LOGINJari telinjuk Marni menyusuri dada yang terbuka itu dari atas hingga bawah. "Tentunya Marni juga punya syarat lain." "Apa?" tanya Banyu dengan nada datar dan dingin. Seolah tidak tertarik dengan tawaran Marni. Marni tersenyum puas, ia merasa berada dibatas awan dan bisa mengendalikan Banyu dan Wening sepenuhnya. "Kakang harus memutuskan hubungan dengan Ndoro Ayu. Wanita sepertinya tidak pantas mendapatkan laki-laki seperti Kang Banyu ataupun Juragan. Kakang juga harus menuruti Kemauan Marni." Dalam bayangan Marni, sebentar lagi ia akan memegang kendali atas hidup Wening—wanita yang sangat ia benci saat ini. Ia bisa mendapatkan Jayendra, sekaligus memanfaatkan Banyu untuk memuaskan hasratnya. Dan juga, tentunya ia akan segera hamil untuk membuktikan pada Jayendra dan ibunya. Dan saat itu terjadi, dunia akan berada dalam genggamannya. Banyu tertawa kecil. Ia menangkap jari Marni yang merayap di dadanya. Lalu menghempaskan jari itu dengan kasar. "Kamu terlalu percaya diri, Marni," b
Jayendra menghentikan langkahnya dengan gusar. Matanya yang merah menatap Marni tajam, sarat ancaman. "Bicara yang jelas, Marni! Jangan berbelit-belit di saat seperti ini!" Marni makin memamerkan senyum culasnya. Ia sengaja memperkeras suaranya sedikit, cukup agar Wening yang berdiri tak jauh dari sana bisa mendengarnya dengan jelas. Jantung wening semakin berdegup tak karuan. Tangannya mengepal di disi tubuhnya. Bola matanya bergerak liar sarat akan kepanikan. Namun, ia berusaha keras untuk tetap mempertahankan raut wajah dingin. Ia teringat pesan Banyu pagi tadi. "Jangan sampai Marni melihat keraguan di matamu." Melihat respons yang ditunjukan oleh Wening, Marni semakin percaya diri jika posisi Wening—istri sah Jayendra akan segera di gantikan olehnya. Wening menarik napasnya dalam sebelum ia memantapkan langkahnya untuk mendekat ke arah Jayendra dan Marni. Ia tidak bisa membiarkan Marni mengungkap rahasianya di depan Jayendra. "Sabar, Juragan. Marni harus mengatakannya pelan-
Banyu melirik ke arah Marni yang tampak begitu tenang di dekat meja makan. Senyum tipis yang terukir di wajah pelayan itu bukan lagi sekadar aura iri, melainkan kepuasan seorang pemangsa yang merasa baru saja menancapkan kukunya pada mangsa. "Tenangkan diri, Ndoro," bisik Banyu sangat rendah, suaranya terdengar begitu datar hingga tak memicu kecurigaan siapa pun yang melihat mereka dari kejauhan. Tangannya pura-pura merapikan letak keranjang kayu di dekat pintu dapur. "Jangan biarkan Marni melihat keraguan di mata Anda. Ketakutan Anda adalah senjata terbesarnya." "Tapi Banyu, jika dia melapor pada Jayendra sekarang—" "Dia tidak akan melapor sekarang," potong Banyu mantap, memotong kekhawatiran Wening. "Perempuan seperti Marni terlalu tamak. Dia tidak akan puas hanya dengan laporan tanpa bukti kuat yang bisa langsung membinasakan Anda. Dia akan menunggu momen di mana dia merasa paling di atas angin." Wening meremas jemarinya yang dingin, mencoba mencerna ucapan Banyu. Ia melirik Ma
"Marni mau lihat, apa yang terjadi kalau Juragan tahu kelakuan istrinya juga sama bejatnya sepertinya. Wanita yang sok suci itu ternyata memiliki hubungan terlarang dengan kusir." Marni bergumam sendirian di biliknya. Tawa renyah yang sarat akan kepuasan itu bergema di keremangan kamar bahkan sebelum ayam jago berkokok. "Atau... Marni bilang pada Ndoro besar? Sepertinya akan sangat menarik." Marni kembali tertawa menyeringai, bertingkah bagai orang yang kerasukan setelah berhasil menggenggam rahasia terbesar Wening. Rahasia yang ia yakini mampu mengguncang seluruh desa. Seorang Nyonya rumah terpandang menjalin hubungan gelap dengan seorang kusir. "Itu adalah aib yang jauh mematikan dari sekedar dihamili Juragan." Namun, senyuman culas di bibir Marni seketika lenyap. Raut wajahnya mendadak mengeras. "Tidak. Tidak! Marni tidak boleh gegabah. Ndoro Ayu itu licik, dia pasti akan mencari sejuta alasan untuk membantah ucapan Marni di hadapan Juragan. Marni harus mengumpulkan bukti yang t
"Aku yang memutuskan ingin bercinta dengan siapa malam ini. Kamu sebagai istriku harus patuh dan diao melayaniku." Wening terus memberontak, tenaganya kalau besar dari tenaga Jayendra yang lebih kuat. Ia menghindar, saat Jayendra hendak mendaratkan sebuah ciuman di bibir Wening. "Wening, biasanya kamu akan merengek dan memohon padaku untuk bercinta denganku. Mana Wening yang dulu selalu ingin bermanja-manja? Hah?!" Jayendra berteriak. "Wening yang bodoh itu sudah pergi bersama dengan pengkhianatanmu, Kangmas. Saya sudah tidak ingin mengemis kehangatan darimu. Saya sudah tidak butuh!" Plak!! Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi Wening. Membaut suasana menjadi hening. Teriakan Wening yang minta dilepaskan kini lenyap seketika. Wening tak meringis sedikit pun, meski sudut bibirnya terasa kebas. Kepalanya terlempar ke samping akibat benturan tangan Jayendra, tetapi tatapan matanya saat kembali menatap sang suami justru semakin dingin dan menusuk. Jayendra terengah-engah di
Pintu gudang terbuka, menampakan dua orang pria tengah duduk ditemani lampu minyak di atas meja. Kedua pria itu menoleh bersamaan ke arah pintu masuk dengan kening yang mengerut "Sepertinya Tuan-tuan ini membutuhkan hiburan." Dengan langkah pelan, Marni masuk ke gudang. Tidak lupa ia menurunkan selendangnya, menampakan bahunya dan separuh dadanya yang putih mulus. Kedua pria itu saling berpandangan. Mereka tahu jika Marni adalah pelayan kediaman yang siang ini mengajak mereka bicara. "Apa maksudmu, Nduk?" tanya Karman kebingungan. Dengan ia diusir dari kediaman utama saja sudah menjadi pukulan telak baginya, sekarang ia dihadapkan dengan gadis muda yang dengan berani datang ke gudang yang berisi pria dewasa. Marni duduk di bangku kayu di samping Karman. Ia mengulurkan tangannya ke paha Karman dan mengusapnya pelan. "Menghibur Kakang supaya tidak sedih," jawabnya dengan nada menggoda. Karman kembali melempar pandangannya pada pria di depannya. Refleks mengerlingkan matanya. "






