Share

Bab 235 Ikut Suami

Author: NACL
last update Last Updated: 2026-03-06 15:09:50

Malam yang dingin ini, Diana dan Dhava berdiri bersandar di kusen pintu sambil memperhatikan dua putrina yang makin hari tambah besar. Bibir mungil Diana melengkung melihat si kembar tampak pulas, belum lagi tadi saat mereka baru pulang dari restoran sushi, wajahnya berbinar riang.

Diana memeluk pinggang Dhava, lalu berbisik, “Mas, soal yang tadi … di kamar.”

“Hm, ya?” Dhava menoleh dan mengusap kepala Diana sejenak.

“Aku udah pikir … kalau ada baiknya kita diskusi sama anak-anak, gimana? Kalau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 236 Suami Terniat

    “Menurutmu apa, hm?” Dhava memeluk Diana dari belakang. Hidungnya yang nakal itu mengendus aroma vanila yang menguar dari tengkuk sang istri, berpadu dengan feromon yang selalu membuat gairahnya melonjak tajam.Diana menggeleng-gelengkan kepala.“Terakhir aku ke sini, masih sama … sekarang … umm, kenapa rumahnya jadi ….” Diana bahkan tak sanggup berkata-kata.Terakhir kali Diana menginjakkan kaki di sini enam bulan lalu, hunian ini masih kental dengan konsep tropis minimalis beraksen batuan alam dan tanaman hijau yang rimbun sesuai saran Maharani, sebagai penangkal jahat, katanya. Namun kini, fasad rumah itu telah berubah total.Bata-bata abu-abu tersusun rapi membentuk dinding yang kokoh, terlalu artistic dipandang, terlebih dipadukan dengan tiang-tiang kayu gelap yang menyangga atap melengkung khas arsitektur Tiongkok.Bahkan pintu masuknya yang megah kini dihiasi ukiran terbuat dari kuningan yang rumit."Mau lihat ke dalam?" bisik Dhava, embus napasnya membuat bulu kuduk Diana ber

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 235 Ikut Suami

    Malam yang dingin ini, Diana dan Dhava berdiri bersandar di kusen pintu sambil memperhatikan dua putrina yang makin hari tambah besar. Bibir mungil Diana melengkung melihat si kembar tampak pulas, belum lagi tadi saat mereka baru pulang dari restoran sushi, wajahnya berbinar riang.Diana memeluk pinggang Dhava, lalu berbisik, “Mas, soal yang tadi … di kamar.”“Hm, ya?” Dhava menoleh dan mengusap kepala Diana sejenak.“Aku udah pikir … kalau ada baiknya kita diskusi sama anak-anak, gimana? Kalau mereka setuju aku bisa pindah, ikut kamu.” Kelopak mata Diana mengedip-ngedip cepat.Dhava mengembus panjang napasnya dan berdeham pelan, lalu menempelkan jari telunjuk di bibir. Pria yang dahulu tampak garang ini, kini menebar senyum semanis mungkin, membuat Diana berpikiran kalau Dhava memiliki niat terselubung.“Kenapa?” bisik Diana.“Bicarakan di tempat lain, anak-anak laggi tidur, jangan diganggu.” Dhava menarik Diana kembali ke kamar mereka.“Oh, aku pikir kamu mau lagi, Mas.” Diana terk

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 234 Ikut Pindah

    Puas berbincang dengan putra sulungnya, Dhava berlalu ke kamar utama. Namun, ia mendadak diam saat melihat si kembar sedang duduk bersandar di depan pintu dengan wajah masam. "Lho, kenapa kalian di sini? Sedang jaga pintu?" tanya Dhava heran.​Myesha langsung yang gemar merajuk, dan Davira kompak menunjuk pintu dengan kesal. "Sushi kita diambil Mama, Pa! Mama gitu banget, pintu kamarnya dikunci!" adu mereka. Myesha menarik ujung kelingking papanya. "Papa mau belikan yang baru nggak?"​Dhava menghela napas, lalu mengeluarkan kartu kreditnya. Ia memberikannya kepada Davira. "Nih, kalian beli lagi. Ajak Davka dan Dipta juga. Minta Pak Sobri, Bi Rara, dan Bi Riri antar!"​Seketika mata si kembar berbinar. "Makasih, Papa! Papa emang paling ganteng sedunia!" teriak mereka girang sambil berlarian menuju tangga. Dhava sendiri hanya bisa terkekeh, sifat manja dan mudah merajuk itu benar-benar jiplakan dari Diana, meskipun wajah mereka adalah versi kecil dirinya.Penasaran, Dhava memutar k

