Share

Bab 7

Author: Capucinno
last update Last Updated: 2025-10-27 09:06:23

Zega baru saja mengambil keputusan untuk pulang, ketika melihat Ella keluar dari rumah Ardi. Tidak heran Ella terkejut melihat. Anak kecil itu pasti tidak menyangka akan dia susul.

Zega membuang rokoknya ke tong sampah lalu berjalan ke rumah Ardi.

“Siang, Dok,” sapa Zega, dingin tapi sopan, seperti biasa.

“Siang, Zega,” Ardi menyalami Zega sembari mengulas senyum. Heran, tumben sekali wakil direktur operasional grup MD ini jam segini tidak ngantor. “Lagi libur?”

Zega menatap Ella sekilas. “Enggak.”

“Tapi?”

“Nyoba kerjaan baru,” jawab Zega jujur.

“Oh ya? Kerja apa sekarang?”

“Jadi—”

Zega terkejut pingangnya tiba-tiba dicubit Ella. Zega tahan sakit tapi tidak tahan geli. Dicubit seperti ini gelinya menyebar ke seluruh tubuh. Zega berjuang mati-matian agar tetap berdiri tegak.

“Jadi apa?” tanya Ardi, penasaran.

“Jadi pedagang,” padahal tadi Zega ingin mengatakan jadi sopir.

Ardi tersenyum, meski cukup terkejut. Aneh saja, kenapa Zega mencoba jadi pedagang padahal sudah enak jadi wakil direktur operasional di perusahaan sebesar grup MD milik keluarganya.

Ardi baru mau tanya Zega dagang apa, tapi Zega dan Ella sudah pamit pulang.

Zega dan Ella berjalan beriringan menuju mobil.

“Mana kunci mobilnya,” pinta Zega.

“Aku aja yang nyetir.”

Zega menatap Ella.

Ella membuka pintu mobilnya. Dia tidak mau disetiri Zega karena takut dibelokin ke hotel.

Zega menyusul Ella, lalu duduk di depan.

Ella terkejut. “Kamu … mau duduk di sini?”

“Iya … kenapa? kamu keberatan?”

Ella menarik nafas dalam dan menghembuskan kasar. Jelas keberatan!

“Enggak, cuma tanya,” terpaksa Ella memilih duduk berdampingan dengan Zega, dari pada disetiri adik iparnya ini.

Ella menjalankan mobilnya.

Zega melandaikan jok kursinya lalu tidur.

“Kenapa kamu tidur?” Ella heran.

“Ngantuk.”

Akhirnya Ella senang, punya kesempatan untuk menegur Zega. “Kalau ngantuk harusnya tidur, bukan nyusul aku ke rumah Ardi.”

“Aku nyusul karena takut kamu main gila dengan Dokter Ardi.”

Main gila?

“Kenapa kamu menuduhku seperti itu?”

“Karena tidak biasanya kamu dandan.”

Tidak biasa dandan?

Ella tertawa. Pria memang aneh! Masak mentang-mentang dia tidak pernah dandan begitu dandan langsung dicurigai main gila dengan Ardi?!

Ella menoleh ke Zega yang memejamkan mata dengan kedua tangan terlipat di dada.

“Kalaupun iya, apa urusanmu?” Ella agak kesal sebenarnya.

“Aku yang akan menghamilimu bukan Ardi,” Zega melanjutkan godaannya, tanpa sadar jika yang mendengarnya sekarang bergidik ngeri.

“Aku sudah membayarmu 4 milyar, kenapa kamu masih mau menghamiliku?” suara Ella gemetar, karena Zega terdengar niat banget untuk menghamilinya.

“Kamu belum membayarku, baru ngomong.”

Ella terdiam. Dia memang belum mentrasfer Zega.

“Sebenarnya salahku dimana?” tanya Ella. “Kan dimana-mana orang kerja dulu baru gajian, bukan gajian di depan.”

“Kamu tidak salah. Masalahnya Kakak memberiku gaji di depan karena tahu aku tidak punya sama sekali setelah diusir Ayah.”

Ella melongo.

“Aku transfer kamu sekarang,” kata Ella pada akhirnya.

“Jangan transfer. ATMku disita Ayah.”

Ella kembali menoleh ke Zega yang memejamkan mata di sampingnya.

“Cash?” Ella memastikan.

“Ya.”

“Apa Mario juga memberimu cash?”

“Ya.”

Ella tidak punya jalan lain selain memberi Zega cash.

Ella tidak betah, ingin cepat-cepat mengambil uang di bank untuk diberikan kepada Zega. Tapi, waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 dan sekarang jalanan macet. Sepertinya Ella harus menunggu sampai besok.

Sesekali Ella melirik Zega. Ella tidak percaya Zega benar-benar tidur pulas.

1 jam kemudian,

Ella menepi di pom bensin untuk mengisi bahan bakar dan nitrogen.

Sementara Zega ke toilet.

