Home / Urban / Adik Ipar Terkaya / Part 06: Sudah Merasa Hebat

Share

Part 06: Sudah Merasa Hebat

last update publish date: 2023-06-02 18:52:29

Nabila meringis kesakitan. Rasa panas lahir di pipinya membuat Nabila terus menempelkan telapak tangan di wajahnya. Habib tidak menyangka kalau kakak iparnya suka main tangan.

"Sayang!" teriak Habib panik sambil memeriksa pipi Nabila. "Apakah kamu masih pantas dikatakan sebagai pahlawan bagi adiknya?! Seharusnya kamu tidak gegabah untuk menuruti amarah seperti ini!" amuknya menatap Abizar menyalang kemudian ia menghembus pipi istrinya. "Pria mana yang tidak sakit hati ketika sang istrinya diperlakukan seperti itu di depan mata kepalanya sendiri! Aku tidak akan memaafkanmu, Abizar!"

Tidak terasa bulir bening sebak tanpa pamit dari ekor matanya. "Te-terima kasih atas pukulannya, Bang," ucap Nabila tersaruk pilu. "Luka suamiku, juga lukaku." Nabila menelan ludah dengan kasar. "Seharusnya Abang tidak pantas memukul pria yang selama ini bertanggungjawab kepadaku."

"Maafkan aku, sayang. Aku terlalu sayang dan cinta kepadamu sehingga tidak tega melihat kehidupanmu jauh lebih buruk setelah menikah dengan pria gembel ini," ucap Abizar spontan. Sudah bersalah masih saja terus menghina Habib.

'Apa maksudnya berkata seperti itu?' tanya Habib dalam hati. Ia menepis pikiran negatif kepada abangnya dan fokus kepada Nabila.

"Aku tidak kenapa-napa, Bang. Hanya panas saja, itupun sudah mulai hilang," ujar Nabila parau. Dia sengaja menutupi apa yang dia rasakan. Rasa sakit begitu perih tidak sebanding dengan cacian yang diberikan Abizar kepada suaminya.

"Bo-boleh kah aku meminta sesuatu kepadamu, Bang?" tanya Nabila sambil memegang telapak tangan suaminya. Dia mengarahkan pandangannya sesekali ke arah Abizar yang sudah berdecak pinggang lalu membuang napas kasar. Umpatan demi umpatan dia lontarkan. Bahkan Abizar teriak sekuat tenaga atas kesalahan yang dia perbuat.

"Minta apa, sayang," sahut Habib dengan mata sendu. 'Seharusnya aku yang berhak menerima tamparan itu, sayang,' ucap Habib dalam hati. Ia mencium kening istrinya yang terbujur kaku di atas tanah.

"Tolong beri aku hadiah terbaik menurutmu dan tidak merepotkan siapapun itu!" Nabila menatap ke arah samping kiri untuk menyembunyikan bulir bening yang terus meronta dan akhirnya luruh.

Ide kotor lahir di benak Abizar. Dia berjalan gontai menuju kursi rotan di teras kontrakan sesampainya di sana dia duduk sambil memperhatikan percakapan Nabila dan Habib.

"Aku akan mengajakmu makan di mana aku bekerja," ucap Habib dengan meyakinkan istrinya.

Nabila diam sejenak lalu memejamkan mata. Dia tahu tempat suaminya bekerja makannya serba mahal.

"Apakah kamu tidak keberatan hal itu?" tanyanya kembali. Ia takut rasa sakit yang diberikan Abizar membuat dirinya tidak bisa melangkah atau malu karena bekas tamparan yang diberikan abangnya.

"Mimpi itu yang selalu aku impikan," jawab Nabila sambil melahirkam garis bibir melengkung membuat Habib merasa senang.

"Paling Habib ada dapat voucher gratis. Itu makanya bisa mengajak istrinya makan enak di sana," ledek Abizar dari teras kontrakan.

Nabila dan Habib menautkan pandangan untuk mencerna perkataan pria yang selalu mengundang emosi. "Setiap kali aku datang kemari, tidak pernah disuguhin gulai rendang ayam, ikan asap, atau makanan enak dan bergizi," ledeknya kembali. Abizar tidak henti menghujat adik iparnya.

