Share

Bab 198

Author: Renita April
last update publish date: 2026-09-16 19:09:05

“Tidak usah dipikirkan. Jika mereka sungguh keluargaku, kami akan bertemu,” ucap Karin.

Teguh mengangguk. “Bagaimana keadaanmu? Apa kamu sungguh menjalin hubungan dengan para orang kaya itu?”

“Mereka hanya membantuku. Teguh, kamu baik-baik selama di sini. Aku pergi dulu.” Karin bangkit dari duduknya, meski Teguh masih belum puas bicara. Namun, waktu dan kondisi terasa tidak memungkinkan.

“Terima kasih, Karin,” ucap Teguh dengan ketulusan hati.

Karin tersenyum, ia menerima ucapan tersebut, lalu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 213

    Karin diturunkan tepat di gerbang kediaman Eden Voss. Sebelum masuk, Dewa menyentuh bibir kekasihnya dalam waktu lama sampai penjaga gerbang heran sendiri. Mereka bahkan mengetuk kaca mobil untuk mencari tahu siapa gerangan tamu tak dikenal ini. Begitu melihat Karin yang turun, barulah penjaga tersenyum dan merasa tidak enak.“Selamat pagi, Pak,” sapanya, lalu meminta masuk.Masih setengah jam lagi sebelum pukul 10 pagi. Karin yakin jika Eden Voss sudah bangun. Karena hari ini hanya jalan-jalan saja, Karin pun menunggu di ruang tamu.“Kamu sudah datang rupanya. Siapa yang mengantarmu?”Karin menoleh, ia menyapa Eden dulu. “Itu Dewa.”“Bukannya kalian sudah putus?”“Siapa yang mengatakan itu? Aku dan dia baik-baik saja.”Tangan Eden mengepal. “Kamu sungguh suka dengan dia?”“Ya, begitulah.” Karin tersenyum. “Oh, ya, kita mau ke mana?”“Ke wahana permainan.”“Oh.” Karin sempat heran kenapa Eden malah mau ke wahana. Ah, ia tahu sebabnya. Karena terlalu sibuk, Eden pasti tidak punya waktu

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 212

    Karin baru terbangun di pukul tujuh pagi, padahal harus buru-buru bersiap dikarenakan hari ini ada jadwal bersama dengan Eden Voss. Ia mengecek ponselnya, tidak ada pesan dari pria itu. Karin mengembuskan napas lega karena ia bebas membuat sarapan hari ini.Harusnya ini tidak akan terjadi karena Karin juga mau membuatkan Dewa sarapan pagi, tetapi pria itu membuatnya bergadang tadi malam. Karin mengusap bahu serta punggung belakangnya. Semalam, Dewa puas menggigit dan mengecup seluruh tubuhnya. Bahkan bagian di bawah sana terasa lecet karena air liur yang pria itu berikan.Pintu kamar terbuka, pelayan masuk dengan membawa pakaian ganti. Ia tersenyum saat melihat Karin sudah bangun.“Selamat pagi, Nona.”“Di mana dia?”“Tuan sudah berada di ruang makan. Beliau menunggu Nona.”“Tolong bantu aku berberes. Hari ini, aku mau jalan-jalan.”“Tentu, Nona.” Pelayan itu segera memanggil rekannya untuk membantu Karin merias diri. Karin belum terlalu lihai mendandani diri sendiri. Itu sebabnya, ia

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 211

    Dalam perjalanan, baik Karin maupuan Dewa sama-sama membisu. Terlebih dengan pertengkaran tadi pagi yang belum kunjung usai.“Dari mana kamu tahu lokasiku?” tanya Karin.Dewa memandangnya, tetapi bola matanya tanpa sengaja mengarah pada dua buah ranum milik Karin. Kaos yang dipakai kekasihnya itu basah, dua bagian itu terlihat mencuat. Dewa mengusap wajah. Bila dilihat dari penampilannya, Karin jelas tidak memakai dalaman.“Kamu bekerja tanpa memakai dalaman?”“Hah?” Karin terkesiap, lalu menurunkan pandangan ke bawah. Ia sadar pakaiannya telah basah. Asinya belum sempat di pompa lagi. Karin mengeratkan jaket yang ia kenakan. “Dalamanku basah tadi.”“Jadi, kamu sengaja tidak memakai apa pun. Apa kamu tidak berpikir jika semua orang bisa melihat milikmu itu?”“Aku memakai jaket. Kamu juga tahu sendiri asiku ini keluar sangat banyak.”“Berita tentang Paula dan diriku sudah dihapus. Jangan cemburu lagi, aku tidak punya hubungan apa pun dengannya.”“Terserah saja kalau kamu mau berhubunga