Saat kembali, Zega membawa dua gelas kopi.

“Ini,” kata Zega.

Ella enggan menerima.

“Nggak ada obat biusnya,” imbuh Zega.

Ella tidak percaya. Dia tetap tidak mau menerima kopi dari Zega demi keamanannya.

“Kalau kamu nggak percaya, kita tukar,” kata Zega.

Akhirnya Ella terima. Ella mengambil kopi yang seharusnya untuk Zega. “Makasih.”

Zega tidak menjawab. Dia menyeruput kopinya sembari memperhatikan jalanan yang macet parah.

“Zega! Kok kamu nggak bilang kalau kopimu pahit?!”

“Kamu nggak nanya.”

“Aku nggak suka kopi pahit.” Ella menyerahkan kopinya ke Zega.

“Karena itu aku beliin kamu cappuccino,” Zega menyerahkan kopinya ke Ella.

Ella ragu untuk menerima.

“Aku senang kamu tidak sembarangan menerima minuman dari orang lain. Tapi aku bukan pria brengsek yang gunain trik murahan itu untuk dapatin kamu.” Zega melempar kopinya ke tong sampah.

Ella tercengang.

Tapi dia membiarkan situasi yang rusak ini. Intinya, Ella tidak akan seperti ini kalau Zega tak mengatakan disuruh Mario menghamilinya.

Ella menunduk, tidak sadar kalau diperhatikan Zega.

Zega menatap Ella yang bersandar pada mobil. “Ngomongin apa tadi sama Dokter Ardi?”

“Sisi.”

“Kenapa Sisi?” imbuh Zega.

“Ya nggak apa sih,” Ella menjaga kontrol dirinya tetap aktif.

“Kalau nggak ada apa-apa kenapa diomongin?”

Zega sengaja mencecar.

“Atau sengaja mencari alasan untuk menemui Dokter Ardi?” kata Zega, sarkas.

Ella terdiam.

Dia menatap Zega karena tersinggung dengan ucapan adik iparnya itu.

“Kenapa sih kamu ingin tahu?” Ella heran, hari ini Zega terkesan cerewet, nethink, seperti seorang suami yang posesif.

“Karena aku peduli denganmu dan Sisi.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 55

    Ella menahan Zega yang ingin menciumnya. "Zega." Ella menatap Zega. "Ya." "Ibu menyuruhku mengatakan hal-hal baik kepada Mario, seperti apresiasi dan jika memungkinkan cinta," curhat Ella. "Terus?" "Aku tidak bisa mengatakannya tapi juga tidak bisa menolaknya," Ella bingung. "Kalau begitu ikuti saranku." "Apa?" "Hamil anakku," tukas Zega. Ella memutar bola mata. "Apa itu satu-satunya cara?" "Ya." Zega mengecup bibir Ella. "Aku belum siap mengambil jalan itu," kata Ella. "Siapmu apa sekarang?" Ella menatap Zega. "Ngobrol denganmu." Zega tersenyum. "Aku senang mendengarnya. Setidaknya kamu sudah mau bicara denganku." Lalu Zega turun dari tubuh Ella. Tapi bukan Zega kalau cukup dengan ngobrol. Sembari mendengarkan Ella mengobrol dia melucuti baju Ella satu persatu. Akhirnya, Ella masih waras, tapi Zega sudah gila karena tidak tahan melihat buah dada dan pantat Ella yang besar dan bulat, namun pinggangnya kecil dan perutnya rata. "Kau benar-benar godaan, E

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 54

    Ella memang tidak pernah mengatakan cinta kepada Mario. Jadi, saran Ibu mertuanya sebuah tekanan tersendiri. "Kalau bahasa cintamu apa?" tanya Margaret. Ella tersenyum. "Ella tidak tahu, Bu." "Kan ada 5 bahasa cinta. Diantara kelima itu kamu lebih ke arah mana? supaya Mario juga tahu apa yang dilakukan agar kamu juga merasa dicintai," Margaret mencoba mengorek informasi. "Sejujurnya Ella tidak tahu apa itu bahasa cinta, Bu," jawab Ella, polos. Margaret tertawa. "Oh ya?" Ella menganguk. Margaret menjelaskan kepada Ella macam-macam bahasa cinta. Tepat saat ini mereka melihat Zega datang. "Baru jam 4 sore kok udah pulang, dik?" tanya Margaret. Dia memang sering memanggil Zega dengan sebutan adik atau nama langsung. Zega duduk di dekat Sisi. "Kangen sama Sisi." Sisi tersenyum, hampir minta gendong Zega tapi ditahan oleh Margaret. "Om masih kotor, Sayang." Sisi menurut. "DIK, cepet mandi. Jangan bawa kuman, bakteri, virus dari luar," tutur Margaret. "Iya," sahut

