LOGINTak sampai 10 menit, Zega melihat Ella menuju arahnya. Matanya sembab dan itu membuatnya semakin merasa bersalah.
Ella masuk ke jok baris kedua.
“Duduklah depan,” Zega meminta.
“Sini aja.”
Zega melirik Ella dari spion dalam. Merasa bersalah. Tapi tak ada niatan untuk mengakhiri balas dendamnya.
“Tadi aku denger kamu mau ke rumah Dokter Ardi. Dimana alamatnya?”
“Aku nggak jadi kesana,” suara lemas Ella.
“Kenapa? aku gak masalah kalau kamu mau menemuinya dulu baru kita ke hotel.”
“Zega! Nyebelin banget sih kamu hari ini?!”
Zega menahan tawa. “Nyebelin gimana?”
“Kita nggak akan ke hotel dan nggak akan begituan!”
Ella tahu harusnya Mario yang dia marahi, bukan Zega. Tapi dia tidak paham kenapa Zega terkesan tidak berpikir kritis.
Apa Zega tidak berpikir kalau hal ini terjadi ayahnya bisa menggantung mereka bertiga?
“Ok, aku paham kalau kamu saat ini belum siap.”
Belum siap?
Memang tidak akan pernah siap!
“Zega, aku tidak mau kita berantem gara-gara Mario. Aku akan membayarmu 4 milyar perbulan. Terserah, dengan bayaran itu kamu mau jadi manager di kantorku apa tidur-tiduran di rumah. Yang pasti, jangan menghamiliku.”
Terpaksa Ella akan membuang duit sia-sia seperti ini. Karena tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Lalu turun dari mobil.
Ella pergi ke rumah Ardi menggunakan mobil lainnya.
***’
Tepat pukul 12 siang mobil city car Ella terparkir di samping mobil SUV Ardi.
“Macet?” tanya Ardi, ketika Ella keluar dari mobilnya.
“Iya.”
Ardi tersenyum lebar menyambut mantan kekasihnya ini.
Ardi tahu, dari dulu Ella memang cantik, tapi sejak jadi istri Mario rasanya kecantikannya semakin bertambah. Ardi semakin percaya, uang memang buat wanita jadi awet muda.
“Kenapa bawa makanan?”
“Laper,” alasan Ella.
“Di rumahku banyak makanan.”
Ella tertawa. Sebenarnya memang bukan laper, tapi malu kalau bertamu tidak membawa buah tangan.
Ella mengunci mobilnya. Lalu berjalan di samping Ardi.
Ini pertama kalinya Ella datang ke rumah Ardi, setelah putus. Jantung Ella berdetak tidak karuan. Kenangan indah yang berakhir pahit itu mulai bermunculan di benaknya.
“Ibu ada?”
“Melayat di kampung sebelah,” balas Ardi.
“Poppy?”
“Baru aja berangkat kerja.”
Poppy adalah sahabat pertama Ella ketika datang ke negeri ini. Poppy juga adik Ardi.
Ella menyapu seluruh ruangan. Dulu, rumah ini plafonnya lubang besar, fentilasinya buruk, ubinnya retak-retak.
Tapi sekarang plafonnya ukiran, fentilasinya bagus, lantainya marmer.
“Makasih ya, kamu sudah membantuku merenovasi rumah ini,” ulang Ardi, untuk kesekian kalinya.
“Aku yang terima kasih, kamu sudah membantu Sisi dengan sepenuh hati.”
Ardi menatap Ella dalam, namun hanya sekejab.
“Bantuanku ini tidak ada apa-apanya dibanding yang kamu lakukan ke Sisi. Kamu Ibu yang luar biasa. Kalau aku di posisimu, belum tentu kuat menghadapi situasi yang kompleks seperti ini. Sisi sakit leukemia akut ALL, resistance terhadap kemoterapi, tidak ada donor sumsum tulang atau darah tali pusat, telat mendapatkan perawatan suportif intensif ….” Ardi tak meneruskan kalimatnya, karena baru sadar kalau dirinya ditatap Ella.
“Kamu orang kedua yang memujiku sebagai Ibu yang hebat.”
Ardi tertawa. “Siapa orang pertama yang memujimu?”
“Kenalan.”
“Berarti dia merasakan seperti yang kurasakan,” timpal Ardi.
Ella ikut tertawa. Andai Ardi tahu orang pertama yang memujinya adalah Zega.
Ella meletakkan makanannya di atas meja. “Emang apa yang kamu rasakan?”
Ella penasaran. Sebab waktu itu Ella tak sempat tanya kepada Zega kenapa pria itu bisa menilainya sebagai Ibu yang luar biasa. Padahal dia tidak dekat dengan adik iparnya Itu. Sementara Mario, yang tahu perjuangannya tak mengatakan apapun.
“Cintamu ke Sisi luar biasa dalam.”
Ella terdiam.
Tapi lama-lama, mata almondnya berkaca-kaca. Dia memang secinta itu sama Sisi. Karena itu setiap teringat harapan hidup Sisi hanya hitungan minggu atau bulan, tak sampai tahun, rasanya putus asa, ingin ikut mati.
