Share

BAB. 210

last update publish date: 2026-06-04 23:55:06

“Dok! Pasien flatline! Nadi karotis tidak teraba, napas spontan negatif!” teriak perawat yang memegang pergelangan tangan Kayra, wajahnya memucat.

Atmosfer di dalam ruangan seketika mendingin, ketegangan naik ke titik tertinggi.

“Ambil alih! Lakukan CPR sekarang!” seru Dokter tanpa membuang waktu satu detik pun.

Seorang perawat pria segera naik ke atas tumpuan di samping brankar. Kedua telapak tangannya menekan kuat di atas dada Kayra, mulai melakukan kompresi dada dengan ritme yang cepat dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sttt! Ini Rahasia Kita, Om   BAB. 268

    Aldean merengkuh tubuh Celine yang bergetar hebat, mendekap istrinya erat-erat dalam pelukan pelindungnya. Ia lalu mengalihkan perhatian kembali kepada wanita pemilik rumah, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meski rahangnya mengeras menahan amarah atas kekecewaan yang harus ditanggung istrinya.“Terima kasih banyak atas informasinya, Bu. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat Anda,” ucap Aldean dengan sopan, meski sorot matanya menyiratkan ketegasan.“Iya, Nak. Sama-sama. Saya turut prihatin, ya. Semoga lekas ketemu jalan keluarnya,” balas wanita itu penuh iba sebelum akhirnya perlahan menutup pintu kayu rumah tersebut.Di samping mereka, Evan berdiri dengan postur kaku, raut wajah asisten kepercayaan itu tampak bersalah. Ia menunduk dalam-dalam.​“Maafkan saya, Tuan... Tim investigasi kami kecolongan. Kami hanya melacak alamat rumah tanpa memeriksa riwayat mutasi kepemilikan properti ini dalam kurun waktu enam tahun terakhir,” sesal Evan dengan suara berat.​Aldean menggelen

  • Sttt! Ini Rahasia Kita, Om   BAB. 267

    Hampir tiga jam lamanya iring-iringan SUV hitam itu membelah jalanan antarkota, melewati kontur jalan yang makin lama makin sunyi, hingga akhirnya memasuki sebuah perumahan pinggir kota yang tenang dan asri.​Di dalam mobil, jantung Celine berdegup kencang tak karuan. Telapak tangannya terasa dingin, sementara jemarinya terus meremas ujung gaunnya erat-erat. Ada gejolak rindu, gugup, dan rasa tidak sabar yang bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya.Tinggal beberapa menit lagi... sebentar lagi ia akan memeluk sosok ayah kandung yang puluhan tahun dirindukannya.​Cittt...!​Mobil SUV itu akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah berpagar hitam dengan halaman yang cukup rapi. Di seberang jalan, dua mobil pengawal terparkir menjaga jarak agar tidak mencolok.​Aldean langsung menoleh ke arah Celine, mengulas senyum menenangkan seraya menggenggam jemari sang istri yang gemetar.“Kita sudah sampai, Sayang. Tarik napas dulu...” ucapnya dengan nada lembut.​Celine mengangguk pelan,

  • Sttt! Ini Rahasia Kita, Om   BAB. 266

    Malam semakin larut. Suasana kamar utama di kediaman Aldean begitu hening dan tenang. Cahaya lampu tidur yang hangat memancar temaram, menyinari paras cantik Celine yang sudah terlelap pulas di atas ranjang king size. Wajahnya nampak begitu damai setelah seharian terkuras emosi.​Di sudut ruangan, Aldean masih duduk di depan meja kerjanya. Laptop berlayar terang menyala di hadapannya, namun fokus pria itu terpecah ketika ponsel di samping laptopnya bergetar halus di atas permukaan kayu.​Ponsel menyala, nama 'Evan' tertera di layar.​Aldean dengan cepat meraih ponsel itu, melirik ke arah Celine memastikan getarannya tidak mengganggu tidur nyenyak sang istri. Ia lalu menggeser tombol hijau dan menempelkannya di telinga.​“Bagaimana, Evan?” bisik Aldean rendah, suaranya tenang namun sarat akan penekanan.​“Selamat malam, Tuan Aldean. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda,” suara Evan terdengar jernih dari seberang telepon. “Tim kami baru saja berhasil menemukan lokasi tempat tinggal past