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 53

    Karena Sisi sudah dijaga Zega, Ella mengerjakan hal lain. "Bisa aku tinggal laundry self servis?" tanya Ella. "Bisa," jawab Zega. "Laundry dimana?" "Dekat kantorku," kata Ella. Zega mengambil kunci mobilnya lalu melempar ke Ella. "Pakailah mobilku." Ella spontan menangkapnya. "Aku naik taksi aja." "Katamu nggak suka disopiri pria," ujar Zega. "Pengecualian buat sopir taksi," ujar Ella. "Nanti saja kuantar." Ella menarik nafas. "Ya sudah aku bawa mobilmu." Zega tersenyum. "Parkir di sebelah mana?" tanya Ella. "Timur. B 16." Ella pamit kepada Sisi lalu keluar kamar. Ella menuju parkiran dan segera menemukan mobil Zega. Namun baru saja dia melangkah ke mobil Zega, Ella melihat mobil Mario masuk parkiran. Ella berhenti di tempatnya sampai Mario parkir tepat di samping mobil Zega dan turun dari mobil. Ella sebenarnya ingin menegur Mario gara-gara meninggalkan Sisi, tapi setelah dipikir-pikir, malas membuang energi. Ella membuka mobil Zega lalu masuk. Mario menol

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 52.

    "Kenapa tidak boleh?" tanya Zega, serak. Ella tidak menjawab, malu setengah mati teringat semalam Zega melihatnya dalam kondisi tanpa busana, mencium dan menjilati bagian paling pribadinya sampai dia orgasme! "Aku ingin menghamilimu," ujar Zega. Mata almond Ella membelalak. Tidak percaya Zega kembali menyinggung hal itu! "Zega, aku sudah membayarmu 4 milyar 2 bulan lalu. Dan kita sudah sepakat tidak membahas hal ini. Kenapa—" "Aku tidak bisa tidur. Tidak bisa konsen kerja. Membayangkan kamu kembali sama Kakak." Zega memotong ucapan Ella. Lalu meraih pinggang Ella dan mengecup bibirnya. Mata almond Ella mengerjap beberapa kali, jantungnya berdetak tidak karuan. Ella takut dibuat tidak waras lagi oleh Zega. Ella mendorong Zega sekuat tenaga, namun hanya berhasil lepas dari ciuman Zega. "Aku tidak akan kembali sama Ma—" Zega kembali mengecup bibir Ella, sekilas. "Aku tahu kamu tidak mau kembali sama Kakak. Kakak juga tidak mau kembali sama kamu. Tapi Ayahku mau kalian kem

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 51

    Ella makan sambil cerita tentang Sisi ke Ardi. "Jadi, Sisi sudah dapat darah tali pusat?" tanya Ardi. "Sudah. Tinggal tunggu kondisi Sisi siap transplantasi." "Bagus. Satu step sudah terlewati. Transplantasi bisa dilakukan saat penyakit dalam kondisi remisi, organ vital stabil, dan tidak ada infeksi aktif," kata Ardi. Ella menganguk. "Kalau belum remisi, tidak bisa transplantasi," Ardi mengimbuhi. "Itu yang membuatku pusing. Sisi masih jauh dari target remisi," kata Ella. "Sebenarnya, aku ingin mencoba kombinasi obat untuk mencapai target remisi. Tapi selama ini selalu terbentur dengan Dokter Beji," Ardi curhat. Ella menatap Ardi. Dia tahu Ardi dokter onkologi yang berbakat. Tapi bekerja di tempat yang kurang tepat. Ella melamun. Entah kenapa saat ini otak bisnisnya berisik. Dia terpikir untuk membangun rumah sakit standar international dengan pelayanan kanker terbaik. Karena di negara ini belum ada rumah sakit yang secanggih itu, sehingga orang kaya di negeri ini se

  • Adik Ipar, Jangan Goda Aku   Bab 50

    Ella hendak masuk ke gerainya namun saat ini ponselnya berdering. Rupanya Mario yang menelpon. Meski malas, Ella mengangkatnya. "Kenapa?" tanya Ella, dingin. "Sisi mencarimu." Ella diam sejenak. Selama ini, Mario tidak pernah meluangkan waktu untuk Sisi. Bahkan, setiap dia minta tolong Mario untuk menjaga Sisi, pria itu selalu alasan sibuk. Sekarang, Mario sudah tidak bekerja. Ella merasa perlu balas dendam kepada Mario, biar pria itu tahu rasanya momong anak! "Aku masih di mall," sahut Ella. "Cepat pulang." "Aku masih mengecek toko," alasan Ella. "Sisi menangis mencarimu." "Bujuk aja, lama-lama diam," saran Ella sembari berjalan menuju gerainya. Mario diam cukup lama, sebelum akhirnya kembali bicara dengan geram. "Aku bilang pulang ya pulang!" Ella meremas ponselnya, lalu mematikan telpon dan mengubah nada panggilan menjadi senyap. Meski sebenarnya tidak tega dengan Sisi, Ella mencoba tidak peduli. Lalu Ella pergi ke butik khusus baju kantoran. Dia membeli 2

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status