FAZER LOGIN"Rencana apa yang kamu maksud?" tanya Habib kepada kakak iparnya. Benda pipih milik Abizar terjatuh begitu saja ke atas lantai.
Abizar hanya bergeming dan mematung. Hening seketika yang tercipta. Padahal masih banyak teka-teki yang harus dipecahkan oleh Habib. Kedua bola matanya terus memperhatikan ponsel yang masih on di atas lantai. Ia melangkah cepat menghampiri Abizar. [Pokoknya halangi dulu dia agar jangan cepat sampai kemari!] Ternyata loud speaker benda pipih itu aktif sehingga sangat jelas terdengar suara seorang pria. Habib mengernyitkan kening. Intonasi suaranya ia mengenal siapa yang bicara, tetapi tidak mau menebak yang tidak pasti. "Cepat jawab!" bisik Habib dengan sedikit memaksa. Ia menarik kerah baju kakak iparnya dengan sorot mata tajam. [Serahkan saja kepadaku. Pokoknya jangan sia-siakan kepercayaanku,] jawab Abizar sembari mengukir senyum terpaksa. Habib sengaja memutuskan sambungan telepon. Lalu menatap ke arah kakak iparnya. "Rencana apa yang kamu rencanakan wahai bedebah?!" ucap Habib penuh selidik. Abizar hanya membisu. Bola matanya berputar-putar untuk mencari jawaban. Dia sengaja menahan napasnya walaupun terasa sesak. "Cepat katakan sebelum aku mencari tahu semua rencana busukmu!" desak Habib dengan nada mengancam. Netra Abizar sangat enggan menatap manik lawan bicaranya. Seketika ia teringat kepada istrinya yang sudah lama menunggu di halaman rumah. Habib segera mendorong tubuh kakak iparnya dengan tenaga kuat sampai terjatuh ke atas lantai. "Jangan kamu kira diamku tidak berani melawanmu! camkan itu!" 'Sial! Sudah berani dia melawan dan membentakku!' umpat Abizar kesal sambil mencoba berdiri. Rasa ngilu lahir di bagian siku lengannya. *** "Lebih baik kamu istirahat dan mandi ke rumah terlebih dahulu. Habis itu kamu datang kemari menjaga suamimu yang sudah tidak berguna lagi," ucap Abizar dengan mencipta raut wajah senyum simpul. Untung saja Nabila tidak melihat ekspresi yang dilahirkan Abangnya. Kalau tidak, Nabila pasti perih melihat luka yang sudah menganga lalu ditetesi perasan air jeruk nipis. Ngilu dan sakit pasti sudah tidak tertahankan. "Hentikan ucapanmu, Bang!" bentak Nabila sangking emosinya dia langsung berdiri dari tempat duduknya. Dia tidak terima kalau suaminya selalu dianggap remeh sama abangnya. "Walau bagaimana pun itu kondisi suamiku. Aku tidak akan meninggalkannya begitu saja, Bang." Nabila masih menahan emosinya yang membuncah. Abizar dengan santai mengukir senyum sambil mengelus jenggotnya yang tipis. "Cuma dia harta satu-satunya yang kumiliki sekarang," imbuhnya sembari menahan isak tangisnya agar tidak pecah. "Aku ini Abangmu, Nabila! Aku bisa memberikan kebahagiaan kepadamu!" balasnya mulai panik. Dia mencoba berpikir jernih agar tidak kelihatan memaksakan diri agar adiknya bisa menerima pendapatnya. "Apa kamu yakin dengan kecelakaan yang menimpa suamimu, kakinya bakalan sembuh total seperti semula?! Kalau iya, masih mending. Kalau tidak, mau makan apa kamu? Mana ada perusahaan yang mau menerima karyawannya yang cacat." Dia menghela napas lalu membuangnya dengan begitu saja. "Kamu harus berpikir dengan matang untuk masa depanmu!" rutuk Abizar seolah lelah menasihati adiknya agar melepas Habib begitu saja. "Apapun alasannya, apapun itu masalahnya. Bagaimana pun itu kondisinya, aku tetap bertahan. Walaupun Abang sangat enggan untuk menerimanya," jawab Nabila tegas dan dia masih setia. Dia sudah mulai tegar dan air matanya yang sedari tadi sebak kini mulai kering. "Ok ... kalau kamu ikhlas dan siap menerima kenyataan pahit itu." Abizar sudah kehabisan kata-kata untuk melumpuhkan rasa kesetiannya kepada Habib. "Kamu tahu tidak?! Aku ini sebagai Abang kandunganmu tidak tega dan ridho melihat kamu menikah begitu tersiksa," imbubnya kembali. Otaknya