Home / Romansa / Ah! Sentuh Aku Lagi, Om / Firasat Dari Masa Lalu

Share

Firasat Dari Masa Lalu

last update Last Updated: 2025-11-04 14:52:35

Celine berdiri diam di tempat. Pipinya masih panas, bekas tamparan ibu tirinya terasa perih hingga menjalar ke dadanya. Pandangannya buram oleh air mata yang akhirnya tak sanggup lagi ia tahan.

Begitu langkah ayahnya menghilang di balik koridor, keheningan itu berubah menjadi lebih dingin, lebih kejam, dan semakin menyesakkan dada.

“Lihat tuh,” suara Maya terdengar lagi, penuh kepuasan. “Gadis sepertimu memang pantas diperlakukan begitu. Kalau kamu nggak terus bikin masalah, aku nggak bakal begini sama kamu.”

Celine menunduk, bahunya gemetar. “Aku... nggak maksud bikin masalah, Ma—”

“Berhenti panggil aku Mama!” potong Maya cepat, suaranya setajam pisau “Kamu bukan anakku. Dan aku nggak pernah anggap kamu bagian dari keluarga ini.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tamparan barusan. Celine memejamkan mata, menahan air mata yang makin deras mengalir.

Sementara itu, Sasha melangkah mendekat, pura-pura lembut menyentuh bahu ibunya. “Sudahlah, Ma… jangan terlalu keras.”

Lalu ia menatap Celine, bibirnya terangkat sinis. “Lagipula buat apa dimarahi terus? Dia kan emang nggak punya harga diri dari sananya.”

Tawa kecil Sasha menggema di ruangan itu, pelan namun menusuk.

Celine memejamkan mata, ingin bicara, ingin melawan—tapi tenggorokannya seperti terkunci. Ia hanya berdiri di sana, menunduk dalam, menggigit bibir sampai nyaris berdarah.

Maya menarik napas dalam, lalu duduk di sofa. Matanya menatap Celine dengan dingin. “Sudahlah, jangan nangis lagi. Aku nggak akan luluh cuma karena air mata murahanmu itu. Sekarang, tuangkan teh untuk aku dan kakakmu.”

Dengan tangan gemetar, Celine menuruti. Ia melangkah pelan menuju meja, menuang teh dari teko porselen. Asap hangat menari di udara, kontras dengan dinginnya suasana ruangan itu.

Begitu selesai, ia menyerahkan cangkir itu dengan dua tangan. Namun, detik berikutnya—

PRANG!

Cangkir itu terlepas dari tangan Maya, menghantam lantai marmer dan pecah berantakan. Cairan panas tumpah mengenai tangan Celine, membuatnya tersentak kecil menahan perih.

Itu sengaja. Celine tahu betul itu sengaja.

“Dasar anak nggak berguna! Lihat apa yang kamu lakukan!” bentak Maya.

Celine buru-buru menggeleng, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku... nggak sengaja, Ma. Cangkirnya tadi—”

“Diam!” potong Maya cepat, nadanya meninggi. “Udah bikin lantai kotor, masih berani membantah juga?! Bersihkan sekarang!”

Celine menelan ludah, langkahnya goyah. “Aku... ambil sapu dulu, Ma.”

“Nggak perlu! Bersihkan langsung pakai tanganmu!”

“Tapi, Ma—”

“Nggak ada tapi! Bersihkan sekarang!”

Napas Celine tercekat. Ia tahu percuma melawan. Maka perlahan, ia berlutut di lantai. Jemarinya gemetar saat memunguti pecahan porselen satu per satu. Beberapa serpihan kecil menusuk kulitnya, meninggalkan garis merah dan perih yang membuat dadanya semakin sesak.

Namun, Celine tetap diam. Tak ada keluhan, tak ada air mata—hanya isak yang tertahan dalam tenggorokannya.

Sasha yang duduk di samping ibunya menatap Celine dengan tatapan puas. “Ma, jangan disuruh bersihin pakai tangan gitu, dong,” ujarnya ringan, pura-pura prihatin. “Kasihan nanti tangannya lecet. Eh, tapi ya… mungkin dia udah biasa, kerja kasar.”

Maya tertawa kecil, dingin. “Biarin aja. Setidaknya kali ini dia bisa ngelakuin sesuatu yang berguna.”

Celine berhenti sejenak. Air matanya jatuh, menetes di antara pecahan porselen yang memantulkan wajahnya—wajah pucat, rapuh, dan nyaris tanpa harapan.

