Share

Semua Milik Saya!

Author: Author_Lee
last update publish date: 2026-10-13 22:31:08

"Siapa lagi kalau bukan Juragan."

Wening menoleh cepat ke arah sumber suara. Begitu juga dengan Mbok Suti yang berdiri tidak jauh di ambang pintu.

Banyu berduri di ambang pintu dengan melipat kedua tangan di depan dada.

"Jangan mengada kamu, Banyu!" bantah Wening. Lalu membuang pandangannya ke arah lain. Berusaha menghindari kontak mata dengan oria itu.

Banyu melangkah masuk perlahan. Dengan senyum sinus tersungging di bibirnya. "Lalu siapa lagi? Pelayan di sini mana berani mencuri. Kalaup
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Marni Lagi

    Dengan amarah yang masih bergemuruh di dada, Wening pergi meninggalkan suaminya. Ia sudah tidak tahan untuk tetap tinggal di neraka seperti ini barang sehari pun. Ia berniat untuk mengemas semua pakaiannya dan pergi dari tempat ini. Untuk masalah perhiasan, ia tak memikirkannya lagi. Biarlah perhiasan itu hilang. "Kasihan sekali." Suara Marni memaksa langkah Wening untuk berhenti. Gadis itu berdiri di belakang Wening dengan melipat kedua tangan di depan dada. Senyumannya sarat akan rasa sinis yang mendominasi. Gadis itu perlahan mendekat, tak ada sedikitpun rasa hormat di dalam dirinya pada wanita yang masih berstatus istri dari juragannya itu. "Bagaimana rasanya dibentak Ndoro juragan?" Pertanyaan Marni membuat satu alis Wening terangkat. Rupanya gadis itu mendengar pembicaraannya dengan Jayendra barusan. Langkah Marni menapak dengan angkuh di atas lantai kayu. "Daripada Ndoro Ayu semakin sakit hati karena juragan, lebih baik Ndoro Ayu mundur dan bercerai. Kemudian kembali ke

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Semua Milik Saya!

    "Siapa lagi kalau bukan Juragan." Wening menoleh cepat ke arah sumber suara. Begitu juga dengan Mbok Suti yang berdiri tidak jauh di ambang pintu. Banyu berduri di ambang pintu dengan melipat kedua tangan di depan dada. "Jangan mengada kamu, Banyu!" bantah Wening. Lalu membuang pandangannya ke arah lain. Berusaha menghindari kontak mata dengan oria itu. Banyu melangkah masuk perlahan. Dengan senyum sinus tersungging di bibirnya. "Lalu siapa lagi? Pelayan di sini mana berani mencuri. Kalaupun berani, mereka tidak akan bisa menjual atau menukarnya menjadi uang," balas Banyu. Mbok Suti menahan lengan pria itu. "Bagaimana bisa kamu menuduh juragan, Nyu? Kamu jangan asal bicara." "Simbok ini seperti tidak tahu saja," jawabnya. "Yang pegang kunci hanya Ndoro Ayu dan juragan. Kalau barang di tempat ini hilang, bukankah artinya salah satu dari yang menegang kunci itu yang mengambilnya?" Wening menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin! Untuk apa Kangmas Jayendra mengambil kain?" Banyu

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Hartaku Hilang!

    Wening tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Matanya membelalak, ia refleks menutupi mulutnya dengan tangannya. "A-apa?" tanyanya dengan suara terbata. Jantungnya berdebar kencang, tangannya mendadak bergetar tanpa alasan. "Ka-kamu bilang apa Banyu? Kangmas Jayendra membunuh seseorang?" desisnya pelan. Banyu mengangguk, tatapannya datar seolah ia sudah kebal melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Wening. "Siapa, Banyu? Saya bahkan tidak pernah mendengarnya. Sepertinya tidak mungkin," sangkal Wening tidak percaya. Jika Jayendra adalah pria yang egois, ia masih mempercayainya. Namun jika Jayendra adalah seorang pembunuh, ia benar-benar tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat seperti itu. "Kenapa tidak mungkin? Apa juragan adalah orang sebaik dan sesuci itu?" Wening menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tidak bermaksud untuk membela suaminya. Namun kalimat yang dikatakan oleh Banyu adalah kalimat terkejam yang pernah ia dengar tentang suaminya. "Kangmas Jayendra ti