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   233 Seperti Punya 3 Putri

    Selesai sesi foto yang cukup melelahkan, Diana dan kedua putrinya langsung berkumpul di meja makan. Mereka tampak kompak menyantap paket sushi besar yang baru saja datang, sesuai pesanan Diana dan kesukaan Myesha juga Davira. Suasana yang tadinya tegang dan kaku karena mereka harus bergaya formal seketika mencair, meskipu bibit keributan baru mulai muncul dari mulut mungil Myesha. ​"Ini rasanya enak banget, Ma.” Myesha sampai merem melek menikmati lembutnya sushi itu. “Umm, aku mau jual sushi, ah, gimana, Ma? Supaya dapat uang banyak!" celetuknya dengan semangat sambil mengambil salmon roll lagi. ​Davira melirik kembarannya dengan tatapan skeptis. "Memangnya kamu bisa masak? Kita ‘’kan masih kecil. Bahaya tahuuu.” ​Myesha menjawab dengan percaya diri, "Nggak perlu bisa masak, ada Bibi yang bikin. Aku tinggal jualin aja di depan rumah dan dapat uang. Gampang, tuh." ​Davira tertawa mengejek. "Ide kamu aneh. Aku nggak yakin kamu bisa. Kamu ‘kan nggak suka ketemu orang banyak, pena

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 232 Papa Dhava Bukan Idola Lagi

    Pagi gerimis ini membuat Diana enggan beranjak dari ranjang yang hangat. Apalagi lengan kekar Dhava masih membelit erat pinggangnya, seolah tidak membiarkannya pergi barang sedetik pun. Diana menggeliat kecil, mengerjapkan mata, dan langsung disuguhi wajah tampan suaminya yang tertidur pulas di sampingnya. Ia membelai rahang tegas itu, lalu mengecup lembut bibir pria yang semalam suntuk telah menjamah setiap inci tubuhnya tanpa sisa.​Tujuh tahun pernikahan mereka berjalan begitu cepat. Kehidupan mereka riuh dengan pertumbuhan anak-anak. Dhava pun makin sibuk mengelola perusahaan keluarga, membuatnya harus bolak-balik Jakarta-Malang setiap minggu, sembari tetap menyempatkan diri mengisi sesi terapi bagi pasien-pasien terbatasnya.​"Mas, bangun," bisik Diana, lembut.​Dhava hanya menggeleng dengan mata yang masih rapat. "Masih kangen," gumam pria itu, serak.​"Nanti keburu fotografernya datang, Mas! Kita ‘kan mau sesi foto keluarga," protes Diana.​Dhava menarik Diana lebih dekat ke

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 231 Ayam Goreng

    Diana berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah di balik punggung lebar sang suami. Sesekali ia meremas ujung kemeja suaminya itu dengan tangan yang basah. "Mas, gimana ini? Bilang apa dong?" bisik Diana, berdebar. Hanya saja ia juga merasa gemas ingin mencubit pinggang Dhava yang terlihat sangat tenang menghadapi interogasi dua pria paruh baya di depan mereka. ​Denver melipat tangan di dada dengan dahi berkerut tajam. "Mau beli ayam goreng saja kenapa harus sampai menginap semalaman? Kalian tahu jam berapa sekarang?" ​Darius pun tidak mau kalah memberikan tekanan. "Si kembar menangis terus sejak subuh. Davka juga sama sekali tidak mau tidur!!!” Tidak kikuk sama sekali, ​Dhava tetap memasang wajah setenang mungkin. Namun, satu tangannya diam-diam bergerak ke balik punggung, menyentuh perut Diana. "Maaf Pa, Uncle. Sebenarnya kami ke hotel," ucap Dhava dengan nada yang sangat meyakinkan. Sontak saja ​Diana langsung melotot lebar. Ia mencubit keras pinggang suaminya sampai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status