5 bulan ini, entah sudah berapa banyak uang yang dia gelontorkan untuk menyembuhkan Sisi. Uang pribadi, bukan dari Mario, karena Mario tidak pernah memberinya nafkah, sejak menikah. Untungnya Ella punya uang, meski tak banyak.
Bukan cuma uang yang Ella gelontornya agar Sisi hidup. Tapi juga tenaga, waktu, air mata dan doa yang tak pernah putus seperti nafas.
Karena itu saat Sisi bilang lebih nyaman di rumah dari pada rumah sakit. Ella tidak berpikir dua kali. Dia menyulap rumahnya menjadi seperti rumah sakit dengan fasilitas medis lengkap.
Karena itu tabungannya sekarang tipis. Dia harus bijak mengatur pengeluaran agar tidak kolaps. Tapi, terkadang hal buruk datang tak terduga. Seperti hari ini, nekat membayar Zega 4 milyar perbulan demi menghindari kegilaan Mario.
Namun, uang bukan masalah terberatnya karena masih punya usaha. Mario juga bukan, sebab dia tidak cinta kepada pria itu.
Masalah terberatnya adalah Sisi. Bagaimana menyembuhkan Sisi.
Sementara itu di sebuah kamar rumah sakit di Traya Hospital. Luci menatap Margaret yang terbaring di kasur. ekspresinya sangat buruk saat ini. Sampai rasanya ingin menghilang dari permukaan bumi. Di kamar ini juga ada Ray dan keluarga Alexander lainnya. Seperti Fredo, Moi, Daiki, dan Clara. Bahkan Erick, asisten Ray juga ada di sini. "Gimana? Zega mau pulang?" tanya Margaret. Luci menggelengkan kepala lalu menangis. "Tante, aku nggak kuat menghadapi hari esok. Aku malu kalau nggak jadi nikah sama Zega," kata Luci sembari meremas ponselnya. Margaret terdiam, sama seperti yang lain. Tidak ada yang tahu besok akan seperti apa. Sebab Margaret sudah memberi saran kepada Luci agar selembut Ella, namun masih saja Zega tak mau pulang. Detik berikutnya Luci lari keluar dari ruangan itu. "Luci, kamu mau kemana?!" seru Margaret. "Luci ingin mati!" jawab Luci sembari lari. Semua mata membelalak dan rahangnya jatuh. Erick dengan sigap mengejar Luci, meski Ray belum sempat men
"Aku tidak masalah. Aku bisa memahami kalau kamu belum bisa melepaskan Ella," jawab Luci. "Kalau aku ingin menikahi Ella dan membawa Ella tinggal bersama kita?" lanjut Zega. "Aku akan berusaha menerima Ella," jawab Luci. Zega tertawa kecil. Meskipun Luci memberinya kebebasan seperti ini, tidak lantas membuatnya jatuh cinta ke Luci. Padahal, sikap Luci ini mirip sikap Ella ke Mario. Tapi entah kenapa malah membuatnya berpikir bahwa Luci seperti ini karena dia kaya, putra grup MD. Andai dia pria miskin, belum tentu Luci seperti ini. Zega menarik nafas. Sekarang dia paham kenapa ibunya menyangka Ella mau sama Mario karena uang. Karena Ella tahan meskipun diselingkuhi Mario, dicambuki Mario.Ibunya tidak percaya jika Ella bertahan karena Sisi. Bahkan, ibunya menuduh Ella suka dengan dia juga karena uang. Sebenarnya Zega ingin mengetes Ella untuk membuktikan bahwa penilaian ibunya salah. Yaitu dengan mengatakan kepada Ella bahwa dia sudah dicoret dari daftar keluarga. Dia jug
Zega terus melangkah meski tidak tahu daerah sini. Sama seperti hatinya, meski tahu hasilnya akan seperti ini, tetap nekat datang ke sini. Meninggalkan segalanya demi seorang Ella. Ya. Demi seorang Ella. Wanita yang tidak pernah terbesit dalam pikiran, namun dia cintai setengah mati! Tentu saja dia tidak bisa menyalahkan Ella. Karena sedang hilang ingatan. Hanya saja, kenapa ingatan Ella disaat dia didesak untuk menikahi Luci! Ini rintangan? Atau pertanda Ella bukan jodohnya? Zega berharap hanya rintangan. Karena kalau tidak, persetan dengan dosa dan norma, dia bisa menculik dan membawanya kabur Ella. Karena dia tidak bisa melihat wanita bodoh itu dimiliki pria lain. Hanya dia yang boleh memiliki wanita bodoh itu. Seutuhnya. Ya. Hanya dia yang boleh memiliki wanita bodoh itu. Zega mengambil rokok dan korek api dari saku celananya, lalu menyulutnya. Frustasi, entah sejak kapan dia jadi terobsesi sama Ella seperti ini. "Apa sejak aku tidur dengan dia?" Zega bermonolog.