sudah berusaha berpikir keras agar Nabila percaya kepada ucapannya. "Apa kata tetangga kalau aku hidup mewah dan glamor, akan tetapi ada adik kandungku yang hidup tersiksa karena suaminya tidak bertanggungjawab," jelasnya mencoba membuka pikiran dan hati Nabila. "Kalau Abang masih terus menerus meremehkan Bang Habib, lebih baik keluar dari sini!" Nabila kini mengusir Abizar dari ruangan di mana Habib di rawat. "Aku mau menjaga suamiku dengan tenang tanpa ada yang bising dan ngoceh yang tidak berfaedah," sindirku tajam sembari menunjuk pintu keluar memberi kode mengusirnya. "Baik, tanpa kamu usir, aku segera angkat kaki dari sini,"jawabnya lalu beranjak dan langsung mengayunkan kakinya menuju pintu keluar. Nabila menghela napas lalu membuangnya dengan sembarang. Dia bangkit dari tempat duduknya lalu menatap wajah pria yang selama ini membersamainya. Air matanya luruh seketika mengingat kata-kata yang indah dilontarkan suaminya sebelum kecelakaan itu menimpa Habib. "Mohon maaf sebelumnya," ucap salah satu perawat yang sedang piket malam ini. Nabila terkejut mendengar suara itu. "Ya. Ada yang bisa saya bantu, Sus," jawabnya datar lalu menjauh dari tubuh suaminya. "Hasil lab memutuskan salah satu kaki pasien harus di operasi." Nabila menutup mulutnya dengan tangan kanan sambil meratapi nasib suaminya. "Ini tidak mungkin, Sus." Bulir bening mengalir deras tanpa permisi membasahi pipinya. "Ti-tidak mungkin, Sus!" racaunya tidak terima. "Cuma tindakan ini yang dapat menolong pasien agar bisa pulih kembali seperti biasanya," ujar perawat dengan nada lembut. Dia menyodorkan map batik berwarna coklat kepada Nabila. "Silakan dipelajari terlebih dahulu!" imbuhnya lalu mencoba memeriksa kondisi denyut jantung pasien yang berbaring di atas brangkar lalu dia memeriksa keadaan mata pasien. "Jika sudah paham dan menyetujuinya. Maka silakan tanda tangan surat pernyataan itu agar besok pagi dilakukan tindakan supaya pasien bisa lebih cepat pulih," tambahnya lagi setelah selesai memeriksa keadaan pasien. "Apakah harus sekarang ini juga aku menandatangani surat ini? Terus apakah uangnya harus malam ini juga harus ada?" tanya Nabila serak. Melihat angka yang berjejer di dalam kertas putih itu membuat dirinya sangat sulit bernapas dan salivanya terasa getir dan pahit. "Itu saran dari kami sebagai tim medis. Jika tidak disetujui, kami hanya bisa berbuat sesuai standar yang ada. Akan tetapi, jangan pernah menuntut pihak rumah sakit kalau kami tim medis tidak memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien dan keluarga pasien. Masih ada waktu untuk berpikir. Saya tunggu kabar baiknya sebelum pukul nol-nol Waktu Indonesia Barat." Perawat itu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Nabila. Dia terkulai layu bahkan tidak berdaya untuk memikirkan uang yang tertera. 'Tidak mungkin aku meminta bantuan kepada Abizar,' batinnya. Otaknya mau pecah memikirkan uang darimana untuk biaya berobat suaminya. 'Lantas ... kemana kah aku harus menadahkan tangan di saat kondisi seperti ini?' ucapnya lagi dalam hati. Tiba-tiba, ujung jari manis Habib bergerak. Retina Nabila sontak kaget melihat aksi yang dilakukan suaminya. Dia semakin terisak bahkan tergugu sangking nanarnya. Jiwanya nelangsa tidak karuan. "Tidak ada gunanya kamu meratapi nasib yang tak kunjung reda. Aku tahu kamu itu menangis karena keterbatasan dana untuk menolong suami benalu seperti Habib 'kan?!" "Tutup mulutmu itu, Bang! Saat ini kamu ada di atas. Esok kelak kita tidak tahu siapa yang paling menderita antara aku dan kamu!" "Kujamin tidak akan ada kesempatan emas bagi kamu dan Habib untuk mencicipi kebahagiaan di atas dunia ini," bisik Abizar tepat di daun telinga Nabila. Dia berkata seperti itu penuh yakin. "Walaupun itu hanya sekejap mata. Kamu cam 'kan itu dengan baik-baik," bisiknya kembali dengan nada penuh penekanan. "Apakah kamu sudah merasa hebat sekali dengan kekuasaanmu yang ada sehingga bisa berkata seperti itu?!" Abizar memutar badannya mencari tahu asal suara itu. Begitu juga dengan Nabila mengarahkan pandangannya mencari tahu siapa yang berbicara baru saja.Suasana semakin memanas. Manusia mana yang mau terlahir ke dunia dengan cara tidak sah di mata hukum negara dan juga di mata hukum Islam. 