-lagi gagal. "Tawaranku hanya berlaku saat ini," Zega menjeda kalimatnya, seperti sedang presentasi. Setelah Mario menatapnya, Zega melanjutkan. "Setelah keluar dari kamar ini, aku tidak akan memberikan kompensasi apapun atas apa yang terjadi." Zega kembali menjeda kalimatnya. Setelah beberapa detik Zega melanjutkan sisanya. "Lepaskan Ella, sebagai gantinya aku akan menjamin posisi Kakak sebagai CEO grup MD." "Bangsat! apa tidak ada wanita lain?!" Mario kembali melayangkan tinju namun Zega terus menangkis dan tidak membalas. "Tidak ada," jawab Zega. "Lebih baik aku dipecat dari pada memberikan Ella padamu!" jawab Mario. "Taw

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 70

    Sementara itu di tempat lain, di kamar rawat inap Margaret dan Ray. Zega mendudukkan semua keluarganya yang beberapa jam lalu menghakimi Ella hingga pingsan. Mario juga ada disana. Namun Sisi dijaga Suster di luar kamar. Suasana hati Zega sedang buruk. Semakin buruk setelah mendengar Ella dihakimi hingga pingsan dan jatuh dari tangga dan mendapat 2 jahitan di dahinya, sementara Sisi 1 jahitan karena terlindungi tangan Ella. Tatapan Zega lebih gelap dibanding malam. Rahangnya lebih keras dibanding batu. "Memang kenapa kalau Ella selingkuh denganku?" tanya Zega, pelan tapi tidak ada yang berani menjawab. Semua menundukkan kepala. Zega meminta laptopnya dari Gashi, lalu membukanya dan mengunduh file rahasia yang dia simpan di awan. "Fredo, kudengar kamu orang pertama yang menanyai Ella," kata Zega. "Kenapa kalau Ella selingkuh denganku? kamu iri?" Fredo mendongak dan tersenyum kuda. "Aku hanya terkejut Zega." Zega menatap Fredo, lalu ke istrinya. "Bibi Moi, kenapa kamu meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status