MasukDi siang hari besoknya, pria itu berdiri di samping ban raksasa truk kontainer miliknya sembari menatap lurus ke arah gedung administrasi yang terpanggang terik matahari pukul satu siang.
Saat itu area pabrik mendadak lengang; sebagian besar buruh dan sopir sedang beristirahat di kantin belakang atau tidur di bawah bayangan gudang.
Di bawah cuaca yang membakar itu, batin Yono justru jauh lebih bergemuruh. Karismanya sebagai pria dewasa yang matang dan penuh kendali sedang diuji di titik terendah. Akal sehatnya menyuruhnya melemparkan kunci itu ke dalam laci dasbor dan tidur siang.
Namun, setiap kali ia memejamkan mata, memori tentang detak jantungnya yang menggila semalam dan aroma manis tubuh Maya di koridor gelap kembali datang menghantam. Ia tidak mau menjadi pria murahan yang gampang ditarik-tarik, tapi pesona Maya harus diakui terlalu kuat mengusik sisi maskulinnya yang paling liar.
Yono menghela napas berat, memasukkan kembali kunci itu ke saku jinsnya, lalu melangkah mantap membelah pelataran semen yang menyengat.
Cklek.
Pintu ruang administrasi terbuka pelan saat Yono memutar kunci cadangan itu. Begitu tubuh tegapnya masuk, ia langsung mengunci kembali pintu dari dalam. Hawa dingin dari AC yang disetel maksimal langsung menyergap kulitnya yang gerah, menciptakan sensasi kontras yang aneh.
Di ujung ruangan, rupanya Maya sudah menunggu. Wanita itu berdiri di samping meja, seragam kerjanya masih melekat, namun dua kancing teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan lekuk leher dan sebagian kulit dadanya yang putih bersih.
Rambutnya sengaja diikat agak longgar, menyisakan beberapa helai yang jatuh di sisi wajahnya yang tampak merona.
"Kamu beneran datang, Mas," bisik Maya, suaranya terdengar lega sekaligus sarat akan antisipasi.
Yono berdiri kaku di dekat pintu, tidak langsung mendekat. Tubuh tinggi besarnya yang dibalut kaus hitam ketat membuat ruangan ber-AC itu mendadak terasa sempit dan menyesakkan. Matanya yang gelap menatap tajam ke arah kancing baju Maya yang terbuka.
"Aku cuma mau balikin ini," kata Yono rendah, suaranya berat dan serak. Ia mengangkat kunci kuningan di tangannya.
"Mas tahu sendiri kuncinya bukan buat dikembalikan sekarang," sahut Maya berani.
Maya melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dengan gerakan yang perlahan namun pasti. Alih-alih berhenti di depan Yono, Maya justru melangkah memutari tubuh pria itu.
Sebelum Yono sempat berbalik, dua lengan mungil Maya sudah melingkar erat di pinggang tegap Yono, memeluknya dari belakang. Maya menyandarkan pipinya yang hangat tepat di punggung lebar Yono, meresapi kehangatan dan ketegapan tubuh pria yang sejak kemarin mengacaukan pikirannya.
"Dingin banget di sini, Mas. Jangan kaku kayak gini, aku tahu kamu juga mau," bisik Maya dari balik punggungnya.
Sentuhan itu seperti memicu ledakan kecil di dalam dada Yono. Sisi dewasanya yang sedari tadi menahan diri dengan keras akhirnya runtuh. Dengan satu gerakan cepat dan tegas, Yono membalikkan tubuhnya di dalam kukungan lengan Maya.
Grep.
Kedua tangan besar Yono yang kasar langsung mencengkeram kedua pundak Maya dengan erat, menahan wanita itu di tempatnya. Yono menunduk, memaksa Maya menengadah untuk menatap langsung ke dalam sepasang matanya yang kini menggelap, penuh dengan gairah yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
"May, kamu tahu kan apa yang kamu lakuin sekarang? Aku bukan tipe pria yang suka main-main," ancam Yono dengan suara yang bergetar rendah, sarat akan dominasi.
"Aku nggak main-main, Mas Yono..." napas Maya mulai memburu, matanya sayu menatap bibir pria di hadapannya.
Jarak di antara mereka terkikis hingga menyisakan beberapa milimeter saja. Hembusan napas mereka yang panas saling berkejaran di udara dingin. Yono perlahan menaikkan satu tangannya, membiarkan ibu jarinya yang kasar mengusap lembut bibir bawah Maya yang sedikit terbuka.
