LOGINAriel menatap layar laptopnya dengan tatapan kosong. Cahaya putih dari monitor memantul di wajahnya, menyoroti ekspresi serius namun lelah. Jari-jarinya menari di atas keyboard, mengetik cepat beberapa kalimat untuk outline novel barunya.
Ia berhenti mengetik, menatap kalimat itu dengan pandangan kosong. Kursor di layar berkedip-kedip seperti mengejek kebuntuannya.
“Hhh… apalagi ya?” gumam Ariel pelan, menopang dagunya dengan tangan kiri.
Di mejanya, segelas kopi sudah dingin. Di layar lain, notifikasi media sosial muncul—Cindy, rival sesama penulisnya, baru saja mengunggah postingan: ‘Launching my new book! Thank you for everyone’s support’
Ariel menatap postingan itu dengan senyum miris.
“Cindy meluncurkan buku barunya dan langsung booming… sementara aku di sini, masih memikirkan outline dan—” ia menatap layar laptopnya sejenak, lalu mendesah, “—dan pelajaran dari dr. Nathan…”
Tiba-tiba, ting!
Suara notifikasi dari ponselnya membuat Ariel tersentak. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping laptop. Di layar, muncul nama pengirim: dr. Nathan.
Alis Ariel terangkat. “dr. Nathan?” gumamnya, jantungnya berdegup aneh. Ia membuka pesannya.
'Malam ini kebetulan seminarnya ada membahas tentang komunikasi dan kesiapan emosional sebelum berhubungan intim. Jangan lupa datang, karena aku tidak akan membawa pelajaran tentang dua topik itu lagi saat pertemuan kita.'
Ariel membaca pesan itu berulang kali. Kata “hubungan intim” membuat pipinya sedikit panas.
Tanpa berpikir lama, ia langsung menghubungi Silvi, sahabatnya yang sedari pagi menawarinya ikut ke acara bedah buku Cindy.
“Silvi, malam ini aku nggak bisa ikut ke bedah bukunya Cindy ya,” kata Ariel cepat begitu telepon tersambung.
“Hah? Kenapa? Itu kan bedah buku Cindy yang baru itu loh, Riel!” jawab Silvi dengan nada kecewa.
“Maaf banget, tapi malam ini ada seminar penting,” ujar Ariel, sambil membuka lemari dan mulai mencari pakaian.
Silvi menghela napas panjang di seberang sana. “Tapi seriusan, Riel? Kamu lebih milih seminar daripada bedah bukunya Cindy?”
Ariel menatap bajunya satu per satu, lalu memilih blus putih dan rok hitam selutut. “Seminar ini lebih penting dari hidupku, Silvi,” katanya mantap.
“Ya ampun…” Silvi mendesah, lalu terkekeh kecil. “Oke, baiklah. Tapi jangan lupa foto-foto ya. Aku mau tahu seminar penting macam apa sih yang bisa ngalahin bedah bukunya Cindy.”
Ariel tersenyum. “Siap, Silvi. Aku kabarin nanti.”
Begitu telepon ditutup, ia berdiri di depan cermin. Menatap pantulan dirinya.
“Komunikasi dan kesiapan emosional sebelum hubungan intim…” gumamnya lirih.
---
Malam itu, aula tempat seminar berlangsung sudah hampir penuh. Di depan ruangan besar itu, dr. Nathan berdiri tegak mengenakan kemeja abu. Sikapnya tenang, suaranya dalam, jelas, dan penuh kendali.
“Selamat malam, semuanya,” ucap Nathan. “Malam ini kita akan membahas topik yang sering dihindari banyak pasangan: komunikasi dan kesiapan emosional sebelum berhubungan intim.”
Beberapa peserta terlihat saling berbisik malu-malu. Ariel duduk di baris ketiga, membuka buku catatannya dengan hati-hati.
Nathan melanjutkan, “Kebanyakan hubungan gagal bukan karena kurang cinta, tapi karena kurang bicara. Kita sering berasumsi pasangan kita mengerti keinginan kita… padahal tidak selalu demikian.”
Ariel menulis cepat.
“Kurang bicara, bukan kurang cinta…” tulisnya sambil tersenyum tipis.
Nathan berjalan pelan di depan panggung, menatap peserta satu per satu. “Dan saat bicara soal hubungan intim, komunikasi menjadi lebih penting lagi. Karena ini bukan tentang ‘siapa yang mendominasi’, tapi tentang bagaimana dua pihak memahami kebutuhan masing-masing tanpa rasa malu.”
Beberapa peserta tertawa kecil. Ada yang menunduk malu. Tapi Ariel justru fokus, matanya menatap Nathan penuh konsentrasi.
Nathan menatap layar presentasinya, lalu menambahkan, “Khususnya bagi perempuan, yang sering kali menahan diri karena takut dianggap salah saat mengungkapkan apa yang diinginkan. Padahal… kejujuran di ranjang sama pentingnya dengan kejujuran di hati.”
Kalimat itu membuat suasana ruangan sejenak hening. Ariel menelan ludah, lalu menulis:
‘Kejujuran di ranjang = kejujuran di hati.’
Nathan tersenyum samar melihat beberapa peserta yang terlihat menulis cepat, termasuk Ariel.
“Baik, sekarang kita masuk sesi diskusi. Ada yang ingin bertanya?”
Tangan-tangan terangkat. Nathan menunjuk salah satu peserta. Setelah beberapa pertanyaan umum berlalu, tiba-tiba tangan Ariel ikut terangkat, sedikit gemetar tapi yakin.
“Silakan, peserta di baris ketiga,” kata Nathan.
Ariel berdiri. “Dok, saya ingin bertanya,” suaranya lembut namun jelas. “Kalau seseorang sudah tahu teori komunikasi dan kesiapan emosional, tapi tetap saja sulit terbuka… itu berarti ada yang salah dengan dirinya?”
Nathan menatap Ariel dalam-dalam. “Pertanyaan yang bagus,” katanya pelan. “Tidak ada yang salah dengan dirinya. Hanya saja, kadang butuh waktu untuk merasa nyaman—untuk mempercayai seseorang sepenuhnya.”
Ariel mengangguk, matanya menatap Nathan seolah memahami sesuatu yang lebih dalam.
Nathan menambahkan, “Emosi dan tubuh bekerja berdampingan. Jika hati belum siap, tubuh pun akan menolak kedekatan itu, bahkan tanpa sadar. Jadi… bukan salahnya, hanya proses yang belum selesai.”
Ruangan mendadak hening. Beberapa peserta mengangguk pelan.
Ariel menunduk, menulis cepat lagi, meski matanya sedikit berair tanpa ia sadari.
Nathan memperhatikannya sejenak, lalu melanjutkan sesi berikutnya.
Dan malam itu, saat seminar berakhir, Ariel tetap duduk di kursinya meski ruangan mulai sepi. Ia menatap catatannya—halaman yang penuh tulisan, kutipan, dan kalimat yang terasa menohok hati.
“Kejujuran di ranjang sama pentingnya dengan kejujuran di hati…” ia mengulang pelan, seolah kalimat itu bukan hanya teori, tapi sesuatu yang sedang mengetuk jiwanya.
Tiba-tiba, suara berat namun tenang terdengar dari belakangnya.
“Masih di sini, Nona penulis cerita?”
Ariel sontak menoleh. Matanya membulat kecil.
“Dokter…” gumamnya, setengah kaget, setengah terpesona.
Nathan berdiri tak jauh di belakangnya, satu tangannya menyelip di saku celananya, sementara tatapannya memantul lembut dalam cahaya lampu aula yang redup. Ada sesuatu di wajahnya malam itu — tenang tapi berwibawa, seperti seseorang yang menyimpan lebih dari sekadar kata-kata.
Ariel tersenyum gugup, buru-buru menutup bukunya. “Saya hanya ingin mencatat sedikit lagi, Dok. Banyak hal menarik tadi… saya takut lupa.”