"Tidak," jawab Ella, Enteng. "Kamu yakin dia tidak punya Ayah?" "Sangat yakin." Detik berikutnya mata almond Ella membelalak, terkejut bibirnya dicium Zega! Ella berontak. Namun semakin dia berontak, Zega semakin dominan. Ella semakin gugup ketika Zega membuka paksa bajunya. Dia berusaha menghentikan tangan Zega namun kalah tenaga. Akhirnya mantelnya berhasil di lepas oleh Zega. Kini atasan rajutnya juga dengan mudah disingkirkan oleh Zega. Jantung Ella semakin deg-degan ketika tangan Zega mengusap perutnya, pinggangnya dan punggungnya, lalu mencari kait bra. Ella berusaha menahan tangan Zega sekuat tenaga, namun tetap kalah tenaga. Butiran kristal Ella akhirnya menetes dari sudut matanya. Dia tidak mau berhubungan dengan Zega seperti waktu itu. Hati Ella hancur dikurang ajari seperti ini. Entah siapa yang akan percaya kalau Zega seperti ini. Apalagi ibu mertuanya. Mungkin tidak akan pernah percaya jika anaknya sebrengsek ini. Karena Zega bukan tipikal pria yang suk
Ella menatap lekat Zega. Dia memang masih ingat apa yang dikatakan dokter kandungan, bahwa dia habis aborsi. Dia juga sempat berpikir bahwa kemungkinan besar, dia hamil anak Zega. Yang tidak Ella sangka adalah dugaannya benar dan Mario mengetahuinya! Lucunya Mario tidak mau melepaskannya. Padahal, pria itu benci padanya! Ella tidak tahu, harus senang atau sedih. Tapi belakangan ini dia merasa sikap Mario memang berubah. Tatapan mata Mario lebih lembut dan hangat. Dia juga tidak pernah melihat Emma datang ke rumah. Padahal, mereka tak terpisahkan. Namun Ella benar-benar tidak pernah melihat Emma. Setidaknya, sejak ingatannya hilang. Ah, apa pedulinya jika Emma tidak pernah ke rumah dan Mario berubah? Kata ibu mertuanya Mario bukan anak kandung Tuan Ray Alexander. Mungkin dua hal itulah penyebab Mario sering konsum narkoba sampai sakau belakangan ini. Ah, Mario memang tidak pernah peduli dengannya dan Sisi. Ditambah lagi ibu mertuanya menuduhnya seperti ini, rasanya k
Sampai parkiran Ella terkejut melihat Zega. Dia pikir pria itu sudah pergi, ternyata merokok di parkiran dan di sampingnya ada Adrian. Sebelum tertangkap mata oleh Zega, Ella mengambil jalan lain. Dia tidak ingin bertemu pria itu lagi dan diajak kabur seperti tadi. Ella terus melangkah dan mencari mobilnya di antara ratusan mobil. Sampai tidak sadar ada yang mengikutinya dari belakang. Setelah beberapa lama, akhirnya dia menemukan mobilnya. Dia segera menekan tombol buka pada kuncinya. "Mau kemana?" Ella sontak menoleh ke belakang, terkejut mendengar suara familiar itu. "Keluar," jawab Ella. "Keluar kemana?" tanya Zega, dingin. "Isi bensin," dusta Ella. Kemudian Ella lekas-lekas masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Dia menyalakan mobil, namun sebelum mobilnya sempet jalan, Zega berdiri di depan mobilnya sembari menyedot rokoknya. Terpaksa Ella menurunkan kaca mobil dan melongokkan kepalanya keluar jendela. "Bisa minggir?" kata Ella. Alih - alih mendapat j
Zega keluar dari kamar Sisi. Setelah itu memanggil suster untuk menjaga Sisi. Sementara dia, usai minum langsung menuju kamar.Zega membuka laptopnya. Sebab besok akhir bulan. Jadi, tugas laporan bulan ini masih jadi tanggung jawabnya.Zega menarik data dari berbagai divisi. Zega terkejut ada masal
Pukul 4 pagi Ella sudah bangun. Dia membuka laptopnya dan mulai mencari informasi ambulance air.Ella mengecek harganya dengan memasukkan alamat tujuan. Mata Ella membelalak, terkejut melihat harga sewanya yang tembus 3,9 milyar!Kepala Ella pusing, sebab tabungannya sudah tipis.Selain mencari inf
Setelah Ella keluar, Margaret merenung. Dari obrolan tadi Margaret mengetahui satu hal. Bahasa cinta Ella ternyata waktu berkualitas, bukan pelayanan seperti yang waktu itu dia duga. Karena Ella mengatakan Zega enak diajak bicara dan momong Sisi. Itu adalah bentuk menghabiskan waktu bersama. Us
“Tolong hamili aku ….” Kata Ella, tersendat.Suaminya itu menatap Ella dengan dingin. “Cari saja pria lain. Aku tidak akan menyentuhmu, sampai kapanpun."Tubuh Ella gemetar mendengar respon dingin suaminya itu.Dia tidak akan merendahkan harga dirinya di depan pria ini kalau saja tidak dalam keadaa