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Membujuk Wening

    "Bukan begitu, Wening —" "Cukup!" sela Wening seraya mengangkat tangannya. Memotong kalimat Jayendra. "Sekarang saya sudah tahu seperti apa posisi saya di mata Kangmas. Sekarang silahkan saja, lakukan apa yang Kangmas inginkan! Saya tidak akan melarang ataupun berkomentar." Tanpa menunggu jawaban Jayendra, Wening meninggalkan kamar suaminya. Langkahnya mantap, tidak menerima larangan dan penolakan. Ia bahkan tidak peduli dengan teriakan suaminya yang memintanya untuk kembali. Wening melangkah menembus kegelapan lorong dengan punggung tegap. Setiap pijakan kakinya terasa dingin di atas lantai kayu, namun tak sedikit pun raut gentar tampak di wajahnya. Ia mendorong pintu kamarnya, melangkah masuk, lalu menutupnya rapat kamar tamu yang sekarang sudah menjadi tempat ternyamannya di kediaman. Di dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi temaram lampu minyak, Wening duduk di tepi peraduan. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya pelan. Dada yang semula bergemuruh hebat perlahan ia

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Salah Paham?

    Wening memukul bahu Banyu kesal. Lalu turun dari pangkuan pria itu. Beranjak dan berdiri membelakangi pria itu. "Kamu selalu saja menyebutnya saat kita sedang bersama. Seperti tidak ada hal lain saja yang bisa dibicarakan." Banyu terkekeh. Sepertinya Wening sudah berada di tahap muak dengan suaminya sekarang. Ia menarik satu sudut bibirnya. Merasa menang karena sudah menaklukan hati istri dari musuhnya. Banyu beranjak, berjalan pelan, lalu memeluk Wening dari belakang. Menciumi leher Wening, membuat wanita itu memejamkan matanya, merasakan bibir Banyu menyentuh kulitnya. Bisikan hangatnya menyapa telinga Wening, penuh nada manipulatif yang dibalut kelembutan palsu. "Maafkan aku, Sayang," gumam Banyu rendah, jemarinya melingkar di pinggang Wening dengan cengkeraman posesif. "Saya hanya tidak tahan membayangkan Ndoro masih harus melayani pria itu, sementara hati Ndoro ada di sini." Wening menghela napas panjang, kepalanya terdesak ke belakang menempel di bahu Banyu. Rasanya rumit—a

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Tidak Takut?

    "Apa kamu bilang?!" Gusti tersentak berdiri. Tubuhnya mendadak membeku, lidahnya terasa kaku, kalimat yang akan ia ucapkan terasa tersangkut di tenggorokan."Marni adalah simpanan Jayendra keparat itu!" ulang Jadipura dengan suara rendah. Wajahnya masih dipenuhi gurat kesal yang seolah sudah mengakar. Ia masih tidak terima jika keintiman yang terjadi kemarin sore yang ia rasakan berasal dari pelayan rendahan, bukan sang nyonya rumah."Tapi bagaimana bisa, Kakang?" Gusti mendekat perlahan, ia kembali duduk di kursi kayu. "Lalu bagaiaman dengan bantuan Jayendra untuk pasokan logistik pasukan kita?" Suaranya semakin merendah, memastikan hanya Jadipura saja yang mendengarnya."Entahlah! Itu juga yang sedang saya khawatirkan. Karena jika kita tidak memiliki pemasok logistik, pasukan kita akan kelaparan." Jadipura mengembuskan napas berat. Jalan kemenangan yang kemarin sudah tampak di depan mata, kini perlahan menghitam. "Apalagi, Jayendra terlihat sangat murka saat melihatku dengan..."Ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status