เข้าสู่ระบบMobil melaju menuju jalan yang cukup familiar bagi Karin. Ia tahu ke mana pria ini akan membawanya pergi. Ya, segala sesuatunya harus dibicarakan, dan Karin pun ingin mendengar dengan jelas kenapa Damian tiba-tiba memutuskan untuk menikah. Ia masih tidak percaya bila mengingat betapa kekasihnya sangat mengharapkannya.Namun, Karin pun merasa bersalah karena ia sendiri tidak bisa memberikan apa yang Damian inginkan. Ia tidak bisa karena dua pria lain akan tersakiti. Karin pun masih terjebak dalam kegagalan pernikahan di masa lalu.“Damian … .” Karin mencoba mengajaknya bicara.“Sebentar lagi kita tiba di rumah.”Karin mengangguk. Apa pun yang akan dibahas memang sebaiknya setelah tiba di kediaman. Melihat Damian yang tidak ceria seperti biasanya, membuat Karin khawatir kepadanya. Ia tahu segala sesuatu yang dipaksakan itu memang tidak baik. Namun, Damian juga dihadapkan dengan sebuah dilema.Kendaraan sport ini tiba di kediaman pribadi Damian. Rumah yang membuat Karin betah tinggal di
“Siapa kamu?” tanya Eden.Karin menahan tawa. Ia bahkan menggigit lidah supaya tidak tertawa lantaran sapaan Shanaya tadi terdengar sangat akrab. Siapa sangka Eden Voss bahkan tak memberinya muka.“Eden Voss, aku Shanaya Shaw. Kita pernah satu sekolah. Hanya saja kamu itu juniorku.”Eden Voss menatap Shanaya dengan pandangan yang sulit diartikan. Jantung Karin berdegup kencang. Ia ingat jika pria ini juga sama gilanya dengan Shanaya Shaw. Dia tidak suka dengan wanita yang sok akrab. Jangan bilang Eden Voss bakal menghabisi Shanaya Shaw sekarang juga.“Heh! Aku tidak kenal denganmu.”“Pfft.” Karin langsung terdiam ketika Shanaya menatapnya tajam.“Oh, Nona Karin juga di sini rupanya.” Shanaya tersenyum. “Sungguh kebetulan. Aku juga datang ke sini bersama Damian.”Karin bingung mau menjawab apa. Ia malas mau meladeni wanita ini bila teringat kejadian tempo lalu. Shanaya ini wanita yang sangat gila karena bisa melakukan apa saja, dan Karin sedikit takut. Jika satu lawan satu ia masih ber
“Kamu tahu kan kalau pergi bersamaku memang sangat beresiko,” ucap Eden.“Tarik berita itu, aku tidak mau sampai melebar ke mana-mana.”“Tunggu! Kenapa kita tidak memanfaatkan ini saja demi sebuah film? Kamu ingin jadi artis, kan? Aku bisa membuat skandal untuk kita.” Eden tersenyum puas. Dengan begitu ia bisa membuat Karin lebih banyak menghabiskan waktu bersama.“Kamu ingin memanfaatkanku ya?” Karin tertawa. “Jangan harap! Jika aku ingin menjadi artis, haruslah artis dengan kualitas yang baik.”“Cih! Industri hiburan tidak seperti yang kamu kira.”“Ya, sudah. Tarik beritanya.”“Kamu pikir semudah menarik alas tempat tidur? Perlu waktu, apalagi beritanya telah tersebar luas. Pasti banyak pihak yang bakal menyimpan artikel berita ini, lalu suatu saat kembali menampilkannya. Jika kamu tidak keberatan, aku bisa membuat kesepakatan dengan uang.”“Kekasihku tidak akan setuju soal itu. Sudahlah, antar aku pulang biar segera menyimpan bahan belanjaan ini. Besok, jadwal seperti biasa, kan?”
Sinta memang sempat mengalah dengan menerima perceraian dari Dewa. Namun, ia tetap tidak rela Karin menikmati semua kemewahan yang diberikan oleh mantan suaminya. Perebut suami wanita lain harus menderita, apa pun alasannya. Sinta tidak peduli jika pernikahannya gagal karena tingkahnya juga. Selain itu, Sinta juga kesal karena bukan hanya Dewa yang tertarik pada Karin, tetapi Damian serta Leonard juga. Ia sangat marah ketika ketiga pria itu mengumumkan hubungan mereka di depan publik. Sungguh tidak tahu malu. Bagaimana bisa seorang wanita dari kalangan biasa mampu membuat tiga pria tertarik sekaligus? Sinta yakin ada sesuatu yang diberikan oleh Karin. Ya, ia juga tahu wanita itu punya asi, dan Sinta sempat mendengar tiga pria itu menderita syndrom yang sama. Hanya saja mustahil bagi ketiga pria itu terus tertarik pada Karin setelah dihadapkan dengan wanita yang sama-sama memiliki asi. Sinta tahu kabar mengenai rumah donor yang ditutup karena mereka menjebak Karin. Pesona wanita di sa
Karin diturunkan tepat di gerbang kediaman Eden Voss. Sebelum masuk, Dewa menyentuh bibir kekasihnya dalam waktu lama sampai penjaga gerbang heran sendiri. Mereka bahkan mengetuk kaca mobil untuk mencari tahu siapa gerangan tamu tak dikenal ini. Begitu melihat Karin yang turun, barulah penjaga tersenyum dan merasa tidak enak.“Selamat pagi, Pak,” sapanya, lalu meminta masuk.Masih setengah jam lagi sebelum pukul 10 pagi. Karin yakin jika Eden Voss sudah bangun. Karena hari ini hanya jalan-jalan saja, Karin pun menunggu di ruang tamu.“Kamu sudah datang rupanya. Siapa yang mengantarmu?”Karin menoleh, ia menyapa Eden dulu. “Itu Dewa.”“Bukannya kalian sudah putus?”“Siapa yang mengatakan itu? Aku dan dia baik-baik saja.”Tangan Eden mengepal. “Kamu sungguh suka dengan dia?”“Ya, begitulah.” Karin tersenyum. “Oh, ya, kita mau ke mana?”“Ke wahana permainan.”“Oh.” Karin sempat heran kenapa Eden malah mau ke wahana. Ah, ia tahu sebabnya. Karena terlalu sibuk, Eden pasti tidak punya waktu
Karin baru terbangun di pukul tujuh pagi, padahal harus buru-buru bersiap dikarenakan hari ini ada jadwal bersama dengan Eden Voss. Ia mengecek ponselnya, tidak ada pesan dari pria itu. Karin mengembuskan napas lega karena ia bebas membuat sarapan hari ini.Harusnya ini tidak akan terjadi karena Karin juga mau membuatkan Dewa sarapan pagi, tetapi pria itu membuatnya bergadang tadi malam. Karin mengusap bahu serta punggung belakangnya. Semalam, Dewa puas menggigit dan mengecup seluruh tubuhnya. Bahkan bagian di bawah sana terasa lecet karena air liur yang pria itu berikan.Pintu kamar terbuka, pelayan masuk dengan membawa pakaian ganti. Ia tersenyum saat melihat Karin sudah bangun.“Selamat pagi, Nona.”“Di mana dia?”“Tuan sudah berada di ruang makan. Beliau menunggu Nona.”“Tolong bantu aku berberes. Hari ini, aku mau jalan-jalan.”“Tentu, Nona.” Pelayan itu segera memanggil rekannya untuk membantu Karin merias diri. Karin belum terlalu lihai mendandani diri sendiri. Itu sebabnya, ia







