Share

Keputusan Celine

last update publish date: 2025-11-10 16:05:47

Meja makan keluarga Surya tampak rapi dan hangat, tapi suasananya tidak.

Maya duduk di samping Shasa yang sibuk memotret roti dan jus jeruk di depannya, sementara Celine hanya diam di kursinya, menatap piring tanpa selera.

“Pa, rapat kerja sama dengan Aldevra Group jadi hari ini, kan?” tanya Maya santai sambil menyendokkan salad ke piring Shasa.

Surya tidak mengalihkan pandangan dari ponselnya. “Enggak. Diundur besok siang. Memangnya kenapa?”

“Oh…” Maya tersenyum kecil, nada suaranya ringan tapi sarat maksud. “Aku cuma mikir, bagus juga kalau Shasa ikut. Sekalian belajar soal bisnis besar. Siapa tahu bisa bantu Papa dapetin kerja sama itu.”

Shasa mendongak cepat, matanya berbinar. “Boleh, Pa? Aku pengin lihat langsung cara Papa negosiasi.”

Surya akhirnya menatap putri tirinya itu dan tersenyum tipis. “Tentu. Kamu memang harus mulai belajar dari sekarang.”

Garpu di tangan Celine berhenti bergerak. Ia hanya menunduk, pura-pura sibuk memotong roti di piringnya.

Surya melirik sekilas ke arahnya.

“Kamu dengar, kan, Cel?” ucapnya datar. “Kakak kamu ini selalu punya inisiatif, ikut bantu urusan keluarga. Coba kamu juga begitu. Jangan terus tenggelam di duniamu sendiri yang bahkan nggak jelas masa depannya.”

“Sudahlah, Pa,” sela Maya dengan tawa kecil. “Anak itu dari dulu nggak secerdas Shasa. Jadi biarkan saja.”

Celine tak membalas. Ia hanya meletakkan garpu perlahan, menatap roti di piringnya yang sudah dingin.

“Aku berangkat dulu,” ucapnya pelan, bangkit tanpa menatap siapa pun.

Maya menatap punggung Celine yang menjauh, lalu berkata tajam, “Lihat, kan? Selalu kabur tiap diajak ngomong serius.”

Shasa terkekeh. “Biarin aja, Ma. Toh nggak semua orang terlahir buat sukses.”

Surya menatap Maya dan Shasa sejenak. Senyum tipis muncul di bibirnya. “Betul. Untung masih ada kamu, Sha… yang bisa bantu kembangkan bisnis keluarga.”

Maya tersenyum puas, sementara Shasa tersenyum bangga menerima pujian.

Celine masih sempat mendengar kalimat itu sebelum benar-benar keluar dari ruangan. Langkahnya ringan, tapi napasnya terasa berat.

Di dadanya, kata-kata mereka bergema—tajam, menyesakkan, dan sulit dihapus.

Beberapa saat kemudian, Celine tiba di kampus dan langsung menuju ruang dosen pembimbingnya.

“Celine,” panggil pria paruh baya di hadapannya sambil menutup map. Senyum kecil tersungging di wajahnya. “Proposal kamu bagus. Bidangnya sangat sesuai dengan jurusan desain dan marketing yang kamu ambil.”

Celine mengangguk pelan, matanya berbinar kecil. “Terima kasih, Pak.”

“Tapi…” dosen itu bersandar santai, menautkan jemari di atas meja. “Perusahaan yang kamu pilih sepertinya kurang relevan dengan fokus penelitianmu.”

Celine sempat mengernyit bingung. “Kurang relevan, Pak?”

“Begini, Cel,” lanjut dosen itu lembut. “Kenapa kamu tidak coba perusahaan yang saya rekomendasikan kemarin? Saya rasa, tempat itu jauh lebih cocok buat kamu.”

Celine terdiam sejenak. Ucapan itu membuat sesuatu berputar di kepalanya.

Perusahaan yang direkomendasikan kemarin... dan tiba-tiba, ingatan pagi tadi melintas. Maya dan Shasa menyebut nama yang sama.

Aldevra Group.

Dosen itu membuka laci di sisi meja, lalu mengeluarkan sebuah map berlogo biru tua. Ia menatap sekilas nama yang tertera sebelum menyerahkannya pada Celine.

“Ini, Cel. Perusahaan yang saya maksud kemarin—Aldevra Group. Kantornya ada di pusat kota. Mereka salah satu perusahaan besar dengan divisi desain dan marketing yang cukup kuat.”