"Kalau begitu ayo berangkat," ajak Habib sambil membantu istrinya berdiri. "Aku sudah menyiapkan kado yang jauh lebih spesial dari makan siang." Nabila menatap wajah suaminya. "Sungguh?!" tanya Nabila meyakinkan perkataan pria yang selama ini menuntunnya ke jalan yang benar.

"Ya," bisik Habib pelan. Dia sengaja membuat kakak iparnya penasaran.

'Kira-kira kado apa yang akan diberikan Habib kepada Nabila?' tanya Abizar dalam hati dengan penuh penasaran.

Habib menuntun istrinya naik ke atas kuda besinya. Ia merogoh kunci di saku celana. Wajah panik kini menyapa dirinya.

"Cari apa?" tanya Nabila parau.

"Tunggu sebentar. Kuncinya ketinggalan di dalam," bisik Habib tepat di daun telinga istrinya.

Nabila mengangguk sambil mengedipkan mata menyatakan setuju. Tanpa membuang-buang waktu, Habib melangkah pergi masuk ke dalam rumah.

[Pokoknya aku tidak mau kalau rencana ini gagal lagi,] ucap Abizar sambil membulatkan kedua bola matanya ketika retinanya dengan Habib sudah saling tertaut.

"Rencana apa yang kamu maksud?" tanya Habib kepada kakak iparnya. Benda pipih milik Abizar terjatuh begitu saja ke atas lantai. Abizar hanya bergeming dan mematung.

Hening seketika yang tercipta. Padahal masih banyak teka-teki yang harus dipecahkan oleh Habib. Kedua bola matanya terus memperhatikan ponsel yang masih on di atas lantai. Ia melangkah cepat menghampiri Abizar.

[Pokoknya halangi dulu dia agar jangan cepat sampai kemari!]

Ternyata loud speaker benda pipih itu aktif sehingga sangat jelas terdengar suara seorang pria.

Habib mengernyitkan kening. Intonasi suaranya ia mengenal siapa yang sedang berbicara lewat telepon, tetapi tidak mau menebak yang tidak pasti.

"Cepat jawab!" bisik Habib dengan sedikit memaksa. Ia menarik kerah baju kakak iparnya dengan sorot mata tajam.

[Serahkan saja kepadaku. Pokoknya jangan sia-siakan kepercayaanku,] jawab Abizar sembari mengukir senyum terpaksa.

Habib sengaja memutuskan sambungan telepon. Lalu menatap ke arah kakak iparnya. "Rencana apa yang kamu rencanakan wahai bedebah?!" ucap Habib penuh selidik.

Abizar hanya membisu. Bola matanya berputar-putar untuk mencari jawaban. Dia sengaja menahan napasnya walaupun terasa sesak. "Cepat katakan sebelum aku mencari tahu semua rencana busukmu!" desak Habib dengan nada mengancam. Netra Abizar sangat enggan menatap manik lawan bicaranya.

Seketika ia teringat kepada istrinya yang sudah lama menunggu di halaman rumah. Habib segera mendorong tubuh kakak iparnya dengan tenaga kuat sampai terjatuh ke atas lantai.

"Jangan kamu kira diamku tidak berani melawanmu! camkan itu!" Habib melangkah cepat meninggalkan Abizar menuju kuda besinya.

'Sial! Sudah berani dia melawan dan membentakku!' umpat Abizar kesal sambil mencoba berdiri. Rasa ngilu lahir di bagian siku lengannya.

"Kenapa kamu lama sekali di dalam, Bang?" tanya Nabila penasaran sambil memeluk erat tubuh suaminya.

Habib fokus menyetir sepeda motor bututnya. Walaupun jelek ia sangat bangga dengan apa yang dimilikinya.

"Abaikan saja!" jawab Habib dingin. Ia masih tidak menyangka kalau Abizar itu sangat aneh dan banyak sekali teka-teki yang harus dipecahkannya. Mulai dari ucapan sayang kepada Nabila, dan kenapa dia bisa bertelepon dengan Fadli? Apakah biang keroknya Abizar sehingga Fadli selalu membully dan menyiksaku di tempat kerja?! Habib menghela nafas dan mencoba berpikir jernih agar tidak hilang konsentrasi dalam membawa motor.

