LOGINSetelah mengakui kejahatannya pada keluarga Fandi. Kedua orang tua Sisca membawa anaknya pulang ke rumah.
Di dalam kamar sunyi, saat malam semakin larut, Sisca tengah melamun, duduk di atas kasur tipis. Suasana kamarnya sangat berbeda jauh dari kamar di rumah Fandi. Kembang Desa itu menatap langit-langit kamar yang mulai rapuh sambil menghela napas panjang dan lirih. Sejak kecil ia hidup serba kekurangan, rasanya wajar kalau ia iri pada Febby, teta"Sudah siap Sayang?"Pertanyaan itu semakin membuat Intan gugup dan salah tingkah. Rasanya baru kemarin mereka membahas pernikahan, dan tidak pernah membahas soal malam pertama. Namun sekarang ....Tak ingin membuat suaminya kecewa, Intan langsung menjawab, "Iya Mas, aku siap." Ia berdiri, melangkah melewati pintu pembatas balkon kamar dan masuk.Gerimis di luar jendela Hotel semakin lebat, menciptakan suasana kedap yang intim di dalam kamar bridal suite yang telah didekorasi dengan kelopak mawar merah di atas sprei putih bersih.Aroma terapi lavender dan mawar bercampur lembut dengan wangi parfum maskulin Adrian yang menggoda.Intan berdiri mematung di dekat jendela, jemarinya meremas pinggiran kebaya putih yang indah.Meski ini bukan kali pertama baginya, tetapi berada di hadapan Adrian ... pria yang telah mempertaruhkan nyawa untuknya ... membuat jantungn
Satu bulan berlalu setelah hiruk-pikuk di pinggiran danau itu, suasana kota terasa jauh lebih tenang bagi Adrian.Tidak ada lagi deru mesin jetski, tidak ada aroma gas air mata, dan yang terpenting, tidak ada lagi bayang-bayang manipulasi Kevin yang menghantuinya.Kebenaran yang terungkap mengenai kecelakaan Clara seolah mengangkat beban ribuan ton dari pundak Adrian.Penyelidikan mendalam membuktikan bahwa meskipun Adrian sempat berada dalam titik tergelapnya, takdir berkata lain ... kecelakaan itu murni karena kelalaian Clara sendiri, sebuah tragedi tunggal yang tak bisa diintervensi oleh dendam siapa pun.Pagi itu, langit Jakarta tampak cerah, seolah ikut merayakan babak baru dalam hidup sang Detektif.Di sebuah hotel dengan taman terbuka yang asri, Adrian berdiri di depan cermin besar.Ia mengenakan beskap modern berwarna putih tulang yang pas di tubuhnya yang tegap.Tidak ada lagi sisa lumpur atau luka memar di wajahnya, yang tertinggal hanyalah aura ketenangan seorang pria yang
Air danau yang tenang itu seketika berubah menjadi medan pertempuran yang kacau.Kevin melompat ke dalam air, tetapi dia tidak sekadar berenang melarikan diri.Suara ledakan kecil tadi ternyata bukan hanya untuk memutus dermaga, melainkan sinyal bagi dua unit jetski hitam yang tiba-tiba melesat dari balik rimbunnya pohon bakau di seberang danau."Target di air! Unit air, cegat sekarang!" teriak Adrian melalui radio, suaranya parau namun penuh otoritas.Kevin berhasil menggapai salah satu jetski yang dikendarai anak buahnya. Ia naik ke boncengan, akan tetapi sebelum kendaraan itu sempat memutar gas, sebuah tembakan peringatan dari Bayu menghantam permukaan air tepat di depan moncong jetski."Menyerahlah, Kevin! Kau terkepung!" seru Bayu dari tepian.Kevin tidak menyerah. Ia justru mengeluarkan sebuah pistol otomatis dari balik jaket anti-airnya dan membala
