LOGINMeja makan keluarga Surya tampak rapi dan hangat, tapi suasananya tidak.
Maya duduk di samping Shasa yang sibuk memotret roti dan jus jeruk di depannya, sementara Celine hanya diam di kursinya, menatap piring tanpa selera. “Pa, rapat kerja sama dengan Aldevra Group jadi hari ini, kan?” tanya Maya santai sambil menyendokkan salad ke piring Shasa. Surya tidak mengalihkan pandangan dari ponselnya. “Enggak. Diundur besok siang. Memangnya kenapa?” “Oh…” Maya tersenyum kecil, nada suaranya ringan tapi sarat maksud. “Aku cuma mikir, bagus juga kalau Shasa ikut. Sekalian belajar soal bisnis besar. Siapa tahu bisa bantu Papa dapetin kerja sama itu.” Shasa mendongak cepat, matanya berbinar. “Boleh, Pa? Aku pengin lihat langsung cara Papa negosiasi.” Surya akhirnya menatap putri tirinya itu dan tersenyum tipis. “Tentu. Kamu memang harus mulai belajar dari sekarang.” Garpu di tangan Celine berhenti bergerak. Ia hanya menunduk, pura-pura sibuk memotong roti di piringnya. Surya melirik sekilas ke arahnya. “Kamu dengar, kan, Cel?” ucapnya datar. “Kakak kamu ini selalu punya inisiatif, ikut bantu urusan keluarga. Coba kamu juga begitu. Jangan terus tenggelam di duniamu sendiri yang bahkan nggak jelas masa depannya.” “Sudahlah, Pa,” sela Maya dengan tawa kecil. “Anak itu dari dulu nggak secerdas Shasa. Jadi biarkan saja.” Celine tak membalas. Ia hanya meletakkan garpu perlahan, menatap roti di piringnya yang sudah dingin. “Aku berangkat dulu,” ucapnya pelan, bangkit tanpa menatap siapa pun. Maya menatap punggung Celine yang menjauh, lalu berkata tajam, “Lihat, kan? Selalu kabur tiap diajak ngomong serius.” Shasa terkekeh. “Biarin aja, Ma. Toh nggak semua orang terlahir buat sukses.” Surya menatap Maya dan Shasa sejenak. Senyum tipis muncul di bibirnya. “Betul. Untung masih ada kamu, Sha… yang bisa bantu kembangkan bisnis keluarga.” Maya tersenyum puas, sementara Shasa tersenyum bangga menerima pujian. Celine masih sempat mendengar kalimat itu sebelum benar-benar keluar dari ruangan. Langkahnya ringan, tapi napasnya terasa berat. Di dadanya, kata-kata mereka bergema—tajam, menyesakkan, dan sulit dihapus. Beberapa saat kemudian, Celine tiba di kampus dan langsung menuju ruang dosen pembimbingnya. “Celine,” panggil pria paruh baya di hadapannya sambil menutup map. Senyum kecil tersungging di wajahnya. “Proposal kamu bagus. Bidangnya sangat sesuai dengan jurusan desain dan marketing yang kamu ambil.” Celine mengangguk pelan, matanya berbinar kecil. “Terima kasih, Pak.” “Tapi…” dosen itu bersandar santai, menautkan jemari di atas meja. “Perusahaan yang kamu pilih sepertinya kurang relevan dengan fokus penelitianmu.” Celine sempat mengernyit bingung. “Kurang relevan, Pak?” “Begini, Cel,” lanjut dosen itu lembut. “Kenapa kamu tidak coba perusahaan yang saya rekomendasikan kemarin? Saya rasa, tempat itu jauh lebih cocok buat kamu.” Celine terdiam sejenak. Ucapan itu membuat sesuatu berputar di kepalanya. Perusahaan yang direkomendasikan kemarin... dan tiba-tiba, ingatan pagi tadi melintas. Maya dan Shasa menyebut nama yang sama. Aldevra Group. Dosen itu membuka laci di sisi meja, lalu mengeluarkan sebuah map berlogo biru tua. Ia menatap sekilas nama yang tertera sebelum menyerahkannya pada Celine. “Ini, Cel. Perusahaan yang saya maksud kemarin—Aldevra Group. Kantornya ada di pusat kota. Mereka salah satu perusahaan besar dengan divisi desain dan marketing yang cukup kuat.” Celine menerima map itu. Logo elegan di pojok kiri atas terasa seperti menarik perhatiannya lebih dalam. “Perusahaan itu punya reputasi bagus,” tambah sang dosen. “Beberapa mahasiswa saya pernah magang di sana dan hasilnya memuaskan. Lingkungannya profesional, proyeknya nyata, para mentornya juga terbuka membimbing mahasiswa. Cocok untuk kamu yang suka tantangan dan punya sense desain yang kuat.” Celine menatap berkas di tangannya lama. “Kedengarannya menarik, Pak. Tapi... perusahaan sebesar itu pasti banyak saingannya, ya?” Dosen itu tertawa kecil. “Tentu saja. Tapi kemampuanmu cukup mumpuni. Saya yakin kamu bisa bersaing. Kalau kamu setuju, nanti saya bantu kirim surat rekomendasi langsung ke pihak HR-nya.” Celine terdiam, pikirannya berputar antara ragu dan penasaran yang sulit dijelaskan. Jantungnya berdegup lebih cepat saat bayangan ayahnya melintas di kepala. Pagi tadi, ayahnya sempat menyebut akan membawa Shasa ke perusahaan itu untuk menghadiri rapat kerja sama. Dadanya sesak mengingat hal itu. Sejak dulu, papanya selalu membanggakan kakak tirinya, menempatkannya di posisi istimewa sementara dirinya seolah tak pernah dianggap ada. “Bagaimana, Cel?” tanya dosen itu, memecah keheningan. “Mau saya bantu ajukan rekomendasinya?” Celine tersentak, menegakkan kepala perlahan. Namun tatapannya kembali jatuh pada map biru tua di tangannya. Jemarinya meremas sampul itu ringan, seolah di sana tersimpan keputusan besar. Bayangan ayahnya kembali hadir di benaknya. Sosok pria berwibawa, dingin, dan selalu menuntut. Semua ucapan pagi tadi masih bergema jelas di kepala, seperti luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Celine menarik napas panjang, berusaha menenangkan gejolak di dadanya. Ia tahu, selama ini dirinya selalu dibandingkan. Selalu dianggap lemah, tidak secerdas, atau tidak sehebat Shasa di mata ayahnya. Tapi kali ini, dengan tekad yang kuat, ia ingin membuktikan sesuatu. ‘Aku pasti bisa berdiri sendiri tanpa berlindung di balik nama keluarga. Aku juga bisa sukses tanpa harus jadi bayangan Kak Shasa.’ Tatapannya kembali tertuju pada logo Aldevra Group di map itu. Kali ini, bukan sekadar nama perusahaan, melainkan tantangan yang ingin ia taklukkan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Celine sudah yakin dengan pilihannya. “Baik, Pak,” ucapnya akhirnya, mantap. “Saya setuju. Saya mau coba magang di Aldevra Group.” Dosen itu mengangguk puas. “Bagus. Saya senang kamu terbuka dengan peluang baru. Percayalah, pengalaman di sana bisa jadi langkah besar buat masa depanmu.” Celine ikut tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin.” “Begitu dong.” Sang dosen menandatangani berkas di depannya, lalu menyelipkannya ke dalam map. “Oh ya, besok kamu bisa datang untuk wawancara. Detailnya nanti saya kirim lewat email.” Celine mengangguk, lalu berdiri. Ia menggenggam map itu erat sebelum melangkah keluar dari ruangan. Kali ini dengan langkah yang mantap, seolah baru saja memulai bab baru dalam hidupnya. . . Langkah Celine bergema pelan di koridor kampus. Udara siang terasa hangat. Sesekali, mahasiswa lain melintas sambil bercakap atau menenteng laptop, tapi semua suara itu terdengar jauh di telinganya. Ia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Antara lega, gugup, dan sedikit tak percaya kalau akhirnya ia mengambil keputusan itu. “Ceeell!!” Tiba-tiba, suara riang memecah lamunannya. Dari ujung koridor, Kayra berlari kecil menghampiri. “Nah, ini dia calon orang sibuk!” serunya sambil terengah, lalu menatap wajah Celine dengan mata berbinar. “Gimana? Jadi magang di mana akhirnya? Aku penasaran banget!” Celine tersenyum kecil, menatap sahabatnya yang masih ngos-ngosan. “Aldevra Group,” jawabnya singkat. Kayra mendadak terdiam. Matanya sempat melebar sepersekian detik, sebelum buru-buru mengerjap dan memaksa senyum. “Oh… di Aldevra Group, ya?” nadanya dibuat senormal mungkin, tapi terdengar sedikit kaku. Celine menatapnya curiga. “Kenapa? Ada apa emangnya?” Kayra cepat-cepat menggeleng, menahan senyum canggung. “Nggak kok! Nggak ada apa-apa. Cuma... wah, itu perusahaan gede banget. Keren sih, Cel. Kamu bakal dapet pengalaman luar biasa di sana!” Celine masih memicingkan mata, tapi akhirnya ikut tersenyum. “Kamu aneh banget, Kay. Sumpah.” “Bukan aku yang aneh, kamu aja yang bikin aku kaget,” jawab Kayra cepat, lalu menepuk bahu Celine pelan. “Tapi aku bangga banget, serius. Kamu akhirnya berani keluar dari bayangan Papa kamu. Aku tahu itu nggak mudah.” Celine menatap sahabatnya itu lama, bibirnya melengkung tipis. “Makasih, Kay. Kamu selalu ngerti.” “Yaiyalah,” sahut Kayra sambil terkekeh. “Sahabat sejati emang tugasnya nyemangatin waktu kamu hampir nyerah, dan ngingetin buat makan waktu kamu sibuk mikirin desain.” Celine tertawa kecil. “Hahaha, dasar cerewet.” Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor, berbagi tawa dan canda. Celine merasa langkahnya lebih ringan sekarang, seolah sebagian beban di dadanya mulai terangkat. *****Keheningan menyelimuti ruangan itu, namun gaung pengakuan Surya masih terus memukul dinding kesadaran Celine, membuat tubuhnya membeku di tempatnya berdiri. Napasnya kembang-kempis, sementara jemari lentiknya yang gemetar hebat meremas selembar kertas kusam dalam genggamannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh satu per satu, menetes membasahi pipinya.Melihat istrinya yang tampak begitu rapuh dan terguncang, Aldean tak membuang waktu satu detik pun. Pria itu segera mengikis jarak, merengkuh tubuh Celine ke dalam pelukan hangat. Ia melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling tubuh Celine, menenggelamkan kepala istrinya di dada bidangnya yang berdetak tenang dan menenangkan.“Mas...” suara Celine pecah di balik dada Aldean, terisak pelan dengan nada parau. “Jadi... Papa kandungku masih hidup? Dia disingkirkan... cuma karena dia miskin dan demi menutupi aib keluarga?”Aldean memejamkan mata rapat-rapat, mengeratkan pelukannya seolah tak ingin membiarkan satu titik pun
Dua orang Petugas Pengawal Tahanan berseragam rapi melangkah masuk, mengawal Surya dengan kedua tangan yang terborgol di depan. Pria paruh baya itu sebelumnya telah memohon pada petugas agar diberi waktu satu menit saja untuk bicara pada Celine sebelum dipindahkan ke sel tahanan sementara.“Permisi...” ujar salah satu petugas sopan. “Ada yang ingin bertemu dengan Nona Celine sebentar.”Petugas itu memberi isyarat. Surya mengangguk pelan, lalu melangkah ragu mendekati Celine dan Aldean yang berdiri berdampingan. Dua petugas pengawal tetap berada di belakangnya, memastikan jarak aman.Melihat kehadiran Surya, raut wajah Aldean seketika berubah dingin dan protektif. Pria itu langsung meletakkan satu tangannya di pinggang Celine, membentengi posisi istrinya.“Mau apa lagi kamu?” tegur Aldean tajam dan menekan.Surya tidak menatap Aldean. Matanya yang sembap dan memerah berfokus penuh pada Celine. Dengan tangan terborgol yang bergetar hebat, Surya merogoh saku rompi tahanannya, lalu mengel
Tangan kanan Kayra meremas ujung roknya sendiri, matanya menatap kosong ke lantai dingin ruang sidang. Bayangan Amira yang terseret keluar dengan kursi roda dan terisak histeris mendadak berputar di kepalanya."Seumur hidup" Kata itu terus bergema memekakkan telinganya. Bagaimanapun jahatnya racun yang pernah disebar wanita itu, ada bagian kecil di hati Kayra yang meringis membayangkan ibu kandungnya harus membusuk di dalam bui sampai akhir hayat, tanpa pernah menghirup udara bebas lagi.Melihat perubahan raut wajah putrinya yang mendadak muram, Aldean yang sejak tadi fokus pada Celine langsung menoleh. Sepasang mata elangnya meneliti wajah Kayra dengan penuh kecemasan.“Kay?” panggil Aldean rendah, memecah lamunan anak gadisnya.Kayra tersentak kecil, mendongak kaget saat mendapati Papanya sedang menatapnya dengan intens. Celine pun ikut memiringkan tubuh, menyapu raut wajah Kayra dengan tatapan lembut yang berbalut rasa khawatir.“Kamu kenapa, Nak? Ada yang sakit?” tanya Aldean memp
“Maaf?”Celine terkekeh sumbang—sebuah tawa hambar berbalut air mata yang akhirnya menetes di pipinya.“Kata maaf dari Papa nggak akan pernah bisa mengembalikan Mama. Kata maaf dari Papa nggak bisa menghapus setiap luka dan rasa sakit yang harus aku tanggung selama bertahun-tahun gara-gara kebejatan Papa!”Celine menyapu air matanya dengan kasar, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Surya dengan tatapan paling tegas yang pernah ia miliki.“Pintu maafku terlalu mahal untuk pria yang sudah menghancurkan hidupku dan merenggut Mamaku,” ucap Celine dingin, tanpa setitik pun keraguan.Mendengar itu, Surya seketika terkulai lemas di kursinya. Kepala pria paruh baya itu tertunduk makin dalam, bahunya bergetar hebat diiringi isakan penyesalan yang tertahan.Celine segera membalikkan badan dengan anggun, memunggungi pria tua yang kini hancur oleh dosanya sendiri. Ia melangkah mantap menuju pintu keluar, tidak sudi membuang waktunya walau hanya satu detik lagi di ruangan dingin tersebut
Langkah kaki Celine bergema anggun di sepanjang koridor Pengadilan Negeri. Evan berjalan satu langkah di depannya, berperan sebagai pemandu jalan sekaligus perisai pembuka pintu. Di belakang Celine, Aldean dan Kayra mengiringi dengan jarak yang cukup menjaga ketenangan Celine, namun tetap memberikan kehangatan perlindungan dari balik punggungnya.Begitu tiba di depan pintu kayu cokelat gelap dengan papan bertuliskan Ruang Tunggu Khusus 2, Evan menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah Celine, mengangguk sopan, lalu mengetuk pintu dua kali sebelum mendorongnya terbuka.“Silakan, Nona Celine,” ucap Evan tenang.Celine menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan lewat bibir. Ia membetulkan letak blazer-nya, menegakkan bahu, lalu melangkah melewati ambang pintu dengan kepala tegak dan pandangan tertengadah.BAM.Pintu kayu di belakangnya tertutup rapat, menyisakan keheningan mencekam yang mendadak menyelimuti ruangan bersuhu dingin tersebut.Di sudut ruangan, seorang
Di dalam ruangan yang tertutup rapat itu, Amira masih meraung dan terisak-isak sendirian. Wanita berrompi oranye itu sama sekali tidak menyangka bahwa rencananya gagal total. Ia yang awalnya begitu percaya diri ingin bertemu Kayra demi meracuni kembali pikiran sang anak—memanfaatkannya agar membelanya di persidangan—kini hanya bisa menelan kepahitan.Alih-alih mendapatkan simpati, kebohongan dan rahasia berdarah yang ia sembunyikan justru terkuliti habis oleh anaknya sendiri. Pertemuan yang ia kira bakal jadi kartu as-nya justru mendorong Amira makin dalam ke dasar jurang kehancuran yang paling kelam.Sementara itu, di luar ruangan, atmosfer terasa jauh lebih lega. Udara dingin koridor pengadilan seolah menyapu bersih hawa beracun yang baru saja mereka tinggalkan di dalam.Celine mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Sepasang matanya masih berkaca-kaca, namun ada kelegaan luar biasa yang terpancar di paras cantiknya.Aldean memiringkan tubuhnya, pertama-tama