Suara tawa Maya dan Sasha kembali terdengar, lembut namun lebih menyakitkan daripada jeritan.

Dan di tengah semua itu, Celine berbisik pada dirinya sendiri agar tetap kuat—meski sebenarnya ia tahu, kekuatannya hampir habis.

.

.

Celine masih berlutut di lantai, memunguti pecahan cangkir satu per satu. Punggung tangannya sudah memerah karena air panas, sementara jemarinya berdarah akibat serpihan porselen. Tapi ia tetap menunduk, menahan perih dan gemetar yang menjalar hingga ke siku.

Di atas sofa, Maya dan Shasa tetap duduk santai, seolah keberadaan Celine hanyalah bayangan tak berarti.

“Ma,” suara Shasa lirih, tapi cukup jelas terdengar di telinga Celine. “Sejak kemarin kepalaku nggak tenang. Mantan suamiku terus nelpon, minta ketemu. Katanya nyesel… pengin rujuk.”

Nada Sasha terdengar getir, tapi juga menyimpan harapan kecil.

Maya menoleh pelan, bibirnya terangkat dingin. “Sudahlah, Sha. Laki-laki kayak dia nggak pantas dikasih kesempatan kedua. Kalau memang nyesel, dia nggak bakal selingkuh waktu itu, kan?”

Shasa menunduk, tapi tetap mencoba membela. “Tapi, Ma—”

“Udah,” potong Maya cepat. “Jangan bodoh. Pria yang udah ninggalin kamu sekali, bisa ngelakuin hal yang sama untuk kedua kalinya.” Suaranya tajam, lalu melunak sesaat kemudian. “Mending kamu fokus ke hal yang lebih berharga. Hari ini Papa ada rapat penting sama CEO dari Aldevra Group. Kamu ikut aja temani.”

Shasa mengangkat wajahnya cepat. “Aldevra Group? Yang perusahaan besar itu?”

“Iya.” Senyum tipis muncul di wajah Maya. “Katanya CEO-nya duda, anak satu. Masih muda, sukses, dan mapan. Tipe pria yang ideal banget buat kamu.”

Di sisi lain, Celine berhenti memungut pecahan kaca. Gerakan tangannya terhenti di udara, napasnya nyangkut di tenggorokan.

Aldevra Group? Nama itu… terasa tak asing di telinganya.

Shasa menatap ibunya ragu. “Maksud Mama, aku harus—”

“—menarik perhatiannya.” Maya menyelesaikan kalimat itu dengan tenang, hampir tanpa ekspresi. “Kamu cantik, pintar, dan tahu cara bermain peran. Gunakan itu. Kalau kamu bisa dekat dengan dia, posisi kita akan lebih kuat.”

Senyum tipis dan licik perlahan merekah di bibir Shasa. “Baiklah, Ma. Sepertinya itu ide yang menarik.”

“Bagus, Nak.” Maya menepuk tangan Shasa lembut. “Jangan buang waktu untuk masa lalu. Fokuslah pada masa depan yang bisa menjamin hidupmu.”

Tawa mereka pelan tapi menusuk.

Celine menunduk lebih dalam, sibuk memungut serpihan cangkir yang tersisa. Tapi entah kenapa, dadanya bergetar dan pikirannya dipenuhi tanda tanya.

CEO Aldevra Group. Duda. Satu anak.

Entah mengapa, tiga kata itu terus berputar di kepalanya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat tanpa ia mengerti alasan pastinya.

Setelah membersihkan semua pecahan, Celine berdiri perlahan. Jemarinya yang sempat terluka kini memerah, tapi ia tidak peduli. Napasnya berat, bahunya terasa lelah.

Tanpa sepatah kata, ia melangkah menuju kamarnya. Langkahnya pelan, menapak di lantai marmer yang dingin.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, keheningan langsung menyelimuti ruangan itu. Kamar kecil di ujung lorong—satu-satunya tempat yang mampu memberinya ketenangan… meski hanya sesaat.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap satu-satunya foto yang tersisa di atas meja kecil. Wajah lembut seorang wanita dengan senyum yang selalu menenangkan, ibunya.

“Ma…” suaranya bergetar. Ia meraih bingkai itu dan menggenggamnya erat. Air mata mulai jatuh, menetes di permukaan kaca.

“Andai Mama masih ada… aku nggak akan sendirian kayak gini.”

Tangisnya pecah, pelan namun menyayat hati. Semua luka yang ia pendam di depan Maya dan Sasha tumpah begitu saja.

