Share

Bab 18

Author: Toyusa
last update publish date: 2026-07-20 12:43:18

​"Ayo keluar," perintah Brata mutlak.

​"Mas! Kamu mau bawa dia ke mana?! Urusan kita belum selesai!" jerit Ratna tak terima melihat suaminya justru membawa pergi pelayan itu.

​Namun Brata tak menoleh. Ia menutup pintu kamar utama dengan bantingan keras, meninggalkan Ratna yang menangis histeris di dalam.

​Sepanjang lorong menuju dapur, Brata tidak melepaskan genggamannya dari lengan Mira. Gadis itu terus terisak pelan, bahunya bergetar hebat, memainkan peran sebagai korban yang trauma. Begitu m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 23

    Malam harinya, rumah besar itu terasa lebih mencekam dari biasanya. Keluarga Haryo memutuskan untuk menginap demi mengawasi kondisi Ratna, membuat ruang gerak Brata menjadi sangat terbatas. Pria itu bahkan harus berpura-pura tenang saat makan malam bersama mertuanya.​Tepat pukul dua belas malam, ketika seisi rumah telah terlelap, Brata mengendap-endap keluar dari kamar tamu. Ia menuruni tangga tanpa menyalakan lampu, menyusuri lorong panjang yang menuju ke area belakang rumah. Kepalanya pening oleh amarah, dan entah mengapa, tubuhnya secara naluriah mencari satu-satunya tempat pelarian yang bisa meredakan panas di dadanya.​Jantung Brata berdegup kencang saat ia mengetuk pintu kamar Mira sebanyak dua kali.​Ceklek.​Pintu terbuka sedikit. Wajah Mira yang pucat dan sembab muncul dari balik celah. Begitu melihat siapa yang datang, gadis itu terkesiap dan berniat menutup pintu, namun Brata dengan cepat menahan daun pintu dan menyelinap masuk, menguncinya dari dalam.​Kamar sempit itu ha

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 22

    PLAAAK!​Suara tamparan keras menggema nyaring di ruang tengah yang luas itu.​"Akh!" rintih Mira pelan.​ Kepalanya terlempar ke samping. Tubuh mungilnya limbung hingga telapak tangannya harus menahan lantai agar tidak sepenuhnya tersungkur. Rasa panas yang luar biasa menjalar di pipi kirinya, disusul rasa anyir darah dari sudut bibirnya yang sobek terkena goresan cincin berlian besar Ningsih.​Brata menegang. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun melihat wanita yang baru saja memakaikan sepatunya itu kini ditampar dengan keji. Kakinya reflek bergerak maju, namun Haryo dengan cepat menyadari pergerakan itu membuat Brata mengurungkan niatnya.​"Dasar perempuan murahan tidak tahu diri!" maki Ningsih dengan napas memburu. Belum puas melihat Mira tersungkur, wanita paruh baya itu kembali mengangkat tangannya, bersiap menjambak rambut Mira dan menyeretnya. "Berani-beraninya kamu menggoda menantuku!"​Namun, sebelum tangan Ningsih menyentuh rambut Mira, sebuah suara berat dan dingin membela

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 21

    Suara deru mesin mobil yang mendadak memasuki pekarangan depan memecah keheningan yang sejak beberapa jam lalu mencekam isi rumah. Dari jendela dapur, Mira bisa melihat sebuah sedan hitam mengkilap berhenti tepat di depan teras.Sepasang pria dan wanita paruh baya keluar dari mobil itu dengan tergesa-gesa. Pria itu bertubuh tegap, mengenakan kemeja batik sutra dengan wajah mengeras dan rahang yang kaku– Haryo, ayah Ratna. Di belakangnya, Ningsih, sang istri, berjalan setengah berlari sambil menenteng tas mewahnya, raut wajahnya dipenuhi kepanikan dan amarah.​Di ruang tengah, Ratna sudah bersiap di atas kursi rodanya. Begitu melihat orang tuanya melangkah masuk, tangis histeris yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak.​"Ibu! Bapak!" jerit Ratna dengan suara serak, memutar roda kursinya mendekat dengan susah payah.​Ningsih langsung berlari menghampiri putrinya, memeluk kepala Ratna dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang dengan cepat berubah menjadi amarah. "Ya ampun, Ratna! Kena

