Masuk"Kita bagi masing-masing setengah. Lagi pula untuk apa kamu memegang uang? Nanti juga kamu berikan padaku untuk keperluan rumah," ucap Karin. "Sayang, lebih cepat lebih baik dalam melunasi hutang. Uang ini akan kupakai untuk membayar cicilan bunganya. Kamu jangan khawatir. Kita ini sedang membangun kehidupan yang lebih layak. Setelah uang terkumpul, kita bisa membeli rumah sendiri. Dengan begitu soal biaya sewa tidak pusing lagi," jawab Teguh. Soal ini memang benar. Bila dilihat dari jumlah uang yang terima bisa untuk membeli rumah kecil. Rencana memang seperti itu apabila uang hasil kerja ini tidak digunakan untuk keperluan lain. "Kita pulang dulu ke rumah. Ada yang mau aku bicarakan padamu," ucap Karin. Soal uang memang harus benar-benar dibahas secara teliti. Teguh setuju untuk membahas masalah uang apalagi sekarang gajinya sudah naik berkali-kali lipat. Teguh juga lelah menjadi pria yang terus dimanfaatkan, dan sekarang saatnya mulai menghitung semua kerugian. "Karena aku sud
Ini namanya kepuasan di mana otak merespon rasa lelah dan puas pada tubuh. Karin dan Dewa baru saja menyelesaikan ronde kedua yang durasinya lebih lama dari permainan pertama. Karin dibuat berkali-kali keluar hingga seprai dibuat basah. Sekarang tinggal rasa kantuk, tubuh meminta untuk istirahat, tetapi Karin harus pulang. Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Pesan dari Teguh pun sudah ada di ponsel Karin. "Aku mau mandi dulu sebelum pulang." Karin tidak akan membiarkan Teguh tahu mengenai dirinya yang tidur bersama Dewa. "Santailah dulu. Jangan terburu-buru," ucap Dewa, ia menyesap winenya lagi. Tubuh yang berkeringat itu dibiarkan begitu saja. Masih tampak seksi. Sayangnya waktu tidak mendukung untuk menikmati keindahan itu lebih lama. Sudah larut malam begini, Karin harus pulang kepada suaminya. Pesan baru telah masuk di ponsel Dewa. Istri tercintanya di rumah sedang bertanya mengenai keberadaannya, dan Dewa membalas dengan singkat jika dirinya tengah bersama Karin saat ini. "Ah,
Perlahan jari tersebut membelai, mencoba masuk ke tempat yang diperuntukkan bagi lelaki berpredikat sah. Namun, Karin membiarkan pria lain menyentuh, dan itu terasa begitu menantang serta bergairah. "Ahh ... ." Karin mengigit bibir bawahnya karena tanpa sengaja bersuara. "Jangan gigit bibirmu. Lepaskan saja karena aku lebih suka mendengar suaramu. Itu berarti kamu menikmatinya," ucap Dewa. "Pelan-pelan saja," pinta Karin. "Soal itu, aku lebih suka mengikuti ritme yang diberikan tubuhku." Jari yang setengah masuk itu kini sepenuhnya berada di dalam tubuh Karin. Menggelitik pelan, memancing gelora tubuh wanita ini. Pandangan Karin memohon pada Dewa. Tangannya mencengkeram jas yang masih pria itu kenakan. Dewa tersenyum, ia mendaratkan kecupan di bibir yang dibalas oleh Karin. Kecupan hangat yang mendalam dan memikat. Bersentuhan dengan pria yang tampan seumur hidup tidak pernah terlintas di pikiran Karin. "Ahh, Tuan." Karin memeluk Dewa. Ia memejamkan mata, merasakan tubuh ini ya
Kamar yang disewa Dewa bahkan lebih besar dua kali lipat dari kamar tidur milik Karin. Bahkan ini lebih bagus dari rumahnya. Hampir semua perlengkapan ada termasuk lemari pendingin yang isinya penuh dengan minuman serta makanan ringan. Ada bar kecil yang hanya bisa Karin lihat dalam media sosial tempat para selebgram memamerkan kekayaannya. Bahkan dilengkapi dengan kolam renang kecil yang langsung menghadap pada pemandangan jalan. Berada di kamar ini untuk beberapa jam bukankah membuang uang? Ya, bagi Karin seperti itu, tetapi Dewa jelas tidak. "Kamu boleh pakai kamar mandinya. Bersenang-senanglah dulu. Aku akan pesan makanan," ucap Dewa. Karin mengiakan meski sebenarnya ia sudah mandi sore. Mau mandi berapa kali pun Karin tidak menolak terlebih di kamar mandi punya tempat untuk berendam. Ini kesempatan merasakan seperti wanita kaya yang berendam dengan air sabun serta wewangian. Ternyata benar jika hotel ini menyiapkan sejenis aromatherapy di kamar mandi. Karin lekas mengisi ai
Baru saja Karin mau memikirkannya, tetapi Teguh sudah membahas soal kenaikan gaji serta jabatan. Seolah-olah beranggapan sangat mudah bicara pada Dewa. "Kamu kan tahu sendiri jika aku juga pekerja yang mengharapkan gaji," ucap Karin. "Pekerjaanmu berbeda denganku. Coba kamu lihat suamimu ini. Kerja di bawah terik matahari, angkut pasir, semen, batu, belum lagi besi untuk bangunan gedung. Semua itu berat, Karin.""Keahlianmu cuma jadi kuli. Berhenti membahas kenaikan gaji atau jabatan. Sadar diri saja kalau kamu memang tidak mampu." "Bisa kamu bicara seperti itu padaku. Sejak beberapa bulan ini aku lembur demi menghidupi keluarga dan membayar hutang yang ditinggalkan ayahmu. Belum lagi saat aku dimarah oleh atasan tanpa alasan yang jelas. Rasanya aku ingin berhenti saja dari pekerjaanku," ucap Teguh. Karin terdiam mendengar ucapan tersebut. Ia selalu menjadi tidak berdaya saat Teguh mulai membahas hutang yang ditinggalkan oleh ayahnya. Karin ingin semua hutang lunas agar Teguh ber
"Ahh, pelan-pelan, Tuan." Karin tersentak karena sedotan Dewa terlalu kuat. Jelas berbeda mulut laki-laki dewasa dan mulut bayi. Rasanya ada yang tersedot dalam tubuh Karin. Ia membelai rambut Dewa dengan lembut karena inilah keinginan pria ini. Memperlakukannya seperti anak kecil. Dewa mengangkat Karin, membawanya duduk ke pangkuan agar lebih leluasa meneguk cairan putih yang penuh nutrisi itu. Karin tidak tahu apa yang dirasakan oleh penderita Sindrom Lacto Comfort bila tidak meminum asi karena ia belum menanyakannya kepada Dewa mengenai kelainan itu. Hisapan Dewa berpindah ke sisi sebelahnya. Kemudian tangannya memainkan buah ranum yang menganggur. Memutar buah cherrynya yang berwarna kecoklatan. Karin setuju soal menyusui secara langsung, tetapi keadaan seperti ini bukankah sangat intim? Ia bahkan merasakan di bawah sana tengah mengeluarkan cairan. "Karin." Dewa memandang Karin. Tangannya meraih ke tengkuk leher, mendekatkan wajah, lalu mengecup bibir nan lembut itu. "







