공유

37. RENCANA

작가: NONA_DELANIE
last update 게시일: 2026-02-28 11:52:15
Setelah meninggalkan ruangan Hazel dengan perasaan berkecamuk, Hexa segera melangkah menuju ruang Presiden Direktur rumah sakit.

“Pa!” panggil Hexa pelan setelah mengetuk pintu dan mendorongnya perlahan.

Elon mendongak dari balik tumpukan dokumen yang sedang diperiksanya. Kacamata bacanya bertengger di ujung hidung. “Ya, ada apa, Hexa? Bagaimana kamu tahu Papa masih di sini?”

Hexa menyahut sembari melangkah masuk. “Aku bertanya pada Mama tadi. Ehm ... Papa sedang sibuk?”

“Tidak, Papa se
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Ah! Mantap, Sayang   114. HUKUMAN TIDAK MAIN-MAIN

    “Kalau ibuku benar-benar masih hidup dan berhasil kita selamatkan, apa kau mau menerimanya—maksudku, menampungnya di rumahmu?”“Hah?” Hexa tertegun sejenak. Pertanyaan itu cukup mengejutkan. Ia belum memikirkan sejauh itu karena fokusnya masih pada hasil tes DNA yang belum pasti.Iya kalau hasilnya cocok, kalau tidak, lantas bagaimana? Ia pasti akan kelimpungan menenangkan Hazel yang bersedih.“Kenapa? Kau keberatan?” Hazel mencecar saat melihat keraguan di wajah suaminya. “Kalau kau keberatan dia tinggal di kediaman River, bisakah kau memberikan satu rumah lagi untukku?”Hexa mengernyit, masih diam karena otaknya sedang menimbang berbagai risiko keamanan dan birokrasi keluarga besar mereka.Melihat respons Hexa yang pasif, Hazel merasa dirinya terlalu menuntut. Ia pun sadar diri, lalu menundukkan wajahnya dengan gurat kecewa yang jelas.“Ya sudah kalau kau keberatan. Aku akan menyewa rumah sendiri untuk Mama nanti. Pasti beliau sangat senang jika bisa tinggal bersamaku lagi.”Hexa m

  • Ah! Mantap, Sayang   113. SAMPEL RAMBUT

    “Lalu, aku harus bagaimana?”Suara Hazel serak, isak tangis yang sejak tadi ditahannya mulai terdengar memilukan. Pertahanan kedokterannya runtuh seketika saat dihadapkan pada kemungkinan bahwa ibunya masih bernapas di suatu tempat.Hexa tak tega melihat kehancuran itu. Mengabaikan nyeri di perutnya, ia segera berdiri dan menarik kepala Hazel ke dalam dekapannya, menyandarkannya erat pada pinggangnya. Tangan Hexa mengusap rambut Hazel, mencoba menyalurkan kekuatan.“Tunggu satu minggu. Setelah hasil tes DNA keluar … maka kita lakukan operasi penyelamatan. Kau setuju?” bisik Hexa menenangkan.Hazel mengangguk di balik tangisnya, air matanya membasahi telapak tangan Hexa. Sambil mengusap wajahnya yang sembap, ia mendongak dengan tatapan menuntut. “Kalau begitu, apa kita bisa melakukan tes DNA sekarang juga?”Hexa tercengang. “Sekarang juga?”“Ya. Kalau Enrico sudah memegang sampel rambut wanita itu, bukankah tes

  • Ah! Mantap, Sayang   112. TERLALU MENYAKITKAN

    “Bawakan sampel rambut istrimu ke River Regional Hospital besok, kita bertemu di sana. Kita harus mencocokkan DNA wanita di kastil itu dengan DNA istrimu.”Tubuh Hexa menegang seketika saat membaca pesan singkat dari Enrico yang baru saja masuk. Setiap kata di layar ponsel itu seakan menjadi beban berat yang menghantam dadanya.Dada Hexa berdebar kencang. Di sela pelukannya yang masih melingkar hangat pada Hazel, pikirannya justru berkelana liar. Bagaimana caranya ia bisa mencabut sehelai rambut istrinya tanpa menimbulkan kecurigaan?Hazel adalah dokter, ia sangat peka terhadap sentuhan dan detail kecil. Satu gerakan salah, maka tamatlah rencananya.Hingga pelukan itu terlepas, Hexa tetap tak menemukan celah. Ia memutuskan untuk menunda niatnya, menunggu waktu yang lebih tepat saat Hazel benar-benar lengah.“Hexa?” Hazel menggoyangkan telapak tangan di depan wajah Hexa yang mendadak kosong. “Mengapa kau melamun?”Kesadaran Hexa bagai ditarik paksa kembali ke realita. “Ah, tidak ada

