ログイン"Besok pagi kalian harus ke praktek Dokter Dirga. Malam ini kalian diundang makan malam sama dia." Ratih berbicara di dalam telepon, menghubungi anak.
"Iya Bu. Aku dan Febby udah tahu. Ibu udah berapa kali mengingatkan itu." Andi menyahut kesal di dalam telepon saat ibunya menghubungi. "Ibu kan cuma ngingetin kamu. Abis kamu itu kan sering banget ninggalin istri kamu sendiri. Yang harus diperiksa itu bukan cuma Febby, tapi kamu juga." "Iya, nanti aku ikut periksa juga. Udah ya Bu. Aku baru aja bangun tidur. Mau mandi dan sarapan." "Istri kamu mana? Biasanya Febby yang nerima telepon dari Ibu. Tapi tadi nomornya ngga aktif." "Dia lagi bikin sarapan. Mungkin hapenya lagi dicas." "Ya udah kalau begitu. Pokoknya kalian jangan lupa ke rumah Dokter Dirga. Nanti Ibu kirim alamatnya sama kamu." "Hem, aku ngga akan lupa. Ngga usah kirim alamat, dia masih tinggal di rumah orang tuanya kan?" "Ya ngga dong. Dirga sama istrinya udah pindah ke rumah mereka yang baru. Mangkanya dia bikin syukuran untuk mendoakan rumah baru mereka." "Oh!" sahut Andi datar. Lagi-lagi dia merasa tersaingi dengan kesuksesan orang terdekat. Di kantor, temannya selalu pamer pencapaian. Dan sekarang, sepupunya sendiri. Sedangkan dia, masih saja menjadi karyawan biasa yang hanya mendapat mobil kantor. Itu pun sering dibawa ke bengkel. "Kali ini kamu harus bisa membuat istri kamu hamil. Kamu tahu kan, Febby itu pewaris satu-satunya kekayaan orang tuanya di kampung. Dia punya tanah, sawah, kontrakan dan tempat usaha. Belum lagi ternak sapi dan kambing. Kalau dia dapat semua itu, kalian pasti bisa beli rumah mewah di Kota." "Hem, aku tahu soal itu Bu. Ibu tenang aja, aku pastikan Febby bisa hamil." "Bagus Nak. Ibu tunggu kabar baiknya." Andi mengakhiri pembicaraan dengan ibunya saat Febby masuk ke kamar yang memang tidak ditutup. "Sarapan udah siap Mas." Febby melangkah mendekati ranjang, mengambil ponsel yang berada di balik bantal. Ponselnya tidak aktif sejak semalam karena baterainya habis. "Tadi Ibu nelpon kamu, tapi hape kamu ngga aktif," ujar Andi, menatap wajah lesu istrinya. Tanpa kata, Febby hanya menunjukkan layar ponsel yang mati total. Andi mengangguk paham. "Layani aku dulu. Aku pengen," pintanya. Febby menghela panjang. "Jangan ada penolakan! Dari kemarin kamu nolak aku terus!" desis Andi yang sudah tak tahan ingin melampiaskan nafsunya setelah kemarin ditolak oleh Febby. "Sarapan dulu Mas." Andi menarik lengan Febby, hingga tubuh wanita langsing itu terjatuh ke atas ranjang. "Apa-apaan sih kamu! Bisa ngga kamu layanin aku seperti biasa! Gimana kita mau punya anak kalau kamu ngga mau berhubungan dengan aku." Febby menghela napas dalam-dalam. Terpaksa melayani suaminya meski dalam hati tidak ikhlas. Ia naik ke atas tempat tidur dan duduk. Andi tersenyum mesum, perlahan membuka pakaian istrinya satu per satu. "Gitu dong. Aku ngga akan marah kalau kamu ngga ngelawan." Selesai meloloskan semua pakaian Febby, ia mulai mengeluarkan senjata pamungkas yang berukuran tidak terlalu besar. "Kamu di atas," pinta Andi, berbaring sambil mengusap pisang ambonnya. Tangannya meremas paha