مشاركة

Kafe

مؤلف: Dita SY
last update تاريخ النشر: 2025-07-10 08:00:02

Semalaman tidak bisa tidur, Dirga menghidupkan mesin mobil setelah matahari pagi mulai merangkak naik. Ia melajukan kendaraan roda empatnya, yang terparkir di pinggir jalan raya.

Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, namun Dirga ingin lebih dulu datang ke Kafe tempat dia dan Fandi akan bertemu.

Ketika mobil mewahnya tiba di depan Kafe, ia harus menelan kekecewaan karena tempat tersebut belum buka. Biasanya Kafe buka pukul delapan, tepat seperti janji temunya dengan
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (8)
goodnovel comment avatar
Move On
𝒊𝒄𝒉𝒉𝒉𝒉 𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒈𝒓𝒆𝒈𝒆𝒕 𝒂𝒋𝒂 𝒆𝒎𝒈 𝒇𝒆𝒃𝒚 𝒊𝒏𝒊𝒊
goodnovel comment avatar
Ognindi Wingky
hadeuuuh Feby ...Feby kpn mo slesai... apa* takut ... sm ortu sendiri aja takut
goodnovel comment avatar
Heni
ceritanya seru sich,tpi terlalu banyak iklan kk
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 608: Perjalanan Pulang

    Di dalam mobil yang melaju membelah sisa kabut pagi menuju Jakarta, suasana terasa begitu berat.Dylan duduk di kursi belakang, dibalut selimut tebal dan memegang botol air hangat yang diberikan petugas medis.Febby duduk di sampingnya, mendekap bahu putranya seolah tak mau kehilangan sedetik pun, sementara Dirga fokus menyetir dengan rahang yang terkatup rapat.​Setelah keheningan yang cukup lama, Dylan akhirnya membuka suara.Suaranya kecil, serak, dan masih menyimpan sisa trauma.​"Daddy ... Mommy ... sebenarnya ada satu hal yang mau aku tanya," bisik Dylan. "Kalian harus jawab ya, Mommy, Daddy."​"Istirahat dulu, Dylan. Kamu baru saja melewati malam yang mengerikan, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak lagi, hmm," jawab Febby lembut, mencoba mengusap kotoran yang masih menempel di pipi anaknya.​"Tapi ini penting. Di sana ... tadi a

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 607: Pelukan yang Dirindukan

    Ketegangan di bawah rumah pohon itu mencapai puncak. Buaya muara tersebut, yang merasa terdesak oleh kepungan cahaya senter, mulai menunjukkan perilaku agresif.Ia menghantamkan moncong kerasnya ke batang pohon beringin tua itu berkali-kali. Setiap benturan membuat struktur rumah pohon di atasnya berderit ngeri.​"Komandan! Kayu penyangganya mulai retak!" teriak salah satu petugas SAR saat melihat papan lantai rumah pohon mulai miring."Rumah pohon itu sudah sangat usang dan berumur, pasti kayu-kayu di sana sudah sangat rapuh," ucap salah satu tim SAR merasa khawatir.​"Dylan, Giandra! Jangan bergerak ke pinggir!" perintah Dirga lantang, suaranya berusaha menutupi gemuruh jantungnya yang berpacu gila. "Tetap diam Sayang! Sebentar lagi kami akan ke sama menolong kalian berdua!""Kita harus secepatnya bergerak!"​Tim SAR segera mengeksekusi rencana darurat. Dua

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 606: Aku di sini!

    "Dylan! Giandra! Jawab Mommy, Nak!"​Suara itu kini bukan lagi sekadar sayup-sayup yang dibawa angin.Teriakan Febby terdengar begitu dekat, membelah kesunyian hutan yang mencekam.Kali ini, Giandra tidak bisa lagi menganggap itu sebagai halusinasi. Ia mendongak, matanya yang basah oleh air mata seketika melebar.​"Lan ... itu beneran suara Mommy kamu!" bisik Giandra dengan bibir yang gemetar karena kombinasi rasa dingin dan harapan yang mendadak muncul.​Dylan mengangguk cepat, tetapi ia tetap waspada. Di bawah kaki mereka, predator raksasa itu masih ada.Buaya muara tersebut seolah terusik oleh suara-suara manusia yang mendekat.Ekornya yang besar menghantam semak-semak, menciptakan suara kresek yang berat dan mengerikan.​"Kita harus kasih tanda, Gian. Tapi kita nggak bisa turun." Dylan berpikir cepat. 

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 605: Predator

    Di atas rumah pohon yang reyot itu, Dylan terpaku.Di tengah deru angin dan gesekan dedaunan, telinganya yang tajam menangkap sesuatu yang berbeda.Sebuah suara yang sangat ia kenal, meski terdengar samar dan terdistorsi oleh jarak serta lebatnya kabut.​"Mommy .... " bisik Dylan pelan. Matanya melebar, menatap ke arah kegelapan di balik rimbunnya hutan. "Gian! Aku dengar suara Mommy! Mereka di sana!"​Giandra, yang sedang berusaha mengatur napasnya yang sesak, menggelengkan kepala dengan cepat.Wajahnya yang kotor tampak sangat sangsi. "Nggak ada suara apa-apa, Lan. Cuma suara angin. Kamu cuma berhalusinasi karena kita terlalu capek."​"Nggak, Gian! Aku yakin itu Mommy!" Dylan bergerak menuju pinggiran lantai kayu yang sudah lapuk, hendak menggapai batang pohon untuk turun."Kamu mau ke mana Dylan?""Kita harus turun

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 604: Gantungan Kunci

    Cahaya senter dari tim SAR terus menyapu permukaan tanah yang dipenuhi daun kering dan lumpur hitam.Febby berjalan dengan napas yang mulai tersengal, namun setiap kali kakinya terasa lemas, bayangan wajah Dylan yang ketakutan memaksanya untuk terus melangkah.Dirga berada tepat di sampingnya, memegang lengan Febby dengan kuat agar istrinya itu tidak terperosok ke dalam akar beringin yang menjulur liar.​"Sabar, Sayang. Kita pasti temukan dia," bisik Dirga, meski matanya sendiri terus bergerak gelisah menyisir kegelapan.​Tiba-tiba, komandan tim SAR yang berada paling depan mengangkat tangan, memberi isyarat agar seluruh barisan berhenti."Semuanya, diam! Matikan suara radio!"​Hening seketika menyergap.Satu-satunya yang terdengar hanyalah desau angin yang menggesek dahan-dahan tua dan suara napas berat para pencari.Anjing pelaca

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 603: Rumah Pohon

    "Aku ngantuk Dylan." Giandra terus merengek."Tidurlah.""Tapi aku takut, kalau kita tidur nanti ada hewan buas mangsa kita.""Nggak akan," jawab Dylan datar. "Tidurlah. Biar aku yang jaga kamu."Kedinginan yang menggigit tulang akhirnya memaksa kelopak mata Dylan dan Giandra terpejam karena kelelahan yang luar biasa.Di bawah naungan akar beringin yang lembap, kedua bocah itu tertidur dalam posisi saling meringkuk, berusaha membagi sisa kehangatan tubuh yang kian menipis.​Giandra tampak mengigau pelan. Dalam tidurnya yang tidak nyenyak, ia bermimpi sedang berada di meja makan rumahnya yang mewah.Di hadapannya tersaji sepiring besar nasi goreng wagyu kesukaannya, lengkap dengan telur mata sapi yang masih panas dan kepulan uap yang menggugah selera.Tangannya baru saja hendak menyuapkan sesendok penuh nasi goreng itu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status