Sentuhan itu begitu intim, begitu intens, hingga Maya tanpa sadar memejamkan matanya, bersiap untuk penyatuan yang sudah di ambang batas akal sehat mereka.
Bibir mereka sudah hampir bertaut, kehangatan kulit mereka sudah saling mengunci—
Drrrttttt! Drrrttttt! Drrrttttt!
Suara getaran dan dering keras dari ponsel di dalam saku jins Yono memecah keheningan dengan sangat brutal. Nada dering khusus kerja itu berbunyi tanpa ampun, menghancurkan seluruh atmosfer panas yang sudah terbangun di antara mereka.
Yono langsung tersentak. Insting kerjanya yang disiplin seketika mengambil alih. Dengan napas yang masih memburu dan berat, ia terpaksa menurunkan tangannya dari wajah Maya dan menjauhkan tubuhnya selangkah, memberi jarak yang langsung terasa dingin bagi Maya.
Yono merogoh sakunya, melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Rahangnya mengeras.
"Halo, Pak," suara Yono terdengar sangat serak saat mengangkat telepon.
"Yono! Kamu di mana? Cepat ke hanggar utama sekarang. Muatan ke Surabaya harus berangkat siang ini juga. Kernet barumu udah nunggu di truk, cepat!" suara melengking kepala logistik terdengar jelas bahkan tanpa pengeras suara.
"Baik, Pak. Lima menit saya ke sana," sahut Yono pendek sebelum mematikan sambungan.
Yono memasukkan kembali ponselnya. Ia menatap Maya yang kini berdiri lemas di depannya, menatapnya dengan pandangan frustrasi dan gairah yang menggantung tak tuntas di udara. Yono mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan debaran di dadanya sendiri yang masih menggila sebelum melangkah menuju pintu.
Tepat sebelum memutar gagang pintu, Yono menoleh dan menatap Maya yang masih terpaku memegangi seragamnya yang terbuka dengan napas satu-satu. "Permainanmu bagus juga, May. Tapi sepertinya jalanku masih terlalu panjang buat berhenti di sini."
Sore hari sekitar pukul lima, garis pantai alternatif yang terisolasi di sudut selatan perumahan tampak sepi tanpa ada pengunjung lain.Angin laut berembus cukup kencang, membawa aroma garam yang segar menyapu pasir putih yang hangat.Yono melangkah santai menyusuri bibir pantai hanya mengenakan celana pendek santai tanpa atasan, memamerkan dada bidang berotot dan perut six-pack-nya yang berkilat disiram cahaya matahari terbenam.Di belakangnya, Citra, Sinta, Ratih, dan Sarah berjalan menyusul.Keempat wanita itu tampil sangat menggoda menggunakan pakaian pantai yang minim; Citra dan Sinta mengenakan bikini dua bagian yang menonjolkan gundukan buah dada serta pinggul tebal mereka, sementara Ratih dan Sarah mengenakan kain pantai tipis yang nyaris transparan.Perebutan perhatian seketika pecah di antara mereka saat berjalan mendekati karang besar yang tersembunyi dari pandangan luar."Mas Yono, jalan dekat aku aja sih! Tangan kamu biar aku pegang," celetuk Citra manja sembari menarik l
Malam itu, suasana di ruang tengah rumah baru Yono terasa hangat namun diselimuti ketegangan yang pekat.Di atas sofa kulit yang luas, empat wanita tercantik dan paling memikat di lingkungan kehidupan Yono duduk berjejer rapat.Citra, Sinta, Ratih serta Sarah.Keempat wanita itu tampil amat menggoda, memamerkan kecantikan, keindahan, dan kepadatan bentuk tubuh mereka yang telah berulang kali ditundukkan oleh Yono.Yono berdiri tegap di hadapan mereka, melipat kedua tangan kekarnya di dada sembari menatap sepasang mata mereka satu per satu dengan pandangan bariton yang dingin dan sarat aura dominasi jantan.Yono menghela napas panjang, lalu memulai pembicaraan dengan nada suara tegas tanpa keraguan."Aku mengumpulkan kalian berempat di sini malam ini bukan untuk bikin janji manis," kata Yono membuka suara, suaranya yang berat bergema pekat di dalam ruangan."Aku mau jujur dan pertegas status kita dari sekarang. Aku tidak ada niat untuk menikahi kalian berempat. Tidak Citra, Sinta, Rati
