Se connecterSetelah berbicara dengan kedua putranya, Roni melangkah menuju kamar di mana Meli berada. Saat membuka pintu kamar, Roni melihat Meli sedang duduk merenung di atas tempat tidur. Melihat itu, Roni mendekatinya, lalu duduk di sampingnya."Sayang, ada apa lagi? Kenapa masih melamun?" tanya Roni.Meli langsung bersandar di dalam pelukan Roni. "Gak tahu kenapa, aku merasa kalau aku hanya beban di sini, Roni. Melihat keluargamu yang begitu bahagia membuatku menjadi tidak enak kalau terus berada di sini," ungkap Meli. Ya, memang itulah yang dia rasakan sekarang. Selain malu, dia juga merasa kalau dirinya tak pantas berada di dalam lingkungan seperti ini."Sayang, coba tatap mataku. Kamu mencintaiku, kan?" kata Roni sambil menyentuh dagu Meli agar menatapnya."Tentu saja aku sangat mencintaimu, hanya saja..." jawabnya sambil menundukkan kepala kembali."Dan aku juga sangat mencintaimu. Begini, sayang, aku tahu ini berat untukmu karena bagaimanapun lingkungan tempat kita berada sekarang berbed
"Bang... bangun bang..." panggil Ayu mengguncang badan Roni untuk membangunkannya."Ah iya sayang, ada apa?" tanya Roni sembari terbangun dari tidurnya."Itu makan malam sudah siap, Mbak Maya memintaku membangunkan abang," kata Ayu, sementara Alia masih tertidur di samping papanya sembari mengemut jari tangannya."Iya sayang, wah Alia kayaknya ketiduran juga. Abang tadi ketiduran saat menemaninya bermain, ternyata dia juga ikut tertidur," kata Roni saat melihat putri kecilnya sedang tidur di dekatnya. Ayu hanya tersenyum."Kamu keluar duluan ya, nanti aku susul, aku mandi sebentar," ucap Roni sembari melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar Ayu. Iya, setiap kamar istrinya masing-masing ada kamar mandinya, jadi gak perlu susah-susah ngantri kalau pengen mandi."Baiklah bang kalau begitu.""Kamu mau ikut gak?" kata Roni, sempat-sempatnya dia menggoda."Ayu udah mandi tadi, besok pagi aja sekalian keramas," balas Ayu sambil mengedipkan mata, sembari memberikan kode kepada Ron
“Siapa juga yang malu, aku... ee... aku sibuk aja, iya aku sibuk aja makanya belum ada waktu buat bertemu,” ucap Maria mencoba beralasan.“Oh, begitu ya? Saking sibuknya sampai gak nyisain waktu buat ngenalin diri ke mertua sendiri, haha. Iya-iya, itu ide bagus buat beralasan,” kata Roni.“Ayolah, Paman lagian apa lagi yang perlu di perkenalkan paman kan sudah mengenalku.""Iya tapi kan saya gak tahu kalo kamu yang menjadi menantu saya, nama maria kan banyak," kata roni." Aku tahu Paman juga tahu alasanku. Ah, sial, kalau tahu masa depan bakalan begini, nyesel banget aku dulu,” akhirnya Maria pun mengakui kalau dirinya memang malu bertemu, mengingat dia yang dulu sangat bersikeras sekali untuk dinikahi oleh Roni.“Haha... tapi gak apa-apa kan, gak dapet papanya, anaknya pun jadi, haha. Lagian, suami orang disukai, jadi begini kan,” canda Roni sambil tertawa mengejeknya, membuat wajah Maria jadi memerah.“Sudah ya, Paman, jangan mengejekku. Awas saja nanti kalau Paman nyesel gak jadii
Diperlihatkan di mana Roni tiba di perusahaan milik Marjuki. Ya, Roni tahu sekali tempatnya karena memang mereka pernah bekerja sama dulu sebelum Marjuki memutus kontrak kerja sama saat mengira Roni telah meninggal dalam kecelakaan pesawat. Jadi dia adalah salah satu pebisnis yang meninggalkan perusahaan Roni saat perusahaan jatuh karena tidak ada pemimpin tegas dan cerdas seperti Roni.Saat melihat kedatangan Roni, security di sana sangat terkejut. dia mengira bahwa yang datang adalah bukan Roni."Hai, lihat! Bukankah itu Tuan Roni? Serius itu dia, bukankah dia dikabarkan sudah meninggal?" katanya sambil menyenggol pundak temannya."Sepertinya bukan, mungkin mirip saja, gak mungkin orang mati hidup lagi," ucap temannya."Iya juga ya, tapi kok dari paras dan karismanya mirip sekali ya?""Alah, mirip saja itu," kata temannya tidak percaya.Roni melewati mereka dan langsung masuk. Dia langsung menuju lift untuk naik ke lantai atas di mana kantor Marjuki berada. Tepat saat Roni melewati
Mbak Maya dengan menggendong Arga keluar dari kamar untuk segera membuat sarapan. Tapi saat ia ke dapur, dia terkejut ketika melihat ibunya sudah di sana.“Mama… kok mama di sini? Mama kan belum sembuh, ayo cepat kembali ke kamar,” kata Mbak Maya dengan nada khawatir.“Ndak kok sayang, mama sudah baikan sekarang. Ini mama tadi buatkan sarapan buat kita,” ujar mamanya.“Tapi ma, wajah mama masih kelihatan pucat itu. Pokoknya mama nggak boleh ngapa-ngapain dulu sebelum sembuh.”“Sayang… mama baik-baik saja kok, ini mama karena kurang tidur aja. Semalam nggak bisa tidur karena ada suara berisik,” kata mamanya.Seketika wajah Mbak Maya merah merona, karena pasti yang dimaksud mamanya adalah suaranya sendiri yang mengerang semalam begitu berisik.“Maaf ma, semalam…”“Sudah nggak apa-apa, mama mengerti kok. Itu juga sudah wajar setelah sekian lama kalian tidak bertemu,” kata mamanya memaklumi, membuat wajah imut Mbak Maya semakin memerah karena malu.“Ooaaawwmmm…” terdengar suara Roni mengu
Sore harinya, Mbak Maya mengajak Lia pergi untuk berbelanja membeli bahan makanan buat nanti malam dan besok pagi. Sekalian dia membeli perlengkapan bayinya berupa popok dan sebagainya, sementara Roni diam di rumah untuk menjaga putra kecilnya, Arga.“Tapi kalau dia nangis minta susu gimana?” tanya Roni, ragu menjaga anaknya sendiri.“Tenang saja, dia baru saja selesai aku kasih. Aku gak lama kok. Kalau nangis berarti kamu yang gak pandai menjaga anakmu,” kata Mbak Maya, lalu pergi bersama Lia menggunakan mobil pribadinya.“Hai sayang, kamu harus bekerja sama ya sama Papa. Gak boleh nangis. Kalau kamu nangis, Mama pasti marah sama Papa. Jadi harus bekerja sama dengan Papa, ya. Oh iya, satu lagi, jangan dikit-dikit minta ASI dong, harus bisa berbagi sama Papamu ini. Harus adil ya, kamu kira Papa gak pengen juga, hehe…” ucap Roni seakan berbicara dengan anaknya yang masih bayi. Saat itu juga, Arga langsung menangis.“Eh… malah nangis. Jangan nangis dong,” Roni langsung panik. Iya, Roni







