Share

Bab 111

Author: Renita April
last update publish date: 2026-08-16 21:57:37

Wanita ini memandang dengan rasa jijik seolah Karin adalah hama. Dari atas hingga bawah diperhatikan, Karin seolah dilucuti, dan itu membuatnya tidak nyaman sama sekali.

Namun, ia tidak ingin membuat masalah. Karin sudah selesai memakai toilet, dan memilih memberikan ruang bagi para wanita itu. Namun, siapa sangka langkahnya malah diikuti. Karin mempercepat jalannya, tetapi gaunnya ditarik, dan membuatnya berhenti melangkah.

Karin menepis tangan wanita itu. Ia menatap keenam perempuan yang ti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 111

    Wanita ini memandang dengan rasa jijik seolah Karin adalah hama. Dari atas hingga bawah diperhatikan, Karin seolah dilucuti, dan itu membuatnya tidak nyaman sama sekali. Namun, ia tidak ingin membuat masalah. Karin sudah selesai memakai toilet, dan memilih memberikan ruang bagi para wanita itu. Namun, siapa sangka langkahnya malah diikuti. Karin mempercepat jalannya, tetapi gaunnya ditarik, dan membuatnya berhenti melangkah. Karin menepis tangan wanita itu. Ia menatap keenam perempuan yang tidak dikenal. Terutama dia yang memakai gaun putih gading ini. Dari kamar mandi hingga sekarang dia terlihat tidak menyukainya."Apa kita saling kenal?" tanya Karin. "Tidak perlu saling kenal untuk bisa menjadi musuh," jawab Lila, ia melangkah maju, senyumnya terlihat licik, dan Karin mundur selangkah. "Nona, apa maksudmu? Kita tidak saling kenal, lalu kenapa kamu menghadangku?" Plak ... !Karin kaget karena wanita ini tiba-tiba menamparnya. Ia mengusap pipinya yang terasa pedih, menatap denga

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 110

    Karin dibuat bingung dengan situasi di pesta ini. Leonard disibukkan dengan teman-temannya yang datang menyapa. Karin pun tidak ingin menganggu. Ia melihat kesekeliling, setiap orang dengan kelompoknya masing-masing. Mereka yang hadir di sini tentu bukan orang yang sembarangan. Makanan di sini sangat banyak. Dari kue-kue manis, minuman, tetapi Karin malu-malu untuk mengambil sendiri. Ia memang melihat tamu-tamu di sini yang mengambil makanan tanpa sungkan, dan tadi Leonard juga mengambilkannya kue manis itu. Tapi itu hanya sebagai menu pembuka saja. Perut Karin ini masih membutuhkan banyak makanan. "Huh! Dia asik mengobrol." Awas saja bila sampai di rumah nanti. Karin tidak akan menegur Leonard. Biar dia tahu sendiri rasanya diabaikan. Leonard melihat Karin yang kesepian, ia mohon diri pada teman-temannya, lalu menghampiri kekasih hatinya ini. "Sayang ... .""Huh! Pergi saja mengobrol dengan temanmu.""Kamu marah ya?"Pipi Karin mengembung seperti ikan buntal, dan itu membuat Leona

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 109

    "Hei, Babe. Kamu harus bangun," bisik Leonard. "Biarkan aku tidur dulu." Karin menarik selimut sampai batas kepala, ia tidak mau diganggu. "Sudah waktunya makan malam." Leonard menarik selimut itu. "Ayo, Sayang. Jangan biarkan kedua tuan muda berengsek itu mengeluh karena aku tidak bisa mengurusmu. Semua sudah siap, kamu harus ikut denganku.""Ikut ke mana?" Mata Karin terbuka lebar. "Dinner gala.""Apa itu?" Karin sungguh tidak mengerti, tetapi rasanya kata-kata itu pernah ia dengar. "Makan malam bersama orang-orang penting. Temani aku, kita ke pesta.""Pesta?" Mulut Karin berucap pelan. Ia menggeleng cepat. "Aku tidak mau. I-Itu sangat memalukan. Aku belum pernah pergi ke pesta manapun. Perayaan orang kaya pasti berbeda." Jangankan perayaan yang diselenggarakan orang kaya, orang biasa saja belum tentu Karin bisa ikut serta di dalamnya. "Kamu bilang ingin menjadi wanita berkelas. Justru itu kamu harus pergi ke tempat-tempat berkelas. Temani aku ya, Sayang," ucap Leonard. "Ta-Ta

