Mag-log in"Ndoro..."Suara lembut itu bagaikan oase di tengah gurun. Brata menoleh dan melihat Mira masuk membawa setelan kemeja dan jasnya yang sudah disetrika rapi.Gadis itu mengenakan seragam pelayan abu-abu muda yang membungkus tubuh sintalnya dengan pas. Rambutnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan tengkuknya yang putih bersih."Taruh saja di ranjang, Mir," ucap Brata dengan suara lelah.Namun, alih-alih meletakkannya dan pergi, Mira melangkah mendekat. Gadis itu menunduk hormat, lalu tanpa diminta, ia menguraikan kemeja itu dan melangkah tepat di hadapan Brata."Biar saya bantu pakaikan, Ndoro. Tangan Ndoro sedikit gemetar, pasti karena kurang tidur," bisik Mira lembut.Brata tertegun, membiarkan kedua tangannya turun. Ia menatap wajah pelayannya itu dalam diam. Mira berjinjit sedikit, menyampirkan kemeja itu ke bahu lebar Brata. Jemari lentiknya mulai mengancingkan kemeja itu dari bawah ke atas.Gerakan Mira san
"Apa yang kamu lakukan?" tegur Brata, suaranya rendah, namun memecah keheningan dengan tegas.Mira terlonjak kaget. Ia menjatuhkan bajunya, buru-buru mengusap air matanya dan berdiri dengan posisi menunduk."N-Ndoro..." cicitnya panik. "S-saya... saya..."Brata melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dan menguncinya rapat-rapat. Matanya menatap tajam tas kain usang di atas kasur tipis itu."Aku sudah bilang kamu tidak boleh pergi. Kenapa kamu malah berkemas?" desak Brata, memangkas jarak di antara mereka.Mira mendongak, membiarkan raut wajahnya terlihat begitu hancur dan putus asa."Saya tidak kuat, Ndoro," isaknya lirih, suaranya bergetar hebat. "Nyonya menuduh saya meracuninya. Besok orang tua Nyonya datang... Saya ini cuma orang miskin, Ndoro. Kalau mereka menyeret saya keluar dari rumah ini dan mempermalukan saya di depan semua pekerja, di mana saya harus menyembunyikan wajah saya?"Gadis itu terisak semakin keras, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Lebi
"Ayo keluar," perintah Brata mutlak."Mas! Kamu mau bawa dia ke mana?! Urusan kita belum selesai!" jerit Ratna tak terima melihat suaminya justru membawa pergi pelayan itu.Namun Brata tak menoleh. Ia menutup pintu kamar utama dengan bantingan keras, meninggalkan Ratna yang menangis histeris di dalam.Sepanjang lorong menuju dapur, Brata tidak melepaskan genggamannya dari lengan Mira. Gadis itu terus terisak pelan, bahunya bergetar hebat, memainkan peran sebagai korban yang trauma. Begitu mereka tiba di area dapur yang sepi, Brata melepaskan tangannya dan berbalik menatap Mira.Raut wajah pria itu melunak, dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam. Tangannya terulur ragu, lalu dengan sangat hati-hati menyentuh puncak kepala Mira yang tadi dijambak oleh Ratna."Masih sakit?" tanya Brata, suaranya kini terdengar serak dan begitu pelan.Mira meringis kecil, merendahkan pandangannya sambil mengusap sisa air mata. "T-tidak apa-apa, Ndoro... Saya yang salah. Saya ceroboh membiarkan s
Menjelang siang, tiba waktunya Ratna meminum obat pereda nyeri dan vitamin pasca-persalinan.Mira menyiapkan nampan berisi segelas air putih hangat dan beberapa butir pil. Sebelum melangkah keluar dari dapur, ia merogoh saku celemeknya.Di sana terdapat sebuah sapu tangan pria berwarna abu-abu gelap dengan inisial 'B.Y' di sudutnya. Itu sapu tangan milik Brata yang ia temukan jatuh di kolong meja kerja kemarin sore, saat ia bersembunyi dari amukan Ratna.Dengan sangat sengaja, Mira menyelipkan sapu tangan itu ke dalam saku daster lusuhnya, membiarkan sedikit bagian kain berinisial itu menyembul keluar, cukup untuk ditangkap oleh mata yang jeli.Saat Mira mendorong pintu kamar utama, suasana di dalam terasa sangat suram. Tirai tertutup rapat, dan Ratna duduk bersandar di ranjang dengan wajah ditekuk, memancarkan aura permusuhan yang kental."Permisi, Nyonya. Waktunya minum obat," ucap Mira lembut, melangkah masuk dengan kepala menunduk
Kokok ayam jantan dari kejauhan membelah kabut pagi. Di ruang makan, keheningan yang mencekam menyelimuti meja, hanya suara denting sendok yang beradu dengan porselen yang terdengar.Ratna duduk di kursi rodanya, wajahnya tampak pucat pasi dengan perban tipis di dahinya, akibat benturan kemarin. Tatapannya kosong, namun setiap kali ia melirik ke arah Mira yang sedang menyajikan sarapan, matanya akan menyipit tajam seperti silet yang siap mengiris.Brata sendiri lebih banyak diam. Pria itu menyembunyikan tangannya di bawah meja, jemarinya terus bergerak gelisah. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menyimpan rahasia besar di balik topeng ketegasannya."Mas," suara Ratna memecah keheningan, terdengar serak dan dingin. "Aku ingin pelayan ini dipecat hari ini juga."Tangan Mira yang sedang menuang air putih ke gelas Ratna sedikit bergetar. Ia sengaja menumpahkan beberapa tetes air ke taplak meja, lalu dengan wajah ketakutan, ia segera mengambil serbet untuk membersihkannya."Maaf,
"Mira! Buka pintunya!" suara itu berat dan berwibawa.Itu suara Brata.Mira buru-buru mengambil kemeja yang tadi ia buang ke lantai dan memakainya asal-asalan, bahkan tanpa mengancingkannya dengan benar. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia melompat dari ranjang dan membuka kunci pintu.Pintu terbuka. Brata berdiri di sana dengan wajah yang terlihat sangat kusut. Tatapan pria itu tajam, namun ada raut kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu langsung melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan sekali dorongan."Ndoro? Ada apa? Nyonya... bagaimana?" tanya Mira, berusaha memasang wajah bingung dan sedikit ketakutan.Brata tidak menjawab. Pria itu menyapu pandangannya ke kamar yang sempit dan remang tersebut, lalu berhenti pada wajah Mira yang masih memerah dengan sisa-sisa gairah yang belum sepenuhnya sirna. Brata mendekat, memangkas jarak hingga mereka nyaris bersentuhan."Tadi itu... hampir saja," bisik Brata, suaranya parau dan sarat akan penyesalan yang