'Kalau boleh memilih, aku juga tidak mau lahir dari cara yang salah,' ucap Abizar bermonolog.Suasana hening seketika. Habib mengulas senyum bahagia. Ia merasa menang atas perdebatan yang sangat alot itu."Wajar saja tingkah lakumu seperti ibumu!" ejek Abizar sponta dengan ekspersi datar. Dia memutar balikkan fakta.Habib tertawa terbahak-bahak tanpa peduli dengan sang ayah. Sementara Abizar dan Hermawan saling adu pandang. Mereka kira Habib sudah gila."Apa aku tidak salah dengar?!" tanya Habib memperjelas perkataan Abizar. Retinanya mengarah ke arah Hermawan. "Apakah aku wajar dan pantas dikatakan gila?" imbuhnya meyakinkan apa yang baru saja dikatakan Abizar kepadanya.Hermawan hanya diam membisu. Dia tidak berani menjawab. Walau bagaimanapun itu Habib dan Abizar anak kandung alias darah dagingnya sendiri. Walaupun itu Abizar tidak dalam alam sa
"Secepatnya!" balasnya menimpali.Rossa memang istri sirinya, Hermawan. Dia sempat tanam saham duluan daripada menikahi ibunya, Habib. Namun, itu tidak terendus alias semua tersimpan rapi tanpa ada yang tahu.Seketika Habib mengulas senyum melihat Abizar. "Betapa malangnya nasibmu," sindir Habib kepada Abizar. Ternyata kamu anak yang tidak diinginkan." Ledekan Habib membuat Abizar semakin marah.Biasanya dia yang selalu menghina dan mengolok-olok Habib. Sekarang malah terbalik seratus delapan puluh derajat Celcius. Api amarah kini terpaut di wajahnya. Dia ingin sekali membungkam mulut adik tirinya agar bisa diam. Namun, dia sadar akan kesehatan Hermawan. Walaupun dia tidak pernah memanggil ayah atau pun bapak kepada pria yang terbaring lemas di atas brangkar."Kenapa kamu diam?!" pancing Habib kembali. Wajahmu nggak usah ditekuk seperti itu. Coba deh berkaca, kamu laksana menahan berak," ujar Habib terus mengejek."Persetan!" Akhirnya, Abizar tidak sanggup menahan gejolak larva amarah
Abizar melepaskan cengkeramannya lalu membuang napas kasar."Ceritanya seperti ini," ucap Hermawan lirih. Dia memejamkan mata sekejap sembari menghela napas. Setelah jiwa dan raganya sudah merasa tenang. Barulah dia mulai buka suara. "Sayang, aku hamil!" ucap Rossa kepada Hermawan ketika mereka berdua janjian ketemuan di waktu makan siang."Tidak mungkin! Aku selalu memakai pengaman dan jika pun itu tidak. Aku tidak pernah mengeluarkannya di dalam. Jangan mengada-ada kamu, Rossa!" tolak Hermawan atas perkataan Rossa yang baru saja dia dengar.Rossa terisak mendengar perkataan calon suaminya. Dia sudah merelakan perawannya direguk oleh Hermawan. Ternyata apa yang dia harapkan telah sirna menjadi suami seorang pria kaya raya. Tidak peduli semua mata tertuju kepadanya. Isaknya semakin kuat dan semakin membuat retina pengunjung cafe semakin penasaran."Kamu tega, sayang!" ucap Rossa terisak. Dia memukul-mukul dada Hermawan sekuat hati sangking kesalnya. "Jangan coba-coba mengganggu hidup