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 108

    Karin kira Leonard akan marah karena black card-nya dipakai, tetapi siapa sangka belanjaan ini malah dianggap kurang. Karin hitung total semua belanjaannya bernilai seratus juta, dan ia merasa takut karena mengeluarkan uang segitu banyaknya. Karin tidak ingin terlalu nyaman dengan uang orang lain. "Nanti aku akan belanja lagi. Duduklah dulu, aku ingin bicara tentang sesuatu," ucap Karin. "Katakan saja, Sayang. Kamu mau belanja sebanyak apa pun aku mampu membayarnya. Tenang saja, uangku banyak." Leonard mengedipkan sebelah matanya. "Bukan itu." Karin gugup mengatakannya, tetapi ia butuh seseorang yang bisa membantunya berubah. "Pendidikanku tidak tinggi, dan aku berniat untuk belajar kembali.""Kamu mau sekolah lagi?Karin menggeleng cepat. "Bukan yang seperti itu. Maksudku seperti belajar dengan bebas.""Belajar dengan bebas?" Leonard berpikir. "Oh, maksudmu seperti belajar secara pribadi?" "Ya, aku ingin menjadi seorang wanita berkelas. Maksudku ... aku ingin belajar apa saja." K

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 107

    "Wa-Wanita ini punya black card." Pelayan yang menghina Karin ini tiba-tiba merasa bersalah karena sempat menghina. "Hai, namaku Mia." Wanita muda ini mengulurkan tangan. "Karin.""Kamu mau beli tas juga?"Karin mengangguk. "Ya, tapi pelayan ini menolakku. Kurasa aku harus merelakan tas yang kuincar.""No-Nona, maafkan saya. Nona mau tas yang mana, biar saya ambilkan.""Aku mau ... .""Tunggu!" Mia memotong ucapan lawan bicaranya, lalu menarik Karin ke sisinya. "Kamu sungguh mau beli tas itu?""Ya, ada masalah?""Tadi dia menghinamu. Jangan beri dia muka, kamu harus membalasnya.""Hah?" Karin terperangah mendengarnya. "Jika kamu mau tas, aku bisa tunjukkan barang bagus. Tenang saja, aku punya kartu member di toko yang menjual barang mewah. Kita hanya perlu memberi pelayan itu pelajaran agar tidak semena-mena pada pelanggan.""Ta-Tapi ... .""Ikuti saja caraku." Mia menggandeng lengan Karin. "Perlihatkan kami koleksi terbaru dari toko ini, termasuk tas tangan yang tadi teman baruku

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 106

    "Bisa-bisanya pria jelek itu mencampakkan Karin kita," ucap Leonard. "Aku kira dia sangat tampan sampai Karin tergila-gila dan menolak kita. Rupanya hanya segitu saja. Aku yakin bisa merebut perhatian Karin," tukas Damian. "Dia lumayan manis. Jika Teguh terlahir dari sendok emas, dia juga terlihat tampan." Dewa menimpali. "Oh, apa kamu baru saja membelanya?" tanya Damian. "Dulu aku heran kenapa Karin tidak mau menjadi simpananku, padahal kami sudah berbagi segalanya. Aku bisa memberikan dia kehidupan yang sangat layak, tetapi dia tetap menolak dan memilih Teguh. Saat itu, aku memohon agar dia tinggal, tetapi cintanya tetap bersama pria itu." Dewa menunduk, merasa tidak percaya diri. Damian tertawa, Leonard berdeham, ia tidak mau ikut-ikutan menertawakan penderitaan Dewa yang ditolak Karin. Seorang pemimpin perusahaan yang sudah mendunia kalah dari seorang pengawas bangunan. Bila dilihat memang sangat mustahil, tetapi itulah cinta. Tidak bisa dipaksakan, dan kadang cinta itu buta.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status