Celine menerima map itu.

Logo elegan di pojok kiri atas terasa seperti menarik perhatiannya lebih dalam.

“Perusahaan itu punya reputasi bagus,” tambah sang dosen. “Beberapa mahasiswa saya pernah magang di sana dan hasilnya memuaskan. Lingkungannya profesional, proyeknya nyata, para mentornya juga terbuka membimbing mahasiswa. Cocok untuk kamu yang suka tantangan dan punya sense desain yang kuat.”

Celine menatap berkas di tangannya lama. “Kedengarannya menarik, Pak. Tapi... perusahaan sebesar itu pasti banyak saingannya, ya?”

Dosen itu tertawa kecil. “Tentu saja. Tapi kemampuanmu cukup mumpuni. Saya yakin kamu bisa bersaing. Kalau kamu setuju, nanti saya bantu kirim surat rekomendasi langsung ke pihak HR-nya.”

Celine terdiam, pikirannya berputar antara ragu dan penasaran yang sulit dijelaskan.

Jantungnya berdegup lebih cepat saat bayangan ayahnya melintas di kepala. Pagi tadi, ayahnya sempat menyebut akan membawa Shasa ke perusahaan itu untuk menghadiri rapat kerja sama. Dadanya sesak mengingat hal itu. Sejak dulu, papanya selalu membanggakan kakak tirinya, menempatkannya di posisi istimewa sementara dirinya seolah tak pernah dianggap ada.

“Bagaimana, Cel?” tanya dosen itu, memecah keheningan. “Mau saya bantu ajukan rekomendasinya?”

Celine tersentak, menegakkan kepala perlahan. Namun tatapannya kembali jatuh pada map biru tua di tangannya. Jemarinya meremas sampul itu ringan, seolah di sana tersimpan keputusan besar.

Bayangan ayahnya kembali hadir di benaknya. Sosok pria berwibawa, dingin, dan selalu menuntut. Semua ucapan pagi tadi masih bergema jelas di kepala, seperti luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Celine menarik napas panjang, berusaha menenangkan gejolak di dadanya.

Ia tahu, selama ini dirinya selalu dibandingkan. Selalu dianggap lemah, tidak secerdas, atau tidak sehebat Shasa di mata ayahnya. Tapi kali ini, dengan tekad yang kuat, ia ingin membuktikan sesuatu.

‘Aku pasti bisa berdiri sendiri tanpa berlindung di balik nama keluarga. Aku juga bisa sukses tanpa harus jadi bayangan Kak Shasa.’

Tatapannya kembali tertuju pada logo Aldevra Group di map itu. Kali ini, bukan sekadar nama perusahaan, melainkan tantangan yang ingin ia taklukkan.

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Celine sudah yakin dengan pilihannya.

“Baik, Pak,” ucapnya akhirnya, mantap. “Saya setuju. Saya mau coba magang di Aldevra Group.”

Dosen itu mengangguk puas. “Bagus. Saya senang kamu terbuka dengan peluang baru. Percayalah, pengalaman di sana bisa jadi langkah besar buat masa depanmu.”

Celine ikut tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin.”

“Begitu dong.”

Sang dosen menandatangani berkas di depannya, lalu menyelipkannya ke dalam map.

“Oh ya, besok kamu bisa datang untuk wawancara. Detailnya nanti saya kirim lewat email.”

Celine mengangguk, lalu berdiri.

Ia menggenggam map itu erat sebelum melangkah keluar dari ruangan. Kali ini dengan langkah yang mantap, seolah baru saja memulai bab baru dalam hidupnya.

.

.

Langkah Celine bergema pelan di koridor kampus.

Udara siang terasa hangat. Sesekali, mahasiswa lain melintas sambil bercakap atau menenteng laptop, tapi semua suara itu terdengar jauh di telinganya.

Ia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Antara lega, gugup, dan sedikit tak percaya kalau akhirnya ia mengambil keputusan itu.

“Ceeell!!”

Tiba-tiba, suara riang memecah lamunannya. Dari ujung koridor, Kayra berlari kecil menghampiri.

“Nah, ini dia calon orang sibuk!” serunya sambil terengah, lalu menatap wajah Celine dengan mata berbinar. “Gimana? Jadi magang di mana akhirnya? Aku penasaran banget!”

Celine tersenyum kecil, menatap sahabatnya yang masih ngos-ngosan. “Aldevra Group,” jawabnya singkat.

