Beranda / Romansa / Ah! Sentuh Aku Lagi, Om / Pesona Papa Sahabatku

Share

Pesona Papa Sahabatku

Penulis: Wisha Berliani
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-04 14:52:25

Aldean hanya menggeleng pelan, memalingkan wajah sejenak sambil berusaha menekan napas berat yang nyaris lolos dari dada. Bukan karena marah, tapi karena ia tahu… kalau ia menuruti emosinya sekarang, semuanya bisa jadi lebih rumit.

“Jangan berlebihan,” ucapnya akhirnya, datar tapi tegas.

Di sisi lain, Celine mendengus pelan, semakin kesal.

Aldean berdiri dan berjalan santai ke arah lemari dapur. Ia mengambil gelas, menuang air dari dispenser, lalu kembali ke meja pantry. Berdiri di samping Celine, ia meneguk air perlahan. Gerakannya tenang, kontras dengan suasana hati Celine yang masih gelisah di kursinya.

Celine melirik pria itu diam-diam. Entah kenapa, setiap Aldean bersikap tenang seperti itu… justru membuat dadanya makin tak tenang.

Keheningan itu menggantung. Cahaya lampu dapur yang redup memantul lembut di wajah Aldean, menambah aura tenangnya yang sulit dijelaskan.

“Om…” panggil Celine akhirnya, pelan.

“Hm?” Aldean menoleh setengah, alisnya terangkat ringan.

“Aku mau minta sesuatu. Tapi tolong jangan marah dulu, ya.”

Aldean meletakkan gelasnya di meja. “Katakan aja, Cel.”

Celine menunduk, suaranya ragu. “Tolong jangan sampai Kayra tau… soal malam itu.”

Suasana langsung hening. Hanya napas mereka yang terdengar.

“Aku cuma… nggak mau dia salah paham,” lanjut Celine pelan. “Dia sahabatku, Om. Aku nggak tau harus jelasin gimana. Aku malu banget.”

Aldean menatapnya lama, dalam, dan tanpa kata. Ada sesuatu di sorot matanya, bukan amarah juga bukan penyesalan. Lebih seperti… pengertian yang dewasa dan rumit.

“Kamu tenang aja, Cel,” akhirnya ia bicara, suaranya rendah tapi mantap. “Aku nggak akan bilang ke siapa pun. Termasuk ke Kayra.”

Celine menatapnya. Ada kelegaan di matanya, tapi juga sedikit gugup yang belum sepenuhnya reda.

“Makasih, Om,” ucapnya lirih.

Aldean menghela napas pelan, lalu menyandarkan punggung di meja pantry.

“Sudah malam,” katanya lembut tapi tegas. "Baliklah ke kamar. Istirahat. Kamu udah cukup pusing malam ini.”

“Iya, Om…” gumam Celine pelan, mencoba menutupi rasa canggung yang menelusup di dadanya. Ia berdiri cepat, tapi tumitnya malah tersangkut di kaki kursi bar.

“Ah—!” pekiknya refleks.

Tubuhnya oleng ke depan, dan sebelum sempat jatuh, tangan kuat Aldean sudah menahan pinggangnya. Gerakan itu cepat, refleks. Dalam sekejap, jarak di antara mereka lenyap. Napas mereka nyaris bertemu, wajah mereka hanya beberapa senti terpisah.

Celine tertegun. Hangat napas pria itu menyentuh kulitnya, membuat jantungnya berdetak gila.

Tapi detik berikutnya, matanya membelalak, menyadari sesuatu yang membuat darahnya naik ke pipi.

“Om!” serunya refleks. “Itu… tangan Om—”

Aldean menunduk, menyadari posisi tangan kirinya yang tanpa sadar menyentuh bagian dada Celine. Ia segera menarik diri, wajahnya tetap tenang tapi sedikit kikuk.

“Maaf. Refleks,” ucapnya datar, berusaha menutupi canggung dengan suara stabil.

“Refleks apaan! Pegang gitu dibilang refleks?” Celine berseru kesal sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, pipinya merah padam antara malu dan jengkel.