Tidak puas hanya bermain oral di ruang tamu, Yono memboyong tubuh polos Ratih kembali ke area dapur kontrakan untuk mengeksekusi hasrat mereka secara penuh.Pria itu memapah pinggul tebal sang janda muda dengan santai, sementara Ratih berjalan limbung dengan napas terengah-engah, membiarkan tubuh padatnya terekspos telanjang bulat tanpa sehelai kain pun.Begitu sampai di dapur sederhana bernuansa semen, Yono memposisikan Ratih menungging melengkung di atas meja dapur kayu yang berdampingan langsung dengan kompor gas dan deretan bumbu dapur.Posisi ini membuat dada dan perut Ratih menempel rapat pada permukaan meja kayu, sementara bokong tebal dan padat milik janda muda itu terangkat tinggi ke udara.Celah kewanitaannya yang sudah sangat banjir oleh lelehan air gairah terpampang lebar dan basah kuyup di bawah remang lampu dapur.Yono berdiri tegap tepat di belakangnya.Tangan besarnya meraup dan meremas kuat kedua belah bokong padat Ratih, lalu mencengkeram pinggul tebalnya dengan ceng
Adu ciuman panas di dekat meja makan bergerak makin liar menuju ruang tamu rumah kontrakan Ratih yang beralaskan karpet busa tipis.Hasrat terpendam Ratih yang sudah bertahun-tahun meniti status janda tanpa sentuhan pria sejati seketika meledak tak terkendali saat berhadapan langsung dengan aura maskulin Yono yang begitu pekat.Begitu sampai di tengah ruang tamu yang sepi, Ratih memutar badannya.Kedua tangan mulusnya dengan cepat menyingkap dan melucuti daster tipis merah batanya sendiri ke atas, melempar kain itu begitu saja ke sudut ruangan.Ratih kini tampil telanjang bulat tanpa sehelai kain pun di hadapan Yono.Ia memamerkan lekuk tubuh bahagianya yang padat berisi, sepasang buah dada kenyal berputing tegang, serta pinggul tebal yang ranum dan mulus di bawah pendar remang lampu ruang tamu."Lihat, Mas Yono... Tubuh Ratih masih padat kan? Masih kencang semua buat kamu," bisik Ratih binal dengan napas yang memburu parau.Yono mendudukkan tubuh kekarnya di atas kursi kayu ruang tam
Senin malam sekitar pukul tujuh, suasana perumahan kontrakan terasa tenang dan sedikit lengang. Yono melangkah santai menyusuri gang kecil menuju rumah kontrakan sederhana milik Ratih.Pria itu tampil tegap mengenakan kaus polos ketat berwarna hitam yang mencetak jelas lekuk otot dada bidang dan tangannya yang berurat tebal.Yono mengetuk pintu kayu kontrakan beberapa kali. "Ratih, ini aku."Pintu kayu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Ratih yang berdiri menanti. Janda muda itu tampil amat anggun dan menggoda; ia mengenakan daster tipis tanpa lengan berwarna merah bata yang membentuk jelas lekuk tubuh padatnya.Ratih sengaja tak mengenakan bra di balik daster tipisnya, membuat gundukan buah dadanya tercetak menonjol setiap kali ia bernapas.Ratih seketika salah tingkah, matanya berbinar menatap postur tegap Yono. "Eh, Mas Yono. Masuk, Mas. Mau makan malam sekarang kan?"Yono menyunggingkan seringai miringnya yang penuh dominasi, melangkah masuk ke dalam rumah yang harum oleh
Hari Minggu siang menjelang sore, udara di dalam apartemen terasa hangat dan sarat akan hawa gairah yang belum surut.Yono berdiri tegap di tengah ruang tamu, menatap Citra yang duduk bersimpuh di atas karpet tebal. Ini adalah hari terakhir libur akhir pekan sebelum mereka harus kembali menghadapi rutinitas pekerjaan di pabrik pada hari Senin.Yono berniat menghabiskan seluruh tenaga sang supervisor cantik, menguji batas ketahanan fisik Citra sampai benar-benar loyo dan tidak berdaya di bawah keperkasaannya."Cit, berdiri. Hari ini belum selesai," kata Yono dengan nada suara bariton yang dingin dan penuh dominasi mutlak.Citra mendongak dengan mata sayu, napasnya masih menyisa kepenuhan dari sesi sebelumnya. "Mas Yono... Badan aku sudah pegal-pegal semua dari semalam. Masih mau main lagi?""Jangan banyak komplain. Kamu kan sudah janji bakal penuhi semua keinginan aku," gertak Yono tegas."Iya, Mas Yono... Aku nurut," bisik Citra pasrah, mencoba merangkak mendekati Yono.Tanpa menunggu