Febby, meminta untuk cepat-cepat dimasukan. Wanita pemilik bulu mata lentik itu mendesah pelan saat pisang suaminya masuk ke dalam liang kenikmatannya. "Ah! Enak," racau Andi sambil meremas dua gunung kembar istrinya. "Bikin aku puas ya Mas," pinta Febby sambil mengigit bibir bawahnya. "Aku mau keluar!" Kedua mata Febby membulat. Baru beberapa detik masuk, suaminya sudah mencapai klimaks. "Kok jadi lebih cepet dari biasanya Mas?" protes Febby, menyesal dia mau melayani suaminya kalau lagi-lagi dia tidak merasa puas. "Ah! Aku udah keluar!" erang Andi saat cairan kental itu menyembur keluar. Febby mendengus kesal, buru-buru dia cabut pisang yang sudah letoy itu. "Belum ada satu menit Mas. Aku belum puas." "Mangkanya kalau suami minta, langsung dikasih. Aku kan udah nahan dari kemarin. Wajar kalau cepet." "Emang ada hubungannya? Biasanya juga kalau langsung dikasih. Ngga sampai lima menit." Febby turun dari ranjang, memakai pakaian satu per satu. "Biasanya kan dua tiga menit. Masih mending daripada sekarang." Febby melirik kesal. "Coba kamu minum jamu Mas. Siapa tahu ada perubahan." "Jamu merek apa sih yang ngga pernah aku minum? Kamu juga sering bikinin jamu untuk aku. Kalau emang udah dari sananya begini, mau gimana lagi?" Mengembus napas panjang, Febby hanya diam sambil merapikan pakaiannya. Sementara Andi bergegas ke kamar mandi. "Kamu sarapan duluan aja. Aku masih lama. Mau menyelesaikan pekerjaan dulu di kamar," kata Andi sebelum masuk ke kamar mandi. Febby tak menyahut, ia keluar dari kamar lalu menutup pintu kamar. "Harusnya aku bisa nerima suamiku apa adanya, tapi kalau terus begini. Aku merasa ngga sanggup lagi menjalani rumah tangga ini," gumam wanita muda itu sambil mengusap dadanya. Seharusnya sejak awal dia tahu, seumur hidup itu bukan waktu yang singkat. Menyesal dia menjatuhkan pilihan pada Andi, laki-laki yang mengambil perawanya. Namun tidak pernah memberi kepuasan batin selama dua tahun menikah. Kecewa yang dirasakan Febby, tak berlangsung lama, karena dia sadar Andi tetaplah suaminya. Saat di ruang makan, Febby menyiapkan cemilan untuk suaminya agar semangat bekerja meski di hari libur. Ia membawa nampan berisi kopi dan kue, mengantarnya ke kamar. Saat membuka pintu, ia melihat suaminya sedang fokus dengan laptop di atas meja. "Mas makan cemilan dulu," kata Febby meletakkan cemilan ke atas meja. Andi bergeming, tetap fokus pada layar laptop. "Nanti malam, kita jadi makan malam di rumah Dokter Dirga?" tanya Febby membuka pembicaraan. "Jadi," sahut Andi datar. "Bawa bingkisan ngga?" "Ngga usah, mereka udah kaya." Febby manggut-manggut. "Dokter Dirga itu sepupu kamu ya? Aku baru tahu." Andi melirik sesaat. "Kamu kenal sama dia?" "Hem, kenal dekat sih ngga, tapi dia mantan kakak kelas aku." "Oh." Sikap Andi kembali dingin setelah nafsunya tersalurkan. "Dia udah nikah lama ya Mas? Kok anaknya udah gede?" tanya Febby, penasaran. "Iya dia udah nikah. Mungkin baru beberapa tahun. Aku ngga ingat pastinya. Yang jelas dia itu nikah sama janda yang punya anak satu. Istrinya Dokter Kecantikan." Wanita muda itu membulatkan kedua mata