Aldean menahan tawa yang nyaris pecah. “Kalau aku nggak refleks,” ujarnya tenang, “kamu udah nyium lantai tadi.”

Celine mendengus keras, membuang muka. “Ugh! Om Dean nyebelin banget sih!” ujarnya, lalu berbalik buru-buru meninggalkan dapur dengan langkah cepat.

Aldean menatap punggung Celine yang menjauh, tawa kecil lolos dari bibirnya. Ia menggeleng pelan sambil meneguk sisa air di gelas.

“Anak itu…” gumamnya pelan, senyum tipis tersungging di bibir.

**

Pagi datang dengan langit mendung. Sisa hujan dini hari masih menempel di kaca jendela. Mobil Celine berhenti di depan pagar besar rumah keluarga Surya. Tempat yang seharusnya disebut rumah, tapi tak pernah benar-benar terasa seperti itu.

Begitu melangkah masuk, suara nyaring langsung menyambutnya.

“Baru pulang, ya?!”

Maya, ibu tirinya, duduk di sofa ruang keluarga. Pakaian rapi, parfum mahal, dan tatapan sinis yang seolah bisa menelanjangi Celine dari kepala sampai kaki. Senyum tipisnya terangkat, tapi dingin.

“Udah bisa pergi dan pulang seenaknya sekarang?” ujarnya tajam.

“Maaf, Ma. Aku nginep di rumah temen,” jawab Celine pelan, menunduk.

“Temen?” Maya mendengus. “Muka kusut begitu? Kamu pikir aku bodoh?”

Celine menahan diri. Percuma menjelaskan, wanita licik itu selalu bisa membalikkan keadaan.

Tak lama, langkah berat terdengar dari arah ruang kerja. Surya muncul, wajahnya kaku dan matanya dingin.

“Cel,” suaranya datar. “Mama kamu bilang kamu pergi tanpa izin lagi?”

“Pa, aku izin juga percuma. Toh nggak ada yang peduli,” balas Celine lirih tapi berani.

“Jangan ngelawan!” sela Maya cepat, nadanya meninggi. “Dasar anak nggak tahu diri!”

“Cukup, Maya,” sahut Surya, tapi nadanya hambar—lebih seperti ingin mengakhiri keributan daripada membela putrinya.

“Enggak cukup, Pa!” Maya langsung berdiri, emosinya memuncak. “Aku capek! Tiap hari anakmu ini selalu bawa masalah! Rumah ini nggak pernah tenang gara-gara dia!”

Tiba-tiba, langkah berirama terdengar dari arah tangga. Sasha, kakak tiri Celine, muncul dengan dress rapi dan wajah sok polos. Tapi senyumnya menohok.

“Ada apa sih pagi-pagi udah ribut?” tanyanya manis. Pandangannya meluncur ke arah Celine. “Oh… adik manis baru pulang, ya? Seru banget kayaknya, nongkrong sampai pagi?”

“Kak Sasha, diam,” ucap Celine pelan, berusaha menahan emosi yang nyaris pecah.

“Aku cuma nanya, kok,” Sasha mengangkat bahu ringan, tapi tatapannya menusuk. “Jangan baper, dong. Nanti dikira emang abis ngapa-ngapain lagi.”

Wajah Celine menegang. Tapi sebelum sempat ia membalas, suara Maya sudah lebih dulu meledak.

“Lihat! Sasha aja tahu batas! Cuma kamu yang enggak!”

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Celine. Suaranya menggema di seluruh ruang keluarga, menembus dada yang mulai sesak.

Celine terpaku di tempat. Matanya berair, kulitnya perih. Tapi yang lebih menyakitkan adalah suara ayahnya yang terdengar sesaat kemudian.

“Sudah. Naik ke kamar,” ucap Surya datar, bahkan tanpa menatapnya. “Aku nggak mau dengar kamu bikin ribut lagi.”

Celine menatapnya lama, berharap sedikit empati dari ayah kandungnya. Namun yang ia dapat hanyalah tatapan dingin dan punggung yang berbalik pergi tanpa menoleh.