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 210

    Karin pernah mendengar betapa kejamnya dunia hiburan itu. Orang-orang bisa melakukan apa saja demi menjadi bintang terkenal. Sudah menjadi rahasia umum jika koneksi itu bagian paling kuat seorang bintang bertahan. Bahkan kalah dari kualitas akting. Namun, Karin di sini bukan mau menjadi orang terkenal itu, ia hanya ingin merasakan pengalaman saja. Lagi pula ia belum pernah mendapat kesempatan yang seperti ini, bahkan cita-cita menjadi karyawan kantoran juga angan sesaat. Asisten sutradara memberi arahan apa saja yang harus Karin lakukan sebagai pasangan sewaan Eden karena cerita kali ini, Eden membuat kekasihnya cemburu. Karin tidak perlu bicara. Ia hanya perlu bergelayut manja pada sang aktor saja. “Apa kamu sudah mengerti, Nona?” tanya pria itu. “Ya, aku siap sekarang.” “Oke, kita mulai syutingnya.” Semua kru siap mengambil gambar, begitu pula sutradara yang telah berada di depan sebuah televisi kecil serta toa di tangan. Ia mulai menginstruksikan agar adegan dimulai. Lalu Kari

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 209

    "Kalian tidak harus menjauh dariku kalau hanya ingin bicara saja, kan?" ucap Eden, yang menyusul Karin dan Mia."Kamu sendiri kenapa di sini? Mau bergosip dengan kami sesama perempuan?" Mia mencibir."Sekarang Karin adalah asistenku, dia selalu harus berada di dekatku. Tidak ada hubungannya denganmu.""Hal seperti ini pun kalian harus bertengkar. Kamu perlu apa, Eden?" tanya Karin."Kamu belum memberiku makan.""Hanya mengisi perutmu saja, kamu perlu Karin?" Mia mendengus mendengar ucapan Eden. Dia sudah dewasa dan bisa makan sendiri bila lapar. "Jangan mau ditindas olehnya, Karin. Kamu ini asisten, bukan pengasuh.""Aku suka menjadi pengasuhnya." Karin tersenyum, lalu pergi.Eden terkekeh sembari memandang adiknya yang kesal. "Kamu bisa dengar sendiri, kan?" "Huh!" Mia memutuskan pergi karena Karin juga bekerja. Jika ia terus berada di tempat syuting, yang ada Eden terus membuat masalah. Karin cukup menikmati pekerjaan dan berkenalan dengan beberapa kru film. Dari sini ia juga mend

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 208

    Dalam satu waktu, wanita di masa lalu hadir, lalu Greyson Sinclair sakit. Di dunia memang ada yang namanya kebetulan, tetapi kebetulan yang satu ini menimpa tiga pria yang sama-sama mencintai seorang wanita bernama Karin. Untuk itulah Damian juga ikut bergabung dalam obrolan ini. Ia baru saja tiba. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas.“Kamu sungguh cucu yang berbakti,” ucap Dewa.“Hanya beliau yang kupunya.” Damian bersandar di sofa. Ia lelah bukan karena menjaga kakeknya karena sepanjang malam pria tua itu tidur. Damian terus memikirkan Karin serta nasib hubungannya ini.“Tidakkah menurutmu ini sangat kebetulan? Kamu baru saja kembali, lalu kakekmu jatuh sakit.”“Kepala pelayan sudah memberitahuku. Keluarga Shaw memang berbicara dengan kakekku. Mereka menekannya dengan alasan hutang budi. Kakekku ingin aku menikahi Shanaya Shaw agar hutang budi ini lekas berakhir. Ia bebas, tetapi aku menderita. Ya, sebagai cucu, aku harus berkorban. Sejak orang tuaku tiada, dia yang mera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status