Share

Bab 7

Author: Millanova
last update Last Updated: 2025-08-28 01:00:06

Keesokan Harinya.

Dunia terlihat lebih cerah saat kau tidak lagi berpikir dirimu gila.

Aku bangun pukul sepuluh pagi dengan tubuh segar. Luka di tanganku masih perih, tapi dokter di klinik tadi pagi bilang itu hanya luka gores yang terinfeksi ringan. "Mungkin terkena benda tajam saat tidur," katanya. Penjelasan medis. Masuk akal. Aku menyukainya.

Sore harinya, aku memutuskan keluar. Aku harus ke kantor penerbit untuk menemui Sarah. Aku ingin menyerahkan draf Cinta di Musim Gugur yang tersisa di kepalaku, mencoba menyelamatkan karirku.

Aku memesan taksi online.

"Ke daerah Senayan ya, Pak?" tanya sopir taksi itu, pria tua yang ramah.

"Ya, Pak. Lewat jalan biasa saja."

Kami membelah jalanan Jakarta. Aku duduk di kursi belakang, menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi yang memantulkan cahaya matahari sore. Aku merasa seperti orang yang baru sembuh dari sakit panjang. Aku bahkan bersenandung kecil mengikuti lagu pop di radio.

Mobil melambat saat kami mendekati perempatan besar dekat apartemenku. Macet. Tentu saja.

"Wah, padat sekali, Mas," keluh sopir taksi itu. Dia mengetuk-ngetuk setir.

Aku melirik ke luar jendela. Kami berhenti tepat di garis depan lampu merah. Di atasku, apartemenku menjulang tinggi. Aku bisa melihat jendela tempatku duduk kemarin sore menunggu keajaiban yang tak kunjung datang.

Betapa konyolnya aku kemarin.

"Sekarang jam berapa, Pak?" tanyaku santai, hanya ingin basa-basi.

Sopir itu melirik jam di dashboard mobilnya.

"Jam lima pas, Mas. Teng!" jawabnya terkekeh. 17.00.

Senyumku masih mengembang di bibir. Jam lima sore. Waktu minum teh. Waktu pulang kantor.

Lalu, mataku menangkap gerakan di trotoar sebelah kiri.

Seorang badut. Kostumnya lusuh, warnanya pudar. Dia sedang berjalan gontai, tampak kelelahan setelah seharian menghibur orang-orang yang tidak peduli. Di tangannya, ada seikat balon gas.

Sesuatu di perutku bergejolak. Rasa mual yang familiar.

Tidak. Jangan.

Badut itu tersandung sedikit di trotoar yang tidak rata. Pegangannya goyah.

Satu balon terlepas dari ikatan.

Warnanya merah. Merah darah.

Aku menegakkan punggung, mataku terpaku pada benda bulat itu. Waktu seolah melambat. Suara radio dan klakson memudar, digantikan oleh detak jantungku yang memukul gendang telinga.

Balon itu naik, terbawa angin sore yang berputar di antara gedung. Ia tidak terbang tinggi ke langit. Ia terbang rendah, melayang miring ke arah tengah jalan.

Ke arah lampu lalu lintas.

"Tidak mungkin..." bisikku. Suaraku tercekat.

Balon itu terus naik, talinya yang panjang melambai-lambai seperti ular. Dan kemudian, dengan keakurasian yang mengerikan, tali itu membelit tiang besi lampu lalu lintas.

Tepat di kap lampu sebelah kiri.

Balon merah itu tersentak, tertahan, lalu terombang-ambing di sana. Mengejekku. Menertawakanku.

Sama persis. Akurat seratus persen.

Hanya... terlambat 24 jam.

Darahku serasa menjadi es. Aku teringat apa yang kutulis di laptop.

> ...Balon merah itu tersangkut tepat di kap lampu lalu lintas sebelah kiri... tepat pukul 17.00.

Aku menulis pukul 17.00. Tapi aku lupa satu hal fatal. Aku tidak menulis hari apa.

Aku tidak menulis tanggalnya.

"Putar balik, Pak! Sekarang!" teriakku.

Sopir taksi itu terlonjak kaget, hampir membanting setir ke kanan. "Hah? Tapi ini macet, Mas. Kita nggak bisa "

"Aku bilang putar balik!" Aku mencengkeram sandaran jok depannya dengan tangan kananku yang terluka. Nyeri menyengat, tapi itu membuatku tetap sadar. "Aku bayar tiga kali lipat. Bawa aku kembali ke apartemen. Cepat!"

Sopir itu menggerutu, tapi uang bicara. Dia memaksa mobil memutar di u-turn berikutnya, disambut klakson panjang dari kendaraan lain.

Aku tidak peduli. Mataku nanar menatap lampu lalu lintas yang perlahan menjauh di kaca belakang. Balon merah itu masih di sana. Menari. Melambai. Tanda peringatan.

Aku harus pulang. Aku harus membuka laptop itu.

Apa yang kutulis setelah balon merah?

Ingatanku kabur. Saat itu aku menulis dalam keadaan trance, setengah sadar, didorong oleh euforia gila. Aku ingat aku menulis tentang kekacauan. Tentang api? Atau tentang darah?

Aku merogoh saku, mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi Notes. Aku selalu menyinkronkan drafku ke cloud.

Sinyal berputar. Loading. Lambat sekali!

"Ayo, ayo..." desisku.

Dokumen terbuka. PROJECT AGNIA.docx

Aku menggulir layar dengan jari gemetar. Melewati bagian taman, bagian kaca pecah, bagian balon merah...

Mataku membelalak membaca paragraf selanjutnya.

Lampu lalu lintas itu hanyalah permulaan. Agnia bosan melihat keteraturan. Dia berjalan masuk ke lobi apartemennya sendiri. Dia tidak naik ke unitnya. Dia turun.

Ke Basement 2.

Di pojok ruangan, di dekat ruang genset yang berdebu, ada tumpukan kardus bekas pindahan yang belum dibuang. Kering. Mudah terbakar.

Agnia menyalakan pemantik api perak miliknya. 'Zippo' tua dengan ukiran naga. Dia suka bunyinya. 'Klik'. Api menyambar. Dia tidak membakar gedung itu untuk membunuh orang. Dia hanya ingin melihat apakah sistem pemadam kebakaran otomatisnya bekerja.

Dia melempar pemantik yang menyala itu ke tumpukan kardus.

Darahku surut dari wajah.

Apartemenku. Basement 2. Ruang Genset.

Aku tinggal di gedung yang sama dengan seting novel ini. Jika Agnia membakarnya... aku membakar rumahku sendiri. Dan ratusan orang lain di dalamnya.

"Pak, ngebut!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Agnia dan Cermin Pecah   Dunia yang Menyempit

    itu adalah teriakan terakhir, penuh dengan kebencian dan keputusasaan yang mutlak. "KAU dan PSIKIATERMU bisa pergi ke neraka!"Koneksi terputus. Bunyi beep yang monoton terdengar di telinga Sarah.Dia berdiri di sana, telepon masih menempel di telinganya, tubuhnya gemetar tak terkendali. Air mata mengucur deras. Rasa sakitnya begitu hebat, lebih dari sebelumnya. Bukan hanya karena penolakannya, tetapi karena kebenaran dalam kata-kata Ivan. Dalam upayanya untuk membantu, dia telah, di mata Ivan, mengkhianatinya. Dia telah menjadi musuh yang bersekutu dengan dunia yang ingin menghancurkan dunianya.Dia telah mencoba untuk menjangkau pria yang dicintainya, tetapi yang dia temui adalah benteng yang dijaga ketat oleh naga bernama Agnia. Dan hari ini, naga itu telah menyemburkan api, membakar habis jembatan terakhir yang menghubungkan mereka.Sementara di seberang kota, Ivan berdiri di tengah-tengah ruang kerjanya yang berantakan. Sebuah vas pecah berantakan di lantai, air dan bunga-bunga k

  • Agnia dan Cermin Pecah   Terkunci Rapat

    Dua minggu setelah konsultasi pertamanya dengan Dr. Maya, Sarah merasa dipersenjatai dengan sedikit lebih banyak pengetahuan dan strategi. Keputusasaan telah berubah menjadi sebuah tekad yang tenang. Dia telah menghadiri satu sesi lanjutan, dan Dr. Maya telah membantunya menyusun pendekatan yang diharapkan bisa menembus tembok pertahanan Ivan.Strateginya sederhana: lembut, tidak mengancam, dan berfokus pada keprihatinan, bukan tuduhan. Dr. Maya juga mengenalkannya pada seorang kolega, seorang psikiater bernama Dr. Arif, yang dikenal dengan pendekatannya yang hangat dan tidak menakutkan. Rencananya, Sarah akan mengajak Ivan untuk menemui seorang "teman" yang adalah seorang ahli yang bisa membantu orang-orang dengan "kebuntuan kreatif" dan "stres". Kata "psikiater" atau "gangguan jiwa" akan dihindari seperti api.Hari itu, dengan jantung berdebar kencang, Sarah menelepon Ivan. Dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya. Apakah Ivan akan mengangkat teleponnya? Apakah dia masih marah?Tele