lebar. "Oh, istrinya janda." Sambil manggut-manggut. "Istrinya Dokter kecantikan ya? Pasti dia cantik banget." Andi kembali melirik, "Masih cantikan kamu. Ya ... aku cukup pintar memilih pasangan dibandingkan dia." Febby tersenyum malu-malu. Akhirnya ada yang bisa dibanggakan di dirinya.Makan malam bersama digelar dengan begitu mewah dan meriah. Seluruh anggota keluarga berkumpul di kediaman Dokter Dirga.Di ruang makan yang didominasi meja panjang berbahan marmer, keluarga besar Dirga dan Febby duduk saling berhadapan.Tak ada satu pun yang absen malam ini. Andi, Nila, dan anak mereka pun juga hadir.Suasana begitu hangat. Mereka tertawa bersama, sesekali menceritakan masa lalu kelam bukan untuk meratap, tapi sebagai pengingat kalau badai yang terjadi dulu kini berganti menjadi kebahagiaan yang utuh."Dokter Dirga semakin sukses saja," puji Barta."Ah, bisa aja Dokter Barta. Anda juga sudah semakin sukses," balas Dirga. Di samping mereka, para istri sedang berbincang, membicarakan kebiasaan buruk suami mereka."Gimana Mas Andi? Udah nggak pernah godain cewek lagi kan?" tanya Sisca pada Nila."Nggak pernah sejak kami menikah. Awas aja kalau dia berani macam-macam, aku santet dia biar burungnya ilang sekalian!" jawab Nila, melotot ke arah Andi yang langsung mengusa
"Waktu berjalan cepat banget ya, Mas. Nggak terasa anak-anak sekarang udah pada gede. Jadi ingat bagaimana perjuangan kita dulu," ujar Febby, membuka obrolan dengan suaminya di ruang makan.Malam ini mereka akan menyambut kepulangan Dylan dari Amerika. Bukan karena sudah lulus kuliah, Dylan hanya pulang selama beberapa minggu demi menghadiri acara ulang tahun adik semata wayangnya."Iya, waktu memang cepat berlalu, tapi nggak ada yang berubah dari kamu. Kamu tetap cantik dan selalu jadi istri yang pengertian," ucap Dirga, memeluk istrinya dari belakang, lalu mengecup leher Febby dengan lembut.Febby mendongak, menatap suaminya dengan senyum manja. "Ngomong-ngomong, anak-anak kan udah besar. Kamu ada niat menjodohkan mereka dengan anak temanmu, atau ... anak Ardian?"Dirga melepas pelukan, lalu menarik kursi dan duduk di hadapan meja makan."Aku nggak mau melakukan itu. Biarlah mereka menentukan pilihan sendiri. Aku nggak mau apa yang terjadi padaku di masa lalu, menimpa mereka j
Di Amerika, setelah menyelesaikan tugas kuliah yang menumpuk, Dylan memutuskan untuk memposting sebuah foto di akun media sosialnya yang memiliki banyak followers.Sebagai cowok dengan wajah tampan di atas rata-rata, tak heran jika mayoritas pengikutnya adalah kaum hawa yang selalu menanti postingan terbaru darinya.Pada unggahan kali ini, Dylan menyematkan caption singkat.~Seminggu lagi aku akan pulang ke Indonesia~Hanya dalam hitungan detik, notifikasi like dan komentar langsung membanjiri ponselnya.Namun, dari sekian banyak tanggapan yang masuk, hanya satu komentar yang berhasil menarik perhatian Dylan ... komentar dari Maura_anak Intan.Maura: [Jangan lupa oleh-oleh untukku, Kak!]Dylan terkekeh pelan dan membalas dengan cepat.Dylan: [Apapun akan aku belikan untuk Adik Kesayanganku. Tunggu aku pulang ya, Sayang. Jangan nakal di sana]Tak lama kemudian, sebuah komentar lain muncul. Kali ini dari Aurora. Bukannya membalas di kolom komentar seperti yang dilakukannya pada
