INICIAR SESIÓNSesuai dengan rencana yang telah ia susun, malam ini Banyu akan mencari tahu rahasia di balik bangunan misterius di samping kediaman. Begitu sang surya tenggelam dan malam merayap kian larut, Banyu bersiap menjalankan misinya. Tak lupa ia juga meminta Jatra untuk bersiaga, kalau-kalau ia membutuhkan bantuan. Karena mereka tidak tahu apa yang Jayendra simpan di bangunan itu. "Tentu, Den. Saya akan bersiaga di kebun," jawab Jatra patuh. Tadi sore, ia sengaja mengamati bangunan tersebut dari balik pintu belakang saat suasana sedang sepi. Benar saja, berdiri sebuah bangunan berdinding semen yang letaknya persis menempel pada kediaman utama. Setelah mereka-reka posisinya, Banyu menebak bangunan itu terletak tepat di samping ruang kerja Jayendra. Sore tadi, ia juga sempatkan menggali informasi tentang bangunan itu sebelum ia melancarkan aksinya malam ini. "Itu hanya gudang milik Jayendra. Saya bahkan tidak pernah diperbolehkan masuk atau sekadar melihat bagian dalamnya. Yang saya ta
"Sing eling, Marni. Sing eling!" seru Mbok Suti pada gadis yang tengah tersesat itu. Ia tidak menduga jika gadis lugu dan polos itu kini berubah menjadi gadis penuh ambisi untuk menjadi istri seorang Juragan. "Justru karena saya eling, Mbok!" bantah Marni. Ia tersentak berdiri dari bibir dipan bambu. "Marni juga ingin hidup lebih baik. Marni tidak mau selamanya hidup menjadi pelayan yang selalu direndahkan!" "Ndoro Wening tidak pernah merendahkan kita, Nduk. Ndoro selalu baik dan pengertian. Tidak pernah menuntut atau meminta macam-macam. Ndoro juga tidak pernah merendahkan kita—" "Bohong!" potong Marni. "Apa Simbok tadi tidak dengar? Ndoro Wening ngatai Marni gundik? Katanya Marni tidak pantas untuk berada setara dengan Ndoro? Simbok tidak dengar?!" Plak!! Wanita paruh baya itu kehilangan kesabarannya. Ia tidak pernah semuak ini menghadapi pelayan muda seperti Marni. Mata Marni terbelalak. Tidak menyangka jika Mbok Suti tega menamparnya. "Simbok berani tampar saya? Demi wanita
"Wening, kamu tidak apa-apa?" tanya Jayendra dengan nada panik. Ia memeriksa pipi istrinya yang sedikit kemerahan akibat beradu dengan telapak tangan Marni. Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Wening justru melempar pandangannya ke arah Banyu yang berdiri di samping Mbok Suti. Tangannya menepis tangan Jayendra saat pria itu hendak menyentuhnya. Membuat pria yang masih menjadi suaminya itu menahan napasnya. Namun ia tak mempermasalahkan. Ia justru berbalik badan, beralih pada Marni. "Marni! Beraninya kamu menampar istriku?!" hardik Jayendra, suaranya menggelegar memenuhi area dapur kediaman. Marni panik seketika. Tubuhnya gemetar hebat, matanya melebar tak percaya melihat tatapan murka Jayendra. "Ndoro Juragan... Ndoro Ayu yang lebih dulu menampar Marni dua kali! Ndoro Ayu juga mengatakan kalau Marni ini gundik! Marni hanya membela diri—" "Kamu pikir kamu pantas!?" Jayendra mencengkeram bahu Marni dan mendorongnya hingga gadis itu hampir tersungkur menjauh dari Wening. "Kamu ha
Mbok Suti berjalan tergopoh-gopoh kembali ke dapur. Baru saja ia selangkah masuk, matanya disajikan oleh pemandangan yang mengejutkan. Tin sudah tersungkur di atas tanah, sementara pecahan piring tanah liat berserakan tajam di sekitar tubuhnya. Di depannya, Marni berdiri tegak dengan tangan berkacak pinggang, memaksakan keangkuhannya di tengah kepulan asap dapur. "Ada apa ini? Tin, Marni?!" Mbok Suti memandang kedua gadis muda itu secara bergantian, menuntut penjelasan. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang membuka mulut. Tin hanya terisak pelan sambil memegangi tangannya, sedangkan Marni justru melipat kedua tangan di dada dengan dagu terangkat tingi. "Marni!" seru Mbok Suti dengan nada menekan, hilang kesabaran. Alih-alih menjawab dengan sopan, Marni justru membuang wajahnya seraya memutar bola matanya malas. Sikapnya seolah menegaskan bahwa orang-orang di dapur ini patut diremehkan. Suara keributan itu menarik perhatian Banyu yang baru saja selesai berganti pakaian kering.
"Juragan sudah menarik upeti bulan kemarin?" ulang Banyu dengan suara serak dan wajah memucat bagai kehilangan darah. Kakek tua itu mengangguk pelan, tatapannya menerawang menatap tanah yang kering. "Benar. Tahun ini saja sudah terhitung tiga kali Juragan menarik upeti dari kami. Belum lagi... kami harus membayar sewa lahan." "Tapi, bukannya Ndoro Ayu Wening tidak pernah meminta uang sewa lahan?" selak Banyu cepat. Keningnya berkerut dalam, mencoba mencerna kejanggalan demi kejanggalan yang mulai terkuak. "Tidak pernah minta?" Kakek tua itu tertawa getir. Sebuah tawa tanpa nada bahagia yang terdengar menyayat hati. Bibirnya bergetar hebat, dan matanya mengembun, menahan cairan bening yang sudah menganak di pelupuk matanya. "Setahun dua kali kami harus membayar sewa lahan, Den. Kalau tidak bayar, tanah garapan kami diancam akan disita." "Apa? Setahun dua kali?" ulang Banyu dengan mata terbelalak, tubuhnya kaku seketika. Jayendra benar-benar jahanam! maki Banyu dalam hati. Pria it
Wening menrik napasnya dalam. "Saya masih memikirkan lumbung, Banyu," jawabnya dengan pandangan tertunduk. "Saya merasa bersalah pada para petani. Mereka sudah bersusah payah selama satu musim panen, tapi hasil kerja keras mereka terbakar sia-sia." Raut wajah Banyu seketika ikut berubah. Di hatinya yang paling dalam, tumbuh rasa penyesalan karena sudah membakar lumbung, meskipun ia sudah menyuruh orang untuk memindahkan semua isinya. Tapi ia tidak menyangka jika kejadian itu membuat Wening merasa terpukul. Ditambah rencana Jayendra yang menyuruhnya untuk menarik upeti pada warga desa. Rahang Banyu mendadak mengeras mengingat perintah itu. Banyu menarik napas panjang, berusaha meredam emosi yang bertunas di dalam dadanya. Ia menarik tubuh Wening ke dalam pelukannya. Menjadikan dirinya tempat ternyaman untuk istri dari majikannya tersebut. "Apalagi Kangmas Jayendra mengatakan akan meminta upeti pada warga, Banyu. Aku yakin Kangmas Jayendra akan tetap melakukannya meskipun saya meno







