Mag-log inBanyu kembali terkekeh pelan. "Maksudnya adalah, saya yang akan urus semuanya."Asal Ndoro Ayu tahu, menjatuhkan Jayendra saat ini bisa dibilang sangat mudah. Karena sekarang dia berhubungan dengan pejabat kadipaten. Kalau Jayendra membuat satu kesalahan saja, saya yakin kalau pejabat kadipaten seperti Tuan Jadipura tidak pernah menerima alasan. Kegagalan artinya pengkhianatan, dan hukuman bagi pengkhianat adalah penyitaan aset." Wening menahan napas. "Aset? Artinya semua asetku akan disita, begitu?" Banyu mendekatkan wajahnya pada Wening untuk ke sekian kalinya. Kemudian ia berbisik di telinga wanita itu. "Itulah kenapa Ndoro Ayu harus segera mengamankan harta milik Ndoro Ayu." Wening semakin menahan napasnya. Tiupan napas Banyu di telinganya membuat darahnya berdesir. Tubuhnya bereaksi terlalu berlebihan. Ditambah tangan Banyu yang berada di pinggangnya mulai merambat di punggungnya. Lenguhan itu keluar begitu saja dari bibir Wening tanpa bisa dicegah. Namun, keputusannya untuk m
Banyu—pria itu berdiri begitu dekat, menatap Wening dengan pandangan yang tenang namun menusuk tajam di teriknya siang itu. Banyu perlahan menurunkan tangannya dari bibir Wening, tetapi jarak mereka tetap sangat dekat. Matanya yang tajam menyapu wajah Wening yang pucat pasi, napas sang Ndoro Ayu masih memburu ketakutan. "Ndoro Ayu baik-baik saja?" tanya Banyu dengan suara serak yang begitu tenang, nyaris seperti belaian beracun. "Kenapa wajah Ndoro sangat pucat? Apa Ndoro baru saja melihat sesuatu yang lebih menakutkan daripada hantu? Sebuah fakta, mungkin?" Suara Banyu terdengar biasa saja, namun Wening tahu maksud dari pertanyaannya. Wening menatap Banyu dengan mata melebar. "Ka-kamu... bagaimana kamu tahu?" Banyu menyunggingkan senyum tipis—seulas senyuman misterius yang sarat akan dominasi tersembunyi. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, mengikis jarak hingga Wening terdesak menyandarkan punggungnya pada dinding kayu. "Saya sudah tahu sejak awal, Ndoro Ayu," kata Banyu, sua
Wening mematung cukup lama di depan kamar Jayendra. Namun akhirnya ia tidak bisa tinggal diam. Rasa penasarannya bercampur dengan ketakutan yang mencekat leher. Ia mulai bergerak secara diam-diam, memanfaatkan posisinya sebagai Ndoro Ayu untuk menyelidiki masa lalu suaminya. Jayendra dikabarkan harus pergi keluar kota mengurus urusan perkebunan hingga larut malam, Wening melihat kesempatan emas. Dengan langkah senyap dan hanya ditemani keberanian dan rasa penasaran, ia menyelinap masuk ke ruang kerja pribadi Jayendra. Sebuah ruangan terlarang yang pintunya selalu terkunci rapat dan tak seorang pun diizinkan masuk tanpa izin. Tak terkecuali Wening. Langkah Wening berpindah ke ruang penyimpanan. Ia mengambil kunci duplikat yang disimpan di laci meja. Tangan Wening bergetar saat ia mencoba mencocokkan anak kunci duplikat yang baru saja diam-diam ia ambil. Klek. Pintu bergeser terbuka setelah beberapa kali percobaan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan jika tidak ada orang yan
Alih-alih mendekat pada Marni, Jayendra malah duduk di kursi rotan, melihat kegilaan Sani menghukum Marni. Marni—wajahnya basah oleh air mata. Beberapa bagian kembennya sobek dan mengeluarkan darah segar, begitu juga kain jariknya. Tubuhnya penuh luka akibat sabetan cambuk Sani yang membabi buta. Sani—gadis itu berjongkok di depan Marni yang tersungkur di tanah kering dan keras. "Ini akibatnya kamu berani menipu Kangmas Jayendra." Sani semakin mendekatkan wajahnya pada Marni yang tengah merintih menahan kesakitan. "Ah, aku hampir lupa. Ini juga akibatnya kamu berani menggoda Gusti," bisiknya yang disertai dengan senyuman. *** Di dalam kamar yang kini hening, Wening melangkah perlahan ke arah jendela yang terbuka sedikit. Dari balik tirai, ia menatap ke arah pelataran belakang. Di sana, orang-orang sedang berkumpul dipaksa untuk menyaksikan Marni yang dihukum cambuk oleh Sani. Sebagai bentuk peringatan agar tidak ada lagi kejadian mrmalukan seperti ini. Saat ini, entah puk
Jayendra berdiri mematung. Suasana ruangan mendadak menjadi sangat sunyi dan mencekam. Pandangan sang Juragan yang dingin dan mematikan kini tertuju sepenuhnya pada Marni yang makin gemetar tak berdaya. "Kurang ajar! Ternyata kamu memelihara jalang tidak tahu diri di rumah ini, Jayendra!" teriak Kanjeng ibu histeris. Dadanya tiba-tiba terasa sesak dengan drama yang dibuat oleh pelayannya. "Kamgmas!" Sani berdiri dari tempat duduknya. "Kalau sampai Kangmas madih membela jalang ini, saya dan Ibu tidak akan memaafkanmu!" Mendengar ucapan Sani, Jayendra menarik napasnya dalam. Tidak menyangka jika permasalahannya menjadi tambah rumit. "Jadi..." suara Jayendra terdengar sangat pelan, namun justru terasa jauh lebih berbahaya. "Kamu bukan cuma pelayan yang tidak tahu diri, Marni... tapi kamu juga mencoba memfitnah istriku untuk menutupi hawa nafsumu sendiri?" "Bohong! Juragan jangan percaya!" teriak Marni dengan wajah memerah, matanya melotot menatap Banyu dengan kemarahan membara. "Bany
Belum sempat Marni menyelesaikan kalimatnya, Wening maju selangkah, menyela dengan suara yang bergetar namun tegas demi menutupi kepanikannya. "Marni! Sudah cukup kamu memfitnah dan membawa-bawa namaku!" potong Wening cepat. Napasnya naik turun, matanya menatap tajam ke arah Marni, mencoba menyembunyikan badai ketakutan yang mengamuk di dalam dadanya. Ia tahu benar, satu patah kata lagi keluar dari mulut pelayan itu, seluruh hidupnya dan Banyu akan hancur seketika. Dan ia tidak mau hal itu terjadi. Wening masih mau membalas perlakuan suami dan keluarganya yang merendahkan harga dirinya di kediaman ini. Kanjeng Ibu dan Sani saling berhadapan, kemudian sama-sama membuang pandangannya ke arah Wening yang duduk di di sudut dengan wajah tegang. Jayendra menyipitkan mata. Pandangannya bergantian menatap Marni yang ketakutan dan Wening yang tampak kaku berdiri di tempatnya. Atmosfer di pendopo mendadak menjadi sangat dingin dan menekan. Padahal, dahan pohon gayam yang ada di depan pendo