***

"Sudah kuduga, kamu pasti datang kemari untuk mengemis kembali bekerja lagi, kan?!" ledek Fadli.

Habib heran kenapa bisa staf kitchen menyambut tamu. Ia masih diam dan terus mempersilakan istrinya duduk. "Silakan pesan menu yang paling mahal, sayang!"

"Waw ... Maju sekali!" Fadli mengukir senyum. Dia tidak menyangka orang yang selama ini dia sepelekan bisa berkata seperti itu. "Kamu seorang gembel apa sanggup dan mampu membayar makanan paling mahal di restoran ini?!" tanya Fadli penuh ejekan.

"Bila perlu mulut sampahmu itu bisa aku beli sekarang juga!" balas Habib.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Adik Ipar Terkaya   Part 37B: Apa yang Terjadi

    Suasana semakin memanas. Manusia mana yang mau terlahir ke dunia dengan cara tidak sah di mata hukum negara dan juga di mata hukum Islam. 'Kalau boleh memilih, aku juga tidak mau lahir dari cara yang salah,' ucap Abizar bermonolog.Suasana hening seketika. Habib mengulas senyum bahagia. Ia merasa menang atas perdebatan yang sangat alot itu."Wajar saja tingkah lakumu seperti ibumu!" ejek Abizar sponta dengan ekspersi datar. Dia memutar balikkan fakta.Habib tertawa terbahak-bahak tanpa peduli dengan sang ayah. Sementara Abizar dan Hermawan saling adu pandang. Mereka kira Habib sudah gila."Apa aku tidak salah dengar?!" tanya Habib memperjelas perkataan Abizar. Retinanya mengarah ke arah Hermawan. "Apakah aku wajar dan pantas dikatakan gila?" imbuhnya meyakinkan apa yang baru saja dikatakan Abizar kepadanya.Hermawan hanya diam membisu. Dia tidak berani menjawab. Walau bagaimanapun itu Habib dan Abizar anak kandung alias darah dagingnya sendiri. Walaupun itu Abizar tidak dalam alam sa

  • Adik Ipar Terkaya   Part 37: Terkulai Layu

    "Secepatnya!" balasnya menimpali.Rossa memang istri sirinya, Hermawan. Dia sempat tanam saham duluan daripada menikahi ibunya, Habib. Namun, itu tidak terendus alias semua tersimpan rapi tanpa ada yang tahu.Seketika Habib mengulas senyum melihat Abizar. "Betapa malangnya nasibmu," sindir Habib kepada Abizar. Ternyata kamu anak yang tidak diinginkan." Ledekan Habib membuat Abizar semakin marah.Biasanya dia yang selalu menghina dan mengolok-olok Habib. Sekarang malah terbalik seratus delapan puluh derajat Celcius. Api amarah kini terpaut di wajahnya. Dia ingin sekali membungkam mulut adik tirinya agar bisa diam. Namun, dia sadar akan kesehatan Hermawan. Walaupun dia tidak pernah memanggil ayah atau pun bapak kepada pria yang terbaring lemas di atas brangkar."Kenapa kamu diam?!" pancing Habib kembali. Wajahmu nggak usah ditekuk seperti itu. Coba deh berkaca, kamu laksana menahan berak," ujar Habib terus mengejek."Persetan!" Akhirnya, Abizar tidak sanggup menahan gejolak larva amarah

  • Adik Ipar Terkaya   Part 36B

    Abizar melepaskan cengkeramannya lalu membuang napas kasar."Ceritanya seperti ini," ucap Hermawan lirih. Dia memejamkan mata sekejap sembari menghela napas. Setelah jiwa dan raganya sudah merasa tenang. Barulah dia mulai buka suara. "Sayang, aku hamil!" ucap Rossa kepada Hermawan ketika mereka berdua janjian ketemuan di waktu makan siang."Tidak mungkin! Aku selalu memakai pengaman dan jika pun itu tidak. Aku tidak pernah mengeluarkannya di dalam. Jangan mengada-ada kamu, Rossa!" tolak Hermawan atas perkataan Rossa yang baru saja dia dengar.Rossa terisak mendengar perkataan calon suaminya. Dia sudah merelakan perawannya direguk oleh Hermawan. Ternyata apa yang dia harapkan telah sirna menjadi suami seorang pria kaya raya. Tidak peduli semua mata tertuju kepadanya. Isaknya semakin kuat dan semakin membuat retina pengunjung cafe semakin penasaran."Kamu tega, sayang!" ucap Rossa terisak. Dia memukul-mukul dada Hermawan sekuat hati sangking kesalnya. "Jangan coba-coba mengganggu hidup