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 20

    "Biar saya bantu pakaikan, Ndoro. Tangan Ndoro sedikit gemetar, pasti karena kurang tidur," bisik Mira lembut. ​Brata tertegun, membiarkan kedua tangannya turun. Ia menatap wajah pelayannya itu dalam diam. Mira berjinjit sedikit, menyampirkan kemeja itu ke bahu lebar Brata. Jemari lentiknya mulai mengancingkan kemeja itu dari bawah ke atas. ​Gerakan Mira sangat telaten dan lambat. Setiap kali jemarinya bergerak memasukkan kancing ke dalam lubangnya, buku-buku jari gadis itu tanpa sengaja bergesekan dengan dada dan perut keras majikannya. Sensasi kain katun, kehangatan jari, dan deru napas Mira yang menerpa dada Brata menciptakan desiran halus yang membuat otot-otot perut pria itu menegang. ​Brata menunduk, menatap leher jenjang dan belahan dada Mira yang mengintip tipis dari balik kerah seragamnya setiap kali gadis itu mengambil napas. Pemandangan itu, dipadukan dengan kepatuhan mutlak yang ditunjukkan Mira, memompa ego kelelakian Brata hingga ke titik tertinggi. ​Inilah yang

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 19

    "Apa yang kamu lakukan?" tegur Brata, suaranya rendah, namun memecah keheningan dengan tegas. ​Mira terlonjak kaget. Ia menjatuhkan bajunya, buru-buru mengusap air matanya dan berdiri dengan posisi menunduk. ​"N-Ndoro..." cicitnya panik. "S-saya... saya..." ​Brata melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dan menguncinya rapat-rapat. Matanya menatap tajam tas kain usang di atas kasur tipis itu. ​"Aku sudah bilang kamu tidak boleh pergi. Kenapa kamu malah berkemas?" desak Brata, memangkas jarak di antara mereka. ​Mira mendongak, membiarkan raut wajahnya terlihat begitu hancur dan putus asa. ​"Saya tidak kuat, Ndoro," isaknya lirih, suaranya bergetar hebat. "Nyonya menuduh saya meracuninya. Besok orang tua Nyonya datang... Saya ini cuma orang miskin, Ndoro. Kalau mereka menyeret saya keluar dari rumah ini dan mempermalukan saya di depan semua pekerja, di mana saya harus menyembunyikan wajah saya?" ​Gadis itu terisak semakin keras, menutupi wajahnya dengan kedua telapak

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 18

    ​"Ayo keluar," perintah Brata mutlak.​"Mas! Kamu mau bawa dia ke mana?! Urusan kita belum selesai!" jerit Ratna tak terima melihat suaminya justru membawa pergi pelayan itu.​Namun Brata tak menoleh. Ia menutup pintu kamar utama dengan bantingan keras, meninggalkan Ratna yang menangis histeris di dalam.​Sepanjang lorong menuju dapur, Brata tidak melepaskan genggamannya dari lengan Mira. Gadis itu terus terisak pelan, bahunya bergetar hebat, memainkan peran sebagai korban yang trauma. Begitu mereka tiba di area dapur yang sepi, Brata melepaskan tangannya dan berbalik menatap Mira.​Raut wajah pria itu melunak, dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam. Tangannya terulur ragu, lalu dengan sangat hati-hati menyentuh puncak kepala Mira yang tadi dijambak oleh Ratna.​"Masih sakit?" tanya Brata, suaranya kini terdengar serak dan begitu pelan.​Mira meringis kecil, merendahkan pandangannya sambil mengusap sisa air mata. "T-tidak apa-apa, Ndoro... Saya yang salah. Saya ceroboh membiarkan s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status