Ia menatap foto itu lama, seolah ingin berbicara dengan sosok di dalam bingkai. Tapi semakin lama matanya menatap, dadanya justru makin sesak.

Tiba-tiba sebuah ingatan lama menyeruak—sirene meraung, cahaya lampu ambulans, dan tubuh ibunya yang terbaring tak bernyawa di antara kaca mobil yang remuk.

Celine memejamkan mata, berusaha mengusir bayangan itu, tapi tak mampu.

Orang bilang itu kecelakaan.

Tapi... kenapa sebelum kabar kecelakaan Mama datang malam itu, Papa pulang dengan wajah tegang, tangan gemetar, dan setitik noda darah di lengan kemejanya?

Kenapa sejak hari itu, setiap kali nama Mama disebut, Papa selalu tersulut emosi—tatapannya seperti menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan?

Dan sejak Papa menikah dengan Maya, sikapnya semakin berubah… seolah ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan dariku.

Celine menggigit bibirnya pelan. Dadanya bergetar, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut dengan pikiran yang tiba-tiba muncul di benaknya.

“Apa mungkin… Mama nggak benar-benar meninggal karena kecelakaan?” bisiknya nyaris tak terdengar.

Jemarinya gemetar saat mengusap permukaan kaca itu. Tatapannya buram oleh air mata, sekaligus oleh rasa curiga yang mulai tumbuh di dalam dada.

Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu—tapi firasatnya berkata, ada sesuatu yang memang tidak beres.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Surya Kalang Kabut

    “Jangan-jangan apa?” tanya Surya rendah, tenang di permukaan tapi mematikan di dalam.Reymon menelan ludah. “Jangan-jangan… ponsel saya diambil oleh Nyonya Amira, Tuan.”“Apa?!” suara Surya meledak. “Bagaimana bisa?!”Reymon langsung menunduk. “Maaf, Tuan. Saya ceroboh. Tadi saya sempat meninggalkannya di ruang tengah. Dan… kemungkinan besar Nyonya Amira melihatnya lalu mengambilnya.”Tatapan Surya mengeras. Amarah dan kecurigaan berkilat di balik pupil gelapnya.“Cek CCTV ruang tengah,” perintahnya dingin.Belum sempat gema suaranya mereda, seorang anak buah sudah melangkah cepat dan menyerahkan tablet.“Sudah saya tarik, Tuan.”Surya mengambil tablet itu, lalu layar menyala.Rekaman CCTV menampilkan ruang tengah vila yang sepi. Sinar sore menembus jendela-jendela tinggi, jatuh tepat di atas meja tempat sebuah ponsel tergeletak.Beberapa detik kemudian, sosok Amira muncul dalam frame. Langkahnya pelan dan ragu. Matanya menyapu sekeliling sebelum mendekati meja. Jemarinya sedikit geme

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Misi

    Celine menatap Surya lama, lalu tersenyum kecil. Sebuah senyum tanpa kepanikan atau ketakutan.“Enggak,” katanya tegas.Surya mengerutkan kening. “Apa?”“Aku bilang enggak,” ulang Celine dengan suara mantap. “Aku nggak akan jual peninggalan Mama atau kebenaran ke orang serakah kayak Papa.”Senyum Surya langsung menghilang.“Aku akan cari tahu sendiri,” lanjut Celine, matanya menyala penuh tekad. “Siapa pun pelakunya… aku akan menemukannya tanpa harus mengorbankan aset Mama untuk orang yang bahkan nggak pantas nyebut namanya.”Dia melangkah mundur. Satu langkah. Dua langkah. Lalu berbalik dan berlari menuju pintu.“Berhenti!” teriak seorang anak buah.Dua tangan kasar langsung mencengkeram lengan Celine dari belakang. Tubuhnya tersentak keras.“Lepasin aku!” teriak Celine sambil meronta. “Lepasin!”Dia menendang, memberontak, berusaha melepaskan diri, tapi sia-sia.Surya hanya berdiri di tempat, menatap semuanya dengan wajah penuh kepuasan. Ia terkekeh pelan.“Kamu kira semudah itu per

