Mag-log inTatapan Aldean berubah lebih serius. Sedikit lebih berat, seolah kata-kata berikutnya adalah sesuatu yang bahkan dirinya sendiri enggan ucapkan.“Tolong, Sayang...” suaranya rendah. “Jangan beri tahu Kayra siapa korban sebenarnya.”Celine membeku. Udara di sekitarnya mendadak terasa kosong.“...Apa?”Aldean mengusap pelan punggung tangan istrinya, mencoba menyalurkan ketenangan yang justru terasa seperti racun bagi Celine saat ini.“Kayra sudah tahu mamanya pembunuh, itu sudah cukup. Dia nggak perlu tahu siapa yang dihabisi mamanya.”Nada suaranya rendah. Stabil. Terlalu stabil untuk sebuah permintaan yang bagi Celine terdengar seperti pengkhianatan.Celine menatap Aldean tak percaya.“Om serius?” suaranya pelan, hampir berbisik, tapi justru itu membuat kata-katanya terdengar lebih berbahaya.“Om minta aku nyembunyiin fakta dari Kayra kalau orang yang dibunuh Tante Amira itu... mamaku?”Aldean terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Iya, Sayang. Aku cuma ingin menjaga perasaannya. Ak
“Benci saja mereka,” ucap Aldean rendah. “Untuk kali ini, aku izinkan.”Celine terdiam, tatapannya lurus ke depan, kosong. Otaknya seolah masih mencerna semua kenyataan pahit yang baru saja menghantamnya.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Celine perlahan mengangkat wajah dan menatap Aldean lagi. Matanya masih merah dan basah, tapi kini ada sesuatu yang berbeda di sana—bukan hanya luka, melainkan rasa ingin tahu yang semakin besar.“Om...” suaranya pelan, sedikit serak karena sisa tangis.Aldean mengunci tatapan pada istrinya. “Iya, Sayang?”“Kalau semua itu benar...” Celine menjeda, seolah sedang menyusun kata-kata dalam pikirannya. “Om tahu semuanya dari mana?”Aldean mengusap pelan pipi Celine yang masih basah. Tatapannya tenang, seolah sudah menduga pertanyaan ini akan muncul sebagai jembatan menuju kenyataan yang lebih kelam.“Ada seseorang yang melihat semuanya malam itu.”Celine menegang. “Siapa?”Aldean terdiam sejenak. Matanya menatap Celine cukup lama, seolah sedang mem
Tatapan Aldean masih terpaut pada wajah istrinya yang kini terlihat jauh lebih pucat.“Aku tahu apa yang mau kamu tanyakan,” ucapnya pelan.Celine menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Jemarinya masih meremas kemeja Aldean, mencari tumpuan pada satu-satunya orang yang ia punya.“Gimana...” suaranya serak, nyaris hilang. “Gimana Mama bisa dibunuh, Om?”Ruangan kembali hening. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di antara keduanya.Aldean terdiam, menimbang beratnya kebenaran yang akan ia ungkapkan. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mulai bicara.“Malam itu,” ujarnya dengan nada rendah, “mamamu sengaja datang ke kantor untuk menemui Surya.”Celine langsung mengangkat wajah. “Kantor?”Aldean mengangguk.“Seharusnya malam itu Surya sedang lembur. Tapi ternyata dia bersama Amira.”Celine menahan napas. Entah kenapa, ia sudah tahu ke mana arah cerita ini akan berujung. Tatapannya mulai kosong, menerawang jauh.“Begitu sampai...” lanjut Aldean. “Mamamu memergoki Surya da
Aldean tidak langsung menjawab, tapi diamnya sudah cukup menjadi jawaban. Celine menatap suaminya tanpa berkedip, seolah masih berharap semua ini hanya kesalahpahaman belaka. Namun tidak. Tatapan Aldean terlalu tenang untuk sebuah kebohongan.Dan justru ketenangan itulah yang menghancurkan harapan terakhir Celine. Tubuh Celine kembali menegang di pangkuan Aldean. “Sejak kapan?” tanyanya pelan, suaranya serak nyaris pecah. Aldean meraih kedua tangan Celine, menggenggamnya, dan mengusap lembut punggung tangan itu. “Sudah cukup lama.” Jawaban itu membuat Celine tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena hidupnya terasa seperti lelucon yang kejam. “Aku bener-bener ggak nyangka…” Celine menunduk, jemarinya perlahan terkepal di pangkuan.“Jadi selama ini…” bibirnya bergetar, “Mama aku hidup satu rumah dengan suami yang berselingkuh di belakangnya.” Nada suaranya datar, terlalu datar, dan justru itu membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan. Aldean menatap istrinya beberapa
Celine masih menatap Aldean tanpa berkedip, menunggu dengan harap.Namun beberapa detik berlalu, Aldean tidak menjawab. Pria itu hanya membalas tatapan Celine dalam diam, dengan pandangan yang berat, sangat berat.Dan tatapan itu justru membuat sesuatu di dada Celine perlahan menegang. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.“Om?” panggilnya lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan.Aldean menghela napas panjang. Tangannya yang tadi berada di pinggang Celine perlahan naik, mengusap lembut punggung istrinya. Seolah sedang berusaha menenangkan sesuatu yang sebentar lagi akan runtuh.“Aku sebenarnya nggak ingin kamu tahu seperti ini,” ucapnya rendah.Kalimat itu membuat tenggorokan Celine langsung terasa kering.“Apa maksud Om?” tanyanya dengan suara yang mulai bergetar.Aldean menatap lurus ke mata istrinya.“Aku sudah menyelidiki semuanya diam-diam.” Nada suaranya tetap tenang. “Awalnya aku juga belum yakin.”Celine tidak menyela, tubuhnya perlahan menegang di pangkuan pria itu.“Ta
Tatapan Aldean masih terpaku pada wajah Celine.“Om... maaf untuk apa?” tanya Celine lagi, masih dengan kerutan di dahinya.Aldean menghela napas pelan. Salah satu tangannya terangkat, perlahan menyelipkan beberapa helai rambut Celine ke belakang telinganya.“Karena aku membiarkan semua itu terjadi.”Celine menatap suaminya, lebih dalam.“Tadi,” lanjut Aldean, suaranya rendah penuh penyesalan, “aku membiarkan Kayra dan Amira menyeretmu ke situasi itu. Membiarkan mereka menuduhmu, mempermalukanmu... sampai semua orang menghina dan menilaimu sembarangan, padahal aku sudah tahu dari awal apa yang mereka rencanakan.”Rahang Aldean mengeras tipis.“Aku bisa menghentikannya lebih cepat. Tapi...”Aldean menghentikan kata-katanya. Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.Celine terdiam beberapa saat, mencerna ucapan itu.Kini ia paham, yang mengganggu Aldean bukan soal rencananya berhasil atau tidak, juga bukan soal Amira akhirnya jatuh. Melainkan fakta bahwa demi menjatuhkan Amira, Aldean membia
Kayra berjalan cepat ke arah Celine. Tatapannya tajam.“Jangan panggil aku seperti itu!”Suara Kayra menggema di seluruh ruangan. Semua staf langsung saling pandang.Vita menatap Celine dengan bingung. “Ada apa ini?”Kayra berhenti tepat di depan Celine. Tatapannya penuh kemarahan.“Jadi selama ini
Amira menatap lurus ke mata putrinya.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Orang itu adalah… sahabatmu sendiri, Nak.”Kayra membeku.“…Apa?”Amira tetap menatap putrinya tanpa berkedip.“Celine.”Mata Kayra langsung membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia d
Celine terdiam sejenak. Alisnya sedikit berkerut, bukan karena ragu, tapi karena ada satu hal kecil yang sejak tadi terus mengusik pikirannya.“Eh… Om,” panggilnya akhirnya. “Tapi sebelum itu, aku mau nanya dulu sama Om.”Aldean mengangkat alis. “Nanya apa?”Celine menatap Aldean, sorot matanya pen
Pintu baja ruang kendali berdiri kokoh seperti benteng terakhir Surya. Panel digital di sisinya berkedip merah, menandakan sistem pengunci tingkat tinggi masih aktif, terhubung langsung dengan seluruh jaringan pertahanan vila. Evan berdiri paling depan, senapan tergenggam erat di tangan, rahangny