Adrian mengiyakan rencana Dirga yang ingin melibatkan Laila dalam missi kali ini, namun, tanpa sang Detektif ketahui, Dirga memiliki rencana lain."Aku butuh seorang polisi wanita berpengalaman, dan tolong usahakan fisiknya mirip dengan Laila.""Baik, kami akan menyiapkannya sesuai dengan rencana Anda.""Pastikan Laila yang asli aman dan terlindungi. Jangan sampai kita kecolongan!" tambah Dirga dengan nada tegas.***Tiga hari kemudian.Kabut tipis menyelimuti permukaan danau di pinggiran Bogor. Suasana malam itu sangat sunyi, hanya suara jangkrik dan gesekan daun bambu yang tertiup angin pegunungan.Cahaya bulan sabit terpantul di air yang tenang, menciptakan suasana yang indah sekaligus mencekam.Adrian berdiri di balik bayangan sebuah pohon besar, sekitar seratus meter dari dermaga kayu yang menjorok ke tengah danau.Di sana, seorang wanita dengan mantel panjang duduk termenung di ujung dermaga. Dari jauh, siapapun akan yakin itu adalah Laila.Namun, di bawah mantel itu, seoran
Hening menyelimuti sambungan telepon itu selama beberapa saat. Hanya suara rintik hujan yang kian menderu di luar jendela rumah sang Detektif.Dirga menarik napas panjang, suaranya kini terdengar lebih rendah dan penuh penekanan. "Begini Detektif, kalau dia menginginkan pernikahan itu gagal, artinya dia masih terobsesi pada Laila. Dia ingin memiliki apa yang tidak bisa dia dapatkan secara legal. Dan obsesi adalah kelemahannya.""Maksudmu?" tanya Adrian, matanya menatap nanar ke arah tumpukan berkas di meja kerja."Kita gunakan Laila sebagai umpan," jawab Dirga mantap.Adrian tersentak. "Tidak! Itu terlalu berisiko, Dok. Kau tidak melihat sendiri apa yang terjadi di dermaga tadi. Kevin bukan lagi penjahat amatir. Dia licin, dia punya persiapan, dan dia tidak ragu untuk membunuh. Menempatkan Laila di garis depan sama saja dengan menyerahkannya ke mulut harimau.""Iya aku tahu, aku sudah memikirkan itu, dan aku yakin rencana ini berhasil."Adrian terdiam dengan tatapan ragu. Melibatk
"Kau mendengarnya kan? Gagalkan pernikahan itu, atau aku akan terus mengusik hubunganmu dengan kekasihmu. Kau harus bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Clara!"Adrian terdiam sejenak saat mendengar suara dari balik kepulan asap. Sekian detik diam, ia mengatakan, "Bukan aku orang yang menyebabkan Clara kecelakaan!""Hahahaha!"Suara tawa Kevin menggelegar. "Aku sudah memegang kartu AS-mu Detektif. Dan sekarang, aku minta kau mengikuti permainan ini atau kau akan berakhir di dalam penjara!""Sialan!" umpat Adrian.Saat tim kepolisian menghampiri, mesin speedboat melaju cepat membelah sunyi malam, meninggalkan buih putih yang berbeda dengan pekatnya air laut."Ke arah sana!"Bayu dan timnya merangsek maju ke tepian titian besi, moncong senjata mereka mengarah ke kegelapan, namun target mereka sudah melesat jauh."Tembak mesinnya! Jangan biarkan dia keluar dari teluk!" teriak Bayu melalui radio.Beberapa letusan senjata api menyalak, memecah keheningan dermaga. Peluru-peluru
Kabar kehamilan Febby didengar oleh Sisca yang baru saja menerima telepon dari sang ibu. "Emak bersyukur banget karena sekarang Febby makin bahagia. Suaminya tuh bener-bener baik, ngga beda sih sama Nak Barta." Innaya melanjutkan ucapannya di dalam telepon.
Suara deringan ponsel dari dalam kamar, terus saja terdengar. Lama-lama Febby terpancing juga. Ia langsung melempar serbet yang berada di tangannya ke atas meja. "Biar aku ambilin hape kamu, Mas," kata Febby, melangkah menuju pintu dapur. Namun, langkah kaki itu langsung dihentikan oleh Dirga,
Hari-hari berlalu berlalu dengan cepat. Kini, keluarga besar Febby dan Dirga tidak pernah mendapatkan ancaman lagi. Semenjak Yuliana ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, kehidupan mereka aman sentosa. Meskipun kabar Anggun belum didengar, tetapi mereka meyakini wanita itu j
Klinik Dokter Dirga terlihat ramai, begitu banyak pasien yang ingin memeriksakan kandungan mereka pada Dokter yang terkenal tampan dan ramah. Sementara Dokter Obgyn di tempat praktek itu sedang menangani pasien yang tengah melahirkan. Setelah satu jam berlalu, Dirga keluar dari ruang bersalin da