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kelicikan Surya

    Celine terdiam. Namun di dalam kepalanya, sesuatu runtuh perlahan, seperti bangunan yang selama ini ia yakini kokoh, ternyata sejak awal isinya kosong.“Aku... bukan anak kandung Papa?” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya sendiri.Surya menyandarkan punggung ke kursi, jari-jarinya saling bertaut santai, seolah baru saja membicarakan hal sepele.“Iya.” Satu kata. Ringan, tanpa rasa bersalah.Celine menelan ludah. Dadanya sesak. Potongan-potongan masa lalu berhamburan di kepalanya: wajah ibunya yang selalu berusaha tersenyum, Surya yang dulu hangat tapi kini berubah dingin, tatapan yang tak lagi lembut sejak hari pemakaman itu.“Pantas…” gumamnya lirih.Surya mengangkat alis. “Pantas apa?”Celine mendongak, matanya memerah tapi tak menangis.“Pantas Papa berubah,” ucapnya pelan, lalu suaranya semakin tegas. “Pantas Papa berhenti sayang sama aku setelah Mama meninggal.”Tangannya yang sejak tadi terikat, mengepal. Kukunya menekan telapak tangan, m

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Aku Anak Kandung Papa Bukan?

    Ruang rapat tidak langsung pecah oleh suara. Justru sunyi yang jatuh berat dan penuh makna.Beberapa pasang mata saling bertemu. Evan menatap Aldean. Salah satu analis refleks menggeser kursinya lebih dekat ke meja. Tidak ada yang perlu bicara.Satu kesimpulan sudah terbentuk di kepala mereka semua.Aldean sendiri tidak bereaksi berlebihan. Tidak mengumpat atau membentak. Ia hanya mengangkat pandangannya, bertemu dengan mata Evan.Isyarat itu singkat, tapi cukup.Kepingan-kepingan itu tersusun rapi di kepala mereka: tempat penyengkapan Amira, persembunyian Surya, dan penculikan Celine.Semua itu berada dalam satu garis lurus, bertemu pada satu titik yang sama.Aldean kemudian mengalihkan fokusnya kembali ke ponsel yang tergeletak di atas meja.“Kay,” ucapnya rendah dan tenang, kontras dengan suara putrinya yang bergetar di seberang. “Tenang, Sayang. Tarik napas dulu.”“Pa, Mama disekap!” suara Kayra terdengar nyaris pecah. “Mama nelpon Kay barusan. Mama minta tolong. Mama bilang dia

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kabar Amira

    Kayra membeku.Matanya membulat, napasnya tercekat, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. Suara itu, terlalu familiar untuk bisa disangkal.“K–kay...” suara itu terdengar lagi dari seberang, lebih jelas.“Ini Mama.”Deg.Tubuh Kayra menegang seketika. Jantungnya seperti terhantam dari dalam.“...Apa?” suaranya keluar tercekat. “Mama?”“Iya, Nak,” jawab suara itu. Terdengar bergetar, menahan tangis. “Ini Mama.”Kayra bangkit dari sofa tanpa sadar. Jemarinya mencengkeram ponsel hingga memutih.“Mama ke mana aja selama tiga tahun ini?” suaranya meninggi, pecah antara marah dan luka yang dipendam terlalu lama. “Kenapa Mama nggak pernah datang? Nggak pernah jengukin Kay? Bahkan satu kali pun?”Isakan tertahan terdengar dari seberang.“Maaf, Nak…” suara Amira pecah. “Mama nggak bisa.”“Kenapa nggak bisa, Ma?” Kayra nyaris berteriak. “Kenapa?!”Hening sejenak. Lalu suara Amira terdengar lirih, hampir berbisik.“Karena Mama disekap.”Dunia Kayra seolah berhenti.“...Disekap?” ulangnya pelan,

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Suara di Ujung Telepon

    Aldean tidak langsung menjawab ucapan Kayra. Ponsel masih menempel di telinganya, tapi pandangannya kosong menembus dinding ruang rapat, seolah jarak, waktu, dan segala sesuatu di hadapannya sudah kehilangan makna. “Pa?” suara Kayra kembali terdengar dari seberang, kali ini dengan nada tidak sabar yang tertahan. “Papa masih di situ?” Aldean menarik napas dalam. “Iya, Sayang,” jawabnya akhirnya, suaranya tetap tenang seperti biasa. “Papa masih di sini.” Ada jeda singkat sebelum Aldean menambahkan, “Nanti Papa telepon lagi, ya.” Klik. Tanpa menunggu jawaban Kayra, Aldean langsung menutup panggilan. Sunyi menyelimuti ruangan. Udara seolah membeku, menekan paru-paru setiap orang di dalamnya. Beberapa detik lalu, wajah Aldean masih menyimpan sisa kelembutan—bayangan cincin, tentang sore yang ia kira akan menjadi awal baru, tentang hidup yang akhirnya berani ia pilih bersama Celine. Kini, semuanya lenyap. Rahangnya mengeras. Otot di lehernya menegang. Tatapan matanya turu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status