  • Adik Ipar Terkaya   Part 36: Minta Tanggungjawab

    Part 36: Minta TanggungjawabSiska baru saja tersadar ketika dirinya sudah ada di atas brangkar rumah sakit. Padahal dia baru saja merasa di atas motor dan terprental dari atas lalu meringis kesakitan."Aa-aku ada di mana?!" racaunya sesekali menyapu ruangan sekitar. Di samping kanan ada Abizar. Dia terkejut dan terbangun dari tidurnya. Ternyata sudah pukul dua puluh tiga lewat lima belas menit. Sangking lelahnya Abizar, dia tertidur pada saat menjaga Siska yang baru saja kecelakaan."Di rumah sakit," jawab Abizar sambil menguap. Setelah selesai menguap, dia mengucek terinya dan kembali meneruskan perkataannya, "tadi kamu kecelakaan.""Ini pasti gara-gara, Habib," umpatnya dengan menekuk wajah kesal. "Bisa kamu kasih pelajaran agar dia tidak semena-mena kepadaku, Bang?!" ucapnya lirih. Di sebelah kanan bagian betis terasa sakit akibat ditimpa motor pada saat dirinya terseret."Kasih pelajaran seperti apa? Dia saja telah menang telak dan sudah mengetahui sisi kelemahanku," jelas Abizar

  • Adik Ipar Terkaya   Part 35: Sudah Kutransfer

    "Kenapa kamu malah diam saja tua bangka! Seharusnya kamu ngoceh membela aku sebagai anakmu. Bukan hanya meratap seperti anak TK meminta mainan tidak dikasih sama ibunya." Siska benar-benar tidak ada akhlak ngatain Hermawan tua bangka. Padahal selama ini dia hidup hedon dan glamour karena uang yang dikasih Hermawan kepadanya."Hentikan ucapanmu!" bentak Hermawan dengan menaikkan suaranya dari biasanya. Dia mencoba duduk dan bersandar ke dinding ruangan. Habib membantu sang ayah. Namun, Hermawan tidak mau dibantu sang anak. "Aku bisa sendiri, kok," imbuhnya membuat Siska tersenyum puas."Siska! Mulai dari sekarang kamu harus angkat kaki dari rumahku!" racau Hermawan setelah dadanya tenang. Dan kamu tidak boleh menggunakan fasilitas yang aku berikan kepadamu!" desisnya menimpali.Raut wajahnya terlihat memerah seolah tidak suka atas informasi yang dia dapatkan barusan."Tidak bisa begitu, Yah!" bujuknya agar Hermawan menarik ucapannya. Aku mau tidur di mana kalau tidak boleh tinggal di r

  • Adik Ipar Terkaya   Part 34: Jangan Berharap Lebih

    Habib mengindahkan ide suster dengan cepat. Kini semua sudah aman dan terkendali."Kenapa sudah tidak ada orang?! tanya Siska ketika sudah di depan kamar mayat. "Pasti ada yang tidak beres ini," imbuhnya memasang wajah heran. Mau bertanya pun sudah tidak ada orang. Akhirnya dia kembali ke ruang informasi untuk mencari tahu keberadaan jenazah ayahnya.***Di kamar yang berbeda masih di lokasi rumah sakit. Habib menyuap Hermawan dengan lembut. Sang ayah yang selama ini ia rindukan kasih sayangnya kini sudah terkulai layu di atas brangkar rumah sakit."Ayah harus kuat makan agar ada tenaga," ucap Habib parau. Suaranya terasa serak menahan Isak tangis. Andai saja sang ayah mendengar apa katanya dulu sebelum menikah dengan Rossa. Mungkin beliau tidak menderita seperti ini. Bukan kebahagiaan yang dia dapat, hanya derita yang tercipta selama bersama dengan Rossa."Sudah!" tolak Hermawan. Dia tidak mau lagi menghabiskan makanan yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit. "Ayah sudah kenyang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status