  • Ah! Mantap, Sayang   111. TUBUH YANG MENEGANG

    “Obsesi gelap selalu membutakan akal sehat. Jika Anda berniat menemuinya, pikirkanlah matang-matang, Nona. Jangan gegabah. Jenna bukan lawan yang mudah disentuh.”Enrico memperingatkan dengan tatapan lekat. Hanya sekali lihat, dia tahu betul kalau Hazel menyimpan kemarahan yang besar.Seharusnya, Enrico memegang mandat Hexa untuk menutup rapat rahasia ini. Namun, nasi telah menjadi bubur. Kini, prioritas utamanya bergeser karena ia harus memastikan keselamatan Hazel setelah wanita itu mengetahui kebenaran yang berbahaya ini.Hazel mengangguk tenang, namun sorot matanya sedingin es. “Aku paham. Aku bukan wanita bodoh yang akan menyerang tanpa strategi.”“Boleh saya minta satu hal pada Anda, Nona?”Hazel melirik ketika Enrico bertanya seperti itu, tapi ia tak menjawab. Sorot manatnya jelas berkata, “Ya!”“Saya mohon ... jangan katakan pada Tuan Hexa bahwa saya yang memberitahu Anda,” pinta Enrico sekali lagi. Ia takut, Hexa akan mengamuk padanya.“Tenang saja, aku tidak akan mengatakan

  • Ah! Mantap, Sayang   110. MENYANGKAL KENYATAAN PAHIT

    “Aku rindu bercinta denganmu, Hazel.”Hazel memutar bola mata malas, meski rona merah di pipinya tak bisa berbohong. Ia mendorong bahu Hexa dengan hati-hati agar suaminya itu segera masuk ke dalam kamar dan berhenti membualkan hal yang tidak pantas di depan para pelayan.Sejam lalu—setelah dirawat selama seminggu penuh, Hexa memang diperbolehkan pulang. Tak menunggu lama, mereka sampai di rumah.Begitu Hexa duduk bersandar di atas ranjang king size mereka, Hazel tidak memberikan celah sedikit pun. Ia berdiri di depan suaminya, melipat tangan di dada dengan tatapan menginterogasi. “Kau tahu siapa yang mencelakaimu?”“Hm,” gumam Hexa singkat. Ia mengabaikan rasa nyeri di perutnya demi menarik tangan Hazel, merengkuh pinggang istrinya agar duduk menempel di sisinya. “Jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya.”“Aku ingin tahu siapa dia, cepat katakan,” tuntut Hazel, matanya mencari kejujuran di balik netra gelap Hexa.“Kau tidak perlu tahu. Cukup pikirkan kesehatanmu, kandunganmu, dan

  • Ah! Mantap, Sayang   109. JAKSA MESUM 21+

    “Oh iya. Bagaimana keadaan bayi kita? Dia tidak merepotkan mu, ‘kan?”“Tidak!”“Apa dia sudah menendang?” tanya Hexa dengan suara rendah yang dalam.“Iya. Dia baru saja bilang padaku kalau dia ingin sekali menendang Daddy-nya yang menyebalkan ini. Dia bahkan membisikkan pesan agar aku mewakilinya menendangmu,” balas Hazel ketus, meski ia tidak menepis tangan Hexa dari perutnya. “Bagaimana? Mau direalisasikan sekarang tendangannya? Dia bilang padaku, ingin menendang tepat ke arah dua bijimu!”Hexa menelan ludah. Benarkah Hazel sekejam dan setega itu padanya?Hexa menghela napas panjang, benar-benar merasa buntu. Ia menatap langit-langit kamar VVIP itu dengan pasrah. Sejak tadi ia sudah mengerahkan segala kemampuan diplomasinya sebagai jaksa, mencoba membujuk dan meminta maaf, namun Hazel tetap saja memasang benteng tinggi dengan sikap ketusnya.“Kalau bayi kita benar-benar menendangku nanti, tolong katakan padanya kalau

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status