Keheningan turun perlahan, menelan segalanya. Yang tersisa hanyalah perih di pipinya dan perasaan kosong yang menekan dadanya begitu kuat hingga sulit bernapas.

Untuk sesaat, Celine tak tahu harus marah, sedih, atau tertawa pahit. Yang jelas, pagi itu untuk kesekian kalinya… ia kembali diingatkan bahwa di rumahnya sendiri, ia hanyalah tamu yang tak diinginkan.

*****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Firasat

    Beberapa detik berlalu tanpa suara.Dada Celine naik turun cepat, seolah udara di kamar itu mendadak menipis. Matanya berkaca-kaca, bibirnya sedikit bergetar.“Om…” suaranya nyaris pecah. Ia menelan ludah, berusaha merangkai kata-kata yang terasa berantakan di kepalanya.Aldean tak menyela. Ia hanya menunggu dengan tenang dan sabar, seperti tahu bahwa jawaban itu harus keluar tanpa paksaan.“Aku…” Celine menarik napas panjang, tapi tangisnya lebih dulu jatuh. Air mata mengalir pelan di pelipisnya.“Aku bahagia,” bisiknya jujur. “Bahagia banget sampai aku takut.”Tenggorokannya bergetar.“Aku nggak pernah kebayang Om bakal ngomong sejauh ini ke aku,” lanjutnya lirih. “Dan sekarang… aku malah gemetar.”Aldean mengusap pipi Celine perlahan, menyeka air mata yang mengalir dengan ibu jarinya. Ia tak tergesa-gesa, juga tak berusaha menghentikannya.“Aku mau,” kata Celine akhirnya, suaranya pelan tapi jelas. Matanya menatap Aldean dengan keberanian yang rapuh.“Aku mau, Om.”Napas Aldean ter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kalau Aku Nikahin Kamu... Kamu Mau?

    “Om Dean...” gumam Celine lirih.Pintu unit apartemen tertutup pelan di belakang Aldean.Jas di pundaknya bahkan belum sempat ia lepaskan ketika pandangannya langsung tertambat pada Celine yang berdiri di dekat sofa. Wajahnya pucat, matanya menyimpan kegelisahan yang tidak lagi berusaha ia sembunyikan.Aldean tahu persis apa yang membuat Celine seperti itu.Ia melangkah mendekat tanpa berkata apa-apa. Baru beberapa langkah, Celine sudah lebih dulu menghampirinya.Aldean membuka kedua lengannya.Celine langsung masuk ke dalam pelukan itu seolah seluruh tenaga di tubuhnya habis tepat di saat yang sama. Aldean menunduk, mengecup puncak kepala Celine lama. Bukan sekadar ciuman singkat, melainkan jeda penuh makna, seperti sedang menenangkan dua hati sekaligus.“Maaf aku lama,” ucap Aldean rendah. “Aku tahu kamu nunggu.”Celine menggeleng kecil di dada Aldean.“Om nggak perlu minta maaf…” suaranya bergetar.Lalu, dengan napas yang tertahan, ia bertanya, “Kayra… gimana?”Aldean tidak langsun

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Celine diculik?

    Surya menatap Reymon dengan tatapan gelap penuh perhitungan. “Panggil tim,” lanjutnya. “Yang paling bersih. Paling cepat. Sekarang juga.” Reymon langsung memahami maksud itu. Ia mengangguk sekali, lalu mengaktifkan alat komunikasinya. Tak lama, dua pria berseragam hitam masuk ke ruangan. Postur mereka tegap, ekspresi datar. Tipe orang yang tidak bertanya terlalu banyak. Surya melangkah mendekat. “Kalian ke kota sekarang juga,” perintahnya. “Cari Celine. Pastikan keberadaannya.” “Dan setelah itu, Tuan?” tanya salah satu dari mereka singkat. Surya menatapnya tanpa ragu. “Bawa dia ke sini.” Reymon menoleh cepat. “Tuan, Apakah ini tidak terlalu berbahaya? Ini bisa—” “Tidak ada cara lain,” potong Surya dingin. “Celine tidak akan mau datang dengan sukarela. Dan aku tidak punya waktu untuk negosiasi.” Ia mendekat satu langkah lagi, suaranya menurun tapi tekanannya meningkat. “Lakukan dengan cepat. Tanpa suara. Tanpa jejak.” Kedua anak buah itu langsung mengangguk. “Sia

