MasukTruk pengangkut perabotan akhirnya selesai menurunkan semua barang belanjaan di pelataran rumah baru Yono. Dua orang petugas toko pamit usai Yono menandatangani lembar bukti penerimaan barang.Pintu depan ditutup rapat dan dikunci dari dalam. Di ruang tengah dan kamar utama, kasur spring bed tebal serta karpet bulu tebal warna gelap sudah terpasang rapi di posisinya masing-masing.Citra langsung merebahkan dirinya di atas sofa ruang tamu. Wajah cantiknya tampak lelah usai seharian berkeliling pusat perbelanjaan memakai sepatu hak tinggi. Pakaian ketatnya membuat napasnya naik-turun cukup cepat."Aduh, Mas Yono. Pegal banget badan aku," keluh Citra sambil merajuk dan memanyunkan bibirnya. "Kaki sama punggung rasanya mau patah. Pijitin aku dong, Mas."Yono yang berdiri tegap sembari melepas kemeja kerjanya menatap Citra dari atas ke bawah. Pria 32 tahun itu menampilkan dada bidangnya yang berotot tebal dan berbulu tipis di bawah sorot lampu ruangan."Mandi dulu sana," ujar Yono tegas de
Siang harinya, Yono dan Citra melangkah berdampingan menyusuri lorong pusat perbelanjaan perabotan rumah tangga terbesar di pusat kota.Citra tampil sangat modis dan seksi mengenakan baju atasan tanpa lengan yang ketat serta rok pendek di atas lutut. Di sepanjang koridor toko yang luas dan ber-AC itu, Citra terus-menerus menggelayutkan kedua tangannya di lengan kanan Yono yang berotot tebal.Gundukan dada Citra yang empuk berulang kali bergesekan dengan lengan Yono saat mereka berjalan. Citra sama sekali tidak canggung memamerkan kemesraan tersebut di depan para pengunjung dan pelayan toko lain."Mas Yono, lihat deh rak piring yang itu! Bagus ya?" bisik Citra dengan nada suara manja, memusatkan tubuhnya makin menempel pada Yono.Yono melirik santai, menyunggingkan senyuman miringnya yang seksi. "Terserah kamu saja, Cit. Mau pilih yang mana juga aku ikut saja."Citra tertawa kecil, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu tegap Yono. "Ih, kok gitu... Kan ini rumah kamu, Mas. Tapi gak apa
Kamis pagi pukul enam. Udara dingin perumahan cluster masih terasa cukup pekat disiram sinar matahari pagi yang tipis.Di depan unit rumah paling pojok, Sarah, seorang anggota sekuriti wanita yang bertugas di kompleks tersebut melangkah menyusuri jalanan paving block.Sarah tampil tegap mengenakan seragam dinas lapangan lengkap dengan celana kain tebal, kopel catrik, dan sepatu PDL, membungkus tubuhnya yang bertenaga namun tetap memancarkan lekuk feminim di balik seragamnya.Sarah mengetuk pintu depan rumah Yono cukup keras. "Permisi, Pak! Selamat pagi!"Tak lama kemudian, terdengar kunci pintu diputar dari dalam. Pintu kayu berkualitas itu terbuka lebar.Yono berdiri di balik pintu. Pria itu rupanya baru saja selesai mandi pagi.Rambut hitam tebalnya masih basah meneteskan bulir-bulir air, dan tubuhnya sama sekali tidak mengenakan pakaian, hanya selembar handuk mandi berwarna abu-abu yang melilit longgar di pinggangnya menuju lutut.Seluruh bagian atas tubuh Yono terpampang bebas: da
Yono tiba di rumah barunya saat jarum jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Suasana perumahan cluster itu sangat hening.Usai memarkirkan motor matik besarnya di carport, Yono membuka pintu utama, melangkah masuk ke dalam rumah yang masih menyisakan aroma cat baru tersebut.Tubuh tinggi besarnya terasa agak pegal setelah seharian mengemudi truk kontainer dan meladeni kebuasan Sinta.Yono melangkah menuju kamar tidur utama, melepas seragam kerjanya yang berbau keringat hingga kini ia bertelanjang dada.Pria itu menyisakan celana jins tebalnya yang mengantung longgar di pinggang, memperlihatkan garis perutnya yang berotot tebal dan berbulu tipis.Saat Yono hendak merebahkan diri di atas kasur lipat barunya, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Ada notifikasi pesan masuk di aplikasi obrolan.Yono merogoh ponselnya dan membuka layar. Nama Keisya tertera di sana.Keisya, putri tunggal bos pemilik pabrik tempat Yono bekerja, wanita muda berbadan mulus yang tempo hari sempat pasrah dih
Tanpa membuang waktu lagi, Yono menyunggingkan seringai miringnya yang penuh dominasi.Pria tegap itu melucuti seluruh pakaian kerjanya hingga tampil polos, memamerkan dada bidang berotot serta kejantanannya yang sudah menegang sempurna, keras dan berurat tebal.Yono tidak memberi jeda. Ia langsung menarik kedua paha tebal Sinta yang mulus dan memposisikan wanita itu menungging di atas kasur sleeper berth.Gaya doggy style di dalam kabin truk yang sepi ini menjadi opsi terbaik untuk memuaskan gairah liarnya."Pegang pinggiran jok kemudi ini kuat-kuat, Sin," perintah Yono dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan mengintimidasi.Sinta mengangguk pasrah. Kedua tangan lentiknya mencengkeram erat sandaran jok kemudi.Bokongnya yang putih, padat, dan sangat bohay terangkat tinggi ke udara, memamerkan liang kewanitaannya yang sudah sangat basah dan merekah lebar di hadapan Yono.SLOSH!Tanpa ampun, Yono menghentakkan pinggulnya ke depan, melesakkan seluruh keperkasaannya menembus masuk
Yono memarkirkan truk kontainer besarnya di bahu jalan area peristirahatan yang sepi dan remang-remang.Di dalam kabin, Yono menyerahkan satu bungkus nasi warteg lauk ayam goreng dan telur balado kepada Sinta.Mereka berdua duduk lesehan di area belakang jok kemudi, menikmati makan malam sederhana itu di dalam kabin yang sejuk oleh tiupan AC.Sambil mengunyah nasinya, Yono menatap Sinta yang masih santai duduk telanjang bulat tanpa canggung sedikit pun.Pria tegap itu membuka obrolan dengan suara baritonnya yang berat."Sin, aku penasaran sama kehidupanmu," ujar Yono sembari menyuap nasi. "Selain sama aku, kamu biasanya sama siapa lagi? Atau dalam waktu dekat ini kamu sudah tidur sama cowok mana saja?"Sinta menghentikan suapannya sejenak, lalu menggelengkan kepalanya dengan santai. "Belum ada siapa-siapa lagi, Pak Yono. Sudah ada enam bulanan mah kali gak main.""Masa sih?" goda Yono sembari menaikkan sebelah alisnya.Sinta te






