ログインTiba-tiba Ali meneteskan air mata di saat Liona sedang menatap wajahnya, sepertinya Ali sedang memimpikan sesuatu yang begitu menyedihkannya hingga membuatnya sampai meneteskan air mata. Liona yang sedari tadi menatapnya pun terkejut, ia menjulurkan tangannya hendak mengusap air mata itu. Dan, “Sasa... Sasa...” panggil lagi di dalam tidurnya. Ternyata Ali sedang merindukan sosok istrinya yang sangat ia cintai. Setiap malam Ali memang seperti ini, hanya saja baru kelihatan di saat Liona memperhatikan tidurnya. “Sasa? Apakah itu nama mendiang istrinya?” gumam Liona berpikir. “Sasa, kenapa kamu ninggalin aku, aku mencintaimu sayang, kembalilah,” kata demi kata terus terucap di bibir Ali. Liona bingung harus berbuat apa, ingin dia membangunkan Ali agar keluar dari mimpi buruknya itu. Ali benar-benar tak sadar bahwa dia menangis hingga ke dunia nyata. Hingga akhirnya Liona mau tak mau berbaring di samping Ali dan memeluknya. Dengan kehangatan yang disalurkan oleh Liona, Ali jadi sedik
Beberapa hari pun berlalu hingga hari kelima Liona di kampung itu. Terlihat Liona dan Ali semakin dekat, bukan dekat karena perasaan pribadi, tetapi karena bisnis yang Ali kelola. Di mana Liona juga menceritakan perjalanan selama lima hari di kampung ini, dan hal itu pula membuat papanya semakin tertarik buat mengajukan kerja sama, bahkan ingin membeli sebagian ladang Roni untuk dia kelola juga bersama. Sepertinya memang dari dulu papanya Liona sudah sangat tertarik dan jatuh cinta dengan alam di sana, hanya saja dia baru sekarang berkeinginan membeli sebagian ladang itu setelah mendengar putrinya juga tertarik dan suka sekali dengan suasananya. Hari ini adalah hari di mana hasil panen dilihat. Di sini juga Ali bisa melihat hasil kerja kerasnya dalam menanggulangi ladang bisnis sang papa, dan setelah dia melihat hasilnya — di mana hasilnya jauh lebih meningkat dari hasil panen sebelumnya — Ali tentunya sangat bahagia, karena dari sini dia bisa melihat kalau dia telah berhasil. Awal y
Siang itu terlihat Liona sedang menikmati tehnya di depan rumah yang disiapkan oleh Ali untuknya beristirahat. Dia menyeruput tehnya sembari menatap pemandangan di depannya. Iya, kebetulan rumah itu berhadapan langsung dengan sawah yang luas, bahkan di ujung sawahnya Liona dapat melihat bukit yang hijau dan indah di sana."Suasana di sini sangat indah, cuacanya cukup sejuk ditambah dengan angin sepoy-sepoy," ujarnya sambil menyeruput teh di cangkir yang berada di tangannya.Tetapi tiba-tiba dari rumah seberang dia mendengar suara tangis bayi yang begitu kencang. Iya, itu berasal dari rumah yang ditempati Ali, dan yang menangis tentunya putri Ali, Elina."Ada suara bayi menangis, bayi siapa ya?" gumamnya. Tepat saat itu seorang pria keluar dengan menggendong Elina, dan pria itu bukan Ali melainkan bawahan Ali yang disuruh menjaga Elina sementara dia masih sibuk melihat pekerjaan di gudang."Pak, bayinya kenapa?" tanya Liona."Ah, ini agak sedikit rewel padahal sudah dikasih susu tapi g
Aku senang kamu baik-baik saja. Tahu tidak, hampir setiap malam aku gak bisa tidur memikirkan kondisimu di sini. Kalau gak percaya, tanya saja Maria. Susah lama aku ingin datang berkunjung, hanya saja baru sekarang bisa sempat. Aku juga sering mengobrol dengan Kak Bara soalmu, dia juga sangat mengkhawatirkanmu. Awalnya dia ingin ikut datang bersama kami, tapi Kak Bara terlalu banyak urusan di perusahaan membuatnya tidak bisa datang. Ali, kapan kamu akan kembali ke Jakarta dan tinggal bersama kami? Ayolah, kita tinggal bersama, oke? Aku gak bisa terus-terusan jauh darimu seperti ini," ujar Xyro. Iya, dia memang selalu mengkhawatirkan Ali. Dia sangat takut terjadi sesuatu dengan Ali."Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja kok. Untuk sekarang aku belum bisa balik ke Jakarta. Aku masih pengen belajar mandiri. Usaha di sini benar-benar mengajarkanku banyak. Mungkin setelah panen aku bisa kembali ke Jakarta," ungkap Ali."Ya, aku dengar dari Papa bisnis di sini kamu
Hari demi hari pun berlalu, semenjak kepergian Sasa hidup Ali sudah tidak seceria dulu. Kesedihannya atas kepergian Sasa pun mulai membaik. Itu dia lakukan demi sang buah hati yang dia beri nama Elina. Hari-harinya juga dihabiskan terus bersama sang buah hati. Bagi Ali, Sasa masih hidup, dan Sasa berada dalam diri Elina.“Ma, Pa... Ali kayaknya mau tinggal di kampung di tempat nenek,” kata Ali tiba-tiba memberitahu papa dan mamanya kalau dia ingin hidup di kampung, tinggal bersama kakek dan neneknya di sana.Awalnya Ayu tidak setuju karena Ayu tahu betul sifat orang tuanya yang sama sekali tidak berubah dari dulu, tetapi Roni mencoba meyakinkan, “Gak papa, Ayu. Mungkin dengan di sana Ali bisa lebih tenang lagi,” kata Roni sampai akhirnya Ayu pun setuju bahwa Ali pindah ke kampung dan tinggal di sana.Hari itu juga, dengan membawa sang buah hati Elina, Ali pergi ke kampung orang tuanya untuk tinggal di sana, berharap dengan suasana di sana dia lebih tenang dan bisa melupakan kenangan i
Singkat waktu, perusahaan Roni pun kembali seperti semula bahkan lebih maju dari sebelumnya setelah Roni benar-benar fokus mengembangkannya, karena tak ada lagi hambatan seperti sebelumnya. Bara juga sudah mulai membangun perusahaannya sendiri atas bantuan sang papa, dan juga mulai mengembangkan perusahaan peninggalan Tuan Kim dengan rencana bersama dengan papanya.Sementara Maria, dia juga sama seperti Bara. Dia membuat perusahaan untuk masa depannya bersama Xyro dan anak-anak mereka dengan sangat serius. Walaupun dirinya sedang dalam keadaan hamil, kerja keras dan pantang menyerah membuatnya benar-benar sangat dikagumi oleh keluarga. Di sini Xyro benar-benar beruntung bisa memiliki sosok istri seperti Maria, yang jiwa bisnisnya begitu tinggi turun dari ayahnya, Tuan Donlad.Lihatlah, hanya butuh waktu dua minggu saja semuanya sudah berjalan lancar dengan perubahan-perubahan yang begitu besar. Itu semua berkat kerja keras mereka yang memiliki satu tujuan, yaitu berkembang dan terus b
Beberapa hari pun berlalu, keadaan Roni mulai membaik, membuat istri-istrinya ikut bahagia. Sedangkan untuk Bara, saat ini dia dan Lola sedang dalam perjalanan bulan madu ke Jepang. Awalnya mereka berencana ke Prancis dan Jerman, namun diubah atas kemauan Lola.Hanya mereka berdua yang pergi. Sera
Saat hari sudah mau malam, barulah Roni dan yang lainnya tiba di rumah mereka. Mobil yang membawa mereka memasuki gerbang rumah itu dan berparkir di sana."Kita sudah sampai," ujar Bara."Serius ini rumah kamu?" tanya Lola."Iya, ini rumah aku dan akan menjadi rumah kamu juga," jawab Bara.Lola tid
Tidak lama setelah Xyro keluar, papa mereka masuk ke dalam kamar itu."Ali, bagaimana kondisimu? Udah baikan, kan?" tanya Roni kepada putranya."Iya, Pah, sudah mendingan," jawab Ali."Baguslah kalau begitu. Oh ya, tadi Xyro bilang kamu mau bicara sama Papa, mau ngomongin apa ya, makanya Papa masuk
Keesokan harinya, Roni pun berangkat ke Surabaya dengan berbekal tekad demi bisa menemui Mbak Maya. Saat baru turun dari pesawat di Bandara Internasional Juanda, Roni mulai bingung ke mana ia harus pergi. Ia mencoba mencari nama-nama kampung di Google, tetapi jumlahnya sangat banyak. Tidak mungkin







