LOGINSatu fakta yang baru saja Karin dapatkan adalah pria kaya itu semuanya gila. Karena memiliki banyak uang, mereka ingin setiap wanita menjadi miliknya. Tidak hanya Dewa, Damian, bahkan Leonard juga sama. Hah! Apa mereka satu gen? Kenapa kata-katanya selalu sama? "Aku tidak punya niat untuk mengambil selir."Leonard menyeringai. Karin merasa sesuatu yang berbahaya bila berhubungan lebih jauh dengan laki-laki ini. Jika ingin asi saja, Karin bersedia memberikannya. Untuk menjadikan pria ini simpanan? Sumpah! Karin tidak kepikiran sama sekali. Entah apa yang ada di pikiran Leo hingga bisa mengucapkan kata-kata itu. "Untuk sekarang mungkin kamu menolak. Aku akan menunggu sampai harinya tiba.""Jangan gila. Aku tidak akan mengambil pria simpanan. Maksudku, aku tidak punya uang untuk merawatmu.""Cukup berikan asi saja setiap hari. Aku bersedia menjadi selirmu.""Akhhh!" Karin menutup kedua telinga. Ia tidak mau mendengar omong kosong Leonard lagi. Pria ini tertawa melihat respon Karin. "L
Saat masuk ruangan bersama, Karin langsung melangkahkan kakinya ke bilik mandi tanpa perlu mendengar perintah dari Leonard. Anehnya pria itu malah heran dan menatap pintu yang tertutup. Jauh dalam lubuk hatinya Leonard berpikir jika Karin tak menyukainya. Dia tidak bicara banyak seperti terakhir kali. Hanya menyapa, lalu melenggang masuk kamar mandi. Leonard membuka topeng emas dari wajahnya. Memiliki rupa seperti ini mana mungkin wanita tak tertarik. Kulit cokelat, mata obsidian pekat, hidung mancung, bibir sedikit tebal begitu pas untuk disentuh. Setiap wanita melemparkan diri padanya, tetapi tidak ada yang benar-benar Leonard sukai. Dalam dunia bawah, dikelilingi banyak wanita sudah biasa. Leonard bisa berganti pasangan di tiap malamnya. Ranjangnya setiap hari hangat, tetapi ada jauh dari lubuk hatinya ia merasa bosan dengan semua itu. Wanita yang mendekat tidak ada yang bisa menghangatkan hati yang dingin. Mereka hanya mengejar uang saja. Namun, Leonard tertarik pada Karin. Waj
"Kalian sudah berpisah, tapi kamu masih memikirkannya. Kamu tidak menepati janjimu, Dewa," ucap Sinta dengan rasa kecewa yang teramat sangat. "Lalu bagaimana denganmu sendiri, Sinta? Apa kamu berubah, tidak kan? Kamu tetap dengan kebiasanmu itu. Kamu ingin aku menoleransi semua perbuatanmu, tetapi kamu sendiri malah mengekangku."Tatapan Sinta melebar karena Dewa tahu ia masih belum berubah. Memangnya kenapa kalau ia masih menyimpan kekasih-kekasih mudanya itu? Semuanya karena Dewa juga yang bersikap dingin padanya. Sinta ingin hubungan harmonis antara suami istri, tetapi Dewa tidak bisa memberikan itu. Pacar di luar sana memang tidak sebanding dengan kekayaan dan ketampanan suaminya. Namun, Sinta mendapatkan kasih sayang mereka, meski itu semata-mata karena uang. Paling tidak ia merasakan disayang, dipeluk, didengar, tidak seperti Dewa yang selalu mengabaikannya. "Sebelum bicara, kamu harusnya menyadari apa salahmu." Sinta tidak ingin disalahkan. Ia begini karena suaminya. Dewa t
"Simpan omong kosongmu itu, Teguh. Aku sama sekali tidak memerlukannya. Pergilah dari hadapanku," ucap Karin dalam kilatan muak. Teguh kaget karena baru pertama kali ia mendengar Karin berbicara demikian. Karin istri yang lembut, patuh. Sejak kapan dia berubah menjadi wanita yang tidak kenali? Ini bukan Karin yang ia kenal. Teguh ingin istrinya yang dulu. "Kamu sudah berubah, Karin.""Kamulah yang membuat perubahan itu, Teguh. Sejak kamu terlena dengan jabatan dan gajimu itu." Karin menatapnya tajam. "Aku tidak sengaja melakukannya. Anggap saja kita impas. Kamu tidur dengan Tuan Dewa, dan aku bersama Miranda. Ini adil kan? Setelah Miranda melahirkan, aku akan kembali padamu. Jadi, bersabarlah untuk itu." Hah! Dengan gampangnya Teguh terus bicara seperti itu seolah hati Karin terbuat dari batu. Karin tidak menanggapinya lagi karena suaminya sudah buta pada pesona wanita itu. Apa pun yang Karin ucapkan hanyalah angin lalu bagi pria ini. Jadi percuma mendebatnya. "Kamu tidak ingin a
Damian menatap Karin cukup lama. Dari kesan yang ia tangkap ada pria yang menyakiti wanita ini. Sungguh tidak beruntung laki-laki itu. Jika Damian bertemu Karin lebih dulu, ia akan menjadikannya sebagai ratu di hati ini."Pria berengsek mana yang menyakitimu, Karin?" "Suamiku," jawab Karin."Sakit di tubuhmu? Apa itu karena dia? Katakan padaku, biar kuberi dia pelajaran."Karin menggeleng. Ia memaksakan diri untuk tersenyum pada Damian. "Orang lain, tapi penyebabnya dia.""Dia tidak pantas bersamamu, Karin. Lebih baik tinggalkan saja. Masih banyak pria yang menginginkan dirimu." Termasuk dirinya. Damian akui itu. "Ini sudah malam, Tuan. Yakin mau menginap di sini?" Karin mengalihkan pembicaraan karena ia mual membahas Teguh. "Jika kamu mau di hotel, aku bersedia pindah tempat.""Di sini saja. Lagi pula kamu sudah menyewa untuk satu malam. Sangat sayang bila uangnya hangus.""Uang bukan masalah untukku. Selain pilot, keluargaku juga memiliki maskapai penerbangan rute luar dan dalam
"Aku akan teriak," ucap Karin yang membuat Damian tergelak. Karin mengumpat dalam hati. Ia selalu berurusan dengan pria gila. "Silakan saja. Paling mereka mengira kita sedang berbagi kehangatan." Damian menyeringai, tangannya membelai kancing kemeja Karin. Dalam satu tarikan saja kancing itu berjatuhan. Kemeja Karin terbuka menampakkan buah ranumnya yang mulai terisi kembali. "Kamu tidak boleh melakukan ini padaku.""Sayang, aku sudah menyewamu. Kamu tidak bisa menolakku." Damian mendorong Karin ke tempat tidur. Membuka lebar kemeja yang Karin kenakan, lalu menarik kait penutup yang melindungi buah ranum itu. Karin tersentak, Damian sungguh melakukannya. Pria ini melucutinya tanpa bisa dicegah. "Akhhh! Pelan-pelan. Kamu menyakitiku." Pria gila! Begitulah yang Karin ucapkan dalam hati. Damian menghisap dengan tarikan kuat. Ada geraman dalam tiap tarikan bibirnya. Laki-laki ini marah, tetapi apa penyebabnya? Karin tidak mengerti. Tangan Karin terulur untuk mengusap puncak kepala Dam







