Share

Bab 68. Racun Embun Kelabu

last update publish date: 2026-09-12 06:44:03

Setelah memeriksa pasien terakhir, Wang Yue mengangkat pandangannya. Di antara kerumunan yang memenuhi ruangan, dia melihat Gongliang Yizheng dan Qiu Zhenlan berdiri diam di ambang pintu.

Tatapan Wang Yue dan Gongliang Yizheng bertemu.

Sambil tersenyum sinis, Wang Yue bergumam pelan, “Sudah saatnya menjalankan rencana selanjutnya.”

Wang Yue menoleh pada Qiu Yanxu.

“Qiu Yanxu!” panggilnya.

Qiu Yanxu segera mendekat. “Tabib, ada perintah apa?”

Sambil mengangguk, Wang Yue berseru, “Pergilah!”

“Ba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu   Bab 88. Melamar Nona Besar Wang

    “Pangeran!”Bai Shuo memanggil Pangeran Zhou Chen dari atas kuda. Sehari setelah festival lampion, Ibu Suri dan Pangeran Zhou Chen kembali ke Ibu Kota. Kuda Wang Yue dan Yan Linfeng berada di barisan paling depan, memimpin rombongan. Sementara Han Lie dan Fang Jue berada di barisan belakang. Pangeran Zhou Chen membuka tirai kereta. “Ada apa?”“Lapor, Pangeran. Menurut informasi yang kuterima, Nona Besar Wang sudah kembali ke Ibu Kota bersama dayangnya.”Mendengar laporan pengawalnya, Zhou Chen tersenyum tipis. Zhou Chen menebak-nebak. “Ini suatu kebetulan atau memang sudah direncanakan?” “Apa aku perlu mengirim orang untuk mengawasinya?” tanya Bai Shuo. Zhou Chen mengangguk. “Aku selalu merasa, tatapan dan gerak-gerik Panglima Wang Hao persis seperti Nona Besar Wang.”“Padahal mereka bukanlah anak kembar identik,” kata Bai Shuo. “Bahkan anak kembar sekalipun punya perbedaan,” celetuk Zhou Chen. “Chen’er!” panggil Ibu Suri. Usai mengangguk pada Bai Shuo, Zhou Chen kembali menu

  • Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu   Bab 87. Festival Lampion

    Beberapa hari kemudian, di Kuil Fuyin Kota Yunhe. Gabungan Pasukan Zhou Chen dan pasukan Serigala Utara telah selesai menumpas kasus orang hilang. Mo Cangyuan kembali ke Perbatasan Utara bersama Lu Beichen dan pasukan Serigala Utara. Sementara Wang Yue mengikuti perintah Tuan Gu Wuling melakukan perjalanan ke Kota Yunhe. “Panglima, kita sudah sampai di Kuil Fuyin. Ibu Suri ada di dalam,” kata Yan Linfeng, pengawal kepercayaan Ibu Suri. Wang Yue mengangguk sedikit. Dia menginjakkan kakinya di halaman belakang yang merupakan tempat tinggal sementara Ibu Suri. Lentera-lentera kuning bergantung di sepanjang koridor kayu. Dua orang pengawal berdiri di depan pintu kamar Ibu Suri. “Katakan pada Ibu Suri, Tuan Gu Wuling menghadap,” kata Yan Linfeng pada pengawal. “Baik.” Seorang pengawal pergi melapor ke dalam. Wang Yue dan Zhou Chen menunggu di luar. Wang Yue memperhatikan sekelilingnya. Bangunan utama Kuil Fuyin memiliki atap genting berwarna kelabu gelap dengan ukiran tera

  • Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu   Bab 86. Khilaf Sesaat

    Semua yang dikatakan Zhou Chen memang benar! Cao Yanshi membeku mendengar hukuman yang disebutkan Zhou Chen. Sebelum menjalankan rencana ritual memanggil roh, dia sudah paham konsekuensinya. Cao Yanshi putus asa. ‘Rencanaku belum berhasil. Aku tidak boleh mati sekarang.’Cao Yanshi mengelak, “Ini fitnah! Tuan, tolong tegakkan keadilan untukku.”Bukk!!Wang Yue menendang Cao Yanshi. “Kamu merusak mayat. Kamu menjalankan Ritual Memanggil Roh anak sulungmu menggunakan darah jantung orang-orang yang seumuran dengan anakmu,” kata Wang Yue. “Karena kamu, korban orang hilang bertambah banyak. Kamu juga membunuh istrimu dan melakukan percobaan pembunuhan terhadap anak keduamu.”Suara Wang Yue menggema dingin di dalam ruangan.“Semua tuduhan itu cukup untuk memenggal kepalamu. Lalu, kepalamu akan dipajang di tempat umum sebagai peringatan,” sambung Wang Yue.Mata sang pangeran menatap tajam ke arah Cao Yanshi. Tatapan itu menyiratkan ancaman kematian yang sangat nyata.Wajah Cao Yanshi sek

  • Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu   Bab 85. Sepotong Ingatan Masa Lalu

    Memori Mo Cangyuan berputar kembali ke malam pertemuannya dengan Fang Jue. Mo Cangyuan berkata, “Saat aku menemukanmu, kamu bahkan tidak ingat namamu sendiri.”Raut menyedihkan terukir di wajah Mo Cangyuan. Dia pernah kehilangan anak keduanya. Saat melihat Fang Jue, Mo Cangyuan dan istrinya pernah berkata. Jika anak kedua mereka masih hidup sudah pasti seumuran dengan Fang Jue. Kemudian, Mo Cangyuan berkata lagi. “Nona Besar Keluarga Wang memberimu nama Fang Jue. Fang untuk jujur dan berprinsip. Jue untuk kebangkitan dan pemahaman.”Saat menjelaskan, kedua mata Mo Cangyuan berkaca-kaca. Sementara Wang Yue menahan perasaannya. “Jadi, arti Fang Jue adalah orang yang memiliki pemahaman mendalam dengan berpegang teguh pada prinsip kebenaran dan kejujuran,” ujar Wang Yue. Mo Cangyuan tersenyum pada Fang Jue. “Benar.”“Nama yang indah,” gumam Zhou Chen. “Tapi, ada hubungan apa antara Nona Besar Wang dan Fang Jue?”Bai Shuo berbisik, “Pangeran, sejak tinggal di Perbatasan Utara, Nona B

  • Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu   Bab 84. Rahasia Kelam

    Kelopak mata Wang Yue berkedut. ‘Pasukan Ibu Suri? Ah, tapi… tanda di pakaian para pengawal milik kediaman Pangeran Zhou Chen. Aku tidak mungkin salah lihat.’ Semua orang di kekaisaran Sheng tahu. Pangeran Zhou Chen bodoh akibat insiden beberapa tahun silam. Mengingat diri sendiri saja, Pangeran Zhou Chen kesulitan. Jadi, mustahil dia mengirim pasukan untuk membasmi kasus orang hilang! “Ada apa? Kalian meragukan Ibu Suri?” sindir Zhou Chen. Lalu, dia mengeluarkan token kediaman Ibu Suri dan memperlihatkannya kepada semua orang. Wang Yue dan Mo Cangyuan bermain mata. Mereka menebak-nebak sosok lelaki di balik topeng itu. Tidak lama, Mo Cangyuan menangkupkan tangan ke arah Zhou Chen. “Maaf, Hamba kurang perhitungan. Hamba tidak tahu pasukan Ibu Suri di sini.” Wang Yue dan yang lainnya juga menangkupkan tangan, menunggu reaksi Zhou Chen. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Wang Yue memutuskan untuk melanjutkan rencananya. ‘Ah, sudahlah. Aku akan melakukannya di depan Tuan ber

  • Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu   Bab 83. Pasukan Ibu Suri

    “Panglima!”Mo Cangyuan datang menyelamatkan Wang Yue. Dia berdiri membelakangi Zhou Chen, sengaja menghalangi pandangannya.“Terima kasih, Guru,” bisik Wang Yue. Wang Yue telah selesai mengganti topeng wajahnya. Dia menusuk penjaga yang merobek topengnya tadi.“Arrgghhh!”Teriak memilukan terdengar dari penjaga. Dia ambruk ke tanah dengan bersimbah darah. Wang Yue merapikan rambut yang menutupi mata. ‘Untung saja, aku bawa topeng cadangan.’Dia pergi ke peti mati di mana Mo Tianyu dan Cao Yanshi berada. Mo Cangyuan menegur Zhou Chen. “Tuan, kamu baik-baik saja?”Zhou Chen hanya mengangkat tangan. Dia kesal bukan main.“Ah, hampir saja aku bisa melihat wajah Panglima Hao,” keluhnya pelan. Lalu, dia pergi menyusul Wang Yue. Usai melihat Zhou Chen pergi, Fang Jue mendekati Mo Cangyuan. “Guru, untung saja Tuan tadi tidak melihat wajah asli Adik,” ujar Fang Jue. Dalam hati, Mo Cangyuan membenarkan. ‘Benar. Sebab, Yue'er sedang tidak memakai topeng wajah Wang Hao. Bisa celaka dia kal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status