Share

Kau Bodoh Amira

last update Huling Na-update: 2026-01-12 23:59:19

Nama itu meluncur dari bibir Aldean, nyaris seperti doa. Suaranya serak dan pecah.

Lorong sempit itu terasa makin menyempit, udara menjadi semakin berat. Dari balik pintu baja di ujung sana, suara parau itu kembali terdengar lemah, nyaris putus tapi masih hidup.

“…tolong…”

Tatapan Aldean terkunci pada pintu besi itu, seolah dunia hanya tersisa di sana. Di detik itu, pria yang disanderanya bergerak.

BUGH.

“Argh!”

Siku pria itu menghantam rusuk Aldean, membuatnya memekik kesakitan. Pegangan Aldean pun terlepas, dan pria itu langsung berlari tertatih menyusuri lorong gelap.

“Keparat—!”

Aldean refleks mengangkat pistol. Jarinya sudah di pelatuk. Satu tembakan saja, dan semuanya selesai. Tapi suara itu menghentikannya, suara Celine.

“…tolong… kami terluka…”

Tangan Aldean terhenti di udara. Dalam satu detik, dia menurunkan pistolnya. Matanya sekilas menatap pintu baja sebelum kembali ke pria yang kabur itu.

“Pergi kau ke neraka,” gumamnya dingin, membiarkan pria itu kabur.

Bagi Aldean, tak
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kau Bodoh Amira

    Nama itu meluncur dari bibir Aldean, nyaris seperti doa. Suaranya serak dan pecah.Lorong sempit itu terasa makin menyempit, udara menjadi semakin berat. Dari balik pintu baja di ujung sana, suara parau itu kembali terdengar lemah, nyaris putus tapi masih hidup.“…tolong…”Tatapan Aldean terkunci pada pintu besi itu, seolah dunia hanya tersisa di sana. Di detik itu, pria yang disanderanya bergerak.BUGH.“Argh!”Siku pria itu menghantam rusuk Aldean, membuatnya memekik kesakitan. Pegangan Aldean pun terlepas, dan pria itu langsung berlari tertatih menyusuri lorong gelap.“Keparat—!”Aldean refleks mengangkat pistol. Jarinya sudah di pelatuk. Satu tembakan saja, dan semuanya selesai. Tapi suara itu menghentikannya, suara Celine.“…tolong… kami terluka…”Tangan Aldean terhenti di udara. Dalam satu detik, dia menurunkan pistolnya. Matanya sekilas menatap pintu baja sebelum kembali ke pria yang kabur itu.“Pergi kau ke neraka,” gumamnya dingin, membiarkan pria itu kabur.Bagi Aldean, tak

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Ruang Bawah Tanah

    Pintu baja ruang kendali berdiri kokoh seperti benteng terakhir Surya. Panel digital di sisinya berkedip merah, menandakan sistem pengunci tingkat tinggi masih aktif, terhubung langsung dengan seluruh jaringan pertahanan vila. Evan berdiri paling depan, senapan tergenggam erat di tangan, rahangnya mengeras. “Surya pasti ada di dalam sini,” katanya yakin. “Dia tidak mungkin bisa kabur secepat itu.” Keempat anak buah Aldean di belakang Evan langsung bereaksi. Salah satu dari mereka, pria berpostur besar dengan bekas luka di pipi, mendecih pelan. “Kalau dia terpojok, dia akan bersembunyi di tempat paling aman. Dan ini…” Tatapannya menyapu pintu baja di depan mereka, “…jelas bunker pribadinya.” Yang kedua, pria bermata tajam dengan alat breaching di tangan, menyeringai tipis. “Pintu ini bukan untuk menahan orang. Ini untuk menahan neraka.” “Kalau Surya ada di balik sana, dia tidak akan menyerah begitu saja,” timpal pria ketiga sambil memeriksa magasin senjatanya. Bunyi klik logam t

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Ketegangan Di Ruang Bawah Tanah

    Moncong pistol Aldean tetap menempel di bawah dagu pria itu.“Cepat jawab.”Pria itu terengah-engah, keringat bercampur debu menetes dari pelipisnya.“A-aku tidak tahu… aku hanya jaga lorong—”DOR!Tembakan meledak. Peluru menembus bahu pria itu.“AAAAARGH—!”Ia menjerit, darah menyembur, tubuhnya terhempas ke lantai.Aldean bahkan tidak berkedip. Ia menurunkan pistolnya perlahan, lalu mengarahkan kembali tepat ke kepala pria itu.“Kau punya satu kesempatan lagi,” ucapnya dingin. “Yang berikutnya bukan bahu.”Pria itu menggigil, tangannya mencengkeram bahu yang berdarah.“D-dia… di ruang bawah tanah…” ucapnya pecah. “Tuan Surya menyekap Nona Celine di… di ruang bawah tanah vila…”Hening sepersekian detik.Mata Aldean berubah gelap, mematikan.Dalam satu gerakan, ia mencengkeram kerah pria itu dan mengangkatnya dari lantai.“Tunjukkan,” katanya pelan, tapi ancamannya jauh lebih mengerikan daripada teriakan. “Sekarang.”Pria itu mengangguk panik. “I-iya… iya… aku bawa kau ke sana…”Me

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Vila Mewah Berubah Jadi Neraka

    Langit di atas pulau itu robek oleh deru mesin. Helikopter hitam menukik rendah, baling-balingnya mencabik udara malam. Di laut, beberapa speedboat bersenjata melesat menuju dermaga tersembunyi di balik tebing, membelah ombak seperti anak panah. “Unit Black-7, amankan sisi barat.” “Black-3, tembus gerbang utama.” Suara Aldean mengalir dingin dan presisi di earpiece. Tenang, tanpa emosi, seperti seorang jenderal yang sudah memprediksi setiap kemungkinan. Dalam hitungan detik, pulau itu berubah menjadi medan tempur. BOOM! Menara pengawas di sisi vila meledak. Api menjilat langit, alarm meraung panjang, dan anak buah Surya berhamburan sambil mengangkat senjata. “Kontak Sniper!” “Serangan dari udara!” DOR! DOR! DOR! Peluru beradu di kegelapan. Kilatan moncong senjata menyala-nyala seperti petir yang tak pernah padam. Pasukan Aldean bergerak cepat dan mematikan. Menyerbu dari laut, dari udara, dan dari jalur hutan yang sudah mereka petakan. Tidak ada langkah yang si

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Celine... Amira

    Ruang bawah tanah itu terasa lembap dan dingin.Lampu kuning di langit-langit berkedip lemah, memantulkan bayangan dua perempuan yang terkurung dalam ruangan sempit berdinding beton.Celine berdiri beberapa langkah dari Amira. Napasnya masih belum stabil, dadanya naik turun akibat sisa perlawanan dan emosi yang belum reda terhadap Surya.Sunyi menggantung di antara mereka.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Celine membuka suara.“Siapa Anda?” tanyanya waspada. “Kenapa Anda juga dikurung di sini?”Amira menatap Celine. Tatapannya tidak tajam, justru dipenuhi sesuatu yang sulit dijabarkan.“Kamu sendiri siapa?” balas Amira pelan. “Kamu apa hubungannya dengan Surya sampai dia memperlakukanmu seperti ini?”Celine mengangkat dagunya sedikit. “Aku Celine. Dan aku tidak ada hubungan apa pun sama Surya.”Deg.Tubuh Amira seolah tersambar petir.Wajahnya seketika pucat, matanya membelalak, seolah satu nama itu merobek lapisan terakhir dalam dirinya.Kenangan itu menghantamnya tanpa ampun:

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Surya Kalang Kabut

    “Jangan-jangan apa?” tanya Surya rendah, tenang di permukaan tapi mematikan di dalam.Reymon menelan ludah. “Jangan-jangan… ponsel saya diambil oleh Nyonya Amira, Tuan.”“Apa?!” suara Surya meledak. “Bagaimana bisa?!”Reymon langsung menunduk. “Maaf, Tuan. Saya ceroboh. Tadi saya sempat meninggalkannya di ruang tengah. Dan… kemungkinan besar Nyonya Amira melihatnya lalu mengambilnya.”Tatapan Surya mengeras. Amarah dan kecurigaan berkilat di balik pupil gelapnya.“Cek CCTV ruang tengah,” perintahnya dingin.Belum sempat gema suaranya mereda, seorang anak buah sudah melangkah cepat dan menyerahkan tablet.“Sudah saya tarik, Tuan.”Surya mengambil tablet itu, lalu layar menyala.Rekaman CCTV menampilkan ruang tengah vila yang sepi. Sinar sore menembus jendela-jendela tinggi, jatuh tepat di atas meja tempat sebuah ponsel tergeletak.Beberapa detik kemudian, sosok Amira muncul dalam frame. Langkahnya pelan dan ragu. Matanya menyapu sekeliling sebelum mendekati meja. Jemarinya sedikit geme

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status