  • Agnia dan Cermin Pecah   Langkah Pertama Menuju Bantuan

    Kepergian Sarah dari apartemen Ivan meninggalkan luka yang dalam dan getir. Hari-hari berlalu dengan lambat, setiap detik terasa seperti siksaan. Sarah kembali ke kehidupannya sendiri, ke apartemen kecilnya yang tiba-tiba terasa sangat luas dan sunyi. Barang-barang peninggalan Ivan—sebuah sweter yang tertinggal, buku yang pernah mereka baca bersama—menjadi pengingat yang menyakitkan akan hubungan yang telah hancur.Dia mencoba melanjutkan rutinitasnya: bekerja sebagai perencana event, bertemu teman-teman, bahkan keluar untuk mencoba bersosialisasi. Namun, wajah Ivan selalu hadir di pikirannya. Bukan wajahnya yang marah atau bingung saat pertengkaran terakhir, tetapi wajahnya yang lembut saat mereka berdua tertawa bersama, atau wajahnya yang serius ketika dia tenggelam dalam dunia menulis. Sarah menyadari sebuah kebenaran yang pahit: dia masih mencintai Ivan. Cintanya bukanlah cinta yang buta; dia melihat

  • Agnia dan Cermin Pecah   Pelukan Sang Ilusi

    Pintu yang tertutup itu bukan lagi sekadar pintu. Itu adalah sebuah pemutus, sebuah pemisahan yang final. Bunyinya yang menggema di apartemen yang tiba-tuta sunyi itu seperti gong yang menandai berakhirnya sebuah babak dalam hidup Ivan. Dia tetap terduduk di lantai ruang kerjanya, punggungnya bersandar pada kaki meja kayu, tubuhnya terasa hampa bagaikan kulit udang yang ditinggalkan isinya.Beberapa menit berlalu, atau mungkin sejam—Ivan kehilangan semua sense of time. Matanya kosong, menatap lurus ke arah buku catatan yang masih tergeletak di lantai, terbuka pada halaman yang mengutuknya. Wajah Sarah, yang digambarkan dengan sempurna namun diisi dengan jiwa orang lain, seakan menatapnya dengan tatapan hampa dari kertas itu. Sebuah pengingat akan pengkhianatannya yan

  • Agnia dan Cermin Pecah   Konflik yang Meruncing

    Sudah seminggu sejak pertengkaran terakhir mereka tentang kebiasaan menulis Ivan yang kembali intens. Suasana antara Ivan dan Sarah masih sedikit tegang, bagaikan udara sesaat sebelum badai. Sarah berusaha untuk memahami, benar-benar memahami, bahwa menulis adalah bagian tak terpisahkan dari diri Ivan. Namun, ketakutannya akan kembalinya "sang hantu" selalu hadir di benaknya, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkah mereka.Hari itu, Ivan harus menghadiri pertemuan dengan editornya di pusat kota. Sarah, yang jadwal kerjanya lebih fleksibel, memutuskan untuk menyambangi apartemen Ivan setelah dia pulang kerja. Dia ingin mencoba mencairkan suasana. Mungkin dengan memasakan makan malam spesial, atau sekadar menunggu kedatangannya dengan senyum. Itulah cara Sarah menunju

  • Agnia dan Cermin Pecah   Retakan Halus

    Dua minggu kemudian, hubungan mereka masih terlihat manis di permukaan. Tapi Ivan mulai berubah. Dia menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun. Saat bersama Sarah, dia kadang-kadang tidak sepenuhnya "hadir". Pikirannya berada di tempat lain, di dunia tulisannya.Sarah memperhatikannya. Perubahan itu halus, tetapi bagi seseorang yang seobservatif Sarah, itu terlihat."Ivan, apa kau baik-baik saja?" tanyanya suatu sore saat mereka berbelanja bahan makanan. "Kau terlihat... jauh akhir-akhir ini."Ivan tersentak dari pikirannya. "Hmm? Oh, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya... ada ide untuk menulis sedikit."Sarah mengangkat alis. "Menulis? Itu bagus!" Tapi ada kekhawatiran di matanya. "Kau masih minum obat, kan?"Ivan merasa sedikit tersinggung, tapi dia berusaha menyembunyikannya. "Tentu saja. Kenapa?""Tidak ada. Hanya... aku senang kau bisa menulis lagi. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya? Kesehatanmu yang utama."Peringatan Sarah itu wajar, tapi bagi Ivan, itu terasa seperti sebu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status