LOGIN“Bagaimana kalau tato yang kau maksud itu sebenarnya luka permanen seperti keloid—yang mungkin dia dapatkan selama disekap di sini? Gambar yang diambil fotografermu itu belum bisa dipastikan apakah tato sungguhan atau bukan, kan?”Enrico tampak terdiam sejenak, mempertimbangkan argumen logis yang baru saja dilontarkan Hexa. Ia memandangi kembali foto di layar ponselnya, lalu beralih menatap kastil di kejauhan dengan kening berkerut.Hexa berargumen dengan nada dingin jaksanya yang khas. “Lebih baik, suruh anak buahmu mengawasi semuanya dulu dari jauh. Jangan gegabah. Kalau sudah benar-benar fix, baru kita ke sini lagi dengan persiapan matang. Nanti, akan kucoba menanyai Hazel mengenai ini. Kalau memang itu tato sungguhan, maka kita bisa cek lagi secara berkala.”“Baiklah.” Enrico menghela napas panjang, akhirnya menurunkan ponselnya. “Kita cek lagi ini dan itunya. Logikamu ada benarnya juga. Aku tidak mau kita menyerbu tempat ini hanya untuk menemukan orang yang salah.”“Bagus,” sahut
“Hexa! Syukurlah kau cepat datang!”Sesuai janjinya, Hexa menemui Enrico tepat setelah urusan kantornya selesai. Ia sudah berpamitan pada Hazel bahwa ada urusan mendesak yang tidak bisa ditunda, agar istrinya itu tidak menunggunya pulang untuk makan malam.Hampir tengah malam, Hexa tiba di lokasi yang ditentukan dengan napas sedikit memburu. Ia menghampiri Enrico yang sudah siaga di posisi. “Kau membawaku ke ujung dunia, menyeberang ke pulau terpencil sampai aku harus berganti helikopter dan boat kecil, lalu sekarang mengajakku mengintip dari balik semak belukar tebing ini? Apa kau pikir kita sedang simulasi perang?”Enrico mendesis, wajahnya tampak dramatis di bawah temaram cahaya bulan. “Bisa tidak mulut pedasmu itu diam sebentar! Aku menemukan sesuatu yang akan membuatmu tercengang!” Ia berbisik dengan nada tertahan, matanya terus mengawasi ke depan seolah takut kehilangan momentum.”“Memangnya apa yang kau temukan sampai harus sejauh ini?” tan
Hexa menyahut cepat sembari mengunci laci mejanya, “Kabar penting apa?” “Aku tidak bisa bicara sekarang. Segera temui aku begitu kau pulang nanti,” jawab Enrico pendek, suaranya terdengar mendesak. “Baiklah. Aku masih punya satu persidangan lagi sore ini. Nanti kuhubungi,” balas Hexa sebelum memutus sambungan telepon. Ia segera melangkah keluar kantor menuju parkiran, lalu memacu mobilnya pulang. Sesampainya di rumah, Hexa disambut pemandangan Hazel yang sedang duduk bersantai di ruang tamu, sibuk dengan benang dan jarum rajut di tangannya. “Hai,” sapa Hexa lembut. Hazel mendongak, matanya membulat terkejut. “Hai, Hexa? Kau pulang lagi?” Ia meletakkan rajutannya, berdiri untuk menyambut pelukan suaminya. Setelah menerima kecupan di dahi dan usapan lembut di perutnya, Hazel bertanya heran, “Apa sidangnya sudah selesai?” “Belum,” Hexa menggeleng kecil sembari membim
“Audit?” Denzel tercengang. Ia menegakkan punggungnya dengan raut wajah tegang. “Audit apa lagi? Apa kau curiga perusahaanku bermasalah?”Hexa tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Denzel dengan tatapan tajam yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi saksi di ruang sidang. Ketegangan di antara mereka mendadak terasa begitu nyata.“Bukan curiga, Pa. Ini prosedur standar,” jawab Hexa tenang, namun suaranya sarat akan penekanan. “Sebagai pemegang hak waris yang baru, Hazel perlu tahu kondisi finansial perusahaannya secara transparan. Jika selama audit saya menemukan ada aliran dana yang tidak wajar atau aset yang ‘terselip’, maka ceritanya akan berbeda.”Denzel terdiam, tenggorokannya mendadak terasa kering. Kata ‘audit’ yang keluar dari mulut seorang Jaksa Penuntut Umum bukanlah gertakan sambal. Ia tahu betul kapasitas Hexa dalam mengendus kejanggalan dokumen.“Tapi itu akan memakan waktu dan bisa mengganggu kinerja operasional,” dalih Denzel dengan suara tergagap, mencoba mencari
“Kau ada waktu?”Langkah Hexa terhenti seketika. Di depannya, berdiri Denzel. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Hexa memang berniat menemui ayah mertuanya itu.“Aku ingin bicara denganmu empat mata,” tanya Denzel langsung.Hexa mengangguk tenang. “Baik. Mari ikut ke ruangan saya, Papa.”Sembari mengirim pesan pada Hazel, Hexa berjalan lebih dulu. Ia membimbing ayah mertuanya menuju ruang kerja pribadinya. Begitu sampai di sana, Hexa menutup pintu dan mempersilakan Denzel duduk. Setelah berbasa-basi sejenak untuk mencairkan suasana, raut wajah Denzel berubah serius.”Aku datang ke sini sesuai janjiku, Hexa,” ujar Denzel sembari mengeluarkan sebuah map dari tasnya. “Tepat tiga hari seperti yang kau minta.”Hexa hanya menaikkan sebelah alis, menunggu penjelasan lebih lanjut, seolah ia tengah bertanya, “Janji apa?”“Sesuai permintaan Hazel.” Denzel menyodorkan map tersebut ke atas meja. Ia menatap ekspresi Hexa yang cukup dingin, “Rumah yang selama ini kutempati sudah kukosongkan. Semua
“Ya sudah, aku pergi!” kata Hexa usai mandi dan mengenakan pakaiannya secara kilat. Sebelum pergi, Hexa sempat ditahan oleh Hazel dengan kalimat, “Hati-hati di jalan, Daddy Hexa.” Hexa pun terkikik geli. Ia tak kuasa untuk tak berpamitan pada anaknya. Jadi, di atas ranjang itu, ia kembali mengungkung Hazel dengan kedua tangan. Usai bibirnya memagut bibir Hazel, Hexa menurunkan wajah dan mencium perut wanita itu. “Hai, Baby. Daddy bekerja dulu. Jangan membuat Mom mabuk lagi, oke?” “Okay, Dad.” Hazel mengucap dengan nada cadel yang dibuat-buat. Setelahnya, ia membiarkan Hexa pergi dari kamar itu dengan perasaan lega luar biasa. Hexa langsung pergi begitu mendapatkan izin dari Hazel. Sesampainya di kantor kejaksaan, ia melangkah dengan tungkai panjang yang terburu-buru, sesekali membetulkan letak dasinya yang ia rasa masih sedikit miring akibat tarikan manja Hazel tadi. Beruntung baginya, suasana