Kayra mendadak terdiam. Matanya sempat melebar sepersekian detik, sebelum buru-buru mengerjap dan memaksa senyum.

“Oh… di Aldevra Group, ya?” nadanya dibuat senormal mungkin, tapi terdengar sedikit kaku.

Celine menatapnya curiga. “Kenapa? Ada apa emangnya?”

Kayra cepat-cepat menggeleng, menahan senyum canggung. “Nggak kok! Nggak ada apa-apa. Cuma... wah, itu perusahaan gede banget. Keren sih, Cel. Kamu bakal dapet pengalaman luar biasa di sana!”

Celine masih memicingkan mata, tapi akhirnya ikut tersenyum. “Kamu aneh banget, Kay. Sumpah.”

“Bukan aku yang aneh, kamu aja yang bikin aku kaget,” jawab Kayra cepat, lalu menepuk bahu Celine pelan. “Tapi aku bangga banget, serius. Kamu akhirnya berani keluar dari bayangan Papa kamu. Aku tahu itu nggak mudah.”

Celine menatap sahabatnya itu lama, bibirnya melengkung tipis. “Makasih, Kay. Kamu selalu ngerti.”

“Yaiyalah,” sahut Kayra sambil terkekeh. “Sahabat sejati emang tugasnya nyemangatin waktu kamu hampir nyerah, dan ngingetin buat makan waktu kamu sibuk mikirin desain.”

Celine tertawa kecil. “Hahaha, dasar cerewet.”

Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor, berbagi tawa dan canda. Celine merasa langkahnya lebih ringan sekarang, seolah sebagian beban di dadanya mulai terangkat.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 257

    Melihat Amira yang histeris dengan wajah sok nelangsa dari atas kursi roda, Kayra melangkah perlahan mendekati ibu kandungnya. Celine dan Aldean tidak menahannya justru mereka memberikan kepercayaan penuh pada Kayra.​Begitu Kayra berdiri tepat di hadapannya, Amira cepat-cepat meraih tangan kiri Kayra dengan jemarinya yang terborgol. Wajahnya yang kusam sengaja dipasang selayaknya seorang ibu yang teramat menderita.​Namun, saat pandangan Amira jatuh pada lengan kanan Kayra yang tergantung lemas dan terbungkus rapat di balik arm sling, matanya seketika membelalak.“Ya Tuhan... Kay! Tanganmu... kenapa tanganmu bisa seperti ini, Nak?!” tanya Amira dengan nada suara yang sengaja dibikin bergetar panik, memegang arm sling itu dengan wajah sok terkejut.​Kayra menarik pelan tangan kirinya dari genggaman Amira. Wajahnya tetap tenang, tanpa ada sedikit pun raut kesedihan atau kerapuhan di sana.​“Cuma luka kecil pas kecelakaan kemarin,” jawab Kayra santai, begitu ringan seolah bukan masalah

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 256

    Suasana di ruang makan mendadak menjadi hening. Celine memandang Kayra dengan tatapan cemas. Perlahan, tangan kirinya mengusap lembut punggung sahabat yang kini menjadi putri sambungnya itu—menyalurkan kekuatan sekaligus ketenangan yang utuh.​Kayra menundukkan pandangannya, menatap sisa roti di piringnya. Memori tentang Amira—ibu kandung yang tega memanfaatkannya, memutarbalikkan fakta, menghasutnya untuk membenci Celine, hingga menyebabkan tangan kanannya kini lumpuh—berputar keras di benak gadis itu.​“Nak,” panggil Aldean lagi. Suaranya teramat lembut dan penuh pertimbangan, menyiratkan kasih sayang seorang ayah yang tak ingin menyakiti anak semata wayangnya lagi. “Papa nggak akan memaksa. Kalau kamu belum siap, atau kamu nggak mau melihat wanita itu lagi, Papa yang akan urus semuanya. Kamu nggak perlu ikut.”​Kayra mengepalkan tangan kirinya erat-erat di atas pangkuan. Ia menarik napas panjang, meresapi kehangatan ruang makan ini—kehangatan dan rasa aman yang baru ia dapatkan da

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 255

    Di seberang telepon, suara Evan terdengar sangat formal namun terselip nada mendesak. ​“Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan. Saya harus melaporkan kalau pukul sepuluh pagi ini adalah sidang pertama untuk kasus Nyonya Amira, Surya, dan Maya.” ​Aldean terdiam sejenak. Sepasang mata elangnya menggelap sempurna, memancarkan aura dingin yang seketika membuat suhu di dalam kamar utama itu terasa anjlok drastis. Tangan kanannya mengepal kuat, sementara otaknya langsung memutar kembali ingatan tentang segala kelakuan bejat ketiga orang itu. ​“Urus semuanya dengan hukum yang maksimal, Evan,” jawab Aldean, suaranya terdengar begitu berat, dingin, dan tidak terbantahkan. “Pastikan pengacara kita tidak memberi mereka celah sedikit pun untuk lolos. Aku mau mereka membusuk di penjara.” ​“Baik, Tuan. Semuanya sudah dikondisikan sesuai perintah Anda,” sahut Evan cepat. Namun, asisten pribadi itu tidak langsung menutup telepon. Ada jeda ragu sejenak sebelum ia kembali bersuara. “Tapi ada satu hal lag

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 254

    Belum sempat Celine menyelesaikan protesnya, Aldean sudah menyambar bibirnya tanpa ampun. Namun, baru beberapa kali lumatan— Dringgg!!! Dringgg!!! Aldean mendadak memembeku. Ciumannya seketika terputus. Di atas nakas, tepat di samping ranjang mereka, ponsel milik Aldean berdering dengan suara yang kelewat nyaring, memecah keintiman di antara mereka yang baru saja terbangun kembali. Layar perangkat itu menyala terang, bergetar dengan begitu lantang seolah sengaja menantang sang pemilik. Aldean masih mengukung tubuh Celine di bawahnya, memejamkan matanya rapat-rapat dengan rahang yang mengeras menahan kekesalan yang teramat luar biasa sampai ke ubun-ubun. Napasnya berembus kasar dan berat tepat di wajah sang istri. Melihat ekspresi suaminya yang mendadak drop dan menahan dongkol setengah mati karena diganggu di momen krusial, Celine yang tadinya panik seketika menahan tawa. Perempuan itu menggigit bibir bawahnya agar tidak meledakkan tawa kemenangan di depan wajah sang suami.

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB 253

    Setelah hantaman gelombang nikmat itu, mereka berdua seketika membeku bersama dalam posisi saling mendekap erat, meresapi sisa-sisa denyutan kl!maks yang perlahan menyapu seluruh raga mereka dengan kehangatan yang luar biasa memabukkan. Napas Aldean memburu kasar di ceruk leher Celine, sementara tangan kirinya dengan lembut mengusap helaian rambut istrinya yang basah oleh keringat dan berantakan di atas bantal. Keheningan kamar utama kembali terasa begitu intim, hanya menyisakan suara napas keduanya yang perlahan-lahan mulai kembali teratur. Aldean perlahan menarik keperkasaannya dari milik istrinya dengan hembusan napas lega, membiarkan cairan madu cinta mereka mengalir perlahan membasahi sprei. Pria itu segera meraih tisu di atas nakas dan membersihkan seluruh sisa-sisa permainan panas itu. Setelah semuanya bersih, Aldean berbaring di sebelah Celine dan langsung menarik tubuh lemas istrinya ke dalam pelukan hangat di balik selimut tebal, membiarkan kepala Celine bersandar nyaman di

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 252

    Celine mencengkeram erat bahu kokoh Aldean saat ciuman suaminya menuntut jauh lebih dalam. Aldean melumat bibir manis istrinya dengan ritme yang teramat dominan, seolah ingin menghapus sisa kepanikan akibat interupsi Kayra tadi, menggantinya dengan gelora gairah yang kembali tersulut pekat. Ketika Aldean akhirnya memberi ruang untuk napas mereka terlepas, Celine terengah dengan mata sayu yang memerah alami. “Mas... jangan sekarang, ih. Nanti kalau Kayra balik lagi gimana... ahh—” Kalimat Celine terputus menjadi desahan halus saat jemari kokoh Aldean merayap turun, menyusuri pinggang ramping istrinya dengan usapan yang menghantarkan sengatan panas. “Dia nggak akan kembali, Sayang. Anak kita sudah menetapkan target untuk bulan depan,” bisik Aldean rendah, suara baritonnya yang serak terdengar begitu seksi di depan telinga Celine. Pria itu merunduk, membiarkan bibirnya menjelajahi rahang tegas Celine, lalu turun menghujani leher jenjang istrinya dengan kecupan-kecupan basah yang m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status