LOGINKayra berjalan cepat ke arah Celine. Tatapannya tajam.“Jangan panggil aku seperti itu!”Suara Kayra menggema di seluruh ruangan. Semua staf langsung saling pandang.Vita menatap Celine dengan bingung. “Ada apa ini?”Kayra berhenti tepat di depan Celine. Tatapannya penuh kemarahan.“Jadi selama ini kamu yang sudah menyakiti Mamaku?”Celine mengerutkan dahi.“Apa maksudmu, Kay?”Kayra tertawa sinis.“Apa kamu beneran mau pura-pura nggak tahu, Celine?!”Celine benar-benar tidak mengerti.“Kay, aku nggak paham—”“Jangan pura-pura!”Suara Kayra meninggi. Ia menunjuk langsung ke wajah Celine.“Kamu yang membuat Mamaku jadi cacat seperti ini?!”Seluruh ruangan langsung gempar.Vita membelalak. “Apa?!”Beberapa staf mulai berbisik satu sama lain. Celine sendiri terlihat benar-benar terkejut.“Kay… apa yang kamu omongin?” tanya bingung.Kayra menatap Celine dengan mata penuh amarah.“Berhenti berpura-pura!”Ia menunjuk ke arah ibunya. “Kamu pikir aku tidak tahu? Mamaku cacat seperti ini gara-
Amira menatap lurus ke mata putrinya.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Orang itu adalah… sahabatmu sendiri, Nak.”Kayra membeku.“…Apa?”Amira tetap menatap putrinya tanpa berkedip.“Celine.”Mata Kayra langsung membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.“Ma… apa Mama serius?”Namun sebelum Amira sempat menjawab, tiba-tiba terdengar tawa pendek dari arah meja kerja.Aldean.Pria itu terkekeh pelan. Bukan tawa keras, hanya satu hembusan tawa singkat yang terdengar begitu dingin di ruangan yang penuh ketegangan itu. Kayra langsung menoleh tajam.“Papa ketawa?”Aldean bersandar santai di kursinya. Tatapannya datar, hampir malas.“Menarik saja,” jawabnya ringan.Kayra semakin emosi.“Menarik?” ulangnya tak percaya. “Pa, Mama baru saja bilang Celine yang bertanggung jawab atas semua ini!”Aldean hanya mengangkat alis tipis.“Lalu?”Jawaban santai dari ayahnya itu justru membuat Kayra semakin marah.“Papa masih membela dia?” desaknya.Ald
Sementara itu, di ruang kerja Aldean, suasana terasa jauh lebih tegang.Kayra berdiri di depan meja kerja besar itu, menatap ayahnya dengan emosi yang sulit ia sembunyikan. “Papa sadar, kan? Celine itu sahabat aku,” ucap Kayra dengan suara cukup keras. Aldean tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri tenang di balik meja kerjanya, menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Papa sadar, Kay,” jawabnya pelan. “Kalau sadar, kenapa Papa masih melanjutkan hubungan itu?” desak Kayra. “Papa nggak mikir gimana perasaan aku? Gimana perasaan Mama?” Aldean tetap diam di tempatnya. Tak ada gerakan yang menunjukkan ia tersinggung atau marah. Justru ketenangannya itu yang membuat Kayra semakin kesal.“Papa,” lanjut Kayra, suaranya mulai bergetar, “aku datang ke sini bukan buat ribut. Aku cuma mau Papa berhenti.”Aldean mengangkat alis tipis.“Berhenti?”“Ya. Putusin Celine.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kayra. “Dan kembali ke Mama.”Sunyi menyelimuti ruangan. Kayra
Beberapa detik berlalu, dan Amira masih terdiam.Evan akhirnya berdehem pelan, lalu bertanya, “Nyonya… Anda baik-baik saja?”Kesadaran Amira kembali seketika. Ia tersenyum tipis, seolah tidak terjadi apa-apa.“Ya, Van. Aku baik-baik saja. Memangnya menurutmu bagaimana?”“Ah—maaf, Nyonya.” Evan sedikit menundukkan kepala. “Saya hanya melihat wajah Anda agak pucat. Saya khawatir Anda merasa tidak enak badan.”Amira kembali tersenyum tipis.“Oh iya, Nyonya,” lanjut Evan dengan nada tetap tenang. “Anda belum menjawab pertanyaan saya tadi.”Amira terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara.“Begini ya, Van. Kadang masa lalu tidak selalu selesai dengan baik.”Evan tidak menyela. Ia hanya menunggu. Sementara Amira, menyandarkan punggungnya sedikit pada kursi roda.“Dia pernah menjadi rekan bisnis lama. Ada urusan yang tidak berjalan sesuai keinginannya.” Ia mengangkat bahu kecil. “Beberapa orang terlalu lama menyimpan sakit hati.”Nada bicaranya ringan. Hampir seperti sedang membicarakan sesu
Evan terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya dengan hati-hati, “Tuan… apa Anda yakin?”Aldean mengunci tatapannya pada Evan.“Aku tidak mengambil langkah setengah-setengah, Van.”Evan langsung menangkap maksud itu. Keraguan yang sempat muncul di wajahnya pun menghilang seketika. Ia pun mengangguk mantap.“Baik, Tuan.”Aldean tidak menambahkan sepatah kata pun. Evan tahu, hari ini bukan hari biasa. Ia berbalik dan keluar dari ruangan untuk menjalankan perintah tuannya.Klik.Pintu tertutup pelan di belakangnya. Suasana kembali hening.Aldean tidak bergerak untuk beberapa saat, tetap berdiri di tempat yang sama, menatap layar laptop yang masih menyala. Matanya menatap benda itu dalam hening, lalu ia menarik napas pelan.“Sudah terlalu lama,” gumamnya rendah. Bukan dengan nada marah, tapi lebih seperti seseorang yang akhirnya memutuskan menutup sebuah bab...Ting.Lift berhenti di lantai eksekutif dengan bunyi pelan. Pintu terbuka perlahan, Kayra melangkah keluar lebih dulu, kemudian
Nama Papa masih terpampang di layar saat panggilan akhirnya tersambung.“Halo, Kay,” suara Aldean terdengar tenang, dalam, dan terukur seperti biasanya.Kayra menelan ludah. “Papa…”“Ada apa, Nak?” tanyanya lembut.Kayra melirik Amira sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan.“Papa lagi di kantor?”“Hm.” Ada jeda singkat di seberang. “Iya. Kenapa?”“Aku mau ketemu Papa. Sekarang.”Hening beberapa detik. Tidak lama, tapi cukup membuat jantung Kayra berdetak lebih kencang.“Sekarang?” ulang Aldean pelan.“Iya. Ada yang mau aku omongin.”Di seberang sana terdengar embusan napas tipis. Bukan kaget, juga bukan keberatan. Lebih seperti seseorang yang memang sudah menunggu panggilan itu datang.“Kamu sama Mamamu?” tanya Aldean tiba-tiba.Kayra terdiam sejenak. “Iya.”Ada jeda lagi di seberang. Kali ini, sunyi itu lebih dalam.“Baik,” jawab Aldean akhirnya. Suaranya tetap stabil. “Papa tunggu di kantor.”Sesederhana itu. Tanpa bantahan. Tanpa pertanyaan lanjutan. Dan justru itulah yang me
Maya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.“Aku… pernah dengar,” katanya pelan. “Bukan dari dia langsung. Tapi waktu itu Surya ngobrol sama orang kepercayaannya.”Evan tidak menyela. Tatapannya tenang, tapi menekan.“Dia nggak nyebut nama tempat,” lanjut Maya. “Cuma… sebuah pulau.”Alis Evan
Malam menelan jalanan di depan matanya. Surya menggenggam setir dengan kedua tangan, terlalu erat. Mobil melaju kencang di jalan sepi, jauh melampaui batas wajar, tapi dia tak peduli. Dadanya naik turun, napasnya pendek dan tak beraturan. Aldean sudah mengetahui semuanya. Dan sekarang dia sudah
Aldean terdiam. Ia berdiri dan duduk di tepi ranjang Kayra, tidak mendekat terlalu jauh, menjaga jarak yang aman, seolah tahu satu sentuhan saja bisa meruntuhkan pertahanan putrinya. “Kay, Papa nggak pernah milih Celine buat nyakitin kamu,” kata Aldean akhirnya, suaranya rendah dan jujur. “Pap
Pagi itu, cahaya matahari menyusup lewat celah tirai kamar.Celine mengerjap pelan, lalu mengeliat, namun tiba-tiba membeku saat merasakan lengan kuat melingkari pinggangnya. Hangat dan terlalu nyata untuk sebuah mimpi.“Hah—” Ia mendongak cepat.“O-Om Dean?!” suaranya spontan meninggi.Aldean yang