  • Sttt! Ini Rahasia Kita, Om   BAB. 265

    Pintu SUV hitam mewah itu tertutup rapat, mengisolasi Aldean dan Celine dari hawa panas area parkir VIP pengadilan. Belum sempat Aldean menyalakan mesin, sebuah suara riang dari jok belakang langsung menyambut kedatangan mereka. ​“Pa... Cel... urusan di dalam tadi beneran udah beres semua, kan?” tanya Kayra penuh penasaran, mencondongkan tubuhnya ke celah antara dua kursi depan. ​Aldean memutar tubuhnya sedikit ke belakang, menatap putrinya seraya mengulas senyum tipis yang lega. “Sudah, Nak. Semuanya sudah selesai.” ​“Yesss! Akhirnya! Kita bisa makan enak sekarang!” seru Kayra lega setengah mati, mengepalkan tangannya di udara. ​Gadis itu lalu mengalihkan pandangannya penuh pada Celine yang duduk di kursi penumpang depan. Tatapan Kayra yang jeli memperhatikan lekat-lekat paras ibu sambungnya itu. Senyum di bibirnya perlahan makin mengembang saat menyadari perubahan aura di wajah Celine—tidak ada lagi raut tegang atau bayangan ketakutan. Wajah Celine kini tampak jauh lebih sumr

  • Sttt! Ini Rahasia Kita, Om   BAB. 264

    Keheningan menyelimuti ruangan itu, namun gaung pengakuan Surya masih terus memukul dinding kesadaran Celine, membuat tubuhnya membeku di tempatnya berdiri. Napasnya kembang-kempis, sementara jemari lentiknya yang gemetar hebat meremas selembar kertas kusam dalam genggamannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh satu per satu, menetes membasahi pipinya.Melihat istrinya yang tampak begitu rapuh dan terguncang, Aldean tak membuang waktu satu detik pun. Pria itu segera mengikis jarak, merengkuh tubuh Celine ke dalam pelukan hangat. Ia melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling tubuh Celine, menenggelamkan kepala istrinya di dada bidangnya yang berdetak tenang dan menenangkan.“Mas...” suara Celine pecah di balik dada Aldean, terisak pelan dengan nada parau. “Jadi... Papa kandungku masih hidup? Dia disingkirkan... cuma karena dia miskin dan demi menutupi aib keluarga?”Aldean memejamkan mata rapat-rapat, mengeratkan pelukannya seolah tak ingin membiarkan satu titik pun

  • Sttt! Ini Rahasia Kita, Om   BAB. 263

    Dua orang Petugas Pengawal Tahanan berseragam rapi melangkah masuk, mengawal Surya dengan kedua tangan yang terborgol di depan. Pria paruh baya itu sebelumnya telah memohon pada petugas agar diberi waktu satu menit saja untuk bicara pada Celine sebelum dipindahkan ke sel tahanan sementara.“Permisi...” ujar salah satu petugas sopan. “Ada yang ingin bertemu dengan Nona Celine sebentar.”Petugas itu memberi isyarat. Surya mengangguk pelan, lalu melangkah ragu mendekati Celine dan Aldean yang berdiri berdampingan. Dua petugas pengawal tetap berada di belakangnya, memastikan jarak aman.Melihat kehadiran Surya, raut wajah Aldean seketika berubah dingin dan protektif. Pria itu langsung meletakkan satu tangannya di pinggang Celine, membentengi posisi istrinya.“Mau apa lagi kamu?” tegur Aldean tajam dan menekan.Surya tidak menatap Aldean. Matanya yang sembap dan memerah berfokus penuh pada Celine. Dengan tangan terborgol yang bergetar hebat, Surya merogoh saku rompi tahanannya, lalu mengel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status