LOGINLeonard dan Dewa bertepuk tangan atas aksi Shanaya yang membuat Sinta tersiksa. Luka-luka ditubuhnya itu tentu saja memerlukan waktu untuk disembuhkan. Namun, yang lebih menyakitkan tentu saja soal hati. Dendam yang membara.“Bebaskan mereka,” ucap Leonard.“Baik, Bos.”Leonard tertawa. “Kerja bagus, Nona Shanaya. Karena aksimu ini, kamu bebas. Lain kali jangan berani melakukan hal yang merugikan ke depannya. Meski hanya niat. Ini peringatan untukmu.”“Ba-Baik.” Shanaya melepaskan cambuk di tangannya, lalu bergegas mengikuti bawahan Leonard. Sementara Sinta dibawa oleh dua orang anggota klan langsung ke rumah sakit. Wanita itu masih belum boleh mati.“Kamu melepaskannya,” ucap Dewa.“Setelah ini perhatian Sinta akan teralih pada Shanaya, Paula dan mungkin Agnes. Kita tidak perlu khawatir soal Karin untuk sementara waktu. Bila dilihat dari sifat Sinta, dia akan membuat perhitungan.”Dewa terkekeh. “Pantas saja kamu berhasil merebut wilayah barat.”“Kita hanya tinggal melihat aksi pemba
“Apa yang ingin kalian lakukan?” Sinta panik, ia memandang Dewa, memohon agar bisa dibebaskan. “Kumohon, Dewa. Demi hubungan kita di masa lalu.”“Aku sangat ingin membebaskan dirimu, tetapi kekasih Karin bukan hanya aku. Jika kamu ingin memohon, minta kepada Damian atau Leonard.”“Dewa!” teriak Sinta, ia yakin Dewa bisa bicara dengan teman-temannya, tetapi dia sengaja tidak mau melakukannya. “Sudah bertahun-tahun kita bersama. Apa begini saja kamu tidak mau membantuku?!”“Bos, pelaku utamanya sudah di sini.” Pelaku penusukan itu didorong ke depan. Ia jatuh di depan kaki Sinta serta Shanaya.Perlahan wanita muda itu bangkit. Dia merupakan fans fanatik aktor Eden Voss yang menjadikan hubungan toxic antara idola dan penggemarnya. Fans seperti ini lebih kepada mencelakakan idola, bukan mendukung.Selalu tahu perkembangan idolanya, berani memasuki rumah, mengikuti ke mana pun idolanya pergi. Cemburu pada wanita lain atau artis wanita yang dekat dengan idolanya. Fans seperti itu bisa membua
“Jangan harap bisa membawa pergi adikku,” ucap Anthony.“Kalau begitu, aku tinggal menyerahkannya kepada polisi. Tentu kamu tidak keberatan kan, Dewa?” Leonard memandang pria itu karena Sinta merupakan wanita yang pernah sangat dicintai oleh Dewa.“Aku serahkan semuanya padamu.” Dewa memalingkan wajah ke arah lain.Leonard bertepuk tangan beberapa kali, lalu memberi perintah kepada bawahan agar menahan Sinta, Agnes, dan Shanaya. Begitu tiba di bagian Shanaya Shaw, asisten dari keluarga Sinclair menghalangi.“Kita bisa membicarakan ini Tuan Dewa, Tuan Leonard.”Leonard menyunggingkan senyum dinginnya. “Damian sendiri yang memerintahkan agar aku membawa Shanaya.”“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa membiarkan Anda membawa Nona Shanaya.”“Kalau begitu, kamu mati saja.” Leonard meletakan pistol di kening pria itu. Meski terlihat tangguh, tetapi tubuhnya bergetar. “Pelurunya penuh. Tidak masalah jika berkurang satu, asal bisa mengirimmu langsung ke neraka.”“Ma-Maafkan saya, Tuan.” Asisten ini ma
“Sepertinya ini menjadi sangat menarik.” Leonard terkekeh. “Tunjukan bukti yang kamu punya, Sinta.” Dewa berjalan ke depan, lalu duduk di sofa dengan diikuti oleh Leonard. Sinta tersenyum sinis memandang Paula. Ingin menjadikannya sebagai kambing hitam, mereka berpikir terlalu jauh. Bagi seorang Sinta, ketiga wanita ini hanya merupakan pemula. Bermain trik, ia jagonya. “Ada apa ini? Sinta!” Anthony datang dengan tergesa-gesa. Melihat saudara laki-lakinya tiba di club ini, Sinta tersenyum puas. Ia merasa telah menang karena dari awal sampai akhir, ia lah yang mengatur permainan ini. “Kak, mereka menuduhku telah mencelakai Karin. Ini sungguh menyakitkan,” ucap Sinta. Siapa pun tahu betapa sayangnya Anthony terhadap Sinta, bahkan pria ini rela masuk penjara karena pernah mencelakai Karin. Ya, nama tersebut membuat Anthony naik darah. Ia tidak akan pernah lupa. Gara-gara Karin lah ia dipukuli, bahkan bagian terlarangnya perlu disembuhkan. Sekarang, adiknya sedih juga gara-gara
“Ki-Kita harus bagaimana?” Mata Shanaya melebar sembari memandang satu per satu temannya. Jika harus mati, maka ia akan membawa mereka semua. “Kita harus pergi dari sini sebelum mereka berhasil melacak keberadaan kita.” Sinta bangkit dari duduknya, ia yang lebih dulu melompat pergi dari ruangan club ini. “Sudah terlambat. Mereka akan datang sebentar lagi,” sahut Paula. “Apa kamu akan terus menunggu di sini? Kalau ingin mati, jangan ajak kami.” Sinta bergegas keluar dari ruangan. Ia tidak boleh tertangkap saat ini karena Dewa pasti tak akan memaafkannya untuk kedua kali. Shanaya dan Agnes juga berpikir sama dengan Sinta. Keduanya mengikuti langkah wanita itu dengan memilih pergi. Nomor ponsel yang baru saja digunakan tadi telah dibuang ke tempat sampah. Dengan begitu, Leonard maupun Dewa akan sulit menemukan bukti. Namun, Paula berpikiran berbeda dengan ketiganya. Ia tetap berada di dalam club sembari menunggu ketiga rekannya kembali. Dalam beberapa menit saja, ketiga rekannya kem
“Dia celaka karena penggemarku?” Eden masih berada dalam keadaan syok. Karin hampir mati karena salah satu penggemarnya. Ia tahu ada beberapa fans fanatik. Hanya saja sampai menghabisi nyawa seseorang, ini baru pertama kalinya. Paling jauh penggemarnya pernah melakukan serangan teror kepada salah satu artis yang dikabarkan dekat dengan Eden, dan masalah itu langsung dilaporkan pada pihak berwajib. Yang sekarang ini malah semakin bertindak sangat jauh.“Apa kamu baru menyadarinya? Semua ini karena dirimu,” ucap Damian.“A-Aku tidak pernah mau melibatkan Karin dalam bahaya. Berita viral itu juga telah ditarik.”“Kamu tahu sendiri orang jahat kerjanya lebih cepat. Harusnya kamu tahu jika Karin dalam bahaya bila berada di dekatmu.”“Di mana pelaku itu? Aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Biarkan aku menghukumnya sendiri.”“Tidak perlu, kami bisa mengurusnya. Mulai sekarang, jaga jarak dengan Karin. Kamu menganggap Karin sebagai asisten, maka perlakukan seperti bawahan. Jang