Nathan berjalan perlahan mendekat, hingga jarak mereka hanya beberapa langkah. Ia menatap meja tempat Ariel duduk, lalu matanya beralih menatap wajah Ariel. “Kau benar-benar serius dengan tulisanmu, ya.”
Ariel mengangguk kecil.
Nathan menatapnya agak lama, seolah menilai ketulusan di balik kata-katanya. Kemudian, ia menarik napas perlahan, dan nada suaranya berubah sedikit lebih dalam.
“Besok…” katanya sambil menatap langsung ke mata Ariel.
Ariel menegakkan tubuhnya, menunggu kelanjutan kalimat itu.
“Besok jangan lupa,” lanjut Nathan, suaranya kini terdengar serius, nyaris berat. “Siapkan dirimu, karena kita akan membahas tentang…”
Ia berhenti sejenak, menatap Ariel dengan ekspresi yang sulit ditebak. Matanya sedikit menyipit, suaranya menurun menjadi rendah dan tegas.
“…foreplay.”
Lampu-lampu jalanan Jakarta mulai berpijar saat Ariel melangkah gontai menyusuri trotoar menuju kompleks apartemennya. Kunjungan ke rumah Silvi tadi siang setidaknya memberi sedikit oksigen bagi jiwanya yang sesak. Bau bayi, tawa ringan tentang masa SMA, dan teh hangat yang disuguhkan Silvi sempat membuat Ariel lupa akan jerat Matthew. Namun, begitu kakinya menginjak lobi apartemen yang dingin dan steril, beban itu kembali menghimpit pundaknya.Unit 24B terasa begitu sunyi. Ariel melemparkan jaketnya ke sembarang arah, lalu menatap laptop yang masih terbuka di meja kerja. Kursor di layar berkedip-kedip seolah mengejeknya—mengejek kebuntuan ide yang membuatnya hampir gila. "Persetan dengan prosa elegan," gumamnya lirih. Kepalanya kembali berdenyut, bukan karena kurang oksigen, melainkan karena rasa sepi yang tiba-tiba menyerang dengan ganas.Dalam kondisi suntuk yang memuncak, bayangan dokter Nathan tiba-tiba melintas. Nathan adalah paradoks; pria yang menyelamatkannya, namun juga pr
Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden apartemen Ariel terasa berbeda hari itu. Bukan lagi sebagai pengingat akan kegagalan, melainkan sebagai lonceng dimulainya babak baru. Di atas meja kerja yang biasanya berantakan, kini hanya ada laptop dan kamus tesaurus bahasa Inggris yang tebal. Jemari Ariel menari di atas keyboard, mencoba menerjemahkan rasa sakitnya menjadi prosa yang elegan dalam bahasa asing.Namun, setelah lima jam berkutat dengan struktur kalimat lampau (past tense) dan mencari padanan kata yang tepat untuk menggambarkan "kerinduan yang menyayat," kepalanya mulai berdenyut. Ia butuh oksigen. Ia butuh melihat dunia luar yang tidak didominasi oleh layar monitor.Dengan jaket tipis dan rambut yang diikat asal-asalan, Ariel melangkah keluar menuju minimarket di bawah kompleks apartemennya. Bau pembersih lantai dan udara dingin dari mesin pendingin menyambutnya. Saat ia sedang memilah-milah deretan kopi kaleng, matanya tertumpu pada seorang wanita yan
Tiga bulan berlalu seperti musim dingin yang tak berujung di dalam apartemen Ariel. Ruangan yang dulunya terasa hangat kini dipenuhi dengan tumpukan kertas naskah yang dicoret-coret, cangkir kopi yang mengering, dan cahaya redup dari layar laptop yang menyala hingga dini hari.Ariel menatap layar ponselnya. Sebuah email baru masuk. Tanpa membukanya pun, ia sudah tahu isinya.“Terima kasih telah mengirimkan naskah Anda kepada kami. Namun, setelah melalui pertimbangan dewan redaksi, kami merasa karya ini belum sesuai dengan visi penerbitan kami saat ini...”Kalimat formal itu terasa seperti sembilu. Ini adalah penolakan ke-27 dalam sembilan puluh hari. Matthew tidak main-main dengan ancamannya. Setiap kali Ariel mengirimkan naskah ke penerbit besar maupun kecil, pintu selalu tertutup rapat. Bahkan beberapa editor yang dulunya adalah teman baiknya tiba-tiba berhenti membalas pesannya. Kekuasaan Matthew telah menciptakan dinding kedap udara di sekeliling kariernya.Dengan langkah gontai d
