Beranda / Romansa / Ah! Enak Mas Dokter / Bab 580: Terlacak

Share

Bab 580: Terlacak

Penulis: Dita SY
last update Tanggal publikasi: 2026-03-24 15:46:01

"Berhenti!"

Saat dalam perjalanan, Adrian memberi perintah pada seorang supir yang tengah mengendarai mobil.

Dua orang polisi bersenjata menoleh ke belakang, salah satunya menatap ke arah laptop yang ditunjukkan oleh Adrian.

"Aku mendapatkan sinyal di sekitar pelabuhan," ucap Adrian yakin.

Mendengar itu, kedua polisi saling tatap. Lalu, sang supir mengatakan, "Apa kita akan mencoba ke sana?"

Adrian mengangguk cepat. "Putar arah, tapi usahakan kedatangan kita tidak mengundang perhatian mereka.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Eka Novia
lama lama kok jd alurnya kayak anggun marco dulu
goodnovel comment avatar
Putri Seno
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Ulya Official Acount
bukannya edric & laila udh sah ya. Apanya yg mau digagalin
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 646: Kita Berteman?

    Pintu ruangan kayu lapuk itu ditarik paksa hingga terbuka. Sang ketua anak jalanan masuk dengan tatapan mata yang sangat bengis, diikuti oleh dua anak buahnya yang bertubuh besar.​Tanpa belas kasihan, mereka langsung melucuti semua barang berharga yang melekat di tubuh Dylan.Sepatu sekolah yang mahal, jam tangan pintar yang baru dibelikan Daddy-nya bulan lalu, hingga sisa uang jajan di saku celananya dirampas begitu saja.Seragam sekolah internasionalnya yang kotor dan robek dipaksa untuk dilepas.​"Sekarang kamu pakai ini!" bentak sang ketua sambil melemparkan sepotong kaos oblong yang sangat kusam, berlubang di bagian bahu, serta celana pendek kain yang sudah pudar warnanya.Baju itu adalah baju bekas milik anak jalanan lain yang sudah tidak terpakai, sangat mirip dengan baju yang biasa dipakai Biru.​Dylan yang tubuhnya masih dipenuhi lebam kebiruan dan

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 645: Tertangkap!

    Suara kunyahan kacang di dalam terowongan beton yang sunyi itu mendadak terhenti.Dylan dan Biru saling pandang saat mendengar suara derap langkah kaki yang berat mendekati mulut terowongan."Ssttthhh!" Biru menutup mulut Dylan dengan tangannya.Mata Dylan berotasi, memperhatikan tempat sempit yang mereka duduki.Sementara Biru memberi kode dengan kedipan matanya berulang kali.Sebelum mereka sempat bergerak untuk melarikan diri, sebuah bayangan besar langsung menutupi cahaya remang dari luar.​"Kena kalian!" tawa renyah terdengar menggema di terowongan gelap itu."Argggghhhh!"​Sebuah tangan kekar langsung mencengkeram kerah seragam Dylan yang sudah kotor, menariknya ke luar dari terowongan dengan kasar hingga ia terjerembap di atas tanah becek.Biru yang mencoba menarik tangan Dylan pun langsung

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 644: Bersembunyi!

    Hush! Hush! Hush!Napas Dylan memburu seperti hendak putus.Suara derap langkah kaki anak-anak jalanan yang mengejarnya masih terdengar menggema di lorong-lorong seng yang sempit.Langkah kaki kecil Dylan yang terbiasa berlari di atas rumput lapangan sekolah yang halus kini terasa sangat berat melompati genangan air berlumpur dan tumpukan sampah tajam.​Tiba-tiba, sebuah tangan yang kotor namun kuat menarik kerah seragamnya dari balik celah sempit di antara dua dinding kayu yang rapuh.Dylan hampir saja berteriak karena panik, namun sebuah telapak tangan langsung membekap mulutnya dengan erat.​"Ssshh! Ini aku, Biru," bisik sebuah suara yang serak dan terengah-engah.​Dylan mendongak. Di balik keremangan, sepasang mata biru jernih menatapnya dengan sangat waspada.Wajah Biru kini semakin berantakan, dengan lebam baru

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 643: Kebenarannya

    Begitu bel istirahat berbunyi, Farah langsung berlari menemui Dylan di depan kelasnya.Dengan kedua tangan kecilnya, ia menyodorkan robot superhero milik Zidan yang sudah kembali ke dalam pelukannya.​"Kak Dylan, lihat! Robot Zidan sudah ketemu!" seru Farah dengan wajah berseri-seri.​Dylan yang sedang merapikan buku langsung menoleh. Matanya membelalak melihat mainan itu."Dari mana kamu dapat ini, Farah? Kamu yang ambil ya?"​"Bukan Farah!" bantah Farah cepat. "Ini dari Biru, Kak. Dia yang balikin tadi di pagar belakang. Dia bilang dia merebut mainan ini dari anak jalanan lain yang mencurinya. Wajah Biru sampai babak belur karena berkelahi demi mengembalikan robot ini!"​Dylan mengambil robot itu dari tangan Farah, membolak-baliknya dengan tatapan penuh kecurigaan."Farah, kamu jangan mudah percaya! Bagaimana kalau si Biru itu sebenarny

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 642: Mainan Itu!

    Tiga hari berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadiran Biru di balik pagar belakang sekolah.Farah hampir saja putus asa, hingga akhirnya pada suatu siang yang terik di jam istirahat, ia melihat siluet kurus itu kembali berdiri di balik pagar kawat yang menjulang tinggi.​"Biru!" seru Farah gembira, langsung berlari kecil menghampiri pagar.​Namun, begitu jarak mereka semakin dekat, senyum di wajah Farah langsung memudar, digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa."Biru, kamu kenapa?"Wajah Biru yang biasanya tampan meski kusam, kini dipenuhi luka memar keunguan di pipi dan pelipisnya. Sudut bibirnya pecah dan tampak bercak darah yang sudah mengering.​"Biru, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Farah panik, kedua tangan kecilnya mencengkeram kawat pagar.Biru hanya diam, berusaha menyembunyikan wajahnya."Wajah kamu kenap

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 641: Roti Coklat

    Pagi yang cerah di kediaman Dirga. Saat ini Febby sedang memasukan makan siang ke dalam tas anak-anaknya."Mom, Biru suka banget sama roti coklat itu, katanya enak. Roti buatan Mommy memang nggak pernah gagal," ucap Farah.Febby tersenyum bahagia. "Kalau begitu hari ini kamu bawa banyak roti untuk Biru dan ibunya ya. Untuk adik atau kakaknya juga, siapa tahu mereka mau.""Okay Mom. Makasih ya Mommy," ucap Farah, senang."Sama-sama, Sayang."Setelah selesai menyiapkan bekal, kedua anak-anak itu dijemput supir pribadi mereka yang membawa mereka ke mobil.Suasana ruang makan kembali hening. Di meja makan, hanya ada Dirga yang duduk terdiam menatap cangkir kopi yang sudah mulai mendingin.Di hadapannya, Febby sedang sibuk merapikan piring tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.Keheningan ini terasa begitu menyiksa bag

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status