로그인Yono memarkirkan truk kontainer besarnya di bahu jalan area peristirahatan yang sepi dan remang-remang.Di dalam kabin, Yono menyerahkan satu bungkus nasi warteg lauk ayam goreng dan telur balado kepada Sinta.Mereka berdua duduk lesehan di area belakang jok kemudi, menikmati makan malam sederhana itu di dalam kabin yang sejuk oleh tiupan AC.Sambil mengunyah nasinya, Yono menatap Sinta yang masih santai duduk telanjang bulat tanpa canggung sedikit pun.Pria tegap itu membuka obrolan dengan suara baritonnya yang berat."Sin, aku penasaran sama kehidupanmu," ujar Yono sembari menyuap nasi. "Selain sama aku, kamu biasanya sama siapa lagi? Atau dalam waktu dekat ini kamu sudah tidur sama cowok mana saja?"Sinta menghentikan suapannya sejenak, lalu menggelengkan kepalanya dengan santai. "Belum ada siapa-siapa lagi, Pak Yono. Sudah ada enam bulanan mah kali gak main.""Masa sih?" goda Yono sembari menaikkan sebelah alisnya.Sinta te
Dua jam berlalu, proses bongkar muatan kontainer di gudang logistik akhirnya selesai sepenuhnya.Suara benturan pintu besi belakang truk bersahutan dengan deru mesin forklift yang mulai dimatikan.Yono melangkah turun dari tangga tinggi kabinnya, berjalan menuju meja petugas lapangan dengan gaya santai dan dada bidang yang tegap."Gimana, Pak? Sudah beres semua bongkarnya?" tanya Yono pada petugas gudang bernama Anto yang sedang memeriksa lembaran dokumen di papan jalannya."Sudah beres semua, Mas Yono. Jumlah kerdusnya pas, gak ada yang kurang atau rusak," jawab Anto sembari membubuhkan tanda tangan dan stempel resmi di atas surat jalan milik Yono. "Aman semuanya."Yono mengangguk puas. Ia menerima kembali lembaran dokumen tersebut dan menyisipkannya ke dalam saku kemeja kerjanya.Setelah itu, Yono merogoh saku celana jins tebalnya, mengeluarkan lembaran uang lima puluh ribuan lalu menyelipkannya ke telapak tangan Anto."Ini
Sinta yang sudah benar-benar tenggelam dalam gairah liar tidak membiarkan Yono memegang kendali terlalu lama.Agen properti berbadan montok itu merayap turun dari kasur sleeper berth, berpindah ke area lantai kabin yang sempit.Sinta segera melucuti celana jins tebal dan celana dalam milik Yono, membiarkan keperkasaan pria tegap itu terpampang tegang, keras, dan berurat tebal di depan matanya.Sinta menunggingkan tubuhnya yang sudah polos tanpa busana, memperlihatkan bokong putih nan mulusnya ke udara.Sementara itu, Yono mengambil posisi setengah jongkok dengan kedua kakinya menekuk ke belakang, bersandar kokoh di pinggir kasur kabin.Tanpa membuang waktu, Sinta memajukan wajahnya dan langsung melahap seluruh batang keras Yono ke dalam rongga mulutnya yang hangat dan basah.Sluurrp... Sluurrp...Sinta memainkan mulutnya dengan gerakan yang teramat liar dan dahsyat.Ia mengocok batang Yono menggunakan rongga m
Yono menghentikan truk kontainer besarnya tepat di area parkir tunggu gudang logistik luar kota.Pria tegap itu turun sejenak dari pintu kabin, melangkah menuju pos penjaga gudang untuk menyerahkan berkas surat jalan kepada petugas."Pak, ini surat jalannya. Muatannya sudah siap di belakang," ujar Yono dengan suara baritonnya yang mantap."Saya mau istirahat tidur sebentar di kabin ya, ngantuk banget habis jalan jauh."Petugas pengangkut barang dan komandan penjaga gudang itu mengangguk paham."Oke, Mas Yono. Santai saja, tidur dulu di dalam. Nanti kalau giliran bongkar muatannya sudah mulai, baru saya ketuk pintu kabinnya.""Sip, terima kasih Pak," jawab Yono singkat.Yono kembali memanjat tangga tinggi truknya, masuk ke dalam kabin, lalu menutup pintu besi itu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam.Ia sengaja membiarkan mesin diesel tetap menyala agar AC kabin tetap terasa dingin dan menyejukkan.Begitu berbalik mengh
Yono mengarahkan truk kontainer besarnya memasuki pelataran SPBU di pinggir jalan lintas provinsi.Usai mengantre sebentar, Yono mengisi penuh tangki solar armada besarnya.Di sudut pelataran SPBU, matanya menangkap sosok Sinta yang berdiri menunggunya dengan mengenakan jaket kain longgar.Selesai melakukan pembayaran solar, Yono memajukan truknya sedikit ke area parkir yang agak lengang.Ia membukakan pintu kabin sebelah kiri dari dalam. Sinta dengan sigap memanjat tangga tinggi truk lalu masuk ke dalam kabin dan menutup pintunya rapat-rapat.Suara gemuruh mesin diesel dan deru AC dingin memenuhi kabin tinggi yang luas itu.Baru saja duduk di kursi penumpang, Sinta langsung melepas jaket yang membungkus tubuhnya.Di balik jaket itu, Sinta mengenakan mini dress ketat tanpa lengan dan tanpa tali berwarna merah menyala terang.Pakaian tipis itu membungkus amat ketat gundukan dadanya yang sangat besar, melukis jelas lekuk
Di pelataran parkir logistik pabrik yang ramai oleh deru mesin diesel, Yono sedang berdiri di samping truk kontainer besar yang akan dibawanya.Pria tegap itu sibuk memeriksa kondisi ban dan memeriksa beberapa pengikat muatan. Pagi ini aura maskulinnya terpancar kuat di tengah udara pabrik yang berdebu.Saat Yono sedang sibuk, langkah kaki Ratih terdengar mendekat. Janda montok itu berjalan dengan gaya anggun sembari membawa papan jalan berisi lembaran kertas dokumen pengiriman.Ratih berpura-pura menyerahkan surat jalan tersebut secara formal kepada Yono, padahal matanya menatap Yono dengan pandangan penuh gairah yang berusaha ia tutupi."Ini surat jalan buat pengiriman luar kota hari ini, Mas Yono," ujar Ratih dengan nada suara pelan yang dibuat-buat di depan para buruh lain.Begitu berdiri cukup dekat, Ratih berbisik lirih saat menyerahkan berkas itu. "Mas, rumahku sepi lho nanti malam. Kamu gak mau mampir?"Yono menoleh, menyunggingkan s