Lantai teratas gedung perkantoran itu terasa lebih dingin dari biasanya saat Ariel melangkah masuk tanpa mengetuk. Matthew sedang berdiri membelakangi pintu, menatap panorama kota Jakarta dari dinding kaca raksasanya, menyesap wiski seolah ia baru saja memenangkan seluruh dunia."Kau kembali lebih cepat dari perkiraanku, Ariel," Matthew berbalik, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Bagaimana rasanya duduk di kursi barumu? Empuk, bukan?"Ariel tidak membalas senyuman itu. Ia melangkah mendekati meja mahoni besar milik Matthew dan meletakkan amplop biru tua yang tadi pagi diberikan kepadanya. Di atasnya, Ariel meletakkan kartu identitas karyawannya."Aku tidak menginginkannya, Matt. Aku tidak menginginkan jabatan ini, aku tidak menginginkan uang ini, dan aku tidak menginginkan... kita."Gelas di tangan Matthew berhenti bergerak. Matanya yang tajam menyipit, mencari celah kebohongan di wajah Ariel. "Apa yang kau katakan? 'Kita' adalah satu-satunya alasan kau berada di posisi ini.""It
Suasana kantor yang megah itu tiba-tiba terasa seperti penjara berlapis emas bagi Ariel. Kata-kata Matthew masih terngiang, beradu dengan pesan singkat dari Nathan yang baru saja ia hapus. Tanpa pikir panjang, Ariel menyambar tasnya, mengabaikan tumpukan naskah yang seharusnya ia kurasi, dan melangkah keluar melewati sekretaris barunya yang membungkuk hormat dengan wajah tegang.Ia tidak pulang ke apartemennya sendiri. Kakinya membawanya berhenti tepat di depan pintu unit bernomor 23B—pintu yang sangat ia kenali, tepat di sebelah unit miliknya.Ariel menarik napas panjang, lalu mengetuk. Satu kali, dua kali, tidak ada jawaban. Baru pada ketukan ketiga, terdengar suara kunci diputar. Pintu terbuka perlahan, menampakkan Nathan dengan kaos abu-abu lusuh dan rambut yang sedikit berantakan. Matanya yang tajam tampak lelah, namun seketika melembut saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya."Ariel?" suara Nathan serak. Ia tidak segera membukakan pintu lebar-lebar, seolah ragu apakah ini
"Aku tidak perlu bertanya untuk memberikan yang terbaik bagi gadisku, Ariel," Matthew melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka hingga Ariel bisa mencium aroma kayu cendana dari tubuh pria itu. "Kemarin kau memilihku di depan Nathan. Itu adalah keputusan paling bijaksana yang pernah kau buat. Dan di duniaku, loyalitas selalu membuahkan hasil."Matthew mengulurkan sebuah amplop berwarna biru tua yang tergeletak di atas meja. "Buka."Dengan tangan gemetar, Ariel merobek amplop itu. Matanya membelalak membaca baris demi baris surat keputusan di dalamnya.SURAT KEPUTUSAN DIREKSIMenetapkan: Ariella Anata sebagai Senior Executive Editor & Head of Creative Content.Wewenang: Hak veto penuh atas seluruh naskah fiksi dan non-fiksi, anggaran mandiri sebesar 1 miliar rupiah per kuartal, dan laporan langsung kepada CEO."Matt, ini terlalu banyak... Aku cuma ingin menjadi penulis. Kalau seperti ini, orang-orang akan menganggap aku hanya—""Hanya apa? Simpanan CEO?" Matthew memotong