Part 36: Minta TanggungjawabSiska baru saja tersadar ketika dirinya sudah ada di atas brangkar rumah sakit. Padahal dia baru saja merasa di atas motor dan terprental dari atas lalu meringis kesakitan."Aa-aku ada di mana?!" racaunya sesekali menyapu ruangan sekitar. Di samping kanan ada Abizar. Dia terkejut dan terbangun dari tidurnya. Ternyata sudah pukul dua puluh tiga lewat lima belas menit. Sangking lelahnya Abizar, dia tertidur pada saat menjaga Siska yang baru saja kecelakaan."Di rumah sakit," jawab Abizar sambil menguap. Setelah selesai menguap, dia mengucek terinya dan kembali meneruskan perkataannya, "tadi kamu kecelakaan.""Ini pasti gara-gara, Habib," umpatnya dengan menekuk wajah kesal. "Bisa kamu kasih pelajaran agar dia tidak semena-mena kepadaku, Bang?!" ucapnya lirih. Di sebelah kanan bagian betis terasa sakit akibat ditimpa motor pada saat dirinya terseret."Kasih pelajaran seperti apa? Dia saja telah menang telak dan sudah mengetahui sisi kelemahanku," jelas Abizar
"Kenapa kamu malah diam saja tua bangka! Seharusnya kamu ngoceh membela aku sebagai anakmu. Bukan hanya meratap seperti anak TK meminta mainan tidak dikasih sama ibunya." Siska benar-benar tidak ada akhlak ngatain Hermawan tua bangka. Padahal selama ini dia hidup hedon dan glamour karena uang yang dikasih Hermawan kepadanya."Hentikan ucapanmu!" bentak Hermawan dengan menaikkan suaranya dari biasanya. Dia mencoba duduk dan bersandar ke dinding ruangan. Habib membantu sang ayah. Namun, Hermawan tidak mau dibantu sang anak. "Aku bisa sendiri, kok," imbuhnya membuat Siska tersenyum puas."Siska! Mulai dari sekarang kamu harus angkat kaki dari rumahku!" racau Hermawan setelah dadanya tenang. Dan kamu tidak boleh menggunakan fasilitas yang aku berikan kepadamu!" desisnya menimpali.Raut wajahnya terlihat memerah seolah tidak suka atas informasi yang dia dapatkan barusan."Tidak bisa begitu, Yah!" bujuknya agar Hermawan menarik ucapannya. Aku mau tidur di mana kalau tidak boleh tinggal di r
Habib mengindahkan ide suster dengan cepat. Kini semua sudah aman dan terkendali."Kenapa sudah tidak ada orang?! tanya Siska ketika sudah di depan kamar mayat. "Pasti ada yang tidak beres ini," imbuhnya memasang wajah heran. Mau bertanya pun sudah tidak ada orang. Akhirnya dia kembali ke ruang informasi untuk mencari tahu keberadaan jenazah ayahnya.***Di kamar yang berbeda masih di lokasi rumah sakit. Habib menyuap Hermawan dengan lembut. Sang ayah yang selama ini ia rindukan kasih sayangnya kini sudah terkulai layu di atas brangkar rumah sakit."Ayah harus kuat makan agar ada tenaga," ucap Habib parau. Suaranya terasa serak menahan Isak tangis. Andai saja sang ayah mendengar apa katanya dulu sebelum menikah dengan Rossa. Mungkin beliau tidak menderita seperti ini. Bukan kebahagiaan yang dia dapat, hanya derita yang tercipta selama bersama dengan Rossa."Sudah!" tolak Hermawan. Dia tidak mau lagi menghabiskan makanan yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit. "Ayah sudah kenyang
Habib keceplosan kalau Hermawan belum meninggal. 'Gawat ... kenapa pula aku berkata seperti itu,' ucap Habib dalam hati."Sudahlah lupakan saja!" ujar Habib lirih. Ia mencoba mengabaikan perkataannya. Mencoba mengalihkan pembicaraan."Kamu jangan menghindar dari apa yang kamu katakan. Dari mana kamu b
Sudah dua jam Rossa dan Siska menunggu jasad Hermawan agar segera dibawa pulang. Namun, mereka berdua belum ada kepikiran mau di makamkan di mana. Rasa resah dan gelisah kini menghantui pikirannya masing-masing."Mah! Bagaimana proses pemakamannya? Apakah sudah dikasih tahu kepada masyarakat atau wa
Nabila kini sudah terbaring lemas di atas brangkar rumah sakit. Habib masih belum tenang akibat memikirkan keselamatan sang ayah. Mau izin pamit, Nabila belum kuat dan belum bisa apa-apa. Mau minum saja mesti dibantu oleh Habib."Ya Allah! Hamba mohon petunjuk darimu!" ucap Habib dalam hati.Beginilah
Baru saja sampai di hotel. Habib sudah mendapat teror panggilan yang tidak dikenal. Ia mengabaikan panggilan itu."Sayang, apa yang kamu pinta dariku?" tanya Nabila setelah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia merasa kelelahan setelah berkeliling satu harian di luar.Aku minta kamu untuk tetap set