"Kamu .... " Farah menatap Ray dengan tatapan tidak percaya. Ia tak menyangka sahabat masa SMA-nya dulu tega melaporkan Biru ke Polisi."Dia pantas masuk penjara, Farah! Dia yang melakukan semua ini. Luka-luka ini bukti kegilaannya. Laki-laki itu tempramental, kamu harus menjauhinya! Kamu lihat sendiri, aku babak belur dihajar habis-habisan, padahal aku sama sekali tidak melakukan apa pun padamu," tutur Ray meyakinkan, sambil memamerkan kembali luka-luka di tubuhnya.Luka di keningnya masih basah, darah segar tampak merembes dari balik perban. Sementara itu, tangan kanannya terlihat lebam dan cedera parah."Aku hampir mati karena dia. Untung saja banyak orang di pesta waktu itu yang memisahkan kami. Kalau tidak, ceritanya pasti sudah beda," lanjut Ray, memelas.Farah terdiam sambil menundukkan kepala. Ada sedikit rasa kecewa menyergap dadanya, kenapa Biru harus sebrutal itu? Namun, jauh di lubuk hatinya, ia yakin Biru pasti memiliki alasan."Andai saja kamu ingat kejadian malam
Di dalam kamar perawatan yang sunyi, Ray yang merasa telah berhasil menarik perhatian Farah mulai mencari kesempatan.Matanya tak henti mengamati sekeliling, memastikan pintu kamar perawatan di depannya tertutup rapat.Sementara itu, Farah fokus mengupas buah apel untuk Ray. Tidak ada sedikit pun rasa curiga terhadap pria di hadapannya.Setelah memastikan situasi benar-benar aman, senyum miring tersungging di bibir Ray. Dengan gerakan spontan, ia menyergap dan memegang pergelangan tangan Farah."Farah ....""Iya, Ray?" Farah mendongak, menatap pemuda itu lekat. "Kamu butuh sesuatu?"Ray menggeleng pelan. "Aku cuma butuh kamu." Ia mengambil pisau buah dari tangan Farah secara perlahan lalu meletakkannya di atas meja. "Aku mau bicara serius sama kamu. Boleh?"Farah mengangguk, ikut meletakkan apel yang belum selesai dikupasnya ke meja. "Bicara saja. Kamu mau ngomong apa?"Perlahan, Ray memajukan tubuh, memangkas jarak di antara mereka, lalu berbisik, "Maukah kamu jadi pacarku?"
Ray mengulum senyum saat melihat Farah mulai termakan ucapannya. Ia melirik Farah, menatap lekat gadis cantik yang kini diam membisu itu."Biru itu bukan laki-laki baik, Farah. Dia temperamental. Kamu harus berhati-hati padanya," lanjut Ray, memanasi.Farah mengangkat pandangannya, menatap wajah Ray yang babak belur.Bahkan, luka di pelipisnya yang diperban masih merembaskan darah segar."Lihat luka-luka ini. Semua ini ulah Biru. Tiba-tiba saja dia menyerangku. Padahal aku sama sekali tidak berniat jahat padamu malam itu. Aku hanya ingin membawamu menjauh dari keramaian karena kamu sedang mabuk berat," jelas Ray dengan ringisan yang dibuat seolah sangat menderita.Farah menghela napas panjang. Hatinya menolak untuk langsung percaya karena ia sangat mengenal pengawalnya itu. Namun, melihat kondisi Ray yang terluka parah, rasa ibanya tak bisa dibendung."Aku tahu Biru sudah lama jadi pengawal pribadimu, tapi dia itu ringan tangan. Aku khawatir suatu saat dia bisa melukaimu. Sepert