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Rencana Surya

    Maya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.“Aku… pernah dengar,” katanya pelan. “Bukan dari dia langsung. Tapi waktu itu Surya ngobrol sama orang kepercayaannya.”Evan tidak menyela. Tatapannya tenang, tapi menekan.“Dia nggak nyebut nama tempat,” lanjut Maya. “Cuma… sebuah pulau.”Alis Evan mengerut. “Pulau?”Maya mengangguk cepat. “Pulau yang katanya aman. Sepi. Jauh dari jalur kapal.”Ia menarik napas, berusaha mengingat. “Tempat yang nggak semua orang bisa datang.”“Di mana?” tanya Evan singat dan tajam.Maya menggeleng. “Aku nggak tahu tepatnya. Sungguh.”Ia mengepalkan tangan, suaranya mulai bergetar.“Tapi aku ingat satu kalimatnya,” katanya cepat, seolah takut pikirannya keburu kabur. “Surya bilang… dia butuh tempat yang nggak bisa dijangkau siapa pun kecuali orang-orang yang dia percaya.”Evan terdiam.“Dan satu hal lagi,” tambah Maya lirih. “Dia bilang… pulau itu bukan cuma tempat sembunyi.”Tatapan Evan mengeras. “Lalu?”Maya mengangkat wajahnya, tatapannya lurus. “I

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Aku Tahu...

    Aldean terdiam. Ia berdiri dan duduk di tepi ranjang Kayra, tidak mendekat terlalu jauh, menjaga jarak yang aman, seolah tahu satu sentuhan saja bisa meruntuhkan pertahanan putrinya. “Kay, Papa nggak pernah milih Celine buat nyakitin kamu,” kata Aldean akhirnya, suaranya rendah dan jujur. “Papa juga nggak pernah bangun pagi sambil mikir… siapa yang bisa Papa ambil dari hidup Kay hari ini.” Kayra menggigit bibirnya. “Tapi Papa tetap ngelakuinnya,” balasnya lirih. “Iya,” Aldean mengangguk pelan. “Dan itu kesalahan Papa yang nggak akan Papa bela.” Ia menatap putrinya lama, dengan tatapan seorang ayah yang sudah terlalu lama menahan banyak hal sendirian. “Tapi Papa juga manusia, Kay. Papa hidup sendirian bertahun-tahun. Ngejalanin peran ayah, ibu, kepala keluarga—semuanya sendirian.” Kayra menatap lantai. “Celine datang bukan buat ngisi kekosongan,” lanjut Aldean. “Tapi buat nemenin Papa berdiri di tengah hidup yang udah Papa bangun buat kamu.” Kayra tertawa kecil, ge

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kebenaran Tentang Malam Kelam Itu

    Surya berdiri di balkon ruang tengah vila, menatap ke arah pantai. Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma asin yang tak pernah benar-benar mampu menghapus bau darah dari ingatannya. Ia terpaku, menatap lautan dengan sorot mata gelap dan dalam, persis seperti malam itu. Bukan karena cinta. Bukan pula karena sisa perasaan. Selama ini Surya menjaga Amira bukan karena itu, melainkan karena satu alasan sederhana: dia tak ingin masuk penjara bersama wanita itu. Ingatannya tentang kejadian itu masih terlalu jelas: wajah Amira yang pucat, tubuhnya yang gemetar, tangan yang berlumur darah, dan Sinta yang tergeletak tak bernyawa di lantai. Malam itu, Amira menangis histeris, penuh ketakutan. Bukan karena kehilangan, melainkan karena sadar… satu pukulannya telah mengubah segalanya. Surya menghembuskan napas pelan. “Kamu yang memukul Sinta, Amira,” gumamnya lirih, seolah berbicara pada bayangan masa lalu. “Kamu penyebab semua kekacauan ini.” Tangannya mengepal di sisi